
Sungguh, Gerald benar-benar tidak mengerti mengapa Jessy bisa pingsan di saat dia mulai terbakar gairah. Mereka yang awalnya sedang bermesraan di dalam bathup tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah kepanikan saat Jessy jatuh tak sadarkan diri di pelukan Gerald. Bingung, itu sudah pasti. Bahkan untuk beberapa detik Gerald seperti kehilangan akal pikirnya melihat mata Jessy yang sudah terpejam erat di dalam dekapannya.
"Hmmm, apa dia terlalu kesenangan menerima sentuhanku sampai-sampai tak bisa mengontrol euforianya sendiri? Aneh. Tapi kenapa raut wajah Jessy terlihat seperti orang yang sedang tertekan ya? Apa itu karena aku terlalu lama melakukan pemanasan? Tapi jika pun benar, harusnya kan Jessy memprotes tindakanku, bukan malah pingsan seperti ini. Benar-benar aneh," gumam Gerald sambil memperhatikan Jessy yang sedang terlelap di atas ranjang mereka. Entah terlelap atau karena masih belum sadarkan diri, yang jelas matanya Jessy masih terpejam.
Sambil memperhatikan Jessy, pikiran Gerald melayang kepada satu kejadian di mana dia pernah memergoki Jessy yang sedang menangis di kantor. Gerald menghela nafas. Mungkinkah istrinya ini sedang menangisi sesuatu hal yang menyedihkan dalam hidupnya? Tapi apa? Setahu Gerald, Jessy tak pernah mempunyai musuh. Dan satu-satunya orang yang sering berinteraksi dengannya adalah ibu dan adik tirinya. Apakah mungkin kedua wanita busuk itu adalah manusia yang telah menyebabkan Jessy menguras air matanya? Hmmm.
"Sebaiknya aku mencaritahu dulu bagaimana hubungan mereka selama ini. Jika memang benar mereka terlibat dalam suatu permusuhan, maka aku akan menontonnya. Menjadi istriku haruslah kuat dan tak terkalahkan. Ya, begitu seharusnya,"
Setelah menggumam seperti itu Gerald memutuskan untuk meninggalkan kamarnya. Tak lupa sebelum itu dia berganti pakaian dengan menggunakan kaos putih beserta celana panjang hitam. Sambil menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangan, Gerald pun melangkah keluar dari sana.
Brraaaakkkkkk
"Sepertinya aku terlalu kuat menutup pintu kamar ini," ucap Gerald terkejut sendiri mendengar suara pintu kamar yang begitu kuat.
Rooney yang ternyata sudah kembali dari hotel langsung menundukkan kepala begitu melihat bosnya keluar dari dalam kamar. Langkahnya sedikit tertatih akibat luka tembak yang baru saja selesai dia koyak untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam kakinya.
"Roon?" panggil Gerald sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
"Iya, bos. Ada apa?" sahut Rooney.
"Jessy pingsan!"
__ADS_1
Rooney menghela nafas secara perlahan. Dia yakin seyakin-yakinnya kalau penyebab Nona Jessy pingsan adalah keagresifan bosnya ini. Sambil terus mengikuti langkah bosnya menuju ruang kerja, Rooney mencoba mencari tahu mengapa Nona Jessy bisa jadi seperti ini.
"Mengapa Nona Jessy bisa sampai pingsan, bos? Apakah beliau mendengar sesuatu yang tidak seharusnya di dengar?"
"Tidak!"
"Lalu?"
Gerald menghentikan langkahnya. Dia menatap nanar pintu ruang kerjanya yang terlihat sangat kokoh. Jujur, saat ini tubuh Gerald masih sangat panas. Dia benar-benar membutuhkan pelepasan, tapi bagaimana caranya? Rasa sakit ini sungguh menyiksa, membuat tubuh Gerald jadi panas dingin karenanya.
"Jessy terlalu antusias menerima sentuhan dariku sampai akhirnya dia tidak bisa mengontrol diri kemudian jatuh pingsan!" ucap Gerald seraya menyeka keringat yang bermunculan di keningnya. Malam ini benar-benar sangat panas, Gerald kegerahan. "Rooney, apakah kau pernah mendengar ada kejadian seperti ini yang di alami oleh pasangan pengantin baru? Kalau ada, siapa mereka? Aku penasaran ingin mendengar ceritanya,"
Untuk sesaat Rooney cukup bingung mendengar pertanyaan bosnya. Bagaimana tidak! Selama ini Rooney hanya berhubungan dengan Simon dan juga pertumpahan darah yang melibatkan bosnya ini. Jadi dia mana tahu tentang kejadian-kejadian aneh yang di alami oleh para pengantin baru. Memiliki kekasih saja tidak. Lalu bagaimana caranya Rooney bisa mengetahui penyebab tersebut?
"Jangan mengataiku, Roon!" tegur Gerald dingin.
"Saya tidak berani melakukannya, bos," sahut Rooney sedikit kaget karena ternyata bosnya tahu kalau dia sedang membatin tentangnya.
