MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 24. Layani Aku!


__ADS_3

🔥🔥🔥


"Sakit?" ujar Ben tanpa ingin melepaskan cengkeramannya.


Arabelle memegang tangan Ben tetapi tenaganya tak sebanding.


Bruk


Awww.....


Arabelle kembali menjerit akibat tubuhnya dihempaskan kepada sandaran dipan. Sedangkan Ben tak peduli akan jeritan Arabelle, malah ia ingin lebih mendengar jeritan lebih dari itu.


"Aku beri dua pilihan. Layani aku di atas ranjang atau orang yang kau sayangi akan selamat. Tetapi jika kau menolak, berarti kau memilih mereka mati perlahan," ancam Ben tidak main-main.


Arabelle menggelengkan kepala, bagaimana bisa ia memilih hal yang sama-sama merugikan. "Kau tidak bisa memenuhi permintaanku? oke berarti kau memilih mereka mati perlahan," ujar Ben dengan rahang mengeras. Ia lalu memutarkan tubuh ingin keluar dari kamar.


"Tunggu," lirih Arabelle. Bagaimana mungkin ia tega sesuatu terjadi kepada keluarganya. Panggilan itu tak membuat Ben menghentikan langkahnya. Melihat hal itu membuat Arabelle berusaha bangkit. "Tunggu....." Serunya kembali.


Ben menghentikan langkahnya tepat di daun pintu yang masih tertutup tetapi tak membuat pria bertubuh kekar berotot itu membalikan badan.


"Kau memilih mereka. Sebentar lagi kau akan mendengar kabar sukacita," ancam Ben. "Tawar menawar tidak berlaku lagi," pungkasnya dengan tatapan menyeringai.


Mata Arabelle melotot mendengar hal itu. Kini kedua kakinya sudah sulit untuk berpijak di lantai. Seketika ingatannya kepada Almero maupun Bibi, dimana kedua orang ini yang sangat ia sayangi. Ancaman Ben tidak main-main, hal itu dapat disadari oleh Arabelle.


Tangan Ben terangkat ingin membuka pintu dengan sidik jari.


Arabelle melangkah tanpa berpikir panjang lagi langsung memeluk tubuh Ben dari arah belakang. Kaget tentu saja meliputi hati Ben. Ben sempat memejamkan mata, seketika ingatan di malam itu terlintas kembali. Hal yang sama dilakukan Arabelle sebelum mereka berakhir ran Jang panas.


"Aku, aku akan melayanimu tetapi aku mohon jangan sakiti keluargaku. Aku mohon jangan sakiti mereka," lirih Arabelle memohon dalam pelukan itu sembari meneteskan air mata.


Kata-kata Arabelle mengingatkan Ben pada masa lalunya, dimana Williams memohon kepada Brid agar tidak menyakiti mereka. Tetapi pria brengsek itu tak peduli dengan rintihan hati Williams.


Tangan Ben terkepal erat, dengan rahang mengeras. Luka itu kembali terbuka, dengan darah mendidih ia langsung menepis kedua pelukan Arabelle, lalu menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Tatapan Ben membuat tubuh Arabelle membeku. Tatapan ingin membunuh kini tidak bisa ia hindari.


Ben menarik rambut panjang Arabelle agar mendekat kepadanya. Dalam sekejap kini bwbir keduanya menyatu. Dengan pasrah Arabelle menerima bwbir zekzi itu, menyambutnya sehingga dengan mudah Indra perasa itu mengeksplor keluar masuk dalam rongga mulutnya.


Ssst


Arabelle mendesis sakit akibat cengkraman dikedua bahunya. Ben tak berhenti sampai di situ. Rasa dendam bercampur naf zv sudah menguasai dirinya.


Ben maju perlahan sedangkan Arabelle mundur dengan perlahan tanpa melepas pangutan itu. Tubuh Arabelle tersungkur tepi ran Jang sehingga kini bokongnya mendarat di atas kasur. Sungguh keahlian ciuman panas Ben membuatnya terlena. Ini hanya masih ciuman saja, belum semuanya tetapi dalam sekejap membuat Arabelle lupa akan daratan.


Keduanya saling melepaskan pangutan karena merasakan kehabisan oksigen. Wajah bersemu merah tidak dapat dihindari lagi dari keduanya. Sorot mata memerah meliputi bola mata indah keduanya.


"Aku akan membuat kau tidak bisa melupakan permainan ini dan aku akan membuktikan kau akan ketagihan," senyuman menyeringai terukir di bibir zekzi itu.


