MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 44. Apakah Dia Mengidam?


__ADS_3

🔥🔥🔥


Deru nafas halus mulai terdengar, menandakan Ben sudah tertidur.


Arabelle menggerakkan kepala Ben, ingin memindahkan ke bantal. Kedua pahanya mulai kram.


"Jangan pergi," gumam Ben kembali membenamkan wajahnya di perut Arabelle.


Ssst


Arabelle mendesis. "Ada apa dengan pria ini? seakan aku tak mengenali dirinya," batin Arabelle.


Tangannya terangkat untuk mengusap kepala Ben. Arabelle mengusap kepala itu dengan perasaan campur aduk.


Mendapat usapan lembut itu semakin membuat tidur Ben menjadi nyenyak.


Dengan penuh kehati-hatian, Arabelle memindahkan kepala Ben ke atas bantal karena ia ingin membuatkan makanan buat Ben.


Saking lelapnya Ben tak terusik.


Arabelle keluar kamar langsung menuju dapur. Apartemen itu sangat luas tetapi memiliki 1 kamar saja.


"Oya dia mengatakan jika tidak ada persediaan makanan di sini, hmm jadi aku harus masak apa?" gumam Arabelle bingung. "Mau menghubungi Bram dari mana, ia tidak diizinkan memegang ponsel. Ia juga tau jika dalam apartemen ini banyak kamera CCTV nya.


Arabelle mencoba membuka lemari es. Matanya melebar mendapati lemari es penuh dengan berbagai macam sayuran serta potongan daging tertata rapi di sana.


Bukankah tadi Ben mengatakan jika di apartemen ini tak ada persediaan bahan mentah. "Dasar pembohong," umpat Arabelle dengan bibir mengerucut.


Tanpa berpikir panjang lagi ia mengeluarkan bahan yang digunakan untuk bahan buat sup.


Ia akan membuat shchi sup yang paling populer di negara Rusia.


Melihat kondisi Ben donw, sehingga sup ini lebih baik untuk mengembalikan energi tubuhnya. Sup yang terdiri dari kubis, sorrel, jamur, salmon, dan iga asap.


Tidak menjadi penghalang bagi Arabelle mengolah bahan itu karena pada dasarnya ia suka memasak dan selalu mencoba hal lain ketika masih di Mansion milik orang tuanya.


Hummp


"Aromanya lezat sekali. Kok aku tiba-tiba kepengen," oceh Arabelle kepada diri sendiri. Hmm untung saja aku buat banyak," ocehnya kembali seraya menyesap cita rasa, apakah masih kurang.


Merasa tak ada yang kurang ia mematikan kompor. Lalu menuangkan kedalam mangkok, ia sengaja menyediakan dua mangkok.


Dua mangkok berisi sup shchi di atas meja makan.


"Apakah dia sudah bangun? ini sudah sore," gumam Arabelle seraya melirik jam yang terpanjang di meja televisi.


Arabelle melangkah memasuki kamar untuk memastikan Ben. Benar saja pria itu masih terlelap dengan posisi memeluk guling.


"Bagaimana ini, mau dibangunkan takutnya ngamuk. Tetapi tidak dibangunkan nanti sup itu keburu dingin," gumamnya serba salah.


Huh....

__ADS_1


Arabelle menghembus nafas cepat. Dan akhirnya mencoba membangunkan Ben.


"Ayo bangun," ucap Arabelle dengan nada lembut seraya menepuk punggung Ben. Tetapi tak berhasil membuatnya terbangun. "Ayo bangun, aku sudah buatin sup, nanti keburu dingin," bisik Arabelle.


Buk


Awww


Tiba-tiba kini tubuh Arabelle berada di atas tubuh Ben. Ternyata Ben tiba-tiba menarik tubuhnya sehingga posisinya seperti itu.


"Sudah aku katakan, aku tidak ingin makan apapun kecuali tubuhmu," ujar Ben dengan serak khas bangun tidur.


"Lepaskan!" Seru Arabelle berusaha bangkit tetapi tentunya tidak dibiarkan oleh Ben.


Cup


Dalam sekejap bibir keduanya menyatu. Ben menarik tengkuk Arabelle agar ia dapat meraup bibir seksi itu.


Mata Arabelle melebar dengan mulut menganga karena kaget, hal itu keuntungan bagi Ben untuk merogoh ronga mulutnya.


Awalnya Arabelle menolak tetapi lama-kelamaan pertahanannya kembali runtuh. Keduanya menikmati bibir masing-masing dengan mata terpejam. Dengan tangan Ben menjalar dikedua daging kenyal yang menindih dada kekarnya.