"Tidak di mulutmu, tapi di hatimu ... kau sedang mengataiku yang tidak-tidak!"
Gerald menendang pintu ruangan dengan kasar setelah dia memarahi Rooney. Dia sebenarnya bukan marah sih, tapi lebih ke sudah tidak tahan merasakan hawa panas yang menyergap tubuhnya. Dan begitu Gerald masuk ke dalam ruangan, dia langsung membuka kaosnya kemudian membuangnya asal. Gerald kemudian melakukan gerakan sit-up, push-up, skot jam, bahkan lari di tempat dalam durasi waktu yang cukup lama.
__ADS_1
"Sialan! Kenapa aku jadi berolahraga di tengah malam begini. Kau benar-benar sudah kelewatan, Jessy. Sihirmu membuatku jadi seperti orang gila. Arrrggghhh! Huh-hah huh-hah!" gerutu Gerald sambil melakukan push-up secepat mungkin.
Rooney? Jangan di tanya seperti apa reaksinya melihat sang bos yang tiba-tiba bersikap aneh. Ingin bertanya, itu sama saja dengan bunuh diri. Jadi Rooney memutuskan untuk tetap diam sambil terus memperhatikan kelakuan aneh dari pria yang kini tengah berguling-guling di lantai.
"Roon, cari topik pembicaraan. Sekarang!" perintah Gerald dengan suara lantang.
"Bos, anak buah kita memberikan laporan kalau ada seseorang yang sedang mengincar Nona Jessy. Beberapa kali mereka terlihat mendatangi rumahnya yang sudah terbakar!" ucap Rooney langsung tanggap akan perintah dari bosnya. Sengaja dia membahas masalah ini karena memang emosi bosnya sedang fokus terhubung pada apapun yang berhubungan dengan Nona Jessy.
Dan benar saja. Begitu Rooney mengatakan hal tersebut Gerald langsung menghentikan gerakan skot jam yang sedang dilakukannya. Setelah itu Gerald bangun, membiarkan Rooney menyeka keringat yang membasahi tubuhnya.
"Kau cari dan bawalah mereka padaku. Aku ingin tahu manusia mana yang berani memata-matai istriku," ucap Gerald dingin. Pandangannya menghunus, seolah mampu mengoyak tubuh lawan tanpa memakai senjata apapun.
"Baik, bos. Besok saya akan segera mencari tahu siapa mereka!"
"Bagaimana dengan Pricilla dan Areta? Apa mereka pernah melakukan sesuatu yang buruk pada Jessy?"
"Dari informasi yang saya dapat, Nyonya Areta dan Nona Pricilla mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan Nona Jessy, bos. Mereka terkesan menjadikan Nona Jessy sebagai sapi perah untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Apalagi Nona Pricilla. Walaupun dia sudah lulus kuliah, tapi dia lebih memilih untuk bermalas-malasan di rumah dan meminta uang seenaknya pada Nona Jessy setiap kali ingin pergi bersenang-senang. Selain itu, tidak ada catatan buruk tentang mereka, bos!"
Rooney bergegas mengambil air minum saat mendengar suara tarikan nafas bosnya. Tak lupa juga dia memberikan kaos yang di pegangnya sebelum akhirnya dia menyalakan AC di dalam ruangan.
"Menjadi istriku haruslah kuat mental dan juga pikiran karena nantinya Jessy akan terlibat dengan apa yang aku kerjakan. Meskipun tak ingin, dia akan tetap mencicipi betapa tidak enaknya ketika berhadapan dengan lawan. Jadi Rooney, pastikan kau sering memberi pelatihan dadakan pada Jessy. Aku tidak suka jika melihatnya terluka!" ucap Gerald sembari memakai kembali kaosnya. Dia kemudian meneguk habis air di dalam gelas lalu meletakkannya ke atas meja. "Hmmm, sampai sekarang aku masih penasaran mengapa Jessy bisa sampai pingsan hanya karena sentuhanku. Karena setahuku, orang yang sedang merasa bahagia itu biasanya menangis. Nenek dan Ibu contohnya. Saat mereka menerima transferan uang dariku mereka akan pura-pura menangis haru kemudian memelukku dengan begitu erat. Tapi kenapa Jessy tidak? Menurutmu apa yang salah di sini, Roon? Apa aku masih kurang dalam memberikan sentuhan?"
__ADS_1
Andai saja bisa memilih, Rooney akan lebih memilih untuk baku hantam dengan para musuhnya ketimbang harus menjawab pertanyaan bosnya yang begitu sulit ini. Sungguh, Rooney tidak bohong. Karena apa? Karena Rooney tahu dengan pasti kalau penyebab Nona Jessy pingsan bukan karena terlalu senang menerima apa yang bosnya lakukan, melainkan rasa tertekan karena Nona Jessy tak siap menerimanya. Wajarlah, menikah saja karena di paksa. Sudah pasti Nona Jessy sangat ketakutan saat bosnya datang dan ingin menagih haknya sebagai seorang suami. Benar tidak kawan-kawan?
*******