MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 55. I Love Yau


__ADS_3

🔥🔥🔥


Mendengar kabar duka itu membuat keduanya saling merenung. Arabelle sebetulnya sangat sedih karena ia sangat menyayangi Brid. Sedangkan Ben seakan hatinya sudah mati untuk Gres.


Ben menghela nafas. "Kenapa kau sembunyikan dariku?" ujar Ben seraya menatap Arabelle lekat-lekat.


"Sembunyikan apa?" tentu saja Arabelle tidak tau apa yang ditanyakan Ben.


Sesaat Ben memejamkan mata, lalu kembali menggenggam tangan Arabelle.


"Bayi dalam kandunganmu tidak bisa diselamatkan," ujar Ben dengan nada berat.


"Bayi?"


Ben mengangguk. "Iya bayi kita tidak bisa disematkan," imbuh Ben kembali.


"Ja-jadi aku hamil begitu?"


Mendengar Arabelle bertanya membuat Ben menatap dengan seksama.


"Jadi kau tidak tau?"


Arabelle menggeleng. Tangannya terlepas dari genggaman itu, lalu mengusap perut yang masih rata. "Aku hamil? tetapi bayiku tidak selamat? hiks hiks..... " Seketika tangis Arabelle pecah seraya mengusap perutnya.


Sungguh selama ini ia tidak menyadari jika dirinya tengah mengandung. Dan kini ia tau tetapi takdir berkata lain.


"Aku minta maaf, ini semua kesalahanku," lirih Ben seraya menenangkan Arabelle.


"Anakku maafkan Mommy sayang, telah gagal menjagamu," lirih Arabelle sembari terisak.


"Sayang tenanglah. Jangan banyak bergerak," ujar Ben berusaha menenangkan Arabelle karena ia meronta-ronta.


Awww


Desisnya merasakan nyeri. Tidak lama ia hilang kesadaran.


"Sayang, sayang....." Panggil Ben dengan panik.


Ia kembali memanggil dokter.


🔥🔥🔥


1 bulan kemudian


Hari ini Arabelle akan pulang dari rumah sakit. Keadaannya lebih membaik. Tetapi hatinya masih terpukul atas kehilangan bayi yang tak pernah ia sadari.


Arabelle banyak diam setelah kejadian itu, sedangkan Ben siap siaga 24 jam berjaga di samping Arabelle.


"Aku tidak ingin kembali ke Mansion," ucap Arabelle.


Mendengar perkataan Arabelle membuat dahi Ben mengerut.


"Kenapa?"


"Kamu bilang kenapa? tentu saja aku tidak ingin tinggal satu atap dengan maduku," sindir Arabelle dengan membuang muka.


Senyuman mengembang di bibir Ben, hal itu membuat Arabelle menatap sinis.


"Lexsi lagi mengandung buah cinta kalian," lirih Arabelle dengan nada pelan, bahkan raut wajah itu mengarah ke hal sendu.


Salah satu alis Ben tertarik ke atas mendengar ucapan Arabelle.

__ADS_1


"Aku akan pulang ke Mansion orang tuaku. Sebaiknya kita pi-pisah," ucap Arabelle dengan mata berkaca-kaca.


Deg


Mata Ben melebar mendengar perkataan Arabelle.


Ben menangkup wajah Arabelle hingga tatapan mereka saling bertemu dalam. "Ingat sampai kapanpun kita tidak akan pisah," ujar Ben.


"Sudah cukup Ben, bukankah misi balas dendam itu telah usai? apakah kamu belum puas menyakitiku? apakah aku tidak pantas bahagia sedikit saja?" cecar Arabelle seraya menangis.


Ben menggelengkan kepala.


"Aku mohon," lirih Arabelle seperti memohon.


Ben menggelengkan kepala.


"Tentu saja kau berhak bahagia tetapi aku yang akan membahagiakanmu. Tidak ada perceraian atau apapun diantara kita. Kau tetap akan menjadi istri seorang Ben Brylee, istri satu-satunya," pungkas Ben.


Arabelle menggelengkan kepala. Ia tidak akan termakan dengan omong kosong Ben.


"Aku tidak pernah menikahi Lexsi tetapi....."


"Cukup Ben, simpan omong kosongmu itu!" Sungguh kali ini Arabelle sangat berani, sedikitpun rasa takut itu seakan hilang untuk menghadapi Ben.


Ben menarik nafas.


"Percayalah. Apa yang dikatakannya itu omong kosong. Tentang ia mengandung aku sama sekali tidak tau, jika itu benar itu bukanlah darah dagingku. Aku tidak pernah menyentuhnya, bahkan selama ini kami tidaklah satu kamar. Asal kau tau aku tidur di ruang kerjaku," ungkap Ben.


Arabelle tertekun sesaat, tidak menyangka.


"Aku membiarkannya bebas karena permintaan Daddy nya sebelum meninggal. Aku disuruh untuk menikahi Lexsi. Aku sangat berhutang budi dengan orang tuanya. Orang tuanya lah yang menyelamat dan merawatku pada waktu kejadian waktu itu," papar Ben. "Tetapi bagaimanapun aku tidak bisa mengikuti perintah Daddy nya karena aku sudah menikah, walaupun pernikahan dalam misi balas dendam tetapi aku berkomitmen tentang hal yang sakral. Jika aku tidak punya hati buat apa menikahimu dengan sah," imbuhnya.


