
🔥🔥🔥
Dini hari dengan diam-diam Brid pulang ke Mansion. Ada hal yang ingin ia ambil. Sudah berbulan-bulan ia meninggalkan Mansion.
Brid memasuki ruang kerja. Entah apa yang ia lakukan didalam sana. Tidak ada yang diperbolehkan memasuki ruang kerja pribadi itu. Bahkan pintu ruang kerja menggunakan sandi rahasia.
Dari arah lain Gres berjalan. Sebenarnya ia ingin mengambil air minum. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat bayangan sosok Brid dengan pencahayaan remang-remang.
"Brid," gumam Gres di balik sudut.
Tidak lama Brid keluar dari ruang kerja. Ia lalu berjalan menuju kamar utama. Melihat hal itu membuat Gres buru-buru kembali ke kamar.
Niat hati mengambil air minum ia urungkan karena ini kesempatannya untuk berbicara banyak hal dengan Brid.
Tiba di kamar Gres buru-buru mengantikan baju tidurnya dengan lingerie. Sungguh ia rindu dengan sentuhan suaminya itu.
Di atas ranjang Gres memulai aksinya. Ia membaringkan tubuhnya memeluk guling dengan posisi menantang, tanpa selimut.
Klek
Pintu kamar terbuka.
Klik
Lampu kamar dinyalakan karena setiap tidur lampu wajib dimatikan.
Posisi menantang Gres membuat kelelakian Brid bangkit. Apa lagi sudah lama mereka tidak saling menghangatkan.
"Kau memang berhasil membuatku tergoda," gumam Brid dengan senyuman smirk.
Ia pun segera membuka jaket serta seluruh kain yang melekat di tubuh kekar itu. Sedangkan Gres tersenyum penuh kemenangan dengan mata terpejam.
Brid mendekati ranjang. Jari-jemari itu mulai menyelusuri ujung kaki sampai berakhir di bibir merah Gres.
Gres menggeliat merasakan sentuhan lembut itu.
Hmmp
Gres membukakan mata ketika saat itu bwbirnya di lum att kasar oleh Brid.
"Sayang," lirih Gres pura-pura tidak mengetahui kedatangan Brid.
"Kau sangat menggoda," bisik Brid seraya menj ilati daun telinganya.
"Sayang kemana saja selama ini? aku sangat merindukan serta mengkhawatirkanmu," ucap Gres dengan mata berkaca-kaca. Ia pun bangkit langsung memeluk Brid dengan erat, melepas kerinduan selama ini.
"Puaskan aku malam ini."
Bukannya menjawab, Brid malah meminta hal lain.
Gres tersenyum mendengar permintaan Brid.
__ADS_1
Brid membaringkan tubuhnya. Gres memulai aksinya. Malam ini ia akan memimpin permainan.
Bapbipbup....
Ranjang bergoyang akibat aksi liar Gres. Ia berhasil membuat Brid tak berkutik.
"Kau memang hebat baby. Semakin tua semakin hebat," kagum Brid seusai erangan panjang mereka.
🔥🔥🔥
Keesokan harinya
Didalam mobil.
"Sayang kita mau kemana sih?" tanya Gres berulang kali.
Brid tidak menjawab, ia tetap fokus menyetir.
"Jawab sayang?" ulang Gres kembali. Ia sangat penasaran karena mereka menghabiskan perjalanan selama 2 jam dengan akses jalan sempit.
"Nanti juga kau akan tau. Lebih baik kau tidur karena perjalanan masih 1 jam lagi," titah Brid.
Mata Gres membulat, sungguh perjalanan cukup jauh, ditambah dengan jalur jalan begitu hancur. Tidak ingin membebani pikiran ia mengikuti apa yang dikatakan Brid. Lagi pula rasa kantuk, akibat pergumulan mereka tadi malam.
Dalam sekejap Gres pun terlelap. Brid melirik dengan ujung matanya. Ketika senyuman mengembang di bibirnya.
Rasa cintanya kepada Gres semakin mendalam. Bahkan ia ingin selalu bersama dengan Gres, maka dari itu ia membawa istrinya itu ke sudut kota.
**
"Kita sudah dimana?" tanya Gres ketika berhasil matanya terbuka. Ia dapat memandangi sekeliling seperti sedang dalam hutan. "Kita di hutan? kenapa kamu bawa aku ke sini sayang?" papar Gres dengan mimik wajah heran.
