
🔥🔥🔥
Hari ini Ben menginjakan kaki di gedung pencakar langit.
Tok tok
Pintu ruangan diketuk.
"Masuk!"
Klek
Pintu terbuka dan muncullah Bram dengan tangan memegang beberapa berkas.
"Bos," sapa Bram seraya meletakkan berkas itu di atas meja kerja.
Hmmm
Ben sibuk dengan layar laptopnya, entah apa yang ia kerjakan.
"Bram layangkan surat somasi ini ke perusahaan ALMERO GROUP, " titah Ben seraya memberikan map tersebut kepada Bram. Bram menerima map itu dengan kening mengerut.
"Ini dokumen apa bos?" tanya Bram.
"Tentu saja dokumen penarikan perusahaan," ujar Ben tidak main-main. Ia beranjak dari kursi kebesarannya, lalu menghadap kaca besar. "Sekarang saatnya aku merebut apa yang seharusnya milikku. Mereka sudah cukup menikmati atas usaha yang bukan milik mereka. Mereka sudah cukup bersenang-senang di atas penderitaanku selama ini, Bram!" papar Ben dengan tangan terkepal.
"Bos ini adalah kesalahan Brid. Nona Arabelle tidak tahu apa-apa bos," ujar Bram memberanikan diri.
Ben membalikan badan. Tatapan tajam tidak bisa Bram hindari lagi. "Jangan kau bilang ingin melepaskan wanita itu Bram? apa kau menyukai hewa* peliharaanku? wanita itu sudah hancur Bram, sudah kuhancurkan!" Bentak Ben seperti kerasukan setan. Mata elang tajam itu memerah, serta urat lehernya keluar.
Bram mendesis dalam diam. Ia sangat iba kepada Arabelle. Di sini seharusnya bukan Arabelle yang di sekap dan disiksa tetapi Brid lah, biang kerok dari segala masalah.
"Jangan macam-macam Bram jika tidak ingin menyesal," ancam Ben.
"Iya bos," sahut Bram tidak bisa membantah.
Ben kembali ke kursinya dan menyelesaikan sesuatu.
"Kapan saya melayangkan somasi itu bos?" tanya Bram.
"Besok!" Ujar tajam Ben.
"Iya bos setelah jam makan siang saya akan ke perusahaan itu," ucap Bram salah bertanya.
Hmm
Ben menjentikkan jari. Bram keluar dengan membawa surat somasi serta dokumen perusahaan.
**
Ting
__ADS_1
Ponsel Ben bergetar di atas meja, pertanda pesan masuk.
{"Tuan, Nona tidak mau makan, bahkan sarapan pagi juga ."}
Pesan itu dari kepala pelayan di Mansion.
"Sebenarnya maunya apa? apa dia sengaja menyiksa dirinya agar cepat mati? tidak akan kubiarkan itu, asal kau tahu!" Gumam Ben dengan murka.
Tanpa berpikir panjang ia menyambar kunci mobil dan segera keluar dari ruangan.
Tiba di basemen ia langsung bergegas memasuki mobil. Melaju menuju Mansion.
Brak
Setir mobil menjadi sasaran pria itu karena ia terjebak macet. Kemacetan begitu panjang sehingga membuat roda empat itu tidak bisa memutar arah. "Sialan!" gerutunya seraya mengeluarkan kepala di jendela mobil.
Tin tin
Begitulah klakson mobil saling bersahutan.
Ting
Ponsel itu kembali bergetar. Ben raih ponsel itu, lalu segera membuka pesan dari kepala pelayan.
{"Nona pingsan Tuan."}
Beginilah isi pesan itu sehingga membuat rahang Ben mengeras. "Dasar wanita bodoh!" Umpat Ben.
Tin.... tin....
"Pa apa yang terjadi? kok bisa macet separah ini?" suara bariton wanita membuat Ben tertarik menoleh ke arah samping.
Deg
Wanita itu mengeluarkan kepalanya dengan jendela terbuka lebar, sedang berbicara dengan seorang petugas.
Ben menatap tanpa berkedip. Untuk meyakinkannya ia mengucek kedua matanya.
Senyum, raut wajah itu tidak bisa ia lupa. "Mommy...." Gumam Ben dengan bibir bergetar.
Kaki Ben beranjak tetapi sesaat ia urungkan karena mobil itu telah melaju, bebas dari kemacetan tepat di jalur kendaraannya.
Ben ingin mengejar tetapi hal itu tidak mungkin. Bahkan ia tidak mengingat plat mobil itu.
