
π₯π₯π₯
Di kamar Arabelle duduk seraya melamun. Melamun banyak hal. Rasa rindu kepada Brid tak terbesit lagi di hatinya ketika mendengar cerita masa lalunya dar Ben.
Arabelle yakin apa yang dituduhkan Ben adalah benar. Jika itu tidak benar, tidak mungkin Ben menyekap dirinya dan bahkan membuat masa depannya hancur.
Tetapi rasa rindu yang luar biasa adalah kepada Bibi. Apa lagi waktu itu Bibi sedang sakit. Arabelle sangat yakin wanita yang menyayanginya itu akan khawatir dengan kehilangan dirinya yang misterius. Karena ia yakin bahwa Brid tidak akan menceritakan masalah ini kepada siapapun.
Klek
Kenop pintu ditekan dari luar. Dan seperti biasanya kepala pelayan yang masuk. Tetapi anehnya pagi ini tidak membawa apapun.
"Nona sesuai perintah Tuan, mulai hari ini dan seterusnya Nona diperbolehkan keluar dari kamar," ucap kepala pelayan sesuai perintah Ben yang baru saja menghubungi mereka.
Seketika mata Arabelle membulat dengan mulut menganga mendengar penuturan kepala pelayan.
"Maksudnya? maksudnya aku bebas keluar masuk kamar, begitu?" tanya Arabelle dengan mata berbinar-binar.
"Benar Nona, bahkan Nona bebas melakukan apapun di Mansion ini kecuali satu hal. Tidak diperbolehkan keluar dari Mansion, ingat karena di sini banyak penjaganya," ucap kepala pelayan seraya memperingati Arabelle.
Arabelle menghela nafas lega. Sungguh ia sangat senang bahwa ia akhirnya bebas dikurung.
"Apa ada maksud terselubung? sangat tumben sekali karena waktu itu, dia tak menanggapi permintaanku," gumam Arabelle selepas kepergian kepala pelayan.
Arabelle merasa ada keanehan. Tetapi masa bodoh, yang terpenting ia sudah bisa bernafas lega sekarang. Mungkin bebas dari kamar itu bisa dikit demi sedikit dapat mengobati rasa penderitaan beberapa bulan ini.
Arabelle bergegas keluar kamar. Ia bahkan belum tahu letak dimana ruang tamu, keluarga, dapur dan lain sebagainya.
Tanpa Arabelle sadari, ternyata seorang pelayan menunggunya di luar kamar. Pelayan itu yang akan menunjukan letak-letak dimana Arabelle diperbolehkan menginjakan kaki. Selebib itu adalah larangan dari Ben.
Tiba di dapur Arabelle langsung membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Bahkan ia menolak sarapan yang sudah tertata di atas meja makan.
Makanan itu tidak terbuang karena Arabelle memaksa agar salah satu pelayan memakannya agar tak terbuang cuma-cuma.
Selesai menyajikan sarapan. Arabelle bergegas membawa napan dimana tempat para pelayan biasanya menyantap sarapan mereka masing-masing.
"Nona, kenapa Nona ke sini?" tanya mereka hampir bersamaan, kaget melihat kedatangan Arabelle. Dimana tempat itu tak layak untuk dirinya yang saat ini menyandang gelar istri dari Ben Brylee.
"Apakah tidak boleh? aku malas sendirian," ucap Arabelle dengan santai.
Mereka seakan kikuk, makan bersama orang yang mereka hormati.
"Apa kalian betah bekerja di sini?" tanya Arabelle ingin tahu karena setahu ia, Ben adalah orang kejam. Bagaimana mungkin ada orang yang betah bekerja dengan dirinya.
"Tentu saja betah Nona," sahut kepala pelayan dan dibenarkan oleh pelayan lainnya.
Arabelle manggut-manggut. Sebenarnya ia ingin tahu lebih banyak tetapi ini belum saatnya, ia akan perlahan melakukan itu.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Setelah upacara penguburan Arion secara tertutup, bahkan hanya dihadiri semua anak buah geng LION. Ben kembali ke kediaman Arion.