"Ada sedikit kejutan, kau juga akan tau nanti. Sebaiknya kita turun," titah Brid.
Keduanya turun dari mobil. Brid membawa Gres memasuki rumah yaitu gudang atau markas perkumpulan mereka selama ini.
Tidak ingin membuat mood Brid berubah, Gres mengikuti dalam diam.
Brid langsung membawa Gres menuju gudang bawah tanah. "Sayang tempat apa ini?" tanya Gres seraya menghentikan langkahnya.
"Tenang sayang aku tidak mungkin mencelakaimu," ujar Brid dengan nada lembut.
Deg
Mulut Gres langsung mengatup serta mata membulat mendengar kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Brid. Sudah puluhan tahun mereka hidup bersama, baru kali ini pertama Brid memanggilnya dengan panggilan sayang.
Brid menyunggingkan senyuman seraya merangkul pinggang Gres. Sungguh demi apapun, jantung Gres seakan berhenti berdetak.
Bagaimana tidak, kali ini perlakuan Brid cukup aneh. Pria yang dikenal cuek dan tak terdapat dalam kamus soal kemesraan atau keromantisan. Tetapi kali ini ia menunjukan sisi yang berbeda, sisi yang tak pernah didapatkan oleh Gres selain ketika di atas ranjang.
**
__ADS_1
Aaak.....
Setengah jalan menuju pusat gudang bawah tanah Gres maupun Brid mendengar teriakan seseorang. Teriakan seperti disiksa.
"Sayang itu suara siapa? sepertinya dia merasakan kesakitan," ucap Gres karena suara teriakan itu tak hanya satu kali tetapi berulang-ulang.
"Dia pantas mendapat teriakan itu," ujar Brid dengan sorot mata berbinar-binar. Sangat terlihat jelas tanda kemenangan dalam dirinya.
Demi apapun Gres tidak mengerti. Ia semakin pemasaran. Dengan langkah cepat menyelusuri lorong gudang bawah tanah.
Di sana Ben di siksa berulang kali. Sungguh ia tidak bisa melawan. Rasa pusing serta mual kembali menyiksa dirinya, bahkan ia mengeluarkan isi perutnya di tempat.
"Lepaskan aku, brengsek!" Teriak Ben berusaha terlepas dari ikatan rantai di tangan serta kedua kakinya.
"Tidak semudah itu anak muda. Hahaha....." Tawa keras memenuhi gudang bawah tanah.
Brid bersama Gres tiba di ruangan itu.
"Siapa, siapa dia sayang?" tanya Gres hanya melihat punggung polos itu, dengan penuh luka bekas cambukan.
"Ayo biar ku kenalkan," ujar Brid seraya menarik pinggang ramping itu, membawanya mendekati Ben.
Prok prok
Brid bertepuk tangan sehingga membuat Ben membukakan mata.
"Dia siapa sayang?" mendengar suara lembut penuh kekhawatiran membuat Ben mengangkat kepalanya.
Deg
Seketika tubuh Ben membeku melihat sosok wanita yang ada dihadapannya saat ini bersama Brid. Bahkan mereka menebarkan kemesraan, dimana Brid merangkul pinggang Gres.
"Mommy," batin Ben.
Darah Ben mendidih. Andai saja ia tidak diikat, mungkin ia sudah mencekik wanita itu yang tak lain adalah Mommy nya sendiri
"Apa hubungan mereka? kenapa dia bisa bersama keparat itu? mungkinkah, mungkinkah mereka?" batin Ben tidak mampu meneruskan perkataannya.
Bukan hanya Ben saja yang membeku, ternyata Gres merasakan hal itu. Bahkan jantungnya berdebar-debar memandangi wajah Ben.
"Dia, dia.... bukankah waktu itu?" batin Gres mengingat-ingat.
Tatapan Ben dan Gres bertemu dalam diam. Ben menatap dengan sorot mata penuh arti. Sedangkan sorot mata Gres menggambarkan penuh tanya.
"Siapa dia sayang?"
Mendengar kalimat itu membuat darah Ben semakin mendidih.
"Dia yang telah menculik Arabelle. Putri kita!"
Deg
__ADS_1
Bersambung 🔥🔥🔥