MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 29. Ingin Mengakhiri


__ADS_3

🔥🔥🔥


Bagai disambar petir menembus jantung Brid. Dimana didalam layar laptop terpampang wajah jelas Arabelle sedang memohon disertai teriakan menjerit.


Bola mata elang itu seperti ingin keluar dari tempatnya. Rahang kekar itu mengeras serta buku-buku tangan itu mengepal kuat.


Tubuh Brid langsung tergolek lemah. Jantungnya bergemuruh ingin meledak saat itu juga. Hati orang tua mana yang tak sakit bahkan melebihi dari kalimat itu melihat putri yang sangat disayanginya di perlakukan begitu keji tak ada ampun.


"Ara, Arabelle....." Gumam Brid seraya memegang dadanya. "Katakan bahwa ini tidak benar sayang, katakan jika itu bukan dirimu, hanya kebetulan mirip saja," gumamnya kembali seakan yang ada dalam rekaman itu bukanlah Arabelle putri kesayangannya.


Brid berulang kali memutar rekaman singkat itu, untuk membuktikan siapa pria yang berani memperlakukan Arabelle, tetapi sayangnya ia tidak dapat memastikan karena yang empunya sengaja tidak menampakan wajahnya.


Brid mencabut flashdisk lalu melemparkan laptop itu tanpa berbentuk lagi. Sesaat ia menenangkan diri karena sampai sekarang jantungnya bergemuruh.


"Siapa yang berani melakukan perbuatan keji itu kepada putriku? lihat saja pembalasanku, akan kubuat kau mati perlahan. Brengsek!" Sumpah serapah Brid mengutuk pria yang menyandera Arabelle.


🔥🔥🔥


Kamar bernuansa hitam ini menjadi saksi biksu dezahan, erangan, kenikmatan sekaligus saksi biksu tangisan serta jeritan. Seperti saat ini yang bisa dilakukan Arabelle adalah menangis dan terus menangis hingga kedua mata indah itu membengkak.


Klek


Pintu kamar terbuka. Tidak membuat Arabelle mengalihkan pandangannya. Ia sudah tahu siapa yang memasuki kamar terkutuk ini.


"Nona kenapa makanan Nona masih utuh?" tanya kepala pelayan dengan perasaan iba.


Diam tanpa ekspresi, itulah yang terjadi. Arabelle bisa dipastikan seperti mayat hidup tanpa ekspresi.


Kepala pelayan menarik nafas. Sarapan pagi juga dilewati Arabelle. Dan sekaran kepala pelayan membawa cemilan dikala sore, ternyata makan siang Arabelle juga masih utuh tak tersentuh sama sekali.


"Nona nanti bisa sakit jika perut Nona tak terisi makanan," ucap kepala pelayan dengan lembut.


Hati Arabelle tergerak menatap wanita seumuran dengan Bibi Lewi.


Tes tes


Air mata pilu itu kembali membasahi pipi sembap Arabelle. "Bawa saja semuanya Bi, aku tidak membutuhkannya," lirih Arabelle dengan suara hampir tak terdengar. "Tinggalkan aku sendiri Bi, terima kasih...." Ucap Arabelle kembali dengan wajah begitu memilukan seraya menyeka air matanya.


Bibi mengangguk seraya mengambil piring makanan Arabelle untuk dibawa kebawah karena sudah tak layak untuk di makan.


Selepas kepergian kepala pelayan. Arabelle berusaha bangkit, tubuhnya masih terasa sangat sakit akibat kebrutalan Ben. Bahkan Arabelle trauma dengan kejadian kemarin. Setiap saat ia tidak tenang, takut jika Ben kembali datang.

__ADS_1


Langkah Arabelle berjalan kearah balkon. Selama disekap di kamar ia belum pernah memasuki balkon. Kini entah apa yang mengerakkan hatinya hingga ia berniat ingin berdiam diri di balkon dengan tujuan untuk mendapatkan angin segar.


Balkon itu sangat luas serta ada tempat untuk bersantai seperti kursi ayunan serta sofa, bahkan kolam renang juga terdapat di sana. Sungguh pemandangan yang sangat indah tetapi terbalik jauh dengan suasana hatinya.


Pandangan Arabelle tertuju pada tangga yang terdapat di sisi kiri. "Apa itu akses menuju rooftop?" Gumam Arabelle seakan paham karena di Mansion milik orang tuanya juga persis sama.


Entah apa yang membuat Arabelle ingin ke sana. Dengan kaki gontai ia menaiki tangga yang terbuat dari bahan kaca.


Mata Arabelle melebar mendapati rooftop yang begitu luas. Dan itu adalah tempat lepas landas Helikopter.


Arabelle duduk di sisi yang sangat berbahaya, sisi pembatasan. Di atas sana ia dapat melihat air laut serta pemandangan kota. Arabelle tahu jika Mansion ini terletak di sudut kota karena banyak pepohonan seperti hutan lindung yang begitu indah.


"Aku sudah hancur dan tak berguna lagi. Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Aku malu dengan diriku sendiri, terlebih lagi dengan masa lalu Daddy. Daddy, Ara tidak pernah menyangka Daddy memiliki masa lalu yang sangat tak manusiawi," lirih Arabelle. Arabelle memegang dadanya yang terasa begitu sesak. "Ara tidak tahu apa itu benar atau tidak, tetapi Ara tidak bisa mengelak jika itu benar-benar yang dikatakan Ben. Ben tidak bersalah dalam hal itu, niatnya adalah membalaskan dendam kepada Daddy," lirih nya kembali seraya menyeka air matanya.


Arabelle menarik nafas sesaat, merasa tenang ia beranjak bangkit. Langkahnya semakin menepi kepada pembatas.