Hhmmp


Decapan demi decapan memenuhi isi kamar hening itu.


Uwek.....


Tiba-tiba Ben merasakan mual kembali sehingga terpaksa ciuman panas itu terlepas. Ia bangkit bergegas berlari masuk ke kamar mandi.


Arabelle mengatur ritmen jantungnya. Wajahnya sudah memerah. Malu tentu saja menyelimuti hatinya, kenapa dengan mudahnya ia terbuai. "Ingat Ara dia hanya memanfaatkanmu," batin Arabelle. Seketika ingatan sekilas dimana posisi Lexsi, bahkan sekarang sedang mengandung buah cinta mereka.


Mata Arabelle membulat seakan paham dengan perubahan Ben. Ben sering muntah dan merasakan mual serta nafsu makan hilang. Seperti mitos mengatakan itu pertanda istrinya sedang hamil muda, lalu ngidamnya ke suami.


Hal ini sangat bertepatan sehingga kemungkinan itu benar.


Melihat Ben tidak keluar dari kamar mandi membuat Arabelle bangkit, menyusul masuk ke kamar mandi.


Ben membasuh mulutnya sembari berkaca.


"Apa sudah baikan?" tanya Arabelle.


Ben tak menjawab karena mulutnya masih berkumur. Arabelle dapat melihat wajah Ben begitu pucat.


"Sebaiknya kamu makan dulu," saran Arabelle dengan sikap dingin.


Ben menghela nafas panjang. Gejala yang baru kali ini ia rasakan ini sangat menyiksa. Perutnya seakan diaduk-aduk didalam sana.


Arabelle keluar dari kamar mandi dan diikuti oleh Ben.


Keduanya keluar menuju meja makan. Arabelle menarik kursi untuk di duduki oleh Ben. Lalu menarik kursi di sebelahnya untuk ia duduki.

__ADS_1


"Makanlah, sepertinya perutmu kosong." Arabelle menggeser mangkok itu di hadapan Ben.


Ben terdiam seraya mencengkram perutnya.


"Ada apa? apa tidak enak?" tanya Arabelle dengan mulut mengunyah pelan.


"Mana aku tau, mencicipinya saja belum," ujar Ben seperti menahan sakit.


"Mau aku bantu suapkan?" pertanyaan yang tadi ia tunggu-tunggu akhirnya lolos begitu saja dari mulut Arabelle.


"Sudah aku katakan tidak ingin makan, jadi jangan dipaksakan," Akal-akalan Ben.


Tidak ingin mendengar ocehan tidak penting itu membuat Arabelle merubah posisi duduknya. Ia duduk menyamping menghadap Ben. Diraihnya mangkok itu lalu menyodorkan sendok ke mulut Ben yang masih terkatup rapat.


"Makanlah, aku sudah capek membuat ini," bentak Arabelle.


Seketika mulut Ben menganga mendengar bentakan Arabelle. Bukan menganga untuk menyambut suapan itu tetapi karena kaget menerima bentakan itu.


A....a....


1 sendok berhasil mendarat didalam mulut Ben. "Enak bukan? tenang saja didalam ini tidak ada racunnya, bagaimana mungkin aku bisa kasi racun sedangkan keluar saja tidak bisa," cicit Arabelle. " Hmm kecuali....." Arabelle menggantung.


"Kecuali apa?" tanya Ben sembari mengunyah.


"Kecuali obat penyembuhan," sahut Arabelle seraya mengaduk sup tersebut.


Ben tak menanggapi.


Keadaan menjadi hening hanya terdengar dentingan sendok beradu dengan mangkok. Tidak disangka ternyata sup itu tak bersisa. Ben sangat menikmatinya.


"Habis," gumam Arabelle dengan girang seperti ketika di tembak pria.


"Kau sangat senang?"


"Itu hanya perasaanmu saja. Hmm apa kamu ingin menambah?"


"Apa masih ada?"


"Masih karena aku sengaja memasak banyak."


"Beri 1 porsi lagi."


"Dia benar-benar mengidam," batin Arabelle dengan perasaan sesak tak berdasar.


Senyuman tersembunyi di bibir Arabelle. Arabelle bangkit berdiri untuk mengambil kembali.


Ben menarik mangkok bekas Arabelle, memakannya sampai tandas.


"Kok punyaku dimakan? itu bekasku, jijik tau," ucap Arabelle seraya meletakan mangkok di atas meja.


"Jangankan bekas sekecil ini, milikmu saja aku tak jijik," goda Ben seraya mengigit pipi dalamnya.

__ADS_1


Dalam sekejap wajah Arabelle merah padam, sehingga membuatnya membuang muka.


Bersambung🔥🔥🔥


__ADS_2