
🔥🔥🔥
Keesokan harinya
"Dia kelelahan, organ vitalnya sedikit luka. Jangan dipaksakan karena akan berakibat fatal," terang dokter yang memeriksa Arabelle yang masih memejamkan mata.
Mendengar penjelasan dokter, Ben tak banyak bertanya.
Selepas kepergian dokter, Ben menatap Arabelle dengan tatapan penuh arti yang tidak bisa ditebak. Puas memandangi Arabelle ia melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Perlahan Arabelle menggerakkan tubuhnya. Rasa sakit luar biasa tentu saja menyelimuti seluruh bagian tubuhnya.
Awww....
Desisnya merasakan area sensitifnya. Pedih serta nyeri.
Kelopak mata itu perlahan mengerjap, berusaha terbuka sepenuhnya. Langit-langit kamar pandangan pertama kali membuka mata.
"Aku masih hidup," gumam Arabelle dengan wajah sendu. Seketika ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Arabelle meremas selimut yang menutupi tubuhnya dengan perasaan sakit. Lelehan air mata tak bisa ia bendung.
Arabelle beringsut bangun, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran dipan.
"Ara kamu tidak boleh lemah," ucapnya menyemangati dirinya sendiri seraya menyeka air matanya.
Klek
Pintu kamar mandi menyadarkan lamunan Arabelle sehingga membuat kepalanya menoleh kearah pintu kamar mandi.
Deg
Dada Arabelle bergemuruh mendapati sosok Ben. Pria tadi malam yang melakukan tindakan brutal yang mengakibatkan dirinya tak sadarkan diri.
Tubuh Arabelle gemetar dengan kepala menggeleng. Kehadiran Ben membuatnya sangat takut bahkan tidak ingin melihat wajahnya. Sungguh perlakuan Ben tadi malam membuatnya trauma.
"Jangan, jangan....." Lirih Arabelle seraya menutup wajahnya ketika langkah Ben semakin mendekat. "Aku mohon pergi," isak tangis tidak bisa ia bendung lagi.
__ADS_1
Jeritan ketakutan Arabelle tidak membuat Ben pergi. Pria itu malah semakin dekat dan bahkan duduk di tepi ranjang, bersebelahan dengan Arabelle.
"Ah..... tidak!" Lirih Arabelle menekankan sehingga tanpa sadar menepis tangan Ben begitu saja.
Prang
Akibat tepisan itu membuat gelas yang ada dalam genggaman Ben terlempar ke lantai. Arabelle kaget sehingga berusaha membuka matanya yang sejak tadi ia tutup dengan tangannya.
"Apa maksudmu hah?" serkas Ben dengan murka. Niatnya ingin memberi minum obat kepada Arabelle. Melihat tindakan tak terpuji Arabelle membuatnya berubah pikiran.
Arabelle tidak memperdulikan kemurkaan Ben. Sejak tadi tatapannya tertuju kepada pecahan kaca yang begitu tajam.
Melihat Arabelle tidak mengidahkan membuat Ben mengikuti arah pandang Arabelle. "Apa kau ingin mengambil beling itu dan menggoreskan di urat nadimu? silahkan ambil dan aku menjadi saksi atas aksi bunuh diri seorang Arabelle Almero!" Ujar Ben seakan tahu maksud dari tatapan Arabelle.
"Kamu benar, seharusnya aku melakukan seperti yang kamu katakan," sahut Arabelle tanpa ekspresi.
Mata Ben membulat mendengar omong kosong itu tetapi tidak lama senyuman mengembang di bibirnya melihat pikir pendek putri dari musuhnya.
"Silahkan saja tetapi tidak aku biarkan karena tidak semudah itu kau mati. Aku Ben Brylee yang akan membuat kau mati secara perlahan. Camkan itu!" Seru Ben sembari tertawa, hal itu membuat pandangan sendu Arabelle berpindah kepada Ben.
Ben lekas berdiri, membelakangi Arabelle. Jujur hati nuraninya tidak tega melihat wajah serta tatapan Arabelle yang sangat memprihatinkan. Tetapi dendam itu menguasai seluruh dirinya. Memeng selama ini ia belum memberitahu alasan menculik bahkan menyiksa Arabelle.
"Beritahu aku," mohon Arabelle sembari beringsut mendekati Ben. Karena rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya masih duduk di nyepin ranjang dengan kedua kaki menggantung. Rasa takut ia tahankan demi mendapat penjelasan dari Ben.
Ben menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan secara kasar.
"Apa kau tahu kejadian belasan tahun lalu? dimana orang tua serta Kakakku? kau tidak tahu bukan? karena pria brengsek itu tidak mungkin memberitahu kepadamu," papar Ben sehingga membuat Arabelle semakin penasaran.
Ben mengusap rahangnya yang mengeras. Ia tak sanggup bila kembali mengingat momen yang sangat menyesakan itu.
