
🔥🔥🔥
Buk buk
Entah sudah berapa kali Brid melayangkan pukulan serta tendangan di sekujur tubuh Ben. Ben tidak bisa melawan karena tangan serta kakinya terikat.
Cih....
"Sungguh banci kaleng!" Ejek Ben tanpa merasa takut.
Brid mengeram mendengar dirinya dikatai cukup rendah. Aura membunuh tidak bisa dihindari tetapi tidak membuat Ben merasa takut.
"Lepaskan aku dan kita duel, jangan main hakim sendiri. Sungguh memalukan," Ben sengaja memanas-manasi Brid.
Dor
Satu bidikan lepas menembus betis Ben.
"Sekali lagi kau banyak omong, maka mulutmu akan kutembak," ujar Brid tanpa ampun.
Ben mendesis merasakan timah panas menembus pada betisnya.
"Rasakan, ini belum seberapa," ujarnya dengan raut wajah penuh kemenangan.
Darah segar membanjiri celana itu. Sungguh kini sekujur tubuh Ben penuh luka dalam.
"Beri dia suntikan. Aku tidak ingin mendengar mulut berbisanya itu! Biarkan luka itu membusuk," ujarnya.
Ben pun di suntik agar ia tak sadarkan diri.
"Arabelle," gumam Ben sebelum kesadaran hilang. Sejak tadi pikirannya ke Arabelle, ia khawatir sesuatu terjadi kepadanya.
**
Brid duduk di kursi goyang seperti biasanya. Ia sudah meninggalkan gudang bawah tanah.
"Bagaimana kalian berhasil meringkus bajinga* itu?" ujar Brid kepada kaki tangannya.
"Seperti informasi anak buah kita, pada saat itu pria itu sedang bersantai dengan kekasihnya bos."
Dahi Brid mengerut.
"Wanita itu adalah kelemahannya bos. Dia rela ditangkap demi menyelamati wanita itu," jelasnya seperti yang diceritakan anak buahnya.
Hmm
"Apa bos ingin tau wanita itu? kebetulan anak buah kita sempat memotretnya."
Brid berpikir sejenak. Ada perasaan penasaran, entah apa yang membuat hatinya ingin mengetahuinya.
"Perlihatkan kepadaku. Bisa saja ia kita tangkap.
Bawahannya merogoh ponsel dalam kantong celana. Lalu menyerahkan ponsel itu untuk dilihat oleh Brid.
Brid meraih lalu melihat foto itu.
Duar....
🔥🔥🔥
Di Mansion
Bram membawa Arabelle maupun Jane.
" Jane untuk sementara kau tinggallah bersama Nona. Untuk beberapa hari aku tidak bisa menemui kalian. Ingat jaga Nona, jangan biarkan Nona keluar dari Mansion ini," ujar Bram ketika berada di kamar Jane.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Jane, ada perasaan takut.
"Mencari tau keberadaan bos. Ini bukan saatnya untuk bercerita," ujar Bram.
__ADS_1
"Seharusnya kita lapor polisi," usul Jane.
Bram menggeleng tidak setuju karena masalah ini sangat berbeda.
"Aku takut Bram," lirih Jane dengan mata berkaca-kaca.
"Takut kenapa?" pancing Bram.
"Aku takut sesuatu terjadi kepadamu," liriknya dengan wajah menunduk.
Senyuman di bibir Bram mengembang. Ia lalu raih tubuh Jane, membawa kedalam pelukannya.
"Kau tidak perlu takut. Aku akan kembali," ujarnya seraya mengecup dahi Jane. "Satu lagi awasi Nona dari Nona Lexsi," papar Bram.
"Iya Bram," sahut Jane seraya menyembunyikan wajahnya di dada Bram.
Cukup puas keduanya melepaskan pelukan itu. Bram tidak ingin membuang waktu untuk masalah pribadinya, dibandingkan keselamatan Ben.
Cup
Ia ******* bibir Jane sebentar. Lalu ia pun berlalu.
"Hati-hati," ucap Jane dengan perasaan sedih.
**
Didalam kamarnya Arabelle mondar-mandir. Pikirannya tidak lepas dari Ben.
"Semoga kamu tidak apa-apa Ben. Kamu dimana?" gumam Arabelle.
Tok tok
"Nona silahkan sarapan," ternyata yang mengetuk pintu adalah kepala pelayan.
Lamunan Arabelle membuyar, lalu bergegas membuka pintu.
"Silahkan sarapan Nona. Sepertinya Nona kurang sehat, wajah Nona begitu pucat. Maka dari itu saya sudah buatkan sup kacang merah," ucap kepala pelayan.
"Terima kasih," ucap Arabelle. Ia pun melangkah mengikuti kepala pelayan ke meja makan.
Tiba di meja makan ia langsung mendudukkan dirinya. Mulai menyantap sup kacang merah dengan diam.
"Selamat pagi Nona," sapa Jane.
"Jane," lirih Arabelle.
Jane ikut mendaratkan bokongnya.
"Bram mana Jane? aku ingin berbicara dengannya," tutur Arabelle.