"Kakak kenapa Daddy pergi mendadak seperti ini?" tangis Lexsi dengan nada sangat manja. Perlakuan manja itulah yang membuat Ben tidak menyukai Lexsi.
"Daddy sudah tua dan juga sakit-sakitan," ujar Ben tidak banyak berkomentar.
"Kakak setuju bukan dengan permintaan Daddy?"
"Apa ini semua rencanamu Les?" tebak Ben dengan tatapan tidak suka.
Lexsi menatap Ben dengan ketus. "Jangan asal menuduh Kak, ini murni keinginan Daddy, bahkan Daddy menyuruhku kembali secepat mungkin karena ada yang dibicarakan. Ternyata Daddy ingin membicarakan masalah ini," ungkap Lexsi dengan jujur.
Ssst
Ben mengeram seraya memijit ujung dahinya. Permintaan Daddy angkatnya cukup menantang.
"Apa ada yang salah Kak? apakah ini saatnya Kakak membalas budi kepada Daddy? ingat bagaimana dulu Daddy merawat Kakak sampai bisa menjadi sekarang ini," ungkit Lexsi. Mereka hanya terpaut usia 1 tahun.
Pernyataan Lexsi tidak bisa dihindari Ben karena begitulah kenyataannya.
"Seharusnya aku merasa jiji* menjadikan Kakak suamiku tetapi karena cinta luar biasa ini tidak kumasalahkan. Hentikan kebiasaan Kakak demi menjaga perasaanku," ucap Lexsi menekankan. Ia sangat tahu bagaimana seorang Ben tetapi karena cinta ia tidak mempersoalkannya. "Aku ingin Kakak milikku seutuhnya," harap Lexsi dengan percaya diri.
Ben mengigit Bibi bawah. Rahang itu seketika mengeras. "Kau jangan merasa suci," akhirnya Ben terpaksa mengeluarkan kata kasar bahkan itu menyinggung perasaan Lexsi.
Ben terdiam seraya menadah wajahnya ke atas langit-langit. Jika dia menolak berarti ia tidak menepati permintaan terakhir Arion.
"Les asalkan kau tahu aku sudah menikah beberapa bulan lalu," ujar Ben.
Hahaha.....
Tawa Lexsi langsung memecah keheningan di ruang keluarga itu. "Lelucon apa itu Kak? tidak lucu sama sekali," ucap Lexsi terkekeh.
"Kau kira aku suka bercanda?"
Suara bariton meninggi serta menekankan itu seketika membuat tawa Lexsi terhenti, karena ia tahu bahwa sekarang Ben Brylee adalah orang yang tidak terdaftar pada kamus tersebut.
"Aku sudah menikah dengan putri musuhku selama ini," ujar Ben kembali lagi.
"Apa?" lirih Lexsi masih tak percaya. Ua sangat tahu masa lalu Ben sehingga ia paham dengan yang dikatakan musuh oleh Ben.
"Dan wanita itu sekarang berada di Mansion," paparnya kembali.
"Katakan wanita itu bukan istri Kakak, dia hanya akan menjadi tawanan Kakak," lirih Lexsi seakan berharap apa yang dikatakannya itu benar.
Ben menegakan tubuhnya, lalu menatap Lexsi. "Pernikahan kami di saksikan oleh Pendeta dan sebagian orang-orangku," akui Ben.
__ADS_1
Lexsi memejamkan mata. Perasaan sakit, terluka, kecewa tentu saya menyelimuti hatinya.
"Kakak jahat! Untuk apa Kakak harus menikahinya segala? apa Kakak mencintainya? itu bukan misi balas dendam tetapi menggali kubur Kakak sendiri," teriak Lexsi seraya menangis. Mana mungkin pria yang ia cintai sudah menikah dengan orang lain.
