MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 43. Sang Mafia Seperti Anak Kucing


__ADS_3

🔥🔥🔥


Selama 1 minggu ini Ben hanya bisa terbaring tergolek lemah, sampai-sampai ia di infus karena kekurangan cairan akibat tak berhenti muntah.


"Sebenarnya aku sakit apa?" ujar Ben dari tadi.


"Seperti hasil dari pemeriksaan, Tuan tidak mengalami penyakit apapun," jelas dokter pribadi geng Lion.


"Kau bilang tidak sakit? apa kau buta tidak melihat diriku ini?" cecar Ben dengan bentakan.


"Maaf bos kenyataannya begitu. Ini obat anti mual," ujar sang dokter.


Hmm


Setelah kepergian sang dokter. Ben memanggil Bram.


"Iya bos,"


"Bawa wanita itu ke apartemen," titahnya.


"Wanita siapa bos? para wanita penghibur?" tanya Bram.


Uwek......


Mendengar perkataan Bram membuat Ben semakin mual, perutnya kembali serasa di aduk-aduk. "Sekali lagi kau mengatakan itu, akan kupecahkan kepalamu!" Bentak Ben.


"Maksudnya apa sih? semakin hari tingkah bos berbeda, seperti wanita sedang datang tamu saja," batin Bram.


"Bram!" Geram Ben karena Bram diam saja.


"Iya bos. Maksud bos, Nona Almero?"


"Iya Bram, siapa lagi istriku jika bukan dia," sekali lagi bentakan itu membuat Bram terlonjak. Bukan karena bentakan tetapi kata istri.


Seketika Ben tersadar dengan perkataannya sehingga membuatnya terdiam seraya memejamkan mata.


"Baik bos." Tanpa menunggu lama lagi Bram segera keluar, yang pastinya segera memenuhi keinginan Ben.


**


Di Mansion


Seperti setiap harinya Lexsi berulah, ada-ada saja kelakuannya, bahkan di luar batas Ibu hamil.


"Sayang jangan nakal dong dalam perut Mommy," ucap lembut Lexsi kepada calon buah hatinya seraya mengusap perutnya yang masih rata.


Hal itu diperhatikan oleh Arabelle karena tidak sengaja ia melintas ketika mendengar ocehan Lexsi kepada calon bayinya.


"Buatkan aku jus lemon," perintah Lexsi tak tanggung-tanggung.


"Kamu menyuruh siapa?" Arabelle sengaja mengerjai.


"Apa ada orang selain kau di sini?"


"Makanya jika memerintahkan orang sebut namanya, karena setiap orang memiliki nama," pungkas Arabelle.


"Kau!"


Arabelle segera bergegas ke arah dapur. Ia akan memberi pelajaran kepada Lexsi.


Di bukanya lemari es mengambil lemon. Lalu dituangnya kedalam gelas. "Biar kamu tidak seenaknya menyuruh orang," gumam Arabelle seraya menambahkan beberapa sendok makan garam kedalam jus lemon itu.


Tidak menunggu lama ia kembali menemui Lexsi seraya membawa segelas jus dengan langkah bak model.


Dari kejauhan Lexsi tersenyum karena dapat mengerjai Arabelle. Ia seakan menjadi ratu di Mansion itu.

__ADS_1


"Silahkan di minum, semoga calon bayimu menyukai buatanku," ucap lembut Arabelle penuh dengan senyuman tersembunyi.


Dengan bibir melebar Lexsi meraih gelas itu tanpa berpikir macam-macam.


Aaa.....


"Jus apaan ini? asin begini?" seru Lexsi seraya menyemburkan jus itu yang sempat ia telan sedikit.


"Bagaimana segar?" tanya Arabelle seakan tak merasa bersalah.


"Kurang ajar!" Serunya.


"Apa ingin nambah lagi? aku akan bersedia kapanpun kamu mau," imbuh Arabelle dengan senyuman penuh kemenangan.


"Kau mengerjaiku? awas kau!" Umpat nya seraya menatap sinis.


"Siapa yang mengerjai? itulah resep jus lemon buatan seorang Arabelle," pungkas Arabelle yang semakin membuat Lexsi semakin meradang.


Usai mengatakan itu Arabelle langsung berlalu meninggalkan Lexsi yang meradang.


Arabelle pergi menuju taman tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar panggilan dari Bram.


"Nona, Nona," panggil Bram.


Arabelle membeku tidak ingin menoleh kearah suara itu.


"Nona mari ikut saya," ujar Bram yang kini posisi di belakang Arabelle.


"Kemana?" tanya Arabelle tanpa ingin membalikan tubuhnya.


"Ke apartemen. Ini perintah bos," pungkas Bram.


"Katakan kepada bos mu jika aku tidak bisa," sahut Arabelle seraya ingin melanjutkan langkahnya.


"Itu bukan urusanku," sahut Arabelle di luar dugaan Bram.


"Apa saya perlu memohon Nona?" pancing Bram.


Arabelle kembali mengurungkan langkahnya. "Sebenarnya buat apa? seharusnya Lexsi yang ia suruh, bukan aku," ujar Arabelle terpancing emosi.


