
Gerald menatap tak berkedip ke arah Jessy yang tengah mengibaskan rambut basahnya. Jakunnya terlihat bergerak naik-turun, terpana menyaksikan betapa jeleknya wanita ini setelah keluar dari dalam kamar mandi.
"Apa kau bermaksud memindahkan air kran ke lantai kamar ini?" tanya Gerald setelah tersadar dari keterpanaannya.
Haishhh, mulai lagi dia.
"Bos, anda belum pulang?" tanya Jessy seraya tersenyum manis seribu watt. Senyum terpaksa lebih tepatnya.
"Lakukan tanggung jawabmu padaku."
"Baiklah. Tapi tolong beri saya waktu sebentar untuk menyisir rambut."
Gerald bangun dari tidurnya. Dia diam memandangi Jessy yang dengan cuek menyisir rambutnya yang bau itu. Bau, tapi membuat Gerald ingin kembali membaui aroma busuk tersebut. Aneh kan?
Tanpa menghiraukan keberadaan bosnya, Jessy dengan santai membersihkan wajahnya. Biar saja, toh saat ini dia tidak sedang dalam waktu bekerja. Jadi Jessy berpikiran kalau dia tidak harus sepatuh seperti hari-hari biasanya. Namun pemikiran itu hanya bisa di rasakan oleh Jessy saja, tidak dengan bosnya yang dingin itu.
"Kau akan masuk penjara jika aku sampai mati di sini karena kehabisan darah!" ucap Gerald bosan.
Ctaakkk
Sisir di tangan Jessy langsung terjatuh ke lantai. Setelah itu dia segera mengambil kotak P3K kemudian berjalan cepat ke arah ranjang. Bola mata Jessy hampir melompat keluar saat mendapati kasurnya yang sudah di penuhi noda darah. Seketika senyum palsu langsung menghiasi bibirnya. Ingin marah, tapi yang sedang duduk di hadapannya adalah bos Gerald. Terpaksa Jessy hanya bisa terdiam pasrah, menerima nasib kalau malam ini dia akan kehilangan salah satu sprei kesayangannya.
"Kemarikan ponselmu!"
"Ya?"
"Tuli ya?"
Gerald menunjuk ponsel milik Jessy yang tergeletak di atas meja. Dia menunggu dengan sabar saat sekertarisnya mengambil benda tersebut dengan sangat lambat .
"Apa yang ingin anda lakukan dengan ponsel saya, bos?" tanya Jessy seraya menelan ludah melihat luka menganga di lengan pria ini. Tangannya sampai gemetaran karenanya.
"Kugadaikan."
"Di gadai?"
"Hm."
Gerald membuka salah satu situs belanja online lalu memesan beberapa sprei dengan model dan warna yang berbeda-beda. Iseng, Gerald kemudian memesan satu sprei dengan motif hantu berkepala gundul saat toko tersebut lewat di beranda aplikasi. Setelah itu dia tersenyum samar.
Ini hukumannya karena kau sudah berani membuatku bosan menunggu.
"Em, bos. Mungkin ini rasanya akan sedikit perih. Tolong tahan sebentar ya?" ucap Jessy yang tak lagi mempedulikan niatan bosnya yang ingin menggadaikan ponsel. Biarlah, terlalu lelah untuk Jessy memikirkan hal tersebut.
"Ya."
Dengan hati-hati, Jessy menyiramkan alkohol untuk mensterilkan luka yang ada di lengan bosnya. Dia kemudian mendongak, ternganga kaget karena tidak ada reaksi apapun di wajah pria tersebut. Padahal Jessy sudah sangat khawatir kalau-kalau bosnya akan keperihan saat lukanya di siram alkohol, tapi ternyata tidak. Pria ini malah terkesan santai, sama sekali tak menunjukkan rasa sakit sedikitpun.
__ADS_1
"Lalat bisa menetaskan belatung di dalam mulutmu kalau kau terus menganga seperti itu!" tegur Gerald.
"O-oh, maaf, bos. Saya terlalu kaget melihat anda yang tidak terlihat kesakitan meski luka tembak ini saya siram dengan alkohol," sahut Jessy tergagap. Dia kembali membersihkan luka tersebut sambil menahan takut di hatinya. Benar-benar sangat mengerikan.
"Aku bahkan mencungkil peluru itu tanpa membiusnya terlebih dahulu. Jadi mana mungkin aku kesakitan saat kau menyiramnya dengan air alkohol? Rasanya hanya seperti di injak semut. Tidak berasa!"
"Kalau benar begitu bagaimana jika saya menusukkan gunting ini ke dalam luka yang tadi, bos? Saya penasaran apakah anda akan menjerit kesakitan atau tidak!" tanya Jessy berkelakar.
"Silahkan. Lalu setelah itu bersiaplah pergi ke alam baka!" jawab Gerald dingin.
"Hehe, saya hanya bercanda, bos."
"Sama, aku juga."
Tak lagi terdengar pembicaraan antara Jessy dengan bosnya. Mereka sama-sama fokus dengan apa yang mereka lakukan. Jessy fokus mengobati luka di lengan bosnya, sedangkan Gerald, dia fokus memandangi deretan helai rambut yang entah kenapa seperti mengundang tangan Gerald untuk membelainya.
Apa aku cabut saja ya semua rambut yang ada di kepalanya Jessy? Lihatlah, bahkan rambut saja ada sihirnya. Sebenarnya dia ini datang darimana sih? Apa aku bawa dia saja ya ke labolatorium Grisi untuk di periksa. Aku khawatir ada kelainan di tubuhnya. Benar-benar sangat aneh.