Sekali lagi membuat Arabelle tertekun. Sejak tadi ia menatapi bola mata itu, di sana tidak ia dapati kebohongan.


Tubuh Ben membeku mendapat pelukan dari Arabelle. Perlakuan yang tak pernah ia duga.


"Aku percaya, ya aku sangat percaya," lirih Arabelle seraya menyembunyikan wajahnya di dada kekar itu.


Ben terenyuh, ia membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Ia kecup berkali-kali pucuk kepala itu.


"Aku minta maaf sayang, sudah membubuhkan penderitaan untukmu. Mulai sekarang aku akan merubah segalanya. Memberi, menghujani kebahagiaan untukmu," ujar Ben.


Arabelle tergugu seperti anak singa pada induknya.


Ben melepaskan pelukan mereka, lalu memegang kedua bahu Arabelle.


"Aku mencintaimu Arabelle. Ya aku mencintaimu....." Pungkas Ben.


Mata Arabelle membulat mendengar pernyataan cinta itu.


"I love yau."


Tes tes


Air mata tak dapat ia bendung lagi. Ungkapan perasaan Ben berhasil membuat hatinya terketuk.


"Sayang mari menua denganku."


Arabelle mengangguk disertai lelehan air mata.


"Aku berusaha memberi kebahagiaan untukmu." Ben menyapu air mata itu dan ia kembali nmn l ue aqmembawa tubuh kecil itu dalam pelukannya.

__ADS_1


"I love you."


"I love yau too."


Cup


Kecupan sekilas mendarat di bibir Arabelle.


🔥🔥🔥


Di Mansion


Ben menggendong Arabelle ala bridal, membawanya masuk kedalam mansion. Semua pelayan menatap heran dengan diam-diam. Selama ini Ben tidak pernah menunjukan sikap romantis kepada istrinya. Tetapi kali ini sungguh membuat mereka terkejut.


Tepat di ruang keluarga langkahnya terhenti mendapati sosok Lexsi di sana.


Wajah Lexsi memerah melihat dua sosok itu. Ada kilatan marah di wajahnya.


Ben membawa Arabelle ke sofa, dengan penuh kehati-hatian ia mendudukkan Arabelle.


"Kemana saja kamu selama ini?" tanpa basa basi Lexsi melemparkan pertanyaan.


"Kau benar-benar tidak tau atau pura-pura tidak tau?" sindir Ben. Tentu saja Lexsi pasti mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya.


"Misi balas dendammu telah usai tetapi kenapa kamu masih membawanya ke sini Ben? lemparkan dia atau bunuh saja," cecar Lexsi dengan murka.


Plak


Satu tamparan keras melayang di wajah Lexsi.


Aaak.....


Jerit Lexsi seraya memegang wajah yang membekas. "Kamu berani menamparku Ben? demi wanita ini kamu berani memperlakukanku dengan tidak adil? kamu lupa akan balas budimu? kamu tidak akan seperti ini jika bukan Daddy yang menyelamatkanmu!" Cecar Lexsi memberi sindiran besar kepada Ben.


"Kau boleh mengatai bahkan menyumpahiku tetapi tidak akan kubiarkan jika kau menyakiti istriku," ujar Ben.


Lexsi tercengang, sejak kapan Ben mengakui jika Arabelle adalah istrinya?.


"Segera angkat kaki dari sini! Kau bukan siapa-siapa di sini, kita hanya sebatas saudara angkat. Aku menghormati dan membiarkanmu bebas karena Daddy," papar Ben.


"Ben, aku sangat mencintaimu, jangan katakan itu. Aku tidak ingin pergi seperti yang kamu katakan," lirih Lexsi seraya menangis.


Ben menggeleng.


"Aku tidak ingin siapapun lagi menganggu keluargaku, aku sudah berjanji akan membahagiakan istriku. Membayar segala perbuatanku. Untuk itu aku harap kau segera pergi dari kehidupan kami. Aku akan mengirim kau kembali ke negara x," ujar Ben.


Lexsi menggeleng.


"Kau sudah keterlaluan Lexsi, kau mengaku sedang mengandung darah dagingku. Itu membuat istriku terluka," imbuh Ben.


"Aku mohon jangan kirimkan aku. Biarkan aku hidup di negara ini Ben," mohon Lexsi.


"Tidak! Karena kau orangnya nekat. Aku tidak ingin istriku tidak nyaman."


"Sayang," lirih Arabelle seraya menggelengkan kepala.


"Aku iri Arabelle, kau berhasil merebut cinta seorang Ben. Kau berhasil membuatnya bertekuk lutut, sungguh wanita luar biasa. Baiklah aku berjanji tidak akan menganggu hubungan kalian. Hari ini juga aku akan pergi sesuatu keinginanmu Ben," ucap Lexsi dengan sungguh-sungguh.


Lexsi mendekati Arabelle.


"Jaga, cintai dan sayangi dia. Berikan dia kebahagiaan karena selama ini ia menderita. Aku percaya kepadamu. Aku minta maaf atas perbuatanku kepadamu," ucap Lexsi dengan sungguh-sungguh. Setelah mengatakan itu ia segera berlalu, tanpa ingin mendengar perkataan Arabelle.

__ADS_1


Bersambung 🔥🔥🔥


__ADS_2