MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM

MAFIA HOBI BERCOCOK TANAM
Bab. 58. Melahirkan


__ADS_3

🔥🔥🔥


Beberapa bulan kemudian


"Sayang bangun," ucap Arabelle seraya menggoncang tubuh Ben yang tengah terlelap.


Hmmp


Ben langsung terjaga akibat goncangan di tubuhnya. "Iya sayang ada apa?" gumam Ben dengan mata masih terpejam.


Bibir Arabelle merucut karena melihat reaksi Ben yang kurang sadar.


"Sudah aku katakan jangan tidur sebelum aku dan anak-anak ini tidur," umpat Arabelle dengan mengebu. Mendengar hal itu membuat Ben langsung mengubah sikapnya, ia tau bahwa saat ini istri tercintanya sedang ngambek.


"Iya sayang aku tidak tidur kok, itu hanya perasaan kamu saja," ujar Ben berusaha menyegarkan kedua bola matanya.


"Kamu kira aku bodoh?"


"Ya ampun kenapa dia jadi berubah menakutkan begini? dimana sosok Arabelle yang lemah lembut dulu?" batin Ben.


"Kamu bicara apa? mengumpat dalam hati?" cecarnya menebak asal.


Glek


Hal itu membuat Ben menelan ludahnya. Dengan sigap Ben langsung memeluk Arabelle seperti biasanya, hal itulah yang akan ia lakukan jika Arabelle lagi ngambek.


"Anak-anak Daddy, kalian lapar ya?" bisik Ben pada perut membuncit itu.


"Iya Dad," sahut Arabelle dengan bahasa bayi.


"Daddy juga haus sayang," goda Ben seraya mengedipkan mata ke arah dua gundukan itu.


"Jangan katakan Daddy ingin menggoda Mommy," ucap Arabelle masih menirukan bahasa bayi. Ia sudah tau apa maksud dari ucapan itu.


"Sayang sudah cukup puasanya. Nanti pistol baja ini karatan di dalam sana," ujar Ben dengan nada manjanya.


"Baru saja satu hari puasa. Dasar mesum!" Cicit Arabelle dengan bibir mengerucut.


"Begitulah resikonya memiliki suami hot sayang," goda Ben.


"Bukan hot tapi mesum tingkat dewa."


"Tapi kamu menyukainya bukan? bahkan desahanmu aaah....aaah.....cepat sayang aku tidak tahan lagi."


Mata Arabelle melotot dengan mulut menganga mendengar candaan Ben.


"Desahanmu luar biasa sayang......"


"Stop!"


Teriak Arabelle seraya membungkam mulut Ben menggunakan kedua telapak tangannya.


Ben lalu segera memeluk erat Arabelle seraya menghujani kecupan di pucuk kepalanya.


"Aku sangat mencintai kalian sayang. Sungguh aku sudah tidak sabar menanti kehadiran mereka," ungkap Ben.


Arabelle hanya bisa tersenyum. Selama ini Ben selalu mengungkapkan perasaannya.


"Sayang ingin makan apa?" tanya Ben seakan sadar.

__ADS_1


"Seperti biasa sayang. Maaf ya selama ini merepotkan terus-menerus," ucap Arabelle dengan tidak enak hati.


"Siapa bilang, itu sudah kewajibanku. Jadi jangan merasa tidak enak hati," ujar Ben.


"Terima kasih sayang," ucap Arabelle dengan raut wajah bahagia.


"Baiklah, tunggu sebentar."


**


Di dapur Ben berkutat, membuat pizza ala Ben Brylee. Selama hamil Arabelle sangat menggemari pizza buatan Ben.


Bayangkan saja sekarang sudah tengah malam tetapi Ibu hamil itu masih ingin makan sesuatu. Begitulah setiap malamnya sehingga Ben harus siaga 24 jam.


Salah jika Ben tidak menyukai perubahan Arabelle, ia malah senang mendapat perubahan itu karena hal ini dapat membayar atas perbuatannya dimasa lalu.


Kehamilan Arabelle memasuki bulan dimana kelahiran, Hadi mereka berdua sudah mempersiapkan diri, terutama Arabelle karena ini pengalaman pertama.


Mereka berdua sudah mengetahui jenis kelamin serta kembar berapa, hanya keduanya masih merahasiakan itu kepada orang lain.


Sungguh kehamilan Arabelle sangat berbeda dari wanita hamil pada umumnya. Perutnya sungguh besar, hal itu merubah bentuk tubuhnya tetapi tidak merubah paras cantik seorang Arabelle.


Kadang Ben tidak tega melihat beban yang dipikul Arabelle dengan perutnya. Seakan ia merasakan kesakitan padahal menurut Arabelle itu tidaklah menyiksa. Beberapa buah hati mereka sangat baik selama dalam perutnya, hanya sedikit bandel kepada Daddy nya.


Bahkan Ben sangat gemas dengan postur tubuh itu. Ia semakin bergairah dengan tubuh montok itu.


**


Tiba di kamar Ben menggelengkan kepala melihat sosok istri tercintanya sudah molor. Tertidur nyenyak membawa perut buncit itu. Begitulah yang terjadi.


