Marriage Contract With My Secretary

Marriage Contract With My Secretary
Anjing Yang Bisa Bicara


__ADS_3

"Whaatttt?? In-in-ini kenapa? Kak Jessy tidak mungkin mati terpanggang di dalam rumah itu kan?" pekik Pricilla syok melihat penampakan rumah kakaknya yang hanya bersisakan puing-puing gosong. Tubuhnya sampai gemetar hebat membayangkan kemungkinan kakak tirinya yang masih berada di dalam sana.


Pagi tadi Pricilla di hubungi oleh teman-temannya. Mereka semua membahas tentang persiapan untuk jalan-jalan ke luar negeri, termasuk juga dengan uang saku yang akan mereka bawa. Pricilla yang saat itu masih belum menerima uang dari sang kakak memutuskan untuk mendatangi rumahnya. Akan tetapi begitu Pricilla sampai, dia di buat syok saat mendapati kalau rumah yang di tinggali oleh kakak tirinya telah terbakar habis. Satu yang ada di pikiran Pricilla, dia takut kakak tirinya sudah menjadi abu di dalam sana.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Pricilla sambil menggigit ujung jarinya. "Apa aku datang ke tempat kerja Kak Jessy saja ya? Siapa tahu saat kebakaran ini terjadi dia sedang lembur di kantornya. Aaaa, aku tidak mau dia mati. Tidak mau!"


Dengan mata berkaca-kaca Pricilla berlari pergi dari sana. Dia tak mengindahkan panggilan dari beberapa orang yang tinggal tak jauh dari lokasi kebakaran. Keinginan Pricilla yang datang hanya untuk meminta uang seketika hilang saat memikirkan apakah kakak tirinya masih hidup atau tidak. Sebenarnya Pricilla tidak sepenuhnya membenci kakak tirinya itu, dia hanya merasa iri. Ya, iri. Kakak tirinya terlalu sempurna di mata Pricilla, hingga membuatnya di liputi amarah kebencian yang begitu besar. Tapi melihat rumah sang kakak yang sudah hangus terbakar, rasa benci itu berubah menjadi rasa penuh kekhawatiran. Pricilla sangat takut kakak tirinya pergi meninggalkan dia dan ibunya di dunia ini.


"Mau pergi kemana, Nona?" tanya supir taxi.


"Ke Group Thampson, Pak. Sekarang, yang cepat!" jawab Pricilla sambil tergesa-gesa masuk ke dalam mobil.


"Group Thampson? Apakah Nona bekerja di perusahaan besar itu?"


"Jangan banyak bertanya. Cepat jalankan mobilmu ke sana. Ini darurat!"


Kepala Pricilla hampir terbentur kursi di depannya saat sopir menginjak gas tanpa aba-aba. Dia kemudian memakai seatbelt sambil mengomeli si sopir yang hanya di balas dengan permintaan maaf darinya.


Mungkin karena sedang cemas, perjalanan menuju Group Thampson terasa begitu lama. Padahal jarak perusahaan dari tempat tinggal sang kakak tidaklah jauh. Sembari menunggu mobil sampai di sana, Pricilla menimang-nimang keputusan apakah akan memberitahu sang ibu tentang kejadian ini atau tidak. Dia sedikit merasa khawatir kalau ibunya akan syok kemudian jatuh pingsan jika tahu kalau rumah anak kesayangannya telah habis di lalap si jago merah.


Ah, biarkan saja. Lagipula tidak ada gunanya juga Ibu mengetahui masalah ini. Yang ada dia malah akan menambah bebanku saja nanti. Huh.

__ADS_1


Pricilla segera membayar ongkos perjalanan kemudian bergegas keluar dari dalam taxi begitu sampai di tempat yang dia tuju. Setelah itu Pricilla diam termangu, merasa iri karena sang kakak tiri mampu bekerja di perusahaan yang besarnya hampir sama dengan Group Ma. Upss lupa. Group Thampson dan Group Ma, pemilik dari kedua perusahaan besar ini adalah saudara. Jadi sangat wajar jika keduanya memiliki status dan juga kasta yang tak jauh beda.


"Pricilla, apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Jessy yang baru saja sampai di perusahaan di buat terheran-heran dengan keberadaan adik tirinya yang sedang berdiri melamun sambil menatap gedung perusahaan. Segera dia datang menghampiri gadis yang kini sudah memasang wajah cetus saat menyadari kedatangannya.


"Ibu baik-baik saja kan?" tanya Jessy setelah berada dekat di hadapan adik tirinya.


"Cih, memangnya kau berharap apa tentang Ibuku, hah?" hardik Pricilla cetus.


