MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 26. Kebrutalan Ben Brylee


__ADS_3

🔥🔥🔥


Sejak kejadian itu Ben tidak pernah menemui Arabelle. Sudah 1 minggu Arabelle dikurung dalam kamar. Bosan serta sumpek tentu saja menguasai diri Arabelle tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Didalam kamar luas itu yang bisa dilakukan Arabelle adalah tidur dan nonton drakor kesukaannya.


Seperti malam ini, ia duduk di atas karpet dengan bantal dalam pangkuannya, dengan pandangan tak lepas dari layar telivisi. Menonton drama yang sejak tadi ditunggu-tunggu jam tayangnya.


"Seandainya takdirku seperti dia maka hidupku tak berakhir di sini. Dicintai banyak orang, terlebih suaminya sendiri," gumam Arabelle sembari mengusap air matanya. "Dad, Bibi, Ara rindu kalian," imbuhnya dengan dada sesak.


Wanita malang itu bahkan tidak tahu apa alasan ia di sandera bahkan dijadikan budak. Ingin bertanya tetapi bertanya dengan siapa. Ben yang selalu ditunggu-tunggu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.


Arabelle hanya bisa tersenyum miris, seakan habis manis sepah dibuang. Seakan dirinya dibuang begitu saja.


Hoam


Arabelle merasa kantuk sehingga ia membaringkan tubuhnya, dalam sekejap masuk ke alam mimpi tanpa ada beban.


🔥🔥🔥


Di markas


"Bos seperti yang bos perintahkan, kerja sama dengan perusahaan ALMERO GROUP telah resmi," ujar Bram.


Mendengar nama ALMERO GROUP membuat Ben tercekat. Seperti mengingat sesuatu, lalu ia mengubah posisi duduknya menghadap Bram.


"ALMERO GROUP? apakah wanita itu?" ujar Ben seperti gumaman.


"Maksud bos wanita itu siapa?" tanya Bram dengan dahi mengerut.


"Kemarin saya menyempatkan diri ke kantor ALMERO GROUP tetapi CEO lagi tidak berada ditempat. Sesuai keterangan asisten CEO sedang berada di luar negeri tetapi sepertinya terjadi sesuatu yang sengaja ditutupi," terang Bram.


Ben tak menanggapi penuturan Bram karena pikirannya tertuju kepada wanita yang namanya sama.


Pria tampan itu langsung bangkit sembari memakai jaket kulitnya. "Urus semuanya Bram, aku akan pulang ke Mansion," ujar Ben.


"Apa perlu saya cari wanita? seperti yang diinformasikan oleh Daniel ada wanita baru. Hmm sepertinya bos lagi..... "


Ucapan Bram terhenti ketika jari Ben di jentik pertanda ia tidak ingin mendengar hal itu.


"Aku punya peliharaan di Mansion," ujarnya dan langsung berlalu.


"Aku jadi penasaran dengan wanita yang disandera bahkan dinikahi bos tetapi tidak mudah untuk bertemu dengannya," gumam Bram.


"Gadis manis itu sangat cantik bos. Body goals habis. Hmm semenjak bos menikahi gadis itu, bos tidak pernah lagi meminta para jala** untuk menghangat ran jangnya," ujar salah satu anak buah mereka karena tadi tidak sengaja mendengar gumaman Bram.


"Benarkah begitu? sepertinya tanda dendam jadi cinta," papar Bram. Hmm tidak, sepertinya di kampus bos tak terdaftar," tandasnya kembali.


Dalam perjalanan pulang ke Mansion, pikiran Ben berpusat di perusahaan ALMERO GROUP. Benarkah Arabelle putri dari perusahaan tersebut, berarti perusahaan itu adalah milik Brid Almero.


"Pantas saja selama ini tidak ada yang tahu sosok pemilik perusahaan itu," ujar Ben sembari menyetir seakan membenarkan pemikirannya.


🔥🔥🔥


Tiba di Mansion

__ADS_1


"Selamat malam Tuan," sapa kepala pelayan.


Hmm


Begitulah jawaban seperti biasanya. "Apa wanita itu membuat ulah?" tanya Ben karena selama ini ia tak menginjakkan kaki di Mansion.


"Tidak Tuan. Tetapi Nona kekeh bertanya kenapa ia dinikahi serta disandera seperti ini," terang kepala pelayan sesuai yang di mohonkan Arabelle ketika mereka mendatangi Arabelle membawa makanan untuk dirinya.


