
🔥🔥🔥
Mendengar mulut berbisa Ben membuat amarah Arabelle memuncak. Kenik mattan atas kegiatan mereka barusan tadi seakan lenyap.
"Ya kamu benar, jadi tidak ada gunanya kamu menikahi diriku yang sangat kotor ini. Bahkan aku tidak dapat menghitung sudah berapa pria yang meniduriku," ucap Arabelle membenarkan mulut berbusa Ben, ia mengatakan hal ini agar kebaikan hati Ben melepaskannya.
Senyuman menyeringai di bibir Ben, apa yang di cemoh Arabelle menurunnya sangat lucu. Bukankah ia sendiri yang merenggut kesucian Arabelle? bahkan ia sangat tahu jika seorang Arabelle adalah gadis polos.
"Sangat menarik karena aku menyukai jala** liar," ujar Ben dengan tatapan ingin menelan hidup-hidup.
Arabelle menelan ludah mendengar pengakuan Ben yang tak pernah ia sangka. "Sepertinya dia pria tidak waras," batin Arabelle.
"Kau mengatakan aku pria tidak waras? karena menyukai jala** bekas ribuan pria? ya asal kau tahu aku memang pria tidak waras, untuk itu jangan pernah membantah Arabelle Almero," ujar Ben dengan nada mengeram.
Arabelle bergidik, kenapa Ben tahu isi hatinya. "Aku, aku tidak ada mengatakan itu," lirih Arabelle terbata-bata seolah menyangkal tuduhan Ben.
"Kau mau kemana? berhenti atau aku akan mematahkan kedua kakimu itu!" Ancam Ben melihat Arabelle ingin berlari ke dalam kamar mandi. Langkah kaki Arabelle terhenti ketika mendengar ancaman itu.
"Layani aku jala**!"
Arabelle memejamkan mata sesaat mendengar panggilan itu, sungguh panggilan yang merendahkan harga dirinya.
Air mata sejak tadi tidak dapat ia bendung lagi. Dalam sekejap air mata membanjiri wajah sendunya.
"Layani aku!" Teriak Ben sekali lagi.
Arabelle segera menyeka air matanya dan berusaha menyembunyikan tangisnya. Perlahan ia kembali membalikan badan dengan kepala menunduk.
Ssst....
Ben mendesis karena Arabelle tidak kunjung memenuhi perintahnya.
"Arabelle Almero!"
Perlahan Arabelle mengangkat wajahnya dan terpampang tubuh polos Ben.
Deg
Benda yang baru kali ini ia lihat tengah mengacung, hal itu membuat wajah Arabelle memerah, bahkan ia menelan ludah.
__ADS_1
Ben tidak tahan lagi, lalu mendekat sembari menarik handuk yang melilit di tubuh Arabelle. Dan kini keduanya sama-sama polos.
Ben menarik tengkuk Arabelle, memperdalam ciuman mereka. Awalnya Arabelle menolak tetapi perlahan kembali terlena. Sungguh karismatik Ben menghipnotis dirinya.
"Pvaskan aku," bisik Ben dengan suara serak tepat di telinga Arabelle, bahkan mengigit daun telinga itu.
Indra perasa Ben kini menyelusuri leher jenjang nan mulus itu, meninggalkan stempel dimana-mana. Jari-jemari itu tidak menganggur, sejak tadi bermain pada dua daging kenyal yang membusung, bergesekan dengan kulit polosnya.
A...... h
Arabelle tidak peduli lagi. Lenguhan Arabelle semakin membuat Ben bersemangat. Rasa dendam atau apalah itu seakan hilang.
Kedua tangan Arabelle mengusap kepala serta punggung Ben sembari men de zah. Bagaimana tidak saat ini singa buas itu sedang men yvzvi begitu laparnya, sedangkan jari-jemari nakal itu mengobok-obok ladang sempit itu.
Ben kembali menciumi bwbir Arabelle, sembari meraih tangan Arabelle, membawanya ke pusat pistol baja. Tubuh Arabelle membeku merasakan benda itu dalam genggamannya.
"Manjakan dia," bisik serak Ben begitu lembut di telinga Arabelle.
Ben mendaratkan bokongnya di atas kasur tanpa melepaskan pangutan mereka.
Entah setan apa yang merasuki jiwa raga Arabelle, dalam sesaat kini pistol baja itu dikuasai oleh dirinya.
