MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 42. Sandiwara Lexsi


__ADS_3

🔥🔥🔥


Lexsi memanggil kepala pelayan.


"Iya Nona ada apa?" tanya pelayan dengan tergopoh-gopoh.


"Buatkan aku makanan blini sekarang juga," pinta Lexsi.


Makanan blini adalah pancake tradisional khas Rusia. Selain diberi topping manis, blini biasanya diolah dengan caviar, salmon dan krim asam.


"Blini? gumam kepala pelayan dengan kening mengerut. Karena makanan itu Idak pernah dihidangkan di Mansion ini tetapi kenapa tiba-tiba Lexsi meminta buatkan makanan tradisional tersebut.


"Apa kamu tidak bisa membuatkannya?"


"Bisa Nona tetapi butuh waktu agak lama," ucapnya.


"Kerjakan sekarang juga, jangan pakai lama nanti yang didalam sini keburu ngiler," cicit Lexsi seraya mengusap perut ratanya. Sayangnya kepala pelayan sudah keburu bergegas ke dapur sehingga tidak mengetahui apa yang dikatakan Lexsi.


Tiba-tiba Arabelle menghampiri kepala pelayan. "Mau masak apa Bi?" tanya Arabelle seraya membuka lemari es untuk mengambil orange juice.


"Saya ingin membuatkan blini Nona," sahut kepala pelayan, menghentikan sejenak kegiatannya karena tidak sopan jika berbicara sembari memasak.


"Blini?" gumam Arabelle dengan dahi mengernyit.


"Nona Lexsi yang meminta Nona," sahutnya.


"Bibi jangan banyak berbicara, kapan selesainya. Aku sudah tidak sabar lagi," teriak Lexsi dari meja makan. Ia tau jika kepala pelayan berbicara dengan Arabelle.


"Iya Nona," sahut kepala pelayan, dan itu didengar oleh Lexsi.


"Yah sudah Bibi kembali lanjutkan," ucap Arabelle.


Arabelle membawa semangkok puding buah, membawanya ke meja makan. Di sana Lexsi melancarkan aksinya.


Arabelle menarik kursi untuk di dudukinya. Ia sengaja memilik duduk di sisi berlawanan tetapi tidak berhadapan.


Semenjak kejadian waktu itu keduanya tidak pernah saling bertemu. Lexsi baru saja semalam kembali ke Mansion. Katanya selama 1 bukan ia sedang berada di luar negeri bersama Ben.


Arabelle tak mempermasalahkan itu karena itu bukan urusannya, bisa jadi itu benar karena selama itu juga sosok Ben tidak pernah mendatangi Mansion. Terakhir mereka bertemu tepat pada kejadian itu.


Kadang Bram yang datang hanya sekedar mengambil berkas, tetapi sama sekali tak ditanyai oleh Arabelle. Arabelle juga sengaja menghindari Bram.


Rasa kecewa tentu saja Arabelle rasakan kepada Bram karena menurutnya Bram sengaja menerima tawaran kerja sama waktu itu.


Lexsi melirik Arabelle dengan wajah sinis. Iapun mengeluarkan benda kecil dalam dompetnya yang diletakan di atas meja.


"Bibi bisa cepat tidak sih?" teriak Lexsi.


"Berisik sekali," gumam Arabelle seraya mengunyah potongan puding dalam mulutnya.


"Bukan urusanmu!" Desis Lexsi dengan sinis.

__ADS_1


Arabelle tak menanggapi, ia kembali asik memasukan potong demi potong puding itu.


"Sayang sabar ya?" ucap Lexsi dengan lembut seraya mengusap perutnya.


Mendengar perkataan Lexsi seperti sedang berbicara dengan seseorang membuat hati Arabelle tergerak untuk memandang kearahnya.


Ia dapat melihat Lexsi sedang berbicara dengan benda kecil di tangannya. Benda yang tentu saja ia tau egunaannya.


Mata Arabelle membulat serta tubuh membeku. "Apa, apa kamu hamil?" gumam Arabelle tak dapat mengunci mulutnya, saking kagetnya.


Lexsi tersenyum menang mendengar pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Arabelle. Karena pertanyaan Arabelle sangat menguntungkannya sehingga membuatnya tak susah payah memberitahukan.


"Menurutmu?" pancing Lexsi dengan wajah sumringah.


Hmm


Arabelle hanya berdehem, malas untuk meladeni Lexsi.


"Ini bukti buah cinta kami. Aku sedang mengandung darah daging Ben Brylee," ucapnya. "Jika tak percaya lihat ini." Lexsi meletakan hasil testpack di hadapan Arabelle.


Arabelle melirik dengan ujung matanya. Benar saja testpack itu menunjukan positif.


Entah kenapa tiba-tiba perasaan Arabelle menjadi sesak. Kenyataan Lexsi hamil membuatnya merasakan sesuatu hal yang berbeda.