Astaga, lega sekali melihatnya masih hidup. Aku pikir dia benar-benar mati terpanggang di rumahnya. Huftt, membuat orang panik saja.


"Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini, Pris? Aku tahu kau membenciku, tapi setidaknya sayangilah ibumu. Dia sedang sakit, kau mana boleh bersikap seperti ini pada ibu kandungmu sendiri!" tegur Jessy menahan kesal.


"Aku baru tahu ada anjing yang bisa bicara!"


Gerald berlalu begitu saja setelah menyela perkataan Pricilla. Jessy yang melihat bos jahanamnya masuk ke perusahaan pun bergegas menyusulnya. Dia masa bodo dengan keterkejutan di wajah Pricilla setelah di sebut anjing yang bisa bicara oleh Gerald. Jangankan Pricilla, Jessy saja sebenarnya tadi sempat bleng begitu mendengar celetukan tersebut. Akan tetapi dia bisa dengan cepat mengendalikan diri karena memang sudah menjadi makanan sehari-harinya mendengar kata menyakitkan seperti tadi.


"Apalagi?" geram Jessy kesal saat tangannya di tarik paksa oleh Pricilla. Dia kemudian berbalik, menatap marah ke arah adik tirinya.


"Dia, bagaimana bisa kau bekerja pada manusia bermulut api seperti bos Gerald?" tanya Pricilla heran.

__ADS_1


Ternyata kabar kalau pemilik Group Thampson adalah seseorang yang sangat amat tidak bisa bersahabat dengan manusia lainnya adalah benar. Tapi sungguh, Pricilla tak pernah menyangka akan menjadi korban dari ketidakmanusiawian pria tersebut. Bayangkan, dia di anggap seekor anjing yang bisa bicara. Tidakkah menurut kalian kata-kata ini sangat amat menohok perasaan?


"Bagaimana?"


Jessy tertawa sumbang. Dia menghempaskan tangan Pricilla kemudian melipat tangan di depan dada. Sambil melayangkan tatapan sinis, Jessy memberitahu alasan kenapa dia masih bertahan di sisi pria yang Pricilla sebut sebagai manusia bermulut api.


"Alasan kenapa aku masih bertahan untuk tetap bekerja padanya adalah karena aku tidak mau kita bertiga menjadi gelandangan. Kau pikir darimana aku bisa mendapat uang untuk biaya rumah sakit Ibu? Belum lagi dengan kau yang kerjanya hanya berfoya-foya dengan temanmu yang pengangguran itu. Kau pikir itu semua datang darimana jika bukan dari bos Gerald? Jatuh dari langit, iya?!"


"Ck, ya sudah sih kalau memang begitu alasanmu. Kenapa kau berteriak!" sahut Pricilla dengan suara yang sedikit tercekat. "Kau kan anak kesayangan Ibu. Jadi sudah sepantasnya kau yang bertanggung jawab atas biaya pengobatan Ibu. Kalau tidak ikhlas, ya abaikan saja. Bereskan?"


Ingin rasanya Jessy menampar mulutnya Pricilla yang begitu kejam meski pada ibu kandungnya sendiri. Tak mau terpancing emosi, Jessy segera berbalik badan kemudian melangkah masuk ke dalam perusahaan. Masalah kawin kontrak dengan bosnya saja masih belum beres. Sekarang malah di tambah lagi dengan satu masalah yang membuat emosinya seperti terkuras. Jessy ingin menyerah, tapi dia tidak bisa membiarkan ibu dan juga adik tirinya pergi begitu saja dari hidupnya. Karena tanpa mereka, Jessy hanyalah anak sebatang kara yang tidak mempunyai satupun keluarga. Alasan ini terlalu klise bukan? Memang, tapi apa daya, Jessy hanya bisa menahan dan bersabar. Biarlah, Jessy percaya kalau suatu saat kesabarannya ini pasti akan mendapat balasan setimpal di waktu yang tepat.


"Dia masih bisa berteriak padaku. Itu artinya dia baik-baik saja meskipun rumahnya sudah habis tak bersisa. Hmmm, maafkan aku, Kak Jessy. Sepertinya aku masih akan terus merepotkanmu ke depannya nanti," gumam Pricilla lirih.


Tak mau ketahuan dirinya sedang bersedih, secepat kilat Pricilla melarikan diri dari sana. Dia tidak mau ada orang yang melihat kalau sekarang matanya berkaca-kaca karena menahan tangis. Terlalu gengsi untuk seorang Pricilla mengakui bahwa dia sebenarnya sayang pada kakak tirinya itu.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2