
Dibelahan negara lain , Sean tengah disibukkan dengan urusan perusahaan sekaligus urusannya dengan sang musuh lama . Sebuah ke salah pahaman yang tak kunjung usai .
Saat ini Sean tengah berhadapan dengan seorang pria disebuah ruangan gedung kosong yang terbengkalai. mereka memang hanya berdua diruangan tersebut , tapi diluar sana puluhan pengawal tengah berdiri dengan senjata ditangan mereka masing-masing .
Sean diam dengan matanya menatap laki-laki didepannya ini dengan pandangan jengah " Cihh...." sinisnya
" Seharusnya , kau sebagai laki-laki harus mencari bukti terlebih dulu sebelum melakukan acara dendam murahan yang kau lakukan saat ini " ucap Sean , wajahnya menyimpan amarah tak kala mengingat ulah manusia didepannya ini , cukup membuatnya repot .
" Aku tau apa yang kau rasakan . Aku tidak sepenuhnya menyalah kan mu atas tindakan yang kau lakukan . tapi jika itu kau lakukan pada orang yang tepat , orang yang benar-benar bersalah atas kejadian itu " nadanya melemah , berusaha berbicara baik-baik agar tidak menimbulkan peperangan nantinya
" Tapi semua bukti mengarah padanya " jawab Rayyan datar , matanya bahkan tak berkedip menatap Sean yang ada didepannya .
" Kenapa kau menyimpulkan bahwa bukti mengarah padanya ? bahkan diarea kejadian tak ada CCTV maupun saksi yang bisa kau jadikan bukti ? " tanya Sean seraya mengangkat kedua alisnya keatas
" Kau terlalu banyak bicara sialan " geram Rayyan langsung melayangkan tendangan tepat mengenai dada Sean . Akibatnya Sean langsung terjatuh dari kursinya dengan meringis memegangi dadanya
Pengawal yang tengah berjaga diluar pun langsung menodongkan senjata mereka pada musuhnya masing-masing . Mereka merupakan pengawal dari Sean dan Rayyan
Sean mengangkat satu tangannya keatas memberikan kode agar mereka semua menurunkan senjatanya " Aishh ... kenapa kau menendangku bodoh ? " tanya Sean seraya bangkit berdiri
__ADS_1
Rayyan hanya diam , matanya hanya sibuk melihat kearah Sean , tidak peduli perihal bukti-bukti tentang kejadian itu , yang ia tahu adalah bahwa orang itulah yang bersalah . Membunuh adik nya yang tidak bersalah .
Dendam karena kehilangan orang yang ia sayang , dendam yang akan tetap ia lakukan apapun yang terjadi . Walaupun dengan dendam nyawa adiknya tidak bisa kembali, setidaknya rasa sakit hatinya bisa terbalaskan .
" Kau dengar baik-baik , nyawa dibalas dengan nyawa . Sekalipun orang yang membunuh adikku sudah mati ditangan orang lain , aku akan tetap menagih nyawa lain sebagai gantinya " ucap Rayyan dengan tersenyum menyeringai
Mendengar itupun Sean langsung marah , bahkan ia meludah tepat didepan Rayyan " cuihhh ... Kalau kau sampai berani menyentuhnya , kau akan berurusan denganku sampai maut menjemput mu " matanya menatap nyalang Rayyan , tadinya ia berusaha berbicara baik-baik dengan niat agar kesalah pahaman ini cepat selesai . Namun nyatanya laki-laki didepannya ini sudah dibutakan dengan dendam
" Kita lihat saja , siapa diantara kita yang akan dibawa oleh malaikat maut " jawab Rayyan dengan wajah angkuhnya
" Aku hanya memberimu peringatan agar nantinya jangan menyesal ketika kebenaran sudah terungkap " Ucap Sean , matanya menatap Rayyan penuh misteri . Seakan ada rahasia lain yang tengah ia sembunyikan saat ini
Sean pun pergi meninggalkan Rayyan diikuti oleh anak buahnya . Setibanya dimobil Asisten Dave datang menyambutnya " Bagaimana ? " tanya Dave seraya masuk kedalam mobil
Sean hanya menghela napas panjang seraya menggeleng pelan " Dia masih bersikeras bahwa paman lah pembunuhnya "
Carla tengah berfikir keras untuk bisa pergi dari belenggu Sean . Tidak ada alasan untuknya tetap tinggal disini , walaupun ia ingin mengetahui rahasia yang sedang Sean sembunyikan darinya .
Kesejahteraan hidupnya lebih penting saat ini , masalah rahasia biarlah itu terkunci rapat tanpa ia tahu sedikitpun . Dirinya juga sudah memutuskan untuk pergi dari hidup Sean . Sesuai perjanjian semalam , jika ia menyerahkan tubuhnya maka kebebasan akan ia dapatkan setelah nya . Tapi ? kenapa manusia satu itu menghilang tanpa sepatah kata untuknya .
__ADS_1
" Kemana dia pergi ? haruskan aku menghubunginya ? " ucap Carla yang tengah duduk bersimpuh di ranjangnya
tutttt ... telepon terhubung , tapi tak ada sahutan dari seberang sana . ditekannya sekali lagi , tapi tetap tak ada jawaban
" Oke ... sekali lagi , kalau tidak diangkat aku akan benar- benar pergi sekarang " kesal Carla penuh ancaman
nihil ... teleponnya tak kunjung diangkat . dirinya pun memilih mengirim pesan agar Sean bisa membacanya
" Aku tau kau ada disana , kalau kau tidak mengangkat nya sekali lagi , aku akan benar-benar pergi sekarang juga tanpa babibu lagi , kau paham ?" begitulah pesan ancaman yang Carla kirim untuk Sean
Tak butuh waktu lama ponselnya berdering , nama Sean tertera begitu nyata di layar ponselnya " Cihh.. kau memang sialan bastrad " umpat Carla yang kesal karena Sean seperti mempermainkannya
" Kalau kau berani melangkah keluar dari gerbang , akibatnya kau akan kehilangan satu kakimu " suara dingin langsung menyapa gendang telinganya tak kala panggilan sudah terhubung
" Hei... kau sendiri yang bilang padaku , kau akan memberikan kebebasanku jika aku memberikan apa yang kau mau saat itu " jelas Carla sedikit kesal
" Aku tidak ingat " jawab Sean acuh
" Kau pikun ya , kau sendiri yang bilang saat itu . Dengan nafsunya kau menikmati tubuhku tanpa ampun " teriak Carla , bahkan tangannya ingin sekali melempar ponsel yang tengah ia genggam dengan keras , Saking emosinya .
__ADS_1
" Tunggu aku pulang , maka aku akan melepas mu " ucap Sean lalu setelah nya panggilan langsung terputus
.......happy reading .......