"Brengsek! Ternyata dia masih hidup. Bersiap-siaplah menanti pembalasanku, aku sangat membencimu!" Sumpah serapah Ben seraya menggertak gigi. "Di manapun kau berada akan aku cari," imbuhnya dengan tatapan membunuh.
Seketika ingatannya kembali di momen masa lalu. Dimana wanita yang ia sebut Mommy itu menelantarkan mereka, seakan sama sekali tak peduli.
"Satu orang sudah dalam genggaman, dan dua orang akan segera menyusul," ujar Ben dengan senyuman menyeringai. Kemenangan tinggal di depan mata.
🔥🔥🔥
__ADS_1
1 jam terjebak macet.
Kini ia tiba juga di Mansion. Dengan langkah panjang ia memasuki Mansion.
"Apa yang dia lakukan?" ujar Ben kepada para pelayan.
"Nona sejak tadi berdiam diri tanpa sepatah kata, Tuan," sahut salah satu dari mereka. "Dan akhirnya tidak sadarkan diri," sambungnya.
"Apa dokter sudah datang?"
"Sudah Tuan kemungkinan masih memeriksa Nona,"
Brak
Pintu dibuka dengan cara kasar.
Ben langsung masuk kedalam kamar dengan tatapan tajam. Benar saja dokter masih memeriksa Arabelle.
"Bos," sapa sang dokter.
Hmm
Arabelle masih memejamkan mata dengan tangan di padang selang infus.
"Nona mengalami hidrasi karena kekurangan cairan dalam tubuhnya. Untuk itu dianjurkan segera makan. Saya sudah memberi resep obat dan sebentar lagi ia akan terbangun," jelas dokter seraya mengemaskan peralatan medisnya.
Ben tak menanggapi. Tatapan itu masih betah menatap Arabelle yang terbaring lemah di atas kasur.
"Saya permisi bos," ucap dokter lalu berlalu meninggalkan kamar dan diikuti kepala pelayan.
Ben melangkah semakin mendekati ranjang. Tatapan itu lekat-lekat di wajah Arabelle. Dadanya langsung bergemuruh melihat wajah Arabelle, mengingatkannya kepada Brenda. Sama-sama memiliki mata indah serta lesung pipi yang tidak begitu dalam, sedangkan milik Brenda begitu dalam.
Dengan segera ia menggelengkan kepala, bahwa penilaiannya itu adalah salah. Ia mengakui kecantikan Arabelle melebihi Brenda.
"Bibi," gumam Arabelle dengan mata masih terpejam. "Bibi sakit," gumamnya kembali. Ya wanita malang itu mengigau dengan memanggil Bibi. Orang yang selama ini selalu ada untuk dirinya.
Ben mendesis mendengar igauan Arabelle. Ada sedikit keanehan karena tanpa langsung ia tidak memanggil Daddy atau Mommy tetapi Bibi.
Tidak ingin pikirannya terganggu membuat Ben masuk kedalam kamar mandi untuk merendamkan tubuhnya.
Didalam bathup Ben merendamkan seluruh tubuhnya dengan air dingin. Pandangannya ke langit-langit kamar mandi.
Bayangan sekilas wajah itu terlintas kembali sehingga tanpa sadar air mata itu mengalir keluar perlahan.
Bukan karena rasa rindu atau sebagainya tetapi air mata itu tanda sakitnya hati Ben. Wanita yang tidak pernah ada waktu untuk mereka dikala masih bersama. Wanita yang tega mengkhianati suaminya. Wanita yang tega meninggalkan keluarganya demi kehidupan yang lebih layak.
Entah sampai kapan ia menutup luka yang masih menganga itu. Apakah tunggu Brid, Gres serta Arabelle mati? mungkin saja, itulah yang ada dalam pikiran Ben.
"Daddy ternyata wanita brengsek itu masih hidup, bahkan kelihatan sangat bahagia. Mungkin dia kira aku sudah mati," gumam Ben dengan rahang mengeras.
"Saat kamu memulai perjalanan balas dendam, mulailah dengan menggali dua kuburan: satu untuk musuhmu dan satu untuk dirimu sendiri." Jodi Picoult.
__ADS_1
Balas dendam tidak layak untukmu. Jika kamu berkonsentrasi pada balas dendam, kamu akan menjaga luka-luka itu tetap segar, yang seharusnya bisa disembuhkan." Adeline Yen Mah.
Bersambung🔥🔥🔥