Untuk menepis perasaan itu membuat Arabelle segera meninggalkan meja makan. "Jaga dirimu baik-baik," ucap Arabelle sebelum meninggalkan Lexsi.


"Kena kau!" Gumam Lexsi penuh kemenangan setelah kepergian Arabelle. Ia berhasil menjalankan rencananya, hanya satu hal yang ia takuti, jika Arabelle membicarakan masalah kehamilannya kepada Ben.


Tiba di taman


Arabelle seperti biasanya duduk termenung ditepi kolam ikan hias. Keceriaan atau keaktifan puluhan ikan itu membuat perasaannya sedikit tenang.


"Pantas saja dia meminta makanan yang aneh-aneh," batin Arabelle seraya emencelupkan jari-jari tangannya kedalam air.


tatapan Arabelle tak lepas dari puluhan ikan yang sangat bebas berenang.


"Aku ingin menjadi kalian, dapat berenang bebas setidaknya dibandingkan dengan nasib malangku ini," gumam Arabelle.


🔥🔥🔥


Di markas


"Bos," sapa Bram yang baru saja tiba, lalu segera melemparkan tubuhnya ke atas sofa.


Ben tersentak kaget karena ia tidak menyadari kedatangan Bram. Sejak tadi ia hanya termenung, memikirkan banyak hal.


"Bagaimana keadaannya?" ujar Ben dengan tatapan ke atas langit-langit ruangan itu.


"Seperti keterangan dokter asmanya kambuh dan butuh penanganan untuk beberapa hari. Bukan sekedar riwayat asma ternyata wanita itu juga mengindap penyakit gangguan jantung, itu karena berlebihan mengonsumsi obat penenang dalam jangka panjang." Terang Bram.


Mendengar apa yang Bram katakan membuat pandangan Ben beralih ke wajah Bram.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa wanita paruh baya itu bos?" tanya Bram ingin tau.


"Bukan siapa-siapa. Bukankah hal seperti ini tidak lumrah lagi?" ujar Ben.


Bram mengangguk seakan paham karena selama ini seorang Ben selalu menolong orang-orang yang tak dikenalinya. Tetapi ada perasaan aneh di hati Bram karena penampilan wanita yang ia baw ke rumah sakit tadi bukan seperti orang dari kalangan biasa, tetapi seperti kalangan berkelas. Sangat terlihat dari cara berpakaian dan merek-merek yang melekat di tubuh wanita itu.


"Ada yang salah Bram?"


"Tidak bos. Apa bos masih engan ke Mansion?" tanya Bram.


"Aku muak bertemu dengan Lexsi," ujar Ben.


Tiba-tiba perasaannya ingin bertemu dengan sosok Arabelle.


"Bagaimana keadaannya di sana? apa Lexsi tidak macam-macam?" tanya Ben mengarah kepada Arabelle.


"Sepertinya aman-aman saja bos. Nona memang sengaja menghindari kedatanganku di Mansion," pungkas Bram.


"Lebih perketat lagi pengamanan dalam Mansion. Lexsi tidak akan main-main jika sesuatu yang gagal untuk didapatkan, dan selalu awasi setiap dia keluar dari Mansion," ujar Ben.


"Tenang bos, semuanya beres," sahut Bram seakan semuanya aman-aman saja.


Uwek......


Tiba-tiba rasa mual mendera perasaan Ben. Bahkan rasa mual ini tak bisa ia tahan. Ia bangkit dengan langkah panjang menuju kamar mandi terdekat.


Uwek.....uwek.....


Tanpa bisa ditahan lagi. Mulut itu mengeluarkan sisa-sisa makanan yang sudah dicerna.


Keringat dingin sebesar biji jagung bercucuran membasahi seluruh wajah tampan itu. Wajah yang tadi memerah kini menjadi pucat pias.


"Ada apa bos?" tanya Bram ikut masuk ke kamar mandi karena mendengar Ben muntah tak berhenti.


"Bawa aku ke kamar," titah Ben dengan lirihan.


Bram memapah tubuh lemas itu membawanya ke kamar. "Tubuh bos sangat dingin, bahkan wajah bos sangat pucat," ujar Bram sepanjang jalan menuju kamar, kebetulan kamar berada di lantai 3.


Ben tak mampu untuk menjawab. Membuka mata saja rasanya sulit.


Bram membaringkan tubuh lemas itu di atas ranjang.


"Kepalaku pusing sekali, serta perut ini seakan diaduk-aduk," lirih Ben seraya memijit ujung dahinya.


"Apa tadi bos mengkonsumsi alkohol?" tebak Bram.


"Apa indera penciumanmu masih normal?"


"Masihlah bos," jawab Bram. "Apa perlu saya panggilkan dokter?"


"Tidak perlu!"

__ADS_1


Bersambung🔥🔥🔥


__ADS_2