Mendengar penuturan Lexsi membuat Ben berpikir. Apa yang dikatakan Lexsi adalah benar, kenapa ia harus menikahi Arabelle. Padahal tujuannya adalah balas dendam.
"Aku tidak mau tahu, ceraikan dia sekarang," pinta Lexsi cukup berani.
"Diam!" Suara bariton meninggi itu semakin membuat Lexsi terisak.
"Tidak ada perceraian atau pernikahan kedua karena misi balas dendamku belum berakhir. Kau akan tetap tinggal di Mansion bersamaku, dan kau boleh melakukan apapun di sana," ujar Ben tidak ingin dibantah.
Ssst
Lexsi mengeram mendengar pernyataan Ben. Tetapi ia tahu sifat seorang Ben Brylee sehingga membuatnya pasrah, asalkan tinggal bersama sudah cukup baginya. Perlahan ia akan mengambil hati Ben.
"Tapi aku akan mengaku sebagai istrimu kepada wanita itu serta para pelayan di sana," pungkas Lexsi tidak ingin dibantah.
Bola mata Ben memutar mendengar permintaan Lexsi. "Terserah kau mau melakukan apapun, asalkan itu tidak membuatku rugi," ujar Ben seakan tidak peduli dengan keinginan Lexsi itu.
π₯π₯π₯
Beberapa hari kemudian
Malam ini Arabelle terpaksa makan malam sendiri di meja makan. Biasanya ia akan makan bersama para pelayan tetapi entah kenapa malam ini ia ingin menyantap masakannya sendiri.
Seraya menyantap makanan Arabelle teringat kepada seseorang. Seketika air mata itu tak dapat terbendung lagi. Bahkan selera makannya ketika hilang, sehingga membuatnya menyudahi.
Dengan cepat-cepat, Arabelle menyeka air matanya karena sayup-sayup mendengar percakapan beberapa orang dari arah ruang keluarga.
"Nona maaf saya, menganggu. Jika Nona sudah selesai makan, harap segera menghadap Tuan di ruang keluarga. Semua pelayan sudah berada di sana," ucap kepala pelayan yang berhasil membuat Arabelle mengerutkan dahi.
"Ada apa sebenarnya? kenapa sih dia harus datang? beberapa hari ini aku bisa bernafas lega tetapi kali ini kembali ke laptop," gerutu Arabelle dalam hati. Sungguh ia sangat penasaran karena disuruh menghadap, apa lagi juga berlaku untuk para pelayan.
Arabelle melangkah gontai menuju ruang keluarga yang tidak jauh dari area meja makan. Tiba di ruang keluarga. Arabelle terpaku mendapati sesosok wanita cantik sedang bergelayut manja, memeluk lengan Ben. Sungguh seperti sepasang kekasih yang sangat romantis.
"Dia siapa honey?" tanya Lexsi berpura-pura. Ia tahu bahwa Arabelle adalah wanita yang saat ini menyandang istri sah Ben. Lexsi memandangi Arabelle seperti ingin mengikuti. "Sial ternyata wanita ini sangat cantik, serta memiliki body goals. Pantas saja Ben sampai menikahinya. Ssst pasti dia sudah habis di hajar Ben di ranjang," keluh Lexsi dalam hati dengan darah mendidih.
"Tidak penting," ujar Ben yang berhasil membuat Arabelle mengangkat kepalanya, lalu menatap Ben yang juga menatap kepadanya sehingga membuat tatapan mereka bertemu.
"Yah kamu benar, aku memanglah tidak penting," batin Arabelle tanpa mengalihkan tatapannya. Begitu juga dengan Ben.
"Aku adalah istri Ben Brylee. Perkenalkan namaku adalah Lexsi Brylee. Apa kalian mengerti?" akui Lexsi dengan percaya diri, bahkan melakukan kemesraan di hadapan Arabelle dan para pelayan.
Deg
Bersambungπ₯π₯π₯
__ADS_1