
🔥🔥🔥
Ben memeluk Arabelle dengan perasaan takut. Takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Ben melepaskan pelukan itu. Ia menyapu sisa air mata. Ia lalu bangkit berdiri menatap Bibi. Ada hal yang ingin ditanyakan Ben.
"Aku ingin bertanya. Apakah Arabelle adalah putri kandung Brud dan Gres?" tanya Ben.
"Sebaiknya kita bicara di sana." Ajak Bibi seraya menunjuk sofa.
Ben mengikuti langkah Bibi. Wanita paruh baya itu mendaratkan bokongnya dengan diiringi lelehan air mata.
Bibi menyapu sisa air mata, serta mengatur nafasnya.
"Nona adalah putri Tuan Brid tetapi bukan putri kandung Nyonya Gres. Dalam arti kalian tidak sedarah," ucap Bibi.
Deg
Ben merasa lega. Sejak tadi jantungnya ingin berhenti berdetak sebelum Bibi mengatakan sesuatu.
Ben memejamkan mata sesaat, bersyukur kepada yang maha Kuasa karena ia tidak melakukan dosa besar untuk kesekian kalinya.
"Dari usia 10 tahun Nona ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh Nyonya. Hubungan Nona dengan Mommy sambungnya tidaklah cukup baik. Nyonya sama sekali tidak memikirkan Nona, sedikitpun perhatiannya tidak pernah ditunjukan. Dari usia 10 tahun Nona kesepian, tidak ada teman satupun yang dekat, semua teman sekolahnya menjauhinya karena satu alasan yaitu memiliki orang tua tiri," ungkap Bibi.
Sekilas ingatan menyeruak, hal itu membuat Bibi sesak. Dimana teman-teman Arabelle membully.
"Teman-temannya selalu menyanyikan lagu. Ibu tiri hanya cinta kepada Ayahku saja. Selagi Ayah di sampingmu, ku dimanja dan di puja. Itu lagu untuk menyindir Nona. Kalimat itu benar-benar dialami Nona sehingga Nona sangat terpukul," pungkas Bibi seraya memegang dadanya.
Dada Ben seakan di hantam oleh benda tumpul mendengar cerita masa lalu Arabelle yang sungguh miris. Ia tidak pernah menyangka akan begitu masa lalu Arabelle. Dalam arti selama ini Arabelle belum merasakan kebahagiaan. Dengan tidak sengaja ia kembali membuat hati Arabelle terluka atas segala yang sudah ia lakukan.
Arabelle menjadi senjata dari perbuatan orang tuanya. Sungguh Ben sangat menyesal melakukan itu. Tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Ben bangkit berdiri, ia kembali duduk di samping Arabelle. Memeluknya, bahkan menciumi nya seraya menangis. Seakan aura sang mafia tidak berlaku saat ini.
Rahang yang biasa mengeras seperti seekor singa yang siap menerkam. Tatapan mata seperti elang yang ingin menelan hidup-hidup, kini berubah menjadi seekor anak kucing.
Ingatan dimana Arabelle menyatakan cinta kepadanya terus saja terngiang-ngiang. "Aku juga mencintaimu, jadi aku mohon tolonglah bangun agar kau mendengarnya langsung," tutur Ben seraya menggenggam telapak tangan Arabelle.
Ingatan dimana dokter mengatakan bahwa calon buah hati mereka tidak bisa diselamatkan membuat dada Ben semakin sesak. Dengan tidak sengaja ia mengorbankan darah dagingnya menanggung keegoisannya selama ini.
"Daddy minta maaf Nak, sudah gagal menjaga kalian," batin Ben kembali terisak. Membayangkan anak kecil membuat tubuhnya ingin merosot ke bawah. Ben adalah tipe pria menyukai anak kecil, terbukti dengan panti asuhan yang ia kelola.
Bibi memejamkan mata, senyuman kecil mengembang di wajahnya. Walaupun ada rasa kekecewaan terhadap Ben tetapi kembali lagi semua ini bukanlah kesalahan Ben. Ben maupun Arabelle adalah korban dari kekejian orang tua mereka.
Bibi kembali keluar, ia memberi keduanya waktu. Tetapi sampai saat ini Arabelle belum juga sadarkan diri. Bibi belum merasa lega karena Arabelle mengalami luka tembak.
🔥🔥🔥
Entah sudah berapa lama Arabelle tak sadarkan diri. Dengan sabar Ben tetap di tempat, sedikitpun engan beranjak dari sana. Sorot matanya tak lepas dari wajah pucat itu.
__ADS_1
"Bangunlah, demi aku tolong bangun," lirih Ben.
"Ben," suara lirih amat halus itu membuat kesadaran Ben dalam larut kesedihan teralihkan.
Seketika matanya membulat melihat kini Arabelle membuka mata.
"Apakah aku masih hidup?" lirihnya.
Ben tidak bisa membendung rasa bahagianya. Ia langsung kembali memeluk Arabelle. "Terima kasih sayang.....akhirnya kau sadar juga," lirih Ben dengan dada lega.
