MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 39. Obat Perangsang


__ADS_3

🔥🔥🔥


Malam menjelang


Seperti malam biasanya Lexsi selalu menggenakan lingerie seksi. Itu semua untuk membuat Ben tergoda, tetapi usahanya tak membuahkan hasil. Hingga ia memiliki rencana lain yang dirasakan mempan.


Dengan bibir tersenyum ia melangkah, membuka laci di kamar itu. Meraih botol kecil. "Aku yakin malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya," gumam Lexsi seraya menggenggam botol tersebut.


Dengan menggenggam botol tersebut, Lexsi keluar kamar menuju dapur dengan penuh kehati-hatian.


Tiba di meja makan ia memulai aksinya.


Jus yang sering diminum oleh Ben ia tuangkan kedalam gelas, dan tidak lupa mencampurkan cairan dalam botol tersebut. "Aku yakin kamu tidak dapat menolakku, ini adalah obat yang terbaik. Hmm segeralah kembali honey, aku sudah tidak sabar merasakan sentuhan serta keperkasaan milikmu," batin Lexsi dengan bibir terangkat.


Usai itu ia mengeluarkan minuman beralkohol, ya Lexsi memang wanita sedikit nakal. Suka mabuk-mabukan dari situlah Ben tak pernah menyukainya. Pergaulan Lexsi di luar negeri membuatnya bebas.


Ia tuangkan kedalam gelas dan langsung menekuk sampai tandas. Merasa belum puas ia kembali menuangkan kembali.


Drrrt


Tiba-tiba ponselnya bergetar sehingga membuatnya meletakan gelas berisi alkohol di atas meja makan.


Tanpa berpikir Lexsi menjauh sedikit karena yang sedang menghubunginya adalah sahabat dekatnya.


Di kamar


Arabelle sedang menikmati cemilan yang ia buat sendiri seraya menonton drama favoritnya. Ya setiap kamar pelayan disediakan televisi oleh Ben.


Huk huk....


Tiba-tiba Arabelle tersedak karena tak hati-hati, apa lagi cemilan itu mengandung banyak cabai. Ia meraih teko tempat air putih ternyata kosong.


Batuk itu tak terhenti sampai masuk ke ronga hidung aroma cabai itu. Dengan berlari Arabelle ke dapur, tak di sangka ia melihat dua gelas minuman di atas meja. Tanpa berpikir panjang tangannya meraih air jernih yang ia yakini air minum. Lalu meneguknya sampai setengah.


Ssst


"Kenapa rasanya sangat aneh, bukannya buat meredakan rasa pedas malah minuman itu mengakibatkan dadanya panas.


Tanpa berpikir lagi ia langsung meraih dan meneguk jus sampai tandas tak bersisa.


" Huh ini baru segar," gumam Arabelle setelah merasa jus itu menyegarkan tenggorokannya.


Ia lalu mendaratkan bokongnya, ingin duduk sejenak. Bahkan ia tak berpikir siapa yang menyediakan jus di atas meja.


Tiba-tiba ia merasakan kepalanya berat. "Kenapa kepalaku sangat pusing?" gumam Arabelle seraya memegang kepalanya dengan mata berkunang-kunang.


Lexsi membalikan posisi berdirinya di ujung sana. Matanya melirik sinis mendapati sosok Arabelle duduk di kursi meja makan.


Usai berbincang-bincang dengan sahabatnya ia kembali ke meja makan. Sedangkan Arabelle sudah tak bisa berkonsentrasi.


Panas menjalar ke seluruh tubuhnya dan berpusat pada otak.


Mata Lexsi membulat mendapati gelas jus serta minuman alkohol di atas meja tandas dan setengah habis.


"Hei apa kau yang meminum ini semua?" tanya Lexsi membentak.

__ADS_1


"Panas.... panas.... " Seru Arabelle mengabaikan pertanyaan Lexsi.


"Sialan ternyata dia yang meminum, dasar!" Umpat Lexsi dengan mata tajamnya.


Hmm


Deheman seseorang membuat Lexsi menoleh, sedangkan Arabelle sibuk mengendalikan dirinya.


"Apa apa ini?" tanya Bram.


"Panas.... panas....." Seru Arabelle seraya menarik-narik baju yang ia kenakan.


"Apa yang terjadi?" seru Bram melihat gelagat berbeda dari Arabelle.


Ssst


Arabelle men dezah dengan sorot mata penuh nafzv.


"Tolong aku ini sangat panas," lirih Arabelle dengan serak.


Sekarang Bram tau apa yang terjadi kepada Arabelle sehingga membuatnya melirik Lexsi dengan sinis. "Apa yang kau lakukan Lexsi? pasti ini ulahmu yang tak tersampaikan," Tuduh Bram seakan tau akal busuk Lexsi untuk mendapatkan Ben.


"Jangan asal nuduh Bram, dia aja yang kegatala*," ujar Lexsi seakan kesalahan itu dibuat Arabelle sendiri.


