
🔥🔥🔥
Klek
Pintu kamar Arabelle ternyata terkunci. Bukan hal sulit bagi seorang Ben membobol sebuah pintu.
Pintu itupun terbuka dengan mudahnya. Ben masuk dan tidak lupa menutup pintu kembali.
Rasa luka itu cukup menyiksa karena rupanya senjata itu di lumuri racun.
Luka itu mulai membiru. Punggung lengan Ben sulit untuk di gerakan.
Pandangannya jatuh ke sosok dimana Arabelle tengah tertidur nyenyak dengan posisi memeluk guling.
Ssst
Desis Ben ketika ia mencoba membuka jaket kulit tetapi tidak bisa.
Tanpa berpikir panjang lagi ia melemparkan tubuhnya di atas kasur, tepat di samping Arabelle.
Merasakan kasur seperti bergelombang membuat tidur nyenyak Arabelle terusik.
Perlahan mata itu terbuka.
Deg
Sosok itu membuat jantungnya ingin meledak karena terlalu kaget.
"Kamu!" Gumam Arabelle dengan nafas turun naik seraya mengusap dada.
Ben tak bergeming, ia tetap memejamkan mata seraya menahan nyeri luar biasa. Luka ini seharusnya segera dibersihkan dan diobati.
Arabelle langsung bangun, lalu menggeser tubuhnya di tepi ranjang.
"Kenapa dia bisa masuk? padahal seingatku pintu dikunci," batin Arabelle tanpa menoleh kearah Ben.
"Bisa kau bantu bukakan bajuku?" suara bariton serak itu membuat kesadaran Arabelle dari pikirannya.
"Hah buka baju?" gumam Arabelle dengan mata melebar.
"Cih....jangan berpikir aku akan memakan kau!" Ujar Ben seakan tau apa yang ada dalam pikiran Arabelle.
Ssst
Desis Ben berusaha bangun. Mendengar desisan itu membuat hati Arabelle tergerak menoleh ke samping.
Kedua matanya melotot dengan mulut menganga mendapati seprei penuh darah. Karena Ben mengenakan jaket warna hitam jadi tak terlalu menonjolkan noda darah.
"Kamu terluka?" ucap Arabelle dengan wajah panik.
"Jangan banyak bertanya."
Arabelle menelan ludah melihat genangan darah itu. Wajah Ben juga sangat pucat.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang lagi Arabelle membuka jaket itu tetapi sangat sulit karena Ben selalu mengerang kesakitan.
Diambilnya gunting lalu tanpa bertanya apapun Ben menyunting jaket itu sampai tak berbentuk utuh.
Matanya kembali membulat mendapati luka dalam membiru di punggung lengan Ben.
"Ke- kenapa tak langsung diobati?" protes Arabelle dengan wajah panik, bahkan jari-jemarinya itu bergetar ingin menyentuh luka tersebut.
"Tinggal bersihkan dengan kapas, setelah itu kau olesi dengan obat ini," titah Ben seraya memberikan obat dalam bentuk botol kecil, seperti cairan air biasa.
"Aku takut membersihkannya," ucap polos Arabelle.
"Tinggal bersihkan saja takut, aku yang luka bukan kau. Jika tidak mau tinggal bilang, aku tidak ingin mendengar alasan yang tak masuk akal," be tak Ben.
"Bu-bukan begitu tetapi aku takut dengan darah," pungkasnya dengan jujur.
"Baiklah! Biar saja aku mati!" Seru Ben dengan lantang. Entah kenapa kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya. Seakan ini bukanlah diri seorang Ben Brylee, sang ketua mafia yang sangat ditakuti.
Hah???
Seruan Ben berhasil membuat Arabelle tercengang. Entah kenapa hatinya mendengar kata mati membuat hatinya pilu.
Tak berkata lagi Arabelle bangkit, keluar kamar menuju dapur. Ia menuangkan air hangat dalam baskom kecil. Lalu kembali masuk kedalam kamar lagi.
Arabelle membuka lemari pakaian, membuka laci kecil dalam lemari itu. Mengeluarkan sapu tangan warna hitam karena ia tidak menemukan sapu tangan yang lain.
"Apa tidak menggunakan alkohol saja? dengan air hangat mungkin terasa perih," saran Arabelle sebelum membersihkan luka tersebut.
"Lakukan! Aku sudah terbiasa seperti ini?" ujar Ben tidak ingin Arabelle banyak ngomong.
"Dua-duanya salah. Nanti kau juga tau itu. Segera bersihkan agar obat ini bisa menyembuhkan langsung," ujar Ben.
"Jika bukan polisi ataupun tentara jadi pekerjaannya apa? mungkinkah semacam psikopat atau mafia? jangan sampai," batin Arabelle seakan merinding membayangkan hal itu.
"Apa kau masih hidup?" sindir Ben. "Tuangkan obat ini kedalam air itu.
