MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 41. Bertemu Gres


__ADS_3

🔥🔥🔥


Mendengar perkataan Arabelle membuat Ben naik pitam. Dengan segera bangkit dan mendekati Arabelle yang ingin ke kamar mandi.


Awww


Ringis Arabelle merasa cengkraman erat di pergelangan tangannya.


"Asal kau tau wanita dengan senang hati melemparkan dirinya kepadaku. Asal kau tau alasanku memungut sampah itu karena untuk membalaskan dendam ini. Camkan itu! Jangan percaya diri kau itu," seru Ben dengan lantang.


Arabelle menunduk, apa yang dikatakan Ben itu semua adalah kenyataannya.


Tanpa berkata lagi Arabelle, melangkah gontai menuju kamar mandi. Bagaimana tahan ia bersamaan berdiri dengan keadaan Ben tanpa sehelai benang berdiri dihadapannya.


Sekilas ia sempat memandangi tubuh itu. Betapa kagetnya dirinya mendapati bekas kiss Mart di sekujur tubuh Ben.


Sebenarnya ia tak percaya, tetapi ingatan sekilas membuatnya percaya bahwa itu adalah perbuatannya.


Brak


Belum sempat Arabelle menutup pintu kamar mandi, Ben langsung mendobraknya sehingga membuatnya kaget. "Kamu mau apa? biarkan aku duluan mandi," ucap Arabelle tanpa memandangi Ben.


"Tentu saja mandi, mau apa lagi? apa obat sialan itu masih aktif? hingga kau berpikiran lain?" goda Ben. "Kau sengaja meminum obat seperti itu untuk menggodaku?" imbuhnya yang berhasil memancing emosi Arabelle.


Mata Arabelle membulat dengan mulut menganga mendengar omong kosong itu.


"Jangan asal bicara. Itu semua perbuatan istri mudamu. Entah apa maksudnya melakukan itu," papar Arabelle dengan wajah marah.


Dengan cepat Ben merampas selimut yang melilit tubuh polos Arabelle.


Awww


Teriak Arabelle mendapati tubuhnya tanpa penutup. Ben langsung melemparkan selimut itu keluar kamar mandi.


Tanpa berpikir panjang Ben langsung melahap tubuh polos Arabelle. Awalnya Arabelle menolak dan berusaha melawan tetapi lama-kelamaan pertahanannya runtuh.


Sungguh kelembutan Ben pagi ini membuatnya terlena dan bahkan menikmatinya.


Mereka berakhir dengan ******* demi ******* didalam kamar mandi. Sekali lagi pistol baja mengeluarkan larvanya di ladang sempit milik Arabelle.


Pagi ini mereka kembali melakukan kegiatan bercocok tanam. Semoga hasil penyemaian membuahkan hasil🤣


🔥🔥🔥

__ADS_1


Di sebuah restoran seorang wanita sedang menyantap makanannya. Pandangannya jatuh ke sosok pria tampan yang sedang menerima sambungan telepon.


Jarak di antara keduanya hanya dibatasi 1 meja. "Siapa dia? wajahnya mengingatkanku kepada Williams," batinnya.


Wanita itu adalah Gres. Siang ini ia ingin makan di restoran langganannya seorang diri. Sedangkan Almero saat ini sudah jarang pulang ke Mansion. Entah apa yang dilakukan diluar sana ia tak pernah tau.


"Wil, kemana kamu bawa anak-anak? apa kalian masih hidup?" lirih Gres dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya, selama ini ia diam-diam mencari keberadaan mantan suami serta kedua anaknya tetapi sedikitpun ia tak memiliki titik terang, seakan mereka menghilang.


Gres menunduk seraya meremas jari-jemarinya, bayangan dimasa lalu melintas dalam benaknya. Dimana dengan teganya ia meninggalkan sendiri suami serta kedua buah hatinya.


Tidak sampai di situ, ia juga menggugat cerai suaminya.


"Semoga kalian baik-baik saja. Aku minta maaf," batinnya kembali seraya menatap foto dua anak balita dalam album fotonya. Dimana itu adalah foto Brenda bersama Ben. "Mommy minta maaf sayang, Mommy sangat menyesal telah meninggalkan kalian. Mommy kira akan bahagia tetapi tidak, selama ini Mommy tidak mendapatkan kebahagiaan seperti yang Daddy kalian berikan kepada Mommy," sambungnya dengan meneteskan air mata.