Andai Jessy mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Gerald, dia pasti akan langsung menancapkan jarum dengan kuat ke luka yang sedang di obatinya. Sungguh, otak Gerald sudah sangat tidak benar. Bisa-bisanya dia beranggapan ada sihir di rambut sekertarisnya hanya gara-gara dia yang tergoda untuk membelai rambut tersebut. Sangat kelewatan bukan?
"Nah, sudah selesai, bos," ucap Jessy seraya tersenyum setelah menyelesaikan tanggung jawabnya.
"Jelek sekali kau menjahit lukanya. Kalau tidak ikhlas bilang saja, tidak perlu memaksa."
Jessy menghela nafas panjang kemudian tersenyum ke arah pria yang baru saja bicara tanpa di pikir lebih dulu. Kalau tahu akan begini akhirnya, sekalian saja tadi Jessy menjahit semua kulit yang ada di lengan bosnya ini. Sudah menuntutnya untuk bertanggung jawab, di hina pula hasil kerjanya. Jessy rasa dia adalah wanita tersabar yang ada di muka bumi ini karena masih sanggup bertahan di sisi pria yang otaknya sudah sangat amat bermasalah. Ingin berhenti, tapi tidak bisa. Banyak kebutuhan yang masih harus dia pikirkan. Jadi mau tidak mau Jessy harus tetap bertahan, demi gumpalan uang dari perusahaan pria tak berotak ini.
"Besok ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Jangan sampai kau tidak masuk!" ucap Gerald.
Ingin rasanya Jessy berteriak saat bosnya pergi tanpa menjawab pertanyaan lebih dahulu. Meski bukan yang pertama, tetap saja Jessy merasa sangat jengkel karenanya. Tak mau di anggap sekretaris yang tidak punya sopan santun, Jessy segera mengejar keluar bosnya yang pergi tanpa memakai baju. Dia tercengang kaget ketika mendapati beberapa gadis yang tengah menatap penuh n*fsu ke arah bosnya yang memang terlihat begitu hot dengan tubuh atletisnya. Tapi maaf, Jessy sama sekali tidak terpengaruh. Itu adalah hal yang biasa dia lihat semenjak bekerja menjadi sekretaris seorang Gerald Thampson.
"Nona Jessy, siapa pria panas itu? Kenapa dia bisa keluar dari rumahmu?" tanya salah seorang gadis dengan raut wajah penasaran.
"Dia penjahat. Aku sarankan kalian jangan mendekati pria itu. Nyawa kalian taruhannya!" jawab Jessy cetus.
Setelah berkata seperti itu Jessy segera masuk dan menutup pintu rumahnya. Dia lalu menyender, menatap penuh sedih ke arah sprei kasurnya yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Bagaimana bisa aku memiliki bos yang tidak punya sopan santun seperti dia?" keluh Jessy frustasi.
Ting
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya Jessy. Dengan langkah gontai dia segera membukanya. Sedetik kemudian Jessy ternganga dengan mata melotot lebar.
"Ini-ini ...
Jessy syok.
"Uang sebanyak ini untuk apa? Kenapa bos Gerald mengirim uang ke rekeningku? Dia salah kirim atau bagaimana?" ujar Jessy kebingungan. "Sebaiknya aku telepon dia saja. Siapa tahu otaknya menjadi tidak beres setelah lengannya di tembak orang. Menyusahkan sekali sih."
__ADS_1
Belum sempat Jessy menghubungi bosnya, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Segera Jessy membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Apa benar dengan kediaman Nona Jesslyn?"
"Iya benar, saya sendiri. Anda siapa ya?" tanya Jessy bingung melihat ada balasan orang berseragam merah tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kami dari jasa pengiriman barang, ingin mengantarkan pesanan yang anda pesan di salah satu toko online. Beberapa menit yang lalu anda memesan seratus potong sprei dari toko tersebut. Tapi masih ada satu pesanan lagi yang belum sampai karena berbeda toko. Kemungkinan besok sore barang baru akan di antar kemari. Silahkan Nona tanda tangan di sini," ucap si pengantar barang sembari menyodorkan kertas pada wanita yang tengah terdiam dengan wajah syok.
Dalam kondisi nyawa setengah melayang, Jessy akhirnya menandatangani pesanan yang tidak pernah dia beli. Sekarang dia paham kenapa pria jahat itu mengirim banyak uang ke rekeningnya.
AARRGGGHHHHH,, GERALD. AKU BERSUMPAH AKAN MEMBENCIMU SAMPAI MATI. DASAR BOS BRENGSEK KAU!!!
πππππππππππππππππ
Hai gengss, untuk kalian yang mau ikut giveaway silahkan vote dan bom hadiah di setiap episode ya. Penilaian akan di mulai hari ini dan akan di putuskan di akhir bulan. Dan hadiah untuk para pemenang akan di lampirkan di bawah.
π’SYARAT!!
-WAJIB LIKE DAN COMMENT DI SETIAP BAB (BUKTI AKAN DI SS)
-WAJIB VOTE DAN BERI HADIAH UNTUK EMAK(HEHEHE, SEIKHLASNYA YA, NGGAK DI PAKSA)
π’WARNING!!!
-DI LARANG SPAM HADIAH DI AKHIR MINGGU DAN AKHIR BULAN. JIKA KETAHUAN, MAKA HADIAH AKAN DI BERIKAN PADA PESERTA GIVEAWAY YANG LAIN. TERIMA KASIH.
Juara 1
- Pulsa 100rb+300koin
Juara 2
-Pulsa 75rb+200koin
Juara 3
-Pulsa 50rb+100koin
Juara 4
-Pulsa 25rb+50koin
Juara 5
-Pulsa 10rb+50koin
πJangan lupa vote, like dan comment
__ADS_1
πIg: rifani_nini
πFb: Rifani