Mafia Sialan itu MILIKKU

Mafia Sialan itu MILIKKU
Negosiasi


__ADS_3

Dibelahan negara lain , Sean tengah disibukkan dengan urusan perusahaan sekaligus urusannya dengan sang musuh lama . Sebuah ke salah pahaman yang tak kunjung usai .


Saat ini Sean tengah berhadapan dengan seorang pria disebuah ruangan gedung kosong yang terbengkalai. mereka memang hanya berdua diruangan tersebut , tapi diluar sana puluhan pengawal tengah berdiri dengan senjata ditangan mereka masing-masing .


Sean diam dengan matanya menatap laki-laki didepannya ini dengan pandangan jengah " Cihh...." sinisnya


" Seharusnya , kau sebagai laki-laki harus mencari bukti terlebih dulu sebelum melakukan acara dendam murahan yang kau lakukan saat ini " ucap Sean , wajahnya menyimpan amarah tak kala mengingat ulah manusia didepannya ini , cukup membuatnya repot .


" Aku tau apa yang kau rasakan . Aku tidak sepenuhnya menyalah kan mu atas tindakan yang kau lakukan . tapi jika itu kau lakukan pada orang yang tepat , orang yang benar-benar bersalah atas kejadian itu " nadanya melemah , berusaha berbicara baik-baik agar tidak menimbulkan peperangan nantinya


" Tapi semua bukti mengarah padanya " jawab Rayyan datar , matanya bahkan tak berkedip menatap Sean yang ada didepannya .


" Kenapa kau menyimpulkan bahwa bukti mengarah padanya ? bahkan diarea kejadian tak ada CCTV maupun saksi yang bisa kau jadikan bukti ? " tanya Sean seraya mengangkat kedua alisnya keatas


" Kau terlalu banyak bicara sialan " geram Rayyan langsung melayangkan tendangan tepat mengenai dada Sean . Akibatnya Sean langsung terjatuh dari kursinya dengan meringis memegangi dadanya


Pengawal yang tengah berjaga diluar pun langsung menodongkan senjata mereka pada musuhnya masing-masing . Mereka merupakan pengawal dari Sean dan Rayyan


Sean mengangkat satu tangannya keatas memberikan kode agar mereka semua menurunkan senjatanya " Aishh ... kenapa kau menendangku bodoh ? " tanya Sean seraya bangkit berdiri

__ADS_1


Rayyan hanya diam , matanya hanya sibuk melihat kearah Sean , tidak peduli perihal bukti-bukti tentang kejadian itu , yang ia tahu adalah bahwa orang itulah yang bersalah . Membunuh adik nya yang tidak bersalah .


Dendam karena kehilangan orang yang ia sayang , dendam yang akan tetap ia lakukan apapun yang terjadi . Walaupun dengan dendam nyawa adiknya tidak bisa kembali, setidaknya rasa sakit hatinya bisa terbalaskan .


" Kau dengar baik-baik , nyawa dibalas dengan nyawa . Sekalipun orang yang membunuh adikku sudah mati ditangan orang lain , aku akan tetap menagih nyawa lain sebagai gantinya " ucap Rayyan dengan tersenyum menyeringai


Mendengar itupun Sean langsung marah , bahkan ia meludah tepat didepan Rayyan " cuihhh ... Kalau kau sampai berani menyentuhnya , kau akan berurusan denganku sampai maut menjemput mu " matanya menatap nyalang Rayyan , tadinya ia berusaha berbicara baik-baik dengan niat agar kesalah pahaman ini cepat selesai . Namun nyatanya laki-laki didepannya ini sudah dibutakan dengan dendam


" Kita lihat saja , siapa diantara kita yang akan dibawa oleh malaikat maut " jawab Rayyan dengan wajah angkuhnya


" Aku hanya memberimu peringatan agar nantinya jangan menyesal ketika kebenaran sudah terungkap " Ucap Sean , matanya menatap Rayyan penuh misteri . Seakan ada rahasia lain yang tengah ia sembunyikan saat ini


Sean pun pergi meninggalkan Rayyan diikuti oleh anak buahnya . Setibanya dimobil Asisten Dave datang menyambutnya " Bagaimana ? " tanya Dave seraya masuk kedalam mobil


Sean hanya menghela napas panjang seraya menggeleng pelan " Dia masih bersikeras bahwa paman lah pembunuhnya "


Carla tengah berfikir keras untuk bisa pergi dari belenggu Sean . Tidak ada alasan untuknya tetap tinggal disini , walaupun ia ingin mengetahui rahasia yang sedang Sean sembunyikan darinya .


Kesejahteraan hidupnya lebih penting saat ini , masalah rahasia biarlah itu terkunci rapat tanpa ia tahu sedikitpun . Dirinya juga sudah memutuskan untuk pergi dari hidup Sean . Sesuai perjanjian semalam , jika ia menyerahkan tubuhnya maka kebebasan akan ia dapatkan setelah nya . Tapi ? kenapa manusia satu itu menghilang tanpa sepatah kata untuknya .

__ADS_1


" Kemana dia pergi ? haruskan aku menghubunginya ? " ucap Carla yang tengah duduk bersimpuh di ranjangnya


tutttt ... telepon terhubung , tapi tak ada sahutan dari seberang sana . ditekannya sekali lagi , tapi tetap tak ada jawaban


" Oke ... sekali lagi , kalau tidak diangkat aku akan benar- benar pergi sekarang " kesal Carla penuh ancaman


nihil ... teleponnya tak kunjung diangkat . dirinya pun memilih mengirim pesan agar Sean bisa membacanya


" Aku tau kau ada disana , kalau kau tidak mengangkat nya sekali lagi , aku akan benar-benar pergi sekarang juga tanpa babibu lagi , kau paham ?" begitulah pesan ancaman yang Carla kirim untuk Sean


Tak butuh waktu lama ponselnya berdering , nama Sean tertera begitu nyata di layar ponselnya " Cihh.. kau memang sialan bastrad " umpat Carla yang kesal karena Sean seperti mempermainkannya


" Kalau kau berani melangkah keluar dari gerbang , akibatnya kau akan kehilangan satu kakimu " suara dingin langsung menyapa gendang telinganya tak kala panggilan sudah terhubung


" Hei... kau sendiri yang bilang padaku , kau akan memberikan kebebasanku jika aku memberikan apa yang kau mau saat itu " jelas Carla sedikit kesal


" Aku tidak ingat " jawab Sean acuh


" Kau pikun ya , kau sendiri yang bilang saat itu . Dengan nafsunya kau menikmati tubuhku tanpa ampun " teriak Carla , bahkan tangannya ingin sekali melempar ponsel yang tengah ia genggam dengan keras , Saking emosinya .

__ADS_1


" Tunggu aku pulang , maka aku akan melepas mu " ucap Sean lalu setelah nya panggilan langsung terputus


.......happy reading .......


__ADS_2