A.....h


Lenguh Arabelle tak sadar sehingga dengan cepat ia membungkam mulutnya, rasa tak tahu malu tentu saja menyelimuti harga dirinya. Sedangkan Ben di bawah sana tersenyum mengejek. Indra perasa serta jari-jemari nakalnya menggobok ladang sempit milik Arabelle.


Ingin sekali Arabelle menjerit nik Matt tetapi tidak mungkin ia melakukan itu. Sebagai menyalurkan kenik mattan itu, kedua tungkangan jenjang nan indah itu menjepit kepala Ben dengan gerakan mengeliuk-liuk. Arabelle berhasil mengalirkan air ke sumur ladang akibat cangkul yang dikerjakan Ben.


Ben kembali beraksi.


Arabelle mengigit bwbir bawahnya ketika merasakan Indra perasa itu menjelajahi ukiran indah yang kini tanpa sehelai penutup. Dan berakhir lama di kedua seperti menyerupai daging kenyal mengeras memucung menggantung indah.


Ssst....


Desis Ben disela-sela Menik matti coklat kemerahan dengan silih berganti. Hal itu membuat Arabelle tak tahan, tanpa sadar kedua tangannya menjambak rambut Ben seakan tidak ingin sang pemain melepaskannya begitu saja.


Ben diam-diam tersenyum. Usahanya membuahkan hasil. Arabelle masuk kedalam perangkapnya. Keduanya saling memejamkan mata, sama-sama terlena.


Ben menghentikan aktivitasnya, ia menatap lekat-lekat wajah simpah peluh Arabelle yang sedang memejamkan mata karena Menik matti permainannya. Merasa sesuatu hilang membuat Arabelle membukakan mata perlahan. Dan matanya terbelalak kaget mendapati wajah menyeringai Ben berada dtepat di atas wajahnya.


"Kau sangat Menik matti sekali. Kau wanita jala**, buktinya kau sudah tak virgin lagi!" Ujar Ben merendahkan harga diri Arabelle seakan dapat merasakan sewaktu jari-jemari itu mencangkul ladang sempit milik Arabelle.

__ADS_1


Mendengar dirinya direndahkan membuat Arabelle meneteskan air mata. Apa yang di katakan Ben tentulah benar sehingga membuat Arabelle membuang muka dengan kedua tangan menutupi area dadanya. Air mata tentu saja tidak bisa dihindari lagi, sungguh harga dirinya sekarang diinjak-injak seakan ia hidup sia-sia.


"Layani aku sekarang, sebagaimana kau pernah melayani para lelaki di luar sana. Aku tidak ingin dikecewakan! Ujar Ben dengan tegas.


(Akan dilanjutkan ke part selanjutnya)


🔥🔥🔥


Di sebuah Mansion


Almero bersama seluruh penghuni Mansion mundar-mandir. Sudah malam tetapi Arabelle belum juga kunjung pulang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi dan tidak dapat mengakses dimana keberadaan ponsel serta mobil milik Arabelle.


"Panggil Boy," titah Almero kepada salah satu pelayan. Boy adalah supir pribadi Arabelle selama ini.


Tidak menunggu lama Boy datang bersama pelayan yang tadi memanggilnya.


"Boy kau pasti tahu, dimana Ara?" ujar Almero langsung ke intinya.


"Maaf Tuan, hari ini saya tidak menjemput Nona. Sesuai perintah Nona," ucap Boy.


"Jadi Ara menyetir sendiri?"


"Iya Tuan," jawab Boy.


"Silahkan kembali bekerja," titah Almero dengan raut wajah hawatir.


"Sayang coba tanyakan kepada Jane, mungkin saja mereka ada pekerjaan yang belum terselesaikan," ucap Gres.


"Aku sudah menanyakan ke pihak kantor yang bertugas piket malam ini. Tetapi di kantor tidak ada karyawan satupun yang lembur," ujar Almero.


Almero menghubungi Jane, dan menanyakan posisi Jane sekarang serta menanyakan keberadaan Arabelle.


"Jane sekarang sudah berada di apartemen tetapi dia tidak tahu keberadaan Ara. Terakhir mereka berpisah di basemen kantor dan Ara tidak mengatakan apapun ingin kemana kecuali langsung pulang," papar Almero sembari mengusap wajah.

__ADS_1


Sedangkan Bibi sejak tadi tak hentinya menangis didalam kamar. Wanita itu sangat mencemaskan keadaan Arabelle.


Bersambung....


__ADS_2