"Saya juga tidak tau Nona tetapi ini adalah perintah dari bos," ujar Bram karena ia juga tidak tau apa alasan Ben menyuruh Arabelle ke apartemen. "1 minggu ini bos sakit Nona, tidak selera makan," papar Bram pada akhirnya, mungkin dengan cara ini mampu meluluhkan hati wanita cantik itu.


"Sakit?" gumam Arabelle dengan mimik wajah berubah sendu.


Bram menarik bibir atasnya sedikit melihat perubahan wajah Arabelle.


"Iya Nona," sahutnya dengan singkat, is tidak ingin menjelaskan secara detail karena ingin Arabelle penasaran.


"Sakit apa?" tanya Arabelle dengan gerak-gerik khawatir.


"Jika Nona ingin tau, sebaiknya menemui bos langsung karena saya juga tidak tau," ujar Bram.


Arabelle berpikir sejenak. Entah kenapa perasaannya menjadi resah mendengar kabar pria yang kejam terhadapnya, seharusnya ia senang mendengar kabar kurang baik itu.


"Baiklah, tunggu aku sebentar," ucap Arabelle pada akhirnya luluh.


"Iya Nona," sahut Bram dengan wajah kemenangan.


🔥🔥🔥


Tiba di apartemen


Bram membawa Arabelle masuk. Arabelle langsung mendaratkan bokongnya di atas sofa. Tiba-tiba perutnya perasaannya tidak enak.


"Saya akan panggilkan bos," ujar Bram seraya bergegas masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Didalam kamar mandi


Uwak.....


Ben kembali memuntahkan sisa-sisa makanan yang sempat ia makan barusan.


Bram kembali keluar untuk memberitahu Arabelle. Jujur ia merasa jiji* dengan kotoran itu.


"Nona sepertinya bos kembali muntah, apa sebaiknya Nona menyusul kedalam?" ujar Bram.


"Muntah?" gumam Arabelle dengan dahi mengerut aneh.


Tanpa menunggu jawaban Bram. Arabelle langsung bergegas masuk kedalam kamar. Dari dalam kamar ia mendengar suara Ben yang sedang muntah. Ia pun masuk untuk memastikan.


Uwek....


Merasa sentuhan lembut di tengkuknya membuat Ben tersentak kaget sehingga ia mengangkat sedikit kepalanya ke atas. Bayangan wajah khawatir Arabelle terlihat didalam cermin.


Awww.....


Rintih Ben semakin menjadi-jadi, seperti dibuat-buat saja. Hal itu semakin membuat kepanikan seorang Arabelle yang polos.


"Kenapa bisa begini?" tanya Arabelle lembut seraya mengelap wajah Ben yang penuh keringat menggunakan tisu.


Ben tak menjawab, ia hanya memandangi wajah panik Arabelle dengan seksama. Sedangkan yang ditatap tak menyadari hal itu.


Arabelle memapah tubuh yang biasanya penuh energi kini seakan tak punya tulang-tulang. Sungguh seluruh tubuh Ben tak berdaya saat ini.


Arabelle membaringkan tubuh itu di atas kasur dengan penuh hati-hati.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Arabelle.


Ben menggeleng seraya memejamkan mata.


"Pantas saja kamu masuk angin karena jam segini perutmu belum terisi makanan," ucap Arabelle.


"Biarkan saja aku mati," kekonyolan itu lolos begitu saja dari mulut seorang ketua mafia.


Dahi Arabelle mengerut mendengar lelucon lucu itu. "Tunggu sebentar aku akan masak sup," imbuhnya. "Tapi apakah ada persediaan makanan di sini?" tanyanya kembali.


"Tidak ada karena aku tidak pernah memasak. Kemarilah, aku tidak ingin makan apapun kecuali ingin makan dirimu," lelucon Ben kembali, hal itu tentu saja membuat Arabelle membulatkan maya dan segera waspada, karena ia tau maksud dari perkataan Ben.


"Jika begitu aku ingin kembali ke Mansion, buat apa aku datang ke sini?" ucap Arabelle dengan ancang-ancang ingin kabur.


"Selangkah kau melangkahkan kaki maka namamu hanya tinggal kenangan Arabelle Brylee!"


Hah..... Brylee?" gumam Arabelle dengan mulut menganga.


Lama-lama Ben semakin aneh menurutnya. Apakah dia salah obat sehingga seperti ini? itulah yang ada dalam benak Arabelle.


"Kepalaku pusing sekali," teriak Ben berusaha membuka perlahan kelopak matanya.


Entah kenapa perasaan Arabelle ingin sekali mendekati Ben. Tetapi tidak mungkin ia berani melakukan itu.


"Kemari Arabelle!" Suara bariton itu kembali membuat kesadaran lamunan Arabelle.


Hati Arabelle tergerak memenuhi keinginan Ben. Ia beringsut mendaratkan bokongnya di atas kasur dengan kaki menggantung, tepat di samping Ben terbaring. Merasakan permukaan kasur tergoncang membuat Ben membukakan mata.


Tatapan teduh itu bertemu dengan tatapan Arabelle. Tanpa disangka ia meletakan kepalanya dikedua paha Arabelle. Lalu menenggelamkan wajahnya di perut rata itu seraya memeluknya erat. "Biarkan seperti ini sebentar saja!"


Deg


Arabelle membeku, terbelalak kaget.


Bersambung 🔥🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2