
🔥🔥🔥
Arabelle membuka mata perlahan. Ia sedikit kaget melihat selang infus melekat di tangannya.
"Ada apa denganku?" lirihnya.
"Maaf Nona tadi Nona pingsan," ucap kepala pelayan yang setia menjaga Arabelle karena terpasan infus.
"Aku ingin melepaskan ini," ucap Arabelle seraya menunjuk selang infus di tangannya.
"Bentar Nona." Kepala pelayan melakukan sesuai dengan keinginan Arabelle, lagi pula infus yang tersisa sebatas jari.
Huh....
Arabelle menghembuskan nafas panjang.
"Nona harus makan dan minum obat. Nona kekurangan cairan," ucap kepala pelayan sesuai anjuran dokter.
Arabelle tak bergeming. Ia hanya diam saja dengan pandangan sendu.
"Sebentar lagi makanan Nona akan diantarkan," pungkasnya dan setelah itu undur diri keluar kamar.
"Biarkan saja aku tidak makan. Karena aku ingin cepat-cepat mati," ucap Arabelle dengan suara meninggi, bermaksud mencurahkan isi hatinya.
"Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi!" Suara bariton itu membuat Arabelle membungkam mulutnya karena sudah tidak sadar dengan apa yang dikatakannya.
Ben melangkah dengan tangan memegang napan. Arabelle mengigit bibir bawah dengan wajah menunduk, bahkan ia engan untuk menatap Ben sehingga ia tidak tahu dengan apa yang Ben bawakan.
Ben langsung meletakan napan itu di hadapan Arabelle. Oleh karena itu membuat pertahanan Anda ngan Arabelle teralihkan.
"Segera makan, mumpung masih hangat," titah Ben menekankan. Itu adalah semangkuk bubur, susu dan potongan buah-buahan.
Arabelle tak bergeming, wanita itu malah melamun. "Ada apa dengannya? Jangan-jangan dia menambahkan racun dalam makanan itu," Arabelle membatin.
"Buang pikiran omong kosongmu itu karena tidak ada keuntunganku untuk menambahkan racun di makanan ini. Bukankah aku tidak ingin kau mati sekarang?" ujar Ben seakan tahu isi pikiran Arabelle.
"Hah.... apa dia seorang peramal? seakan tahu apa yang aku pikirkan?" batin Arabelle kembali dengan wajah panik.
"Tentu saja aku tahu! Jadi berhenti merutuki diriku jika kau tidak ingin mendapat masalah!"
Ssst
Arabelle mendesis tertahankan. Mulai saat ini ia tidak akan mengutuk pria itu jika berada dihadapannya.
__ADS_1
"Segera habiskan atau.... "
"Aku akan menghabiskan semua makanan ini jika penawaranku kamu turuti," papar Arabelle memberanikan diri untuk bernegosiasi.
Mata tajam menghujam, menghunus ke ulu hati itu membuat Arabelle tak berkutik. "Kau berani bernegosiasi denganku Arabelle? kau berani menawarkan sesuatu kepadaku?" bentuknya semakin membuat Arabelle menelan ludah.
"Penawaranku tidak berat. Aku hanya ingin bebas dari kamar ini. Bukan berarti aku ingin kabur," ungkap Arabelle dengan nada sendu. Sudah hampir 2 bukan ia hanya berdiam diri di kamar itu.
"Jangan macam-macam. Ingat kau adalah tawanan serta pemvaz untukku! Ingat itu!!!"
Arabelle memejamkan mata mendengar kata-kata kasar Ben yang merendahkan harga dirinya. Ingin sekali ia menangis disaat itu tetapi ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ben karena itu membuat dirinya semakin di injak-injak.
"Baiklah jika kamu tidak setuju. Silahkan tinggalkan aku dan bawa kembali makanan ini, aku tidak membutuhkannya. Biar saja aku mati, meregang nyawa didalam kamar ini," ucap Arabelle seperti ancaman, bahkan ia tidak sadar dengan kata-katanya seperti perintah.
Mata Ben membulat mendengar perintah Arabelle. Sungguh jantungnya ingin meledak mendengar pernyataan itu, bahkan ia orang pertama yang berani melakukan itu.
"Ada apa? apa ada yang salah?" tanya Arabelle berhasil membuat Ben kembali mengeram murka.
Arabelle akhirnya menatap Ben sehingga tatapan mereka bertemu. Rupanya tatapan Ben tak teralihkan.
Tatapan yang tentunya menyeramkan. Sampai-sampai Arabelle menelan ludah.