Pria di sebelah sana tidak sengaja pandangannya tepat pada sosok Gres yang tengah meratapi penyesalannya.


Gres menegak kepalanya seraya menyeka air matanya. Ia kembali memandang kearah semula. Pandangan antara ia dan pria itu bertemu cukup lama.


"Dia, dia!" gumam Ben dengan bibir bergetar.


Awww


Gres tiba-tiba memegang dadanya yang tiba-tiba sesak dan sangat sulit untuk bernafas.


Ssst


Desis Gres merasakan amat sesak itu. Tetapi tatapannya tak lepas dari pria itu.


"Apa yang terjadi Nyonya?" tanyanya tanpa melepas tatapannya.


"Sepertinya asmaku kumat," lirih Gres dengan mimik wajah menahan rasa sakit.


"Apa sebaiknya Nyonya segera ke rumah sakit?"


"Jangan formal begitu, panggil saja Tante Gres," ucapnya.


Deg


Tangan yang sempat memegang bahu Gres terlepas begitu saja ketika ia mengetahui sebuah nama keramat itu. Benar ia tidak salah orang. Wajah serta semuanya ia masih ingat.


Tubuh pria itu membeku dengan bibir bergetar.


"Ada apa Nak?" lirih Gres masih dengan memegang dadanya.

__ADS_1


Pria itu tak bergeming, tatapan itu membuat Gres merasa tidak nyaman tetapi seperti ada ikatan batin. Jantung Gres berdetak memandangi bola mata pria itu, seakan ia menatap bola mata mantan suaminya.


"Nama kamu siapa?" tanya Gres ingin tau.


Pria itu tak juga menjawab, seakan mulutnya terkunci rapat.


"Kamu sangat tampan, wajah tampanmu ini mengingatkan Tante kepada mantan suami serta putra Tante," ucap Gres seraya mengusap wajah pria itu.


Deg


Darah pria itu mendidih mendengar mulut palsu itu. Tiba-tiba ingatan dimana mereka ditinggal begitu saja oleh wanita ini.


Tangan pria itu mengepal dibalik kantong celananya. Rahang itu sudah mengeram.


"Mirisnya, sampai saat ini Tante tak pernah bertemu mereka," pungkasnya dengan wajah serta tatapan sendu.


Pria itu menggertakkan gigi mendengar omong kosong itu.


Miris? bukankah mereka yang seharusnya merasa miris diperlakukan seperti itu.


Tanpa berkata apapun pria itu pergi meninggalkan Gres yang masih termangu dengan rasa penyesalannya.


"Nak siapa namamu?" panggil Gres dengan lirih. Tetapi tak digubris oleh pria itu. Ia berlenggang dengan langkah panjang seraya mengelakkan kedua tangannya.


**


Didalam mobil Ben memukul setir mobil berkali-kali. Mata itu memerah menahan amarah. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Mommy kandungnya. Sudah puluhan tahun, dan hari ini mereka bertemu.


"Bagaimana kau bisa mengenaliku, sedangkan selama ini sedikitpun perhatianmu kepadaku dan Kak Brenda tidak ada. Bagaimana kau hafal dan mengingat bagaimana pertumbuhan serta perkembangan kami dimasa kecil?" gumam Ben dengan mata memerah.


Kata-kata Gres tadi masih terngiang di telinganya.


"Mencari? miris? itu omong kosong. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui bahwa kaulah wanita yang melahirkanku karena kau tidak pantas mendapat predikat itu. Kau harus membayar perbuatanmu dimasa lalu, dimana kami ditinggalkan tanpa belas kasian darimu," gumam Ben dengan rahang mengeras.


Aaak....


Teriak Ben melampiaskan amarahnya. Do'anya kini terkabul, Tuhan mempertemukan dirinya dengan sosok itu, bukan untuk memberi tahu bahwa dia adalah seseorang Ben Brylee tetapi hanya ingin membalaskan dendam.


Andai saja Gres tidak meninggalkan mereka dalam keadaan sulit, mungkin saja musibah itu tak menimpa mereka.


Mungkin saja Williams bersama Brenda masih berada di tengah-tengah mereka saat ini.


"Aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup!"

__ADS_1


Bersambung 🔥🔥🔥


__ADS_2