A.... h
Sebuah de zahan lolos dari bwbir Arabelle ketika Ben kembali mencumbu mesra dirinya. Arabelle yang sedang duduk di atas pangkuan Ben itu terus men dezah nik Matt dengan mulut terbuka ketika Ben kembali mencumbu daging kenyalnya.
Tubuh Arabelle di baringkan. Mengarahkan pistol baja itu tepat di ladang sempit milik Arabelle. Sedikit sulit tetapi dengan perlahan pistol baja berhasil terbenam dan dapat mencangkul lahan sempit itu sepuasnya.
Ben menge rang nik Matt ketika pistol baja sudah memasuki ladang sempit milik Arabelle, tanpa menunggu lama lagi Ben langsung memajukan mundurkan pistol baja dengan cepat, ia ingin mencapai puncak.
Rasa sakit tidak dirasakan Arabelle seperti yang pernah ia rasakan dulu. Tetapi rasa kenik mattan uang tiara tara seperti wafer nano-nano🤣
Keringat mulai bercucuran di tubuh keduanya. Ketika hampir mencapai puncaknya. Ben semakin mengerang semakin mempercepat tempo dan menghentakkan pistol baja semakin kuat mencangkul lahan sempit Arabelle hingga teriakan Arabelle mulai terdengar.
Arabelle berhasil membanjiri ladang sempit itu kembali.
"Kau sudah keluar, sekarang giliranku," bisik Ben.
Ben menggulingkan tubuhnya menjadi terbaring terlentang. Kali ini posisi woman on top sehingga Arabelle sebagai pemimpin.
__ADS_1
A.... h
Era ngan serta de zahan panjang keduanya menandakan mencapai puncak.
Keduanya lupa dengan apa masalah mereka, seakan mereka kerasukan setan. Arabelle yang awalnya menolak tetapi seakan minta dan meminta lebih, begitu juga dengan Ben. Entah sudah berapa kali mereka mengulangi sampai keduanya menyerah.
Pistol baja kembali membidik pelurunya untuk kedua kalinya tepat didalam sasaran. Bercocok tanam kembali di ladang sempit nan indah itu.
🔥🔥🔥
Hmmp
Tubuh Arabelle menggeliat. Seluruh tubuhnya terasa sakit akibat pergumulan mereka tadi malam.
Perlahan kelopak mata indah itu mulai terbuka. Pandangannya di atas langit-langit kamar. Seketika ingatannya tadi malam membuatnya sangat malu.
Ia menoleh ke samping ternyata sosok Ben tidak ia temukan. Senyuman miris terukir di bibir yang kelihatan membengkak akibat ciuman panas tadi malam.
Arabelle berusaha bangkit dengan selimut menggulung tubuh polosnya, melangkah gontai menuju kamar mandi. Ingin merendamkan tubuh kotornya itu bekas percintaan mereka tadi malam.
Ara menatap jauh ke depan, ke dinding kaca kamar mandi dengan tatapan pilu. "Ara kamu tidak ada ubahnya seperti wanita jala**," lirik Arabelle. "Sampai kapan aku harus seperti ini?" imbuhnya dengan lelehan air mata.
Hiks.... hiks....
Tangis pilu Arabelle atas dirinya sekarang. "Dad, Bibi semua ini demi kalian. Ara tidak ingin sesuatu terjadi dengan kalian," gumam Arabelle.
Arabelle akan menanyakan atas dasar apa dirinya disandera bahkan menjadi budak Ben.
Kriuk...
Perutnya berbunyi, tanda ia sudah lapar. Entah sudah jam berapa ini. Dengan segera Arabelle menyudahi dan bergegas keluar dari kamar mandi.
Arabelle kaget melihat dua pelayan sedang meletakan beberapa makanan di atas meja sofa. Bahkan mereka ingin merapikan tempat tidur yang sangat berantakan. Kelopak bunga mawar sudah bertaburan kemana-mana akibat pergumulan mereka tadi malam.
"Biar aku saja yang merapikannya. Kalian boleh keluar," ucap Arabelle dengan wajah memerah menahan malu, apa lagi tubuh bagian leher serta dadanya penuh dengan stempel kebuasan singa tadi malam.
"Silahkan dimakan Nona karena sekarang saatnya makan siang, sedangkan Nona melewati sarapan pagi," ucap mereka dengan kepala menunduk.
Bersambung🔥🔥🔥
__ADS_1