Ben menggertakkan rahang mendengar laporan dari kepala pelayan. "Jadi apa yang kalian katakan?" ujarnya dengan mata tajam, hal itu membuat wanita paruh baya yang sudah lama bekerja di Mansion menunduk.


"Kami tidak mengatakan apa-apa Tuan, hanya sekedar mengatakan habiskan makanan Nona jika tidak ingin membuat Tuan murka, itu semua sesuai perintah Tuan," terangnya kembali. "Saya hampir lupa, Nona mengatakan ingin bertemu Tuan," sambungnya.


"Kumpulkan semua pelayan!" Titah Ben sembari melangkah mendudukkan dirinya di sofa ruang televisi.


Kepala pelayan bergegas menyambangi pelayan lainnya yang sudah beristirahat di kamar masing-masing.


"Buat apa dia ingin bertemu denganku? kau kira bisa lepas begitu saja? tidak Arabelle Almero, balas dendam baru saja dimulai, bahkan aku belum bertemu dengan pria brengsek itu!" Seru Ben dengan rahang mengeras serta tangan terkepal.


"Selamat malam Tuan," sapa pelayan yang berjumlah 20 orang. Ben sengaja memperkerjakan mereka. Mereka adalah berstatus janda dari berbagai maslah rumah tangga masing-masing. Di Mansion mereka tidak banyak pekerjaan, bisa dikatakan kebanyakan santainya dibandingkan menjadi ART ditempat lain.


Hmm


"Ini gaji kalian bulan ini. Karena keuntungan perusahaan cukup besar maka gaji kalian naik dua kali lipat. Gunakan sebaik mungkin, untuk keperluan anak-anak kalian dan keperluan lainnya," ujar Ben sembari mengeluarkan sejumlah amplop tebal. Meletakan di atas meja, di sana sudah tertera nama masing-masing.


"Terima kasih Tuan," seru mereka secara bersamaan.


Kepala pelayan mengambil amplop tersebut dan akan dibagikan di ruangan khusus mereka berkumpul.


Ben memang pria kejam tetapi ia juga pria peduli. Yang dimaksudkan Ben keuntungan besar bukanlah perusahaannya tetapi ia berhasil menyandera Arabelle, putri dari musuhnya selama ini. Jangan salah, Ben mengaji pelayannya bukan dari hasil mafianya tetapi murni hasil dari bisnis perusahaan.


Tiba di depan pintu kamar ia segera menempelkan sidik jarinya. Ia memasuki kamar dengan cahaya lampu nyala, berarti menandakan jika Arabelle belum tidur.


Langkah Ben terhenti mendapati sosok Arabelle yang tengah meringkuk tidur di lantai dengan televisi masih menyala, masih dengan siaran drakor kesukaan Arabelle.


Tidak ingin peduli ia lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Keringat serta kotoran debu menempel di seluruh tubuhnya.


Tidak berselang lama Ben keluar dari kamar mandi dan segera masuk ke ruang ganti baju.


Sedangkan Arabelle sama sekali tak menyadari kedatangan Ben. Tidurnya begitu nyenyak, seperti tak ada beban.


Ben mendaratkan bokongnya di atas sofa sembari memandangi Arabelle. "Gadis yang malang. Memang kau terlahir untuk membayar semua perbuatan orang tuamu," gumam Ben dengan rahang mengeras. Sama sekali hatinya tak tergerak melihat Arabelle, bahkan wajah Arabelle membuatnya kembali mengingat masa lalu yang belum bisa ia kubur."


Sayup-sayup mata indah itu terbuka. Arabelle terbangun atas mimpi buruknya yang tak lain melihat seseorang di tembak brutal tanpa ampun tetapi ia tidak bisa mengingat siapa bayangan-bayangan dalam mimpi buruknya itu.


Hu.... huh....


Nafas Arabelle tak beraturan dengan bercucuran keringat membasahi wajahnya. Sedangkan Ben memperhatikan Arabelle dengan diam.


"Daddy..... Daddy....." Teriak Arabelle memanggil Almero.


Pandangan Arabelle jatuh kepada sosok yang tengah terduduk dengan kaki menyilang di sampingnya. Rasa takut itu menyelimuti dirinya hingga tanpa sadar lagi Arabelle beringsut, lalu memeluk Ben begitu erat dengan tubuh gemetaran.