"Bram sejak subuh sudah pergi Nona. Katanya ingin mencari keberadaan Tuan," pungkas Jane.
"Dimana dia mencari? kenapa tidak mengajakku?"
"Tenang Nona, kita hanya bisa berdoa," ucap Jane menenangkan Arabelle.
Keduanya terdiam, saling menyantap sarapan dalam diam.
Hmm
Arabelle maupun Jane mengalihkan kefokusan terhadap makanan yang mereka santap ketika mendengar deheman seseorang.
"Siapa kamu?" tanya Lexsi kepada Jane.
Jane tetap menyantap sarapannya, seakan ia tidak mendengar pertanyaan Lexsi.
"Apa kau tuli?" bentak Lexsi terpancing emosi. "Sangat tidak sopan bertamu di rumah orang," imbuhnya dengan tatapan tajam.
"Maaf kamu bicara dengan siapa?" tanya Jane setelah makanannya tak tersisa.
__ADS_1
"Tentu saja sama mata empat," ledek Lexsi seraya tersenyum mengejek.
"Benar yang dikatakan Bram, wanita ini banyak mulut," batin Jane.
"Dia orangku, jadi jangan dipermasalahkan," ucap Arabelle.
"Sangat berani membawa orang asing," sindir Lexsi.
"Orang asing kamu bilang?" sungguh Jane ingin membungkam mulut Lexsi. "Asal kamu tau aku diperintahkan Bram," pungkas Jane membawa nama Bram.
"Bram?" gumam Lexsi langsung terdiam.
Ketiganya hening sesaat. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Nona ada apa?" tanya Jane kepada Arabelle. Arabelle sepertinya tidak baik-baik saja.
"Akhir-akhir ini kepalaku pusing Jane, mungkin kurang tidur saja," ucap Arabelle seraya memijit ujung keningnya.
"Wajah Nona juga pucat. Apa sebaiknya panggilkan dokter?"
Arabelle menggeleng sebagai jawabannya.
"Biar saya panggilkan Nona," Jane kekeh memaksa.
"Tidak perlu Jane, ini hanya pusing biasa. Mungkin karena pengaruh kurang tidur saja," lirih Arabelle dengan pandangan berkunang-kunang.
Sedangkan Lexsi memperhatikan interaksi antara Arabelle dan Jane.
"Kemana kamu selama ini?" akhirnya Lexsi melemparkan pertanyaan yang sejak tadi ingin ditanyainya.
"Di apartemen Ben."
"Apa???" sontak saja jawaban Arabelle membuat Lexsi sangat kaget. Ia sendiri saja belum pernah menginjakan kaki di apartemen pribadi milik Ben.
"Kamu seperti orang baru melihat hantu," cicit Jane kepada Lexsi.
"Aku tidak bicara kepadamu!"
Arabelle menghela nafas panjang. Ia menegakkan tubuhnya. "Lexsi apa kamu sangat mengenal sosok Ben?" tanya Arabelle ia ingin tau apakah penculikan ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu itu.
Lexsi terdiam tanpa ingin menjawab.
"Katakan Lexsi! Ben dalam bahaya," pungkas Arabelle tidak tahan lagi.
"Apa? apa yang terjadi kepada suamiku?"
"Ben diculik ketika kami keluar untuk bersantai malam," ucap Arabelle.
Mata Lexsi membulat mendengar kata jalan santai. Bukan mengkhawatirkan keselamatan Ben tetapi ia merasa cemburu dengan cerita Arabelle.
Tentu saja Lexsi tidak mengkhawatirkan Ben karena ia tau siapa jati diri seorang Ben brylee.
"Pasti ini semua ada hubungannya denganmu. Pasti orang tuamu yang menculik Ben. Kamu memang pembawa sial. Pasti Daddy brengsekmu itu juga akan melenyapkan Ben, Arabelle Almero!!!" Teriak Lexsi, sampai-sampai ia bangkit berdiri.
Arabelle menggelengkan kepala. Sedangkan Jane bingung tidak mengerti apa yang mereka bahas.
Tidak ingin sesuatu terjadi kepada Ben. Lexsi langsung bergegas meninggalkan meja makan.
"Nona sebenarnya ada apa?" tanya Jane ingin mendapat jawaban.
"Jane aku akan pergi, kamu di sini saja. Jika Bram datang menanyaiku, bilang saja aku akan ke Mansion Daddy," ucap Arabelle dengan nafas tak beraturan. Sungguh perkiraan Lexsi membuat dirinya khawatir jika benar Daddy nya yang menculik Ben.
"Jangan Nona. Bram telah melarang Nona keluar dari Mansion ini," ucap Jane ingin menghalangi Arabelle.
Seakan tak peduli dengan larangan Jane. Arabelle langsung berlari kecil untuk bisa keluar dari Mansion. Jane tidak dapat mencegah Arabelle.
Arabelle membawa salah satu kendaraan roda dua milik anak buah yang berjaga di Mansion. Entah kemana perginya para anak buah itu sampai tidak mengetahui kepergian Arabelle.
Bersambung 🔥🔥🔥
__ADS_1