Ben benar-benar harus bersabar menghadapi situasi seperti ini.


Dengan penuh hati-hati ia mendudukkan tubuhnya di samping pembaringan Arabelle. "Sayang ayo bangun, pizza-nya sudah jadi," bisiknya dengan lembut seraya mengusap wajah nyenyak itu.


Hmmp


"Maaf sayang aku ketiduran," ucapnya.


Ben memotong pizza agar memudahkan Arabelle untuk memakannya. Potongan demi potongan masuk kedalam mulut itu sampai tak tersisa.


Huh....


Arabelle bersendawa pertanda ia sudah sangat kekenyangan seraya mengusap perut buncit itu.


Ben tersenyum lucu melihat selera makan Arabelle selama ini. Dulu mungkin ia sangat menjaga pola makannya tetapi selama kehamilannya ia tidak peduli lagi.


🔥🔥🔥


Di rumah sakit.


Di ruang operasi kini Arabelle terbaring. Ia baru saja melakukan suntikan. Dengan setia Ben mendampingi. Ia ingin sekali menyaksikan langsung bagaimana proses melahirkan beberapa buah hati mereka.


Mata Ben membulat melihat beberapa peralatan medis, terutama benda tajam.


Dimasa lalunya ia tidak asing dengan senjata tajam atau senjata api, bahkan tak segan-segan melukai lawannya. Tetapi ia sungguh tidak tega benda tajam itu melukai kulit Arabelle.


"Dokter apa tidak ada cara lain?" ujar Ben.


"Hanya ini cara satu-satunya Tuan. Tidak mungkin proses lahiran Nyonya normal? percayalah peralatan medis ini tidak menyakitkan Nyonya," terang sang dokter dengan bibir melengkung.

__ADS_1


"Sayang tenanglah, jangan menganggu kinerja para tenaga medis. Mereka akan melakukan yang terbaik, sebaiknya kita berdoa agar semuanya berjalan lancar," ucap Arabelle berusaha menenangkan Ben.


"Sayang aku sangat takut sekali," tutur Ben dengan wajah pucat.


"Aku yang melahirkan kenapa kamu yang takut? aku saja tidak takut," ucap Arabelle. "Mana sosok seorang Ben Brylee sang ketua mafia?" bisik Arabelle menyindir masa lalu Ben.


Ben menelan ludah mendengar sindiran itu.


**


Proses demi proses dilalui. Dengan setia Ben menggenggam tangan Arabelle dengan tatapan pada proses melahirkan. Perasaan ngeri memenuhi dirinya melihat proses melahirkan itu.


Oek......Oek.....Oek....Oek....Oek.....


Tangisan kelima bayi itu memenuhi ruang operasi.


Ben maupun Arabelle merasa lega dan meneteskan air mata melihat kelima dan mendengar tangisan mungil itu.


Satu-persatu di gendong Ben dan mendekatkan pada Arabelle.


"Selamat Tuan, Nyonya. Kelima bayi berjenis laki-laki lahir dengan sehat dan sempurna," ucap sang dokter.


"Terima kasih Tuhan atas anugerah serta kelancaran proses melahirkan istriku. Terima kasih karena mereka sehat," doa Ben dan hal itu didengar oleh Arabelle.


Ben langsung mengecup berkali-kali wajah Arabelle. "Terima kasih sayang, kamu telah memberiku anak lima sekaligus. Aku akan berjanji akan selalu membahagiakan kalian," ucap Ben.


"Terima kasih Tuhan atas kelancaran proses lahiran ini. Selamat datang kedunia jagoan," ucap Arabelle bersyukur.


**


Arabelle kini dipindahkan ke ruang rawat khusus keluarga.


"Sayang apakah masih sakit?" itulah pertanyaan terus-menerus yang dilontarkan Ben sejak tadi.


"Stop menanyakan soal itu sayang. Aku baik-baik saja jadi jangan khawatir," ucap Arabelle dengan jengah.


Klek


Pintu ruangan terbuka


Jane langsung memeluk Arabelle dengan perut buncitnya.


"Mana keponakan-keponakan?" cecarnya.


"Jane," seru Arabelle.


"Selamat sayang atas kelahiran si kembar. Hmm apa saja jenis kelamin si kembar?" tanya Jane dengan penasaran.


"Terima kasih Jane. Kelimanya jagoan," sahut Arabelle hingga membuat Jane maupun Bram membeku tak percaya karena selama ini mereka tak pernah dikasi tau.


"Apa? kembar 5? semuanya laki-laki?" seru Jane dengan kaget.


"Benar Jane dan kamu masih butuh 7 bayi lagi," ujar Ben menanggapi pertanyaan Jane.


"Apa?" seru Jane maupun Bram.


"Tidak perlu kaget seperti itu. Aku ingin membentuk tim sepak bola," ujar Ben dengan enteng.


Arabelle menggelengkan kepala mendengar candaan Ben.

__ADS_1


"Bos memang super," ujar Bram.


Bersambung🔥🔥🔥


__ADS_2