MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 28. Menuai Apa Yang Ditabur


__ADS_3

🔥🔥🔥


Di Mansion


Tok tok


Bibi terpaksa mengetuk pintu kamar Brid karena sampai sekarang mereka belum juga keluar kamar.


"Kenapa sih menganggu saja?" ucap Gres dengan sinis karena bunyi ketukan pintu itu menganggu kemesraan mereka pagi itu.


Brid tak menanggapi, pria itu masih memejamkan mata di bawah sana, menikmati pelayanan Gres.


"Tuan, Nyonya," panggil Bibi berulang kali, karena kamar kedap suara sehingga Bibi tidak dapat mendengar apa-apa dari luar, sedangkan yang ada dalam kamar mendengar sangat jelas ketukan serta panggilan itu.


"Tuntaskan dulu Gres," desah Brid dengan suara serak karena sudah ingin mencapai puncak. Dengan gerakan cepat Gres memacu kudanya sampai keduanya berakhir dengan erangan panjang.


"Sayang bersihkan dirimu," lirih Gres ketika mereka sudah tenang.


Brid tak beranjak dari pembaringannya, pandangannya ke langit-langit kamar. Ingatan tentang putrinya Arabelle menyelimuti. Sudah 1 bulan kabar kehilangan Arabelle dan belum ada titik terang g dimana keberadaannya. Brid sudah memperluas pencariannya tetapi anak buahnya belum juga menemukan Arabelle. "Sayang kemana kamu? apa Daddy ada berbuat salah, hingga kamu pergi tanpa kabar. Daddy sangat mengkhawatirkan kamu, pulanglah Ara dan bicarakan baik-baik kepada Daddy," gumam Brid dengan nada pilu.


Gres beringsut mendekati Brid, ia sangat mendengar jelas gumaman suami yang sangat ia sayangi itu. "Sayang semoga Ara dalam keadaan baik-baik saja," ucap Gres sembari mengusap rahang kokoh itu.


Brid menatap Gres lekat-lekat. "Jawab aku dengan jujur Gres, apa kau ada masalah sama Ara sebelum ia menghilang misterius seperti ini? jawab Gres?" ujar Brid menekankan.


Tatapan tidak suka Gres dapat sekilas didalami Brid. "Aku memang tidak menyukai Ara karena kasih sayangmu melebihi Ara dibandingkan dengan diriku tetapi andai kamu tahu aku tidak pernah berpikir sejauh itu," pungkas Gres. "Bahkan pada saat ia berangkat ke kantor, aku masih berada dalam kamar," imbuhnya seakan mengingat pada saat Arabelle terakhir di Mansion.


Brid mengusap wajahnya dengan perasaan tidak tenang. "Apa ini perbuatan para musuh? jika begitu mau tidak mau aku bertindak secara langsung," batin Brid dengan tangan terkepal. "Tetapi tidak ada yang tahu jika aku memiliki seorang anak," imbuhnya.


"Sayang segeralah turun," ucap Gres dan beranjak keluar kamar.


Brid bergegas masuk kedalam kamar mandi. Ia tidak ingin membuang waktu lagi, keselamatan Arabelle yang terpenting. Pria bermata elang itu sangat tahu betul bagaimana rasanya bila disandera oleh kelompok mafia. Kejam, keji dan tak mengenal ampun. Membayangkan hal itu membuat dadanya sangat sesak, bahkan sulit untuk menghirup oksigen.


🔥🔥🔥


Di meja makan Brid hanya menatap hidangan di hadapannya tanpa berkeinginan untuk mencicipinya. Bagaimana bisa tenggorokannya menelan makanan lezat tersebut, sedangkan putrinya entah apa yang sedang dihadapinya.

__ADS_1


"Sayang kok dilihatin saja? ayolah, makan malam juga kamu lewati," ucap Gres berusaha membujuk Brid. Sudah selama 1 bulan ini pola makan Brid tak terjaga, bahkan pria yang selalu berpenampilan cool itu sering mengabaikan kesehatannya. Itu membuat Gres sangat cemas karena ia tidak ingin pria yang sangat dicintai sakit.


"Berisik, jika kau ingin makan, makan saja karena beban dalam pikiranmu kosong," sindir Brid dengan tegas.


Huh.....


Gres menghembus nafas kesal, sampai sekarang pria yang sudah belasan tahun hidup bersamanya tidak pernah menunjuk sisi romantisnya, bahkan memberinya kelembutan. Kecuali sedang bercumbu selayaknya sepasang suami istri.