Ben mengeram, apa lagi tadi Arabelle sempat berteriak memanggil pria laknat itu. Kedua tangan Ben terkepal, serta sorot mata berapi-api.


Bruk

__ADS_1


Awww....


Tak kuasa menahan marah, Ben langsung mendorong tubuh Arabelle sehingga membuatnya tersungkur mengenai kaki meja sofa. Hal itu membuat Arabelle menjerit kesakitan serta keterkejutan.


"Kau bermaksud merayu? jangan pernah bermimpi! Barang yang sudah kupakai tidak akan kembali dipakai lagi," ujar Ben kembali merendahkan harga diri Arabelle.


Arabelle menunduk sembari merutuk kebodohannya yang telah berani bersikap memalukan.


Kali ini Arabelle tidak ingin lemah dihadapan Ben, ia berusaha tidak menangis. Lebih baik diam tanpa harus menjawab ceramahnya yang terus-menerus merendahkan harga dirinya.


Hal itu memancing kemurkaan Ben. Ditambah lagi kejadian dimasa lalu, dimana Brid memperlakukan orang tuanya dengan brutal tanpa ampun. Bayangan Brenda kesakitan, memohon ampun berputar-putar dalam ingatannya.


Ben mendekat lalu mencekik leher Arabelle dengan aura membunuh. Arabelle tentu saja sulit bernafas.


"Kau harus membayar perbuatan pria brengsek itu! Sekarang juga aku ingin melenyapkanmu!" Ben semakin mencekik begitu kuat. Mata Arabelle kelap-kelip, sungguh lehernya seakan diikat sehingga tidak dapat menghirup oksigen.


"Apakah ini akhir dari hidupku?" batin Arabelle seakan nyawanya lenyap saat ini juga.


Kedua tangan kecil Arabelle berusaha melepaskan tangan kekar itu tetapi tentu saja tenaganya tak sebanding dengan Ben.


Kedua bola mata Arabelle ingin keluar dari tempatnya akibat cekikan itu disertai lelehan air mata dari sudut matanya. Tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu. Tatapan dengan dua arah berbeda. Tatapan Arabelle begitu sendu dan kesakitan sedangkan tatapan Ben menunjukan aura membunuh.


Bruk


Tanpa aba-aba Ben kembali mendorong tubuh Arabelle.


Huk... huk....


Arabelle terbatuk-batuk sembari memegang lehernya yang memerah menyerupai jari-jemari Ben yang membekas.


Plak plak


Tidak sampai disitu. Tamparan keras melayang di kedua pipi Arabelle. Tidak sampai disitu, tangan Ben melucuti semua pakaian yang dikenakan Arabelle dengan cara disobek. Lalu tanpa ampun menyetubuhi Arabelle dengan cara brutal. Seperti yang dilakukan dua pria kepada Brenda.


Jangan ditanyakan lagi jeritan serta teriakan Arabelle. Hal itu membuatnya lebih semangat untuk melakukan kebrutalan itu.


"Hentikan.....aku tidak kuat lagi....." Teriak Arabelle ketika tubuhnya digerayangi secara kasar oleh Ben.


Plak


Satu tamparan lagi mendarat di pipi Arabelle hingga darah segar mengalir dari ujung bibirnya.


"Sakit.....Hentikan....."


Teriaknya lirih ketika pistol baja itu tanpa henti dibidik dengan tanpa ampun serta dengan kasar.


Aa.... k


Teriak Ben. Bukan teriakan kesakitan seperti Arabelle tetapi teriakan nikmat mencapai puncak. Sedangkan Arabelle sudah tergolek lemah tak sadarkan diri dalam kungkungan Ben.


Hahaha.....


Ben tertawa terbahak-bahak mendapati tubuh Arabelle tergolek tak sadarkan diri. Sungguh jiwa Ben seakan dimasuki setan.


"Kau lihat itu besok Brid. Selamat menerima hadiah dari Ben Bryled, putra dari Williams Brylee. yang gagal kau bunuh," ujar Ben dengan mata memerah sembari menggenggam ponsel yang baru saja dimatikan. Senyuman menyeringai terukir di bibirnya.

__ADS_1


Bersambung..... 🔥🔥🔥


__ADS_2