Melihat Arabelle semakin tersiksa membuat Bram bergegas memanggil para pelayan.


"Pelayan bawa Nona kedalam mobil," titah Abram tidak ingin berlama-lama lagi.


Arabelle dipapah oleh beberapa pelayan, sedangkan Arabelle sudah tak berdaya. Nafzvnya semakin memuncak dan ingin mendapat sasarannya.


Bram sengaja membawa kepala pelayan agar ada yang menenangkan Arabelle selama perjalanan menuju apartemen. Ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Arabelle karena itu sangat berbahaya.


**


15 menit mereka tiba di apartemen. Dengan buru-buru Bram membukakan pintu mobil agar memudahkan kepala pelayan membawa Arabelle dengan penampilan acak-acakan.


"Mari Nona," ucap kepala pelayan agak kesusahan karena tubuh Arabelle menggeliat.


"Panas....." Desis Arabelle sepanjang jalan.


Ting


Pintu lift terbuka dengan langkah panjang mereka berjalan ke arah kamar Ben.


Klek


Tanpa memencet bel Bram masuk begitu saja karena ia tau nomor sandi apartemen itu.


"Bos, bos," panggil Bram berulang-ulang karena tidak ada sahutan.


Kepala pelayan mendudukkan Arabelle di atas sofa.


"Panas....." Desis Arabelle menahan sesuatu hingga ia ingin menanggalkan semua yang melekat di tubuhnya tetapi dengan cepat di tepis oleh kepala pelayan.


Bram memasuki kamar

__ADS_1


"Sadar Nona," ucap kepala pelayan seraya memberi minum kepada Arabelle terapi ditepis sehingga menimbulkan bunyi. Gelas itu pecah berserakan di lantai.


Prang


Bunyi pecahan membuat Ben maupun Bram segera keluar dari dalam kamar.


Mata Ben membulat melihat keadaan Arabelle sudah acak-acakan. "Ada apa dengannya? kenapa kau bawa dia ke sini?" ujar Ben karena tidak tau apa yang terjadi.


"Sepertinya Nona meminum minuman alkohol serta obat perangsang bos," pungkas Bram.


"Apa? apa dia sudah gila?" cecar Ben dengan rahang mengeram.


"Bukan Nona yang melakukan itu tetapi tidak sengaja Nona meminum buatan yang di sediakan Nona Lexsi di atas meja, sepertinya itu untuk menjebak bos. Entah bagaimana Nona Almero bisa meminumnya," ungkap Bram.


"Kurang ajar wanita itu," ujar Ben dengan amarah.


"Bantu aku, ini sangat panas," erang Arabelle dengan sorot mata sayu.


Arabelle membuka kancing piyama tidurnya, hal itu membuat Ben maju mendekat dan menepis tangan itu.


Arabelle tergerak ingin melihat siapa yang berani menepis tangannya. "Kamu," lirihnya ketika menatapi Ben.


Li dah Arabelle bergerak ke atas mendapati tubuh polos bagian atas Ben. Kebetulan Ben tidak mengenakan baju dikarena luka itu.


Tanpa merasa malu atau apapun. Arabelle langsung memeluk Ben begitu erat bahkan jari-jemari itu sudah merayap kemana-mana.


"Tinggalkan kami!" Titah Ben kepada Bram maupun kepala pelayan yang sejak tadi menoleh kearah lain.


**


Ssst


Desis Ben tertahankan mendapati tubuhnya dikuasai oleh Arabelle.


"Sepertinya wajahmu tidak asing," lirih Arabelle yang kini hilang akal sehatnya dipengaruhi dua jenis minuman yang ia minum. "Aku mohon puaskan aku, ini sangat menyiksa sekali," racau Arabelle yang tidak mengenali Ben akibat alkohol itu.


Ben tak bergeming. "Untung dia bersamaku,'" ujar Ben seraya menyibak rambut yang sudah menutupi sebagian wajah Arabelle.


"Tapi maaf aku tidak perawan lagi," racaunya semakin tak terkendali.


"Itu tak masalah," bisik Ben seraya mengigit daun telinga itu dengan lembut.


Awww.....


"Geli...."


Arabelle menangkup wajah Ben dengan tatapan intens. Ia tatap wajah itu, seketika ingatan sedikit terlintas. "Benarkah pria yang ku goda ini adalah Ben?" batin Arabelle. Benar ia tidak salah lagi karena sekilas melihat lika di punggung lengan Ben.


"Pergi!" Seru Arabelle tiba-tiba. Hal itu membuat kening Ben mengerut.


Ben segera melucuti celana yang masih melekat di tubuhnya, hal itu membuat keinginan Arabelle tak terkendali. Apa lagi pistol baja itu seakan siap untuk di bidik.


*Bersambung🔥🔥🔥


*** *** nya part selanjutnya ya*?

__ADS_1


__ADS_2