"Kenapa dia jadi banyak bacot gini?" tentu saja Arabelle berani mengatai dalam hati seraya mengikuti perintah Ben.
Dengan tangan bergetar Arabelle mulai menempelkan sapu tangan yang sudah dicelupkan pada air hangat.
Mimik wajahnya menggambarkan rasa sakit yang dirasakan oleh Ben. Ben yang terluka tetapi seakan ia yang merasakan luka itu. "Apakah sangat sakit?" lirih Arabelle dengan pelan seperti menhan rasa perih.
"Luka ini tak seberapa, dibandingkan luka yang digoreskan pria brengsek itu!"
Perih tentu saja dirasakan Ben sesaat, tetapi tak bertahan lama karena obat itu sebagai penawarnya.
Arabelle termangu mendengar pernyataan Ben.
"Sepertinya kamu kehabisan darah, kenapa darah sudah berhenti keluar," ucap Arabelle sedikit kaget karena setelah ia membasuh luka itu darah segar berhenti mengalir.
"Kau pernah sekolah?"
"Tentu saja."
__ADS_1
"Jadi dimana kau simpan otakmu?"
Hah????
Setelah membersihkan luka itu. Arabelle mengoleskan cairan beraroma pekat itu dipermukaan luka itu.
"Seharusnya ini dijahit agar tidak menganga seperti ini," saran Arabelle.
Ben tak bergeming. Pria itu hanya diam saja dengan mata terpejam dari tadi.
"Sebenarnya siapa yang melakukan itu? apa kamu memiliki musuh?" ucap Arabelle tak berhenti bertanya.
Ben tidak menjawab apapun. Hal itu mengundang rasa kesal Arabelle.
Arabelle berpikir sejenak.
"Seharusnya kamu minta bantuan dari dia, bukan aku," ucap Arabelle mengarah kepada Lexsi.
Perkataan Arabelle berhasil membuat kediaman Ben membuyar.
"Kau tidak tulus?"
"Benar! Bagaimana bisa aku tulus melakukan itu, sedangkan kamu memperlakukanku lebih kejam lagi," sahut Arabelle tanpa merasa takut. Ia sudah berjanji kepada dirinya dari kemarin-kemarin untuk sekarang tak akan merasa takut lagi, apapun yang akan terjadi menimpa dirinya. Mati? bukankah itu yang sangat diinginkannya selama berada di naungan Ben.
"Kau semakin berani banyak omong?" ujar Ben dengan nada meninggi.
Arabelle terdiam, menadah kepalanya ke atas menatap langit-langit kamar sempit itu. Seketika pikirannya terlintas begitu saja.
Arabelle menoleh ke samping dimana Ben sedang memejamkan mata dengan posisi masih terduduk.
Ia menghela nafas panjang.
"Apa Daddy yang melakukan ini?" tebak Arabelle lolos begitu saja.
Pertanyaan Arabelle berhasil membuat mata Ben terbuka. Benarkah tebakan Arabelle itu? tetapi mana mungkin bisa karena setahu Ben itu adalah anggota mafia.
"Atas dasar apa kau menuduh pria brengsek itu?" ujar Ben dengan rahang mengeras.
"Itu hanya tebakanku saja karena bisa saja itu bals dendam Daddy karena kamu menculik diriku," pungkas Arabelle.
"Bagaimana pria brengsek itu bisa mengenali diriku, aku bukanlah orang bodoh!" Ben menekankan.
Arabelle mengatupkan mulutnya , tak bisa berkata-kata lagi.
"Kenapa tidak langsung kamu bunuh Daddy ku?" ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Arabelle. Sudah berbulan-bulan ia di sekap tetapi sampai saat ini Ben belum juga membunuh Almero.
"Itu urusanku. Suatu saat nanti kau akan menyaksikannya sendiri, dimana detik-detik itu terjadi." Papar Ben seraya tersenyum menyeringai, memikirkan bagaimana detik-detik Almero menuju ajalnya.
Arabelle memejamkan mata mendengar hal itu. Bohong jika saat ini hatinya tegar, mendengar orang yang sangat ia sayangi ingin dilenyapkan. Tetapi ia pasrah karena tidak bisa melakukan apapun.
"Kembalilah ke kamarmu, ini sudah dini hari. Bisa jadi istrimu mengkhawatirkan dirimu karena dikira belum pulang," lirih Arabelle dengan nada sesak, entah sesak karena masalah Almero atau sesak ketika mengingat nama Leksi.
Tanpa mendengar ocehan Arabelle. Ben membaringkan tubuhnya dengan posisi miring agar lukanya tak tertimpa kasur. Ternyata posisi itu menghadap. dimana Arabelle duduk termangu seraya menggenggam sapu tangan bekas membersihkan luka tadi.
__ADS_1
Deg
Bersambung 🔥🔥🔥