Siapa yang tidak merasa merinding, ngeri bila melihat pandangan kebawah sana. Tak terkecuali Arabelle karena sejujurnya ia fobia dengan ketinggian. Dulu teman sekampusnya melemparkan diri dari gedung universitas hingga meregang nyawa ditempat.


"Jika aku melemparkan diri dari sini, maka semuanya akan berakhir. Selesai!" Gumam Arabelle kehilangan akal sehatnya. Seketika ingatan beberapa tahun lalu terlintas, dimana teman sekampusnya berhasil bunuh diri.


Kakinya terangkat ke atas pembatas. Jujur ia sangat merasa ngeri melihat ke bawah sana.


Arabelle memantapkan diri untuk mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari ketinggian itu.


Dibawah sana semua pelayan saling berteriak. Menyerukan Arabelle agar tidak melakukan tindakan bodoh.


"Nona.... Nona, jangan lakukan itu. Turun Nona...." Teriak mereka tetapi sama sekali tak digubris oleh Arabelle.


"Bagaimana ini?" ucap kepala pelayan dengan wajah panik. Lalu ia bersama beberapa pelayan bergegas berlari masuk kedalam Mansion untuk mencegah Arabelle melakukan hal bodoh itu.


Kepala pelayan berhasil masuk ke kamar pribadi Ben tetapi sayangnya pintu akses menuju balkon terkunci oleh Arabelle dari luar. Pintu itu tidak sembarangan pintu sehingga sangat sulit untuk dibukakan jika tidak ada kunci.


Beberapa pelayan bergegas keluar dari kamar lalu berlari menuju akses menuju rooftop. Ternyata pintunya juga terkunci. Mungkin itu Ben sendiri yang menguncinya karena tidak sembarangan orang yang diperbolehkan keluar masuk pada area itu, kecuali Bram.


Mereka berusaha memanggil-manggil Arabelle.


"Buat apa kalian mencegah? andai kalian tahu hidupku sekarang sudah hancur, hancur berkeping-keping. Hancur lahir batin, hancur dikecewakan oleh orang yang selama ini aku anggap superhero," gumam Arabelle.


"Ada apa ini?" suara bariton lantang itu membuat para pelayan menoleh kearah suara.


"Tuan," ucap mereka serentak dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


"Tuan, Tuan.... Nona Tuan.... Nona!" Ucap salah satu dari mereka seraya menunjuk kearah atas tepat dimana Arabelle berdiri di sisi.


Pandangan Ben maupun Bram mengikuti arah telunjuk pelayan tersebut.


Deg


Mata Ben maupun Bram membulat mendapati Arabelle berdiri seakan ingin meloncat dari atas rooftop.


"Dasar bodoh!" Umpat Ben langsung bergegas lari masuk kedalam Mansion. Bram bergegas mengejar Ben.


Didalam lift menuju rooftop Ben tidak tenang. Apakah ia terlambat? apakah Arabelle sekarang sudah terkapar dibawah sana? apakah sekarang Arabelle sudah tak bernyawa? ketakutan yang tak berdasar menyelimuti hati Ben. "Kenapa lama sekali," umpat Ben padahal biasanya memang begitu tetapi ini serasa sangat lama baginya.


Ting


Dengan langkah panjang ia berlari membuka pintu akses menuju rooftop. Di depan pintu beberapa pelayan merasa lega atas kedatangan Ben pada tepat waktu.


"Minggir kalian," ujar Ben seraya menempelkan sidik jarinya. Pintu terbuka dengan berlari Ben mendekati Arabelle. Ada perasaan lega ketika ia mendapati Arabelle masih berdiri di atas sana.


Prok prok prok....


Tepuk tangan yang berada dari belakang dirinya membuat lamunan Arabelle membuyar. Ia sangat penasaran dengan tepukan tangan itu.


"Apa kau ingin meloncat dari sana? silahkan saja bukankah itu keberuntungan bagiku? tanpa mengotori tangan untuk melenyapkanmu," ujar Ben seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.


Arabelle tersenyum miris mendengar pernyataan Ben. Bukannya berniat mencegah tetapi pria itu malah mendukung keinginannya untuk mengakhiri hidup.


"Kamu benar," lirih Arabelle dengan singkat hampir tak kedengaran.


Hal itu membuat jantung Ben bergemuruh. Jujur saat ini perasaan takut menyelimutinya. Takut jika Arabelle benar-benar melakukan hal konyol itu. Entah apa maksud dari perasaannya itu, ia sendiri tidak tahu atas dasar apa ia merasa ketakutan.


"Ternyata putri dari Brid Almero, seorang CEO dari perusahaan ALMERO GROUP yang telah menguasai perusahan milik orang lain ternyata berpikir pendek, bahkan itu sangat konyol," ujar Ben seakan mengejek dan memberi sindiran yang mengenakan di hati Arabelle.


Arabelle terdiam tanpa ingin mencela perkataan Ben.


"Sekarang dia menuai apa yang ditabur. Atau bisa saja pria brengsek itu saat ini serangan jantung atas hadiah yang sudah aku kirim," ujar Ben tak berhenti sampai disitu, dengan wajah sangat bahagia.


"Cukup, cukup. Hentikan!" Teriak Arabelle seraya menutup kedua telinganya, ia tidak tahan mendengar apa yang dikatakan Ben tentang Almero.


Ben mengembangkan senyuman tanpa menyadari salah satu Arabelle mulai melangkah menggantung.


"Daddy, Ara kecewa kepada Daddy. Bibi....maafkan Ara," batin Arabelle dengan menutup mata.

__ADS_1


"Arabelle...." Teriak Ben.


Bersambung🔥🔥🔥


__ADS_2