Drrtt
Melihat nama yang menghubunginya membuat Ben berlalu begitu saja. Ben keluar kamar sedangkan Arabelle menatap datar dengan kepergian Ben, bahkan dia belum mendapat jawaban yang pasti.
"Aku benar-benar sudah tidak tahan, berdiam diri seperti ini," lirih Arabelle dengan wajah sendu.
🔥🔥🔥
Sesuai yang di perintahkan, Ben kini dalam perjalanan ke kediaman seseorang yang banyak berjasa dalam hidupnya setelah menjadi yatim.
Butuh waktu 1 jam tiba di kediaman itu.
"Tuan," sapa pelayan di rumah itu.
"Dimana Daddy?" tanya Ben.
"Ada didalam kamar Tuan."
Ben langsung bergegas berjalan menuju kamar pemilik rumah.
Klek
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu Ben langsung membuka pintu kamar.
"Kau sudah datang son?" lirih seorang pria berumur dengan posisi berbaring.
"Dad, ada apa? Daddy sakit?" hanya Ben dengan wajah datar seraya berjalan mendekati ranjang.
"Kakak...." Panggil wanita berparas cantik yang baru saja keluar dari kamar mandi, ketika mendapati kedatangan Ben. Wanita itu langsung memeluk Ben, seakan melepas rindu. "Aku merindukanmu Kak," ucapnya dengan nada manja.
"Kapan kau pulang?" tanya Ben tanpa ingin membalas pelukan itu.
"Kemarin Kak," sahutnya masih betah bergelayut maja dalam pelukan Ben.
Ben menghembus nafas kasar.
"Kalian duduklah. Ada yang ingin Daddy bicarakan," titah pria itu seraya berusaha bangun. Wanita yang dapat di perkirakan putrinya itu membantu, memapah tubuh lemah itu untuk bersandar pada dipan.
"Daddy sudah tua dan sering sakit-sakitan. Mungkin ini saatnya ajal menjemput. Sebelum Daddy meninggal, Daddy minta tolong kepadamu son untuk menjaga Lexsi. Nikahi dia karena hanya kamu orang yang benar-benar bisa menjaganya. Daddy mohon," pungkas Arion Jhonn.
Deg
Seketika tubuh Ben menegang mendengarkan pernyataan sosok yang ia panggil Daddy.
"Lexsi kamu mencintai Ben bukan?" tanya Arion seraya memegang dadanya yang semakin sesak.
"Tentu Dad, dari dulu aku menyukai Kakak bahkan jatuh cinta kepada Kakak. Hmm Kakak saja yang tidak pernah menyadari itu," papar Lexsi dengan semangat menggebu-gebu.
"Daddy mohon son. Lexsi adalah satu-satunya yang Daddy miliki. Nikahi dia dan cintai dia sebagai mana Daddy menyayangimu," lirih Arion dengan nada tersendat-sendat seraya memegang dadanya.
Ben seakan dimintai pilihan. Di satu sisi ia sudah menikah tanpa diketahui pria yang sudah ia anggap Daddy ini. Dan di satu sisi ia tidak mungkin menolak permintaan itu karena itu bersangkutan dengan Arion, orang yang menjadi gurunya sampai dalam puncak ini.
"Daddy mohon, kabulkan permintaan Daddy, agar Daddy tenang di alam sana. Jaga dan cintai dia. Lexsi sayang jadilah seorang istri yang berbakti," lirihnya kembali semakin tersendat-sendat.
"Daddy sesungguhnya aku....."
"Daddy.... bangun Daddy...." Teriak Lexsi seraya menggoncang tubuh lemah itu. Tetapi tak membuahkan hasil. Arion sudah tenang di alam sana, sesuai yang ia harapkan.
"Daddy...." Ben ikut menggoncang tubuh itu dengan wajah datar. Ia memeriksa denyut nadi serta nafas Arion sehingga tubuhnya melemas. "Daddy sudah tiada," ujar Ben dengan nada sesak.
"Kakak..... Daddy Kakak...." Tangis Lexsi seraya memeluk Ben.
Ben mengeram. Seketika ingatan masa lalu, masa dimana ia pertama kali mereka bertemu. Bahkan Arion Jhonn adalah yang menguburkan Williams serta Brenda waktu itu.
Arion orang yang banyak berjasa dalam kehidupannya. Arion juga orang yang membuat dirinya sampai menjadi seperti ini.
__ADS_1
Bersambung🔥🔥🔥