"Aku masih hidup?" gumam Arabelle kembali lagi.
"Iya sayang," sahut Ben.
"Ini benar kamu Ben? apa kita selamat dari maut itu?" imbuhnya dengan bibir bergetar, sekilas kejadian waktu itu mengingatkannya kembali.
Ben segera melepaskan pelukannya. Lalu mengusap wajah Arabelle. "Kenapa kau menyelamatkan aku? aku tidak pantas untuk diselamatkan. Seharusnya kau membiarkan aku menerima hasil dari perbuatanku," ujar Ben.
Arabelle tersenyum kecil, walaupun rasa sakit di sisi perut serta betisnya ia harus tetap kuat.
"Karena itu sudah seharusnya," ucap Arabelle dengan lelehan air mata.
"Apakah sangat sakit?"
Arabelle menggeleng.
Ben memejamkan mata. Sungguh wanita yang telah ia sandera ini begitu baik dan tidak pendendam.
"Aku minta maaf, sungguh aku menyesal. Aku tau jika permintaan maaf ini tidak sebanding dengan perbuatan yang sudah aku lakukan selama ini kepadamu," pungkas Ben sungguh-sungguh.
Arabelle berusaha menjangkau wajah Ben. Ia usap wajah itu dengan lembut. "Ini bukan kesalahan kamu sepenuhnya, di sini semuanya salah, terlebih untuk Daddy ku. Kamu dan aku hanya sebagai korban," ucap Arabelle.
Awww
Jeritnya merasakan kesakitan akibat bergerak.
"Mana yang sakit? tunggu biar ku panggilkan dokter." Ben langsung menekan tombol.
Dokter beserta perawat bergegas masuk kedalam.
"Maaf Tuan, biarkan kami memeriksa Nona," ujar dokter.
Mau tidak mau Ben menyingkir, membiarkan para tim medis memeriksa kembali keadaan Arabelle.
"Mohon jangan banyak bergerak Nona, sangat rentan." Jelas dokter, akibat ia bergerak menimbulkan rasa sakit.
"Bagaimana keadaan istriku? aku ingin membawa dia ke kota," ujar Ben.
Arabelle tertekun mendengar pengakuan Ben, menganggap dirinya adalah istrinya.
__ADS_1
"Sebaiknya besok saja Tuan. Sangat beresiko besar karena tidak boleh terkena guncangan. Tuan jangan khawatir karena peralatan sudah lengkap," terang dokter. Ya Ben memerintah tenaga medis segera datang dengan peralatan lengkap, beserta dokter profesional.
Ben manggut-manggut.
**
Tok tok
Klek
Pintu ruang rawat di buka. Ternyata itu adalah Bram.
"Bos, Nona," sapa Bram dengan raut wajah berduka cita.
Ben mengangguk.
"Bagaimana keadaan Nona?" tanya Bram turut prihatin kepada Arabelle atas musibah yang menimpa dirinya.
"Aku baik-baik saja Bram. Jane tidak ikut?"
"Jane bahkan belum tau bahwa Nona mendapat musibah," ujar Bram.
"Tolong jangan kabari dulu, aku khawatir ia akan nekat," titah Arabelle.
Bram mengangguk.
"Ada apa Bram? bagaimana keadaan di sana?" tanya Ben, menyadari ada hal yang ingin dibicarakan Bram.
Bram menatap Ben maupun Arabelle silih berganti. Dimana saat ini Ben menggenggam tangan Arabelle.
"Tuan Almero beserta Nyonya Almero sudah tiada, beliau tidak sengaja kena tembakan ketika dua kubu saling menyerang.
Deg
Kabar yang diberikan Bram membuat dada keduanya sesak, terlebih lagi Arabelle. Genggaman keduanya semakin mengerat.
"Daddy......" Tangis Arabelle secara diam. Bagaimanapun kesalahan orang tuanya tetap saja ada sisi kebaikan. "Ara minta maaf Dad," lirihnya diiringi tangisan.
Ben terdiam, ia tidak tau ingin menangis atau tertawa. Seharusnya saat ini ia tertawa terbahak-bahak, bahkan sedang merayakan atas kemenangannya. Misi balas dendam kini sudah tercapai.
Tetapi semuanya yang terjadi tidak sesuai yang diinginkan. Ia tidak pernah menyangka saat ini sedang di rumah sakit, menemani istrinya yang kena tembak demi menyelamatkan nyawanya.
"Misi balas dendam telah tercapai tetapi kenapa aku tidak bahagia? malahan sebaliknya," batin Ben.
Ia sapu air mata yang tak berhenti meleleh di wajah Arabelle. "Aku minta maaf!" Sekali lagi permintaan maaf itu lolos.
Arabelle menggelengkan kepala. Lalu ia membawa genggaman itu, meletakan diantara bibir dan hidungnya.
Bersambung 🔥🔥🔥
__ADS_1