"Ampun, lepaskan anak-anakku. Bunuh saja aku tetapi aku mohon lepaskan mereka. Itu adalah jeritan permohonan pria yang sangat berjasa dalam hidupku, pria yang selalu ada buatku. Tetapi jeritan atau permohonan Daddy tidak berarti bagi pria brengsek atau laknat itu untuk menghentikan aksinya," Ben mulai menceritakan, hal itu membuat dada Arabelle gemuruh. "Dor dor dor! Tiga tembakan menembus kepala, dada serta perut Daddy dengan cara brutal. Daddy terkapar tak bernyawa," ujar Ben sembari memejamkan mata karena bayangan itu masih lekat dalam ingatannya.
Ben mengepalkan tangan didalam kantong celananya disertai tatapan tajam jauh ke depan.
"Lepas.....! Jangan, jangan...." Persis seperti jeritan kau tadi malam.
__ADS_1
Ben lalu membalikan badan tepat di depan Arabelle. Pandangan keduanya saling bertemu.
"Apa kau tahu siapa orang yang melakukan itu?" Arabelle menggeleng sebagai jawabannya. "Brid Almero, ya Brid Almero yang sudah membunuh Daddyku dan mengakibatkan Kakakku di perkoza anak buahnya sampai meregang nyawa. Dari itu aku menyekap bahkan menyiksamu untuk membalaskan dendam atas perbuatan orang tuamu Arabelle. Daddy laknat kau itu telah membunuh Daddyku dan juga Kakakku!" Ujar Ben dengan lantang tanpa mengedipkan mata menatap Arabelle. "Lihat ini, ini adalah bukti kekejaman anak buah Daddymu atas perintahnya," Ben menunjukan bekas luka jahitan tepat di sisi perutnya. Tanpa sadar bulir bening itu meluncur dari ujung mata Ben.
Mata Arabelle membulat tanpa berkedip melihat bekas luka cukup panjang itu dengan sangat jelas. Tanpa sadar tangannya terulur. Usapan jari gemetar Arabelle membuat Ben menutup mata sesaat. Hati Arabelle ikut terenyuh mendengar kisah hidup masa lalu Ben.
Awww
Arabelle mengaduh karena tangannya ditepis cukup kasar oleh Ben. "Singkirkan tangan kotor kau itu!" Bentak Ben.
"Aku tidak percaya. Itu tak mungkin, Daddyku bukanlah orang kejam. seperti yang kamu tuduhkan," lirih Arabelle penuh derai air mata. "Katakan jika kamu bohong? Daddy tidak mungkin melakukan kekejaman seperti tuduhanmu. Aku tidak percaya karena hal itu tak mungkin," papar Arabelle seraya menggelengkan kepala.
"Tutup mulut kau! Demi dendam serta tujuan untuk menguasai harta yang bukan miliknya apa yang tidak mungkin? apa kau tahu perusahaan yang sedang kau pimpin itu asal usulnya dari mana? itu adalah perusahaan milik Williams Brylee yang kini di naungan Brid Almero," ujar Ben dengan lantang disertai mata memerah.
Arabelle bergidik ngeri hingga tubuhnya semakin bergetar. "Daddy tidak mungkin melakukan itu, tidak mungkin...." Gumam Arabelle seraya tanpa henti menggelengkan kepala. Tuduhan cerita Ben membuat hati Arabelle terluka bahkan sangat sakit. Pria yang sangat dia sayangi ternyata memiliki masa lalu yang begitu kejam.
"Dan kau tau aksiku tadi malam telah kurekam dan mungkin sebentar lagi Daddy laknat kau itu menerima bingkisan dari Ben Brylee." Pungkas Ben dengan senyuman menyeringai, membayangkan bagaimana wajah Brid ketika melihat putri kesayangannya di siksa secara perlahan," ujar Ben sembari terkekeh seperti orang kerasukan setan.
Deg
Tubuh Arabelle membeku dengan mata membulat seperti ingin keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak, pernyataan Ben itu membuat dadanya di hantam oleh benda tumpul.
"Aku mohon jangan lakukan itu. Apapun yang ingin kamu lakukan kepadaku akan aku turuti, tetapi jangan lakukan itu kepada Daddy. Tolong jangan," lirih Arabelle memohon, bahkan kini ia berlutut di bawah kaki Ben seraya melipat kedua tangannya dengan derai air mata.
Melihat aksi Arabelle membuat Ben puas. Hatinya sangat puas terapi lebih puasnya lagi ketika Brid melihat langsung bagaimana keadaan putrinya saat ini.
Ben menghentakkan kakinya hingga terlepas dari tangan Arabelle. "Nangis darah pun kau jangan harap seorang Ben Brylee iba atau melepaskanmu begitu saja. Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa. Bahkan aku lebih kejam daripada Brid, asal kau tahu Arabelle!" Teriak Ben sehingga membuat gendang telinga Arabelle sakit.
Setelah mengatakan itu Ben segera melangkahkan kaki untuk keluar kamar, ia tidak ingin amarahnya tak terkendalikan. Bagaimanapun untuk saat ini ia tidak ingin melenyapkan Arabelle karena misi terbesarnya belum tercapai.
"Aku mohon jangan lakukan itu, aku mohon...." Lirih Arabelle masih dengan posisi berlutut.
Ben seakan tak peduli. Ia keluar dan mengunci pintu kamar dengan tangisan pilu Arabelle didalam kamar.
Bersambung.... 🔥🔥🔥
__ADS_1