"Maaf Tuan, Nyonya saya menganggu. Saya cuma mengantarkan ini," tiba-tiba kedatangan Bibi menghentikan perdebatan mereka.


"Apa itu Bi? dan siapa pengirimnya?" tanya Brid seraya menatap paper bag dalam genggaman Bibi.


"Saya juga tidak tahu Tuan. Ini Pak Kris yang memberikan kepada saya. Sesuai keterangan Pak Kris paper bag itu tersimpan dalam kotak surat," jelas Bibi. "Tuan apa Nona sudah diketemukan? saya sangat merindukan Nona," lirih Bibi bahkan kini meneteskan air mata. Arabelle adalah penyemangat hidupnya dan keluarga satu-satunya yang ia miliki.


Brid menatap Bibi dengan tatapan sendu. Ia tahu bahwa wanita paruh baya itu sangat menyayangi Arabelle seperti putrinya sendiri.


"Bibi jangan khawatir. Ara akan kembali," ujar Brid dengan raut wajah datar.


"Semoga Nona baik-baik saja Tuan," ucap Bibi seraya mengusap wajahnya, menghapus sisa air mata.


Hmm


Drrtt


Ponsel yang berada di atas meja makan bergetar. Melihat nama si pemanggil membuat Brid mengurungkan niatnya untuk membuka isi kotak itu.


"Kamu akan kemana?" tanya Gres melihat Brid memakai jaket kulit kesayangannya dengan buru-buru.


"Tentu saja bekerja," ujar Brid singkat.


"Habiskan dulu susumu, setidaknya susu itu mengganjal perutmu," pungkas Gres seraya menyodorkan segelas susu yang belum di minum oleh Brid.


Mau tidak mau Brid menerima segelas susu itu dan meneguknya sampai tandas, ia tidak ingin mendengar celoteh Gres terus-menerus.


Setelah itu Brid pergi dengan langkah buru-buru dengan kotak dalam genggamannya.

__ADS_1


"Kemana dia buru-buru begitu, apa tadi dia menerima telepon yang berkaitan dengan Ara?" Gumam Gres dengan tangan masih menggenggam gelas bekas susu Brid.


Brid langsung meluncurkan roda empatnya ke markas yang tersembunyi, bahkan tidak ada yang mengetahui tempat rahasia selain anak-anak buahnya.


Tidak memakan waktu lama ia sudah memasuki markas.


"Selamat pagi bos," sapa para anak buahnya.


Hmm


"Apa ada informasi?"


Beberapa dari mereka menggelengkan kepala, hal itu tentunya mancing amarah Brid. "Pekerjaan sekecil gitu saja kalian tidak becus, apa kalian sudah bosan bekerja? Hah...katakan jika kalian keberatan!" Bentak Brid dengan rahang mengeras serta mata memerah.


Semua dari mereka hanya bisa menunduk tanpa berani membantah.


Brid menggeser lalu mendaratkan bokongnya di kursi goyang. "Keluar kalian!" Titahnya seraya memejamkan mata dengan wajah menadah ke atas.


Seketika ingatannya kepada kotak yang ia simpan di kantong jas yang belum sempat dibuka karena terburu-buru.


Brid menegangkan tubuhnya seraya meraih kotak itu dengan perasaan bergemuruh. Tatapannya tak lepas dari kotak kecil itu yang kini berputar-putar di tangannya. "Apa isi benda ini? apa ini adalah untuk Ara?" ujar Brid mengira itu adalah milik Arabelle yang sengaja dipesan.


Rasa penasaran menyelimuti hatinya sehingga membuat Brid langsung membuka bungkusan itu. Tanpa diduga ternyata di dalamnya terdapat kotak lagi yang lebih kecil. Tangan Brid beralih meraih secarik kertas yang bertuliskan.


"Anda menuai apa yang Anda tabur!"


Mata elang itu tak berkedip membaca kalimat pendek itu tetapi mengena di hati.


"Apa maksudnya?" gumam Brid dengan hati bergemuruh. Kalimat pendek itu membuatnya kalang kabut. Dengan tidak sabar ia langsung membuka kotak itu dan terlihatlah benda kecil berupa flashdisk. "Apa maksud dari pengirim misterius ini?" desis Brid semakin membuatnya penasaran.


Brid bangkit dari duduknya, melangkah menuju lemari. Lalu mengeluarkan laptop yang tersimpan didalam sana. Ia kembali duduk seraya menyambungkan flashdisk ke laptop dengan jantung berdegup.


Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan sebelum jari-jemari itu bermain di atas keyboard.


Klik

__ADS_1


Duar.....


Bersambung 🔥🔥🔥


__ADS_2