Marriage Contract With My Secretary

Marriage Contract With My Secretary
Buku Nikah


__ADS_3


πŸ“’OH YA BESTIE, NANIA SUDAH MULAI UP YA DI UTUP EMAK. SILAHKAN PADA MAMPIR πŸ’œ


πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR YA


- Love Story ( Gabrielle & Eleanor)


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Pesona Si Gadis Desa


- Ma Queen Rose


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BIAR EMAK SEMANGAT UP. OKE BESTIE πŸ’œ


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


"Wahhhh, selamat ya sayang. Akhirnya kau resmi juga menjadi menantu Ibu. Selamat datang di keluarga Thampson, Jesslyn Ocana!" ucap Barbara dengan begitu gembira.


Jessy tak tahu apakah harus menangis atau malah bahagia mendengar ucapan selamat yang di ucapkan oleh ibunya Gerald. Saat ini dia tengah duduk sambil memegang sebuah buku di mana di dalamnya telah tercacat kalau dia dan Gerald telah resmi menjadi pasangan suami istri. Catat, SUAMI ISTRI!


Ini mimpi 'kan? A-aku dan Gerald sudah menikah? Tidak, ini pasti mimpi. Tapi jika hanya mimpi kenapa aku bisa mendengar suara ibunya Gerald dengan begitu jelas? Dan ... dan tadi bukannya aku sedang duduk di dalam mobil sambil memikirkan cara untuk membatalkan pernikahan ini? Kenapa tiba-tiba aku bisa memegang buku nikah? Apa yang sebenarnya terjadi padaku tadi?


Ingatan Jessy berputar ke waktu di mana dia masih berada di luar gedung sipil ini. Dia yang kala itu tengah meramalkan beberapa doa khusus untuk menolak bala, tiba-tiba di kejutkan oleh kemunculan Simon yang menggonggong tepat di jendela samping dia duduk. Jessy yang memang sangat takut pada binatang satu itu tanpa pikir panjang langsung berteriak kemudian keluar dari pintu sebelah. Tanpa mengindahkan keberadaan ibu dan neneknya Gerald, Jessy langsung berlari masuk ke dalam gedung ini. Dan imbas dari ketakutannya itu kini Jessy harus rela menerima statusnya yang telah berubah dari seorang Jesslyn Ocana menjadi Jesslyn Thampson. Sungguh perputaran waktu yang sangat mengerikan sekali bukan?


"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin!"


Brraaaakkkk


Gerald diam saja ketika Jessy tiba-tiba menggebrak meja. Dia cukup maklum, mungkin memang seperti inilah cara Jessy mengekspresikan kebahagiannya setelah mereka resmi menikah.


"Jessy, kau kenapa? Dan apanya yang tidak mungkin?" tanya Cleo keheranan. Hampir saja jantungnya terlepas saat cucu menantunya itu menggebrak meja dengan sangat kuat.

__ADS_1


"A-a ... it-itu ....


Jessy gelagapan sendiri ketika di tanya oleh Nenek Cleo. Sambil menelan ludah, Jessy menoleh ke arah Gerald. Dia bermaksud meminta penjelasan dari pria ini tentang status barunya sebagai Nyonya Thampson. Tapi sayang, bukannya mendengar penjelasan Gerald, yang ada Jessy malah di suguhi satu pemandangan mengerikan di mana Simon tengah menatapnya sambil menjulurkan lidah. Sungguh, detik itu juga Jessy sangat berharap kalau Tuhan akan mencabut nyawanya saja. Dia bisa gila berada di sekeliling keluarga aneh ini.


"Sapa saja, jangan ragu. Mulai sekarang kau resmi menjadi ibunya Simon!" ucap Gerald dengan santainya.


"Bos Gerald, bisakah anda menjelaskan apa yang baru saja terjadi? Dan ... kenapa nama saya bisa tertulis di dalam buku ini?" tanya Jessy seraya mengangkat buku nikah yang ada di tangannya. Tangannya gemetaran, gatal karena begitu ingin meledakkan kepala laki-laki ini.


"Matamu kan tidak buta. Jadi baca saja sendiri,"


Plaaakkk


Gerald segera mengambil buku di tangan Jessy kemudian membacakan isi di dalamnya setelah mendapat satu pukulan di bagian kepala. Sungguh, baru beberapa detik lalu Jessy menjadi menantu, Gerald langsung mendapat perlakuan bak anak tiri dari sang ibu. Menyedihkan sekali. Sedangkan Jessy, dia sudah hampir menitikkan air mata menyaksikan ketidak-pekaan Gerald terhadap apa yang dia tanyakan. Memang benar kalau Jessy ingin Gerald menjelaskan tentang buku yang di pegangnya, tapi bukan dengan cara membaca semua tulisan yang di dalamnya juga. Ya Tuhan ....


"Sudah paham?"


"Ya,"


Jawaban singkat Jessy membuat Gerald tersenyum puas. Dia lalu melihat ke arah ibunya, memberitahu kalau tugasnya sudah selesai.


"Iya, Nek!" sahut Gerald.


"Cihh, iya apanya. Jelas-jelas tadi kau mengatai menantu Ibu buta. Kau pikir Ibu tuli apa?" timpal Barbara sambil menatap sinis ke arah Gerald.


"Hmm,"


"Ham hem ham hem. Menyebalkan sekali sih!"


Rooney maju mendekat kemudian membisikkan sesuatu pada bosnya. Setelah itu dia pamit undur diri dari hadapan semua orang yang mana kepergiannya itu di ikuti oleh beberapa pengawal yang saat itu berjaga di dalam ruangan. Oh ya, mungkin sebagian dari kalian ada yang penasaran dengan keberadaan para pegawai sipil yang mengurus pernikahan Gerald dan Jessy. Oke, emak dengan senang hati akan memberitahu pada kalian semua. Begini, saat para pegawai ini di beritahu kalau cucu dari wanita bernama Cleo Oliver Ma akan menikah, secepat kilat mereka semua langsung menata ruangan ini dengan dekorasi seelegan mungkin. Mereka juga membatalkan dan menolak para tamu yang ingin mengurus pernikahan mereka di sini. Bukannya tidak menghargai orang yang mendaftar terlebih dahulu, masalahnya orang ini adalah keponakan dari pasangan yang merupakan pemasok dana terbesar dalam hal kemajuan kantor mereka. Siapa lagi kalau bukan Greg Ma dan Nyonya Liona Serra, wanita dengan segala keberuntungan besar yang membuat iri banyak orang. Kalian pasti sudah tahulah ya siapa mereka?


"Ada apa?" tanya Vrey pelan. Matanya yang tajam terus memperhatikan Rooney yang tengah berjalan menuju mobilnya.


"Hanya sebuah kiriman boneka saja, Kek. Bukan sesuatu yang besar," jawab Gerald.

__ADS_1


"Siapa pengirimnya?"


"Wanita yang baru saja menjadi anggota baru di keluarga kita,"


Vrey tersenyum penuh maksud. Sungguh bodoh orang yang berani mencari masalah dengan cucunya ini. Nekad sekali mereka menyinggung seorang psikopat gila yang tengah berbahagia. Hmmm.


"Jessy belum tahu siapa kau sebenarnya, Gerald. Pelan-pelan saja. Nenek tidak mau melihatmu menjadi duda muda," ledek Cleo sambil terkikik pelan.


"Aku tinggal merawatnya agar hidup kembali seperti yang dilakukan kakek buyutku pada Nenek dulu," sahut Gerald dengan santai. "Jessy sekarang istriku. Sudah saatnya untuk dia membiasakan diri dengan percikan darah yang biasa aku mainkan!"


Kalian pasti penasaran kan mengapa Gerald dan keluarganya bisa begitu bebas mengobrol? Semua itu terjadi karena Gerald dan keluarganya tahu pikiran Jessy sedang tidak ada di tempat. Sekertaris yang kini menjelma menjadi Nyonya Thampson ini masih sibuk dengan dunianya sendiri yang terkejut telah menikah dengan Gerald. Makanya Jessy tidak mempedulikan obrolan mengerikan yang tengah di bahas oleh suami dan keluarga barunya. Pikiran Jessy di penuhi banyak hal yang berhubungan dengan statusnya sekarang. Dia sangat syok.


"Rahasiakan apa yang kalian lihat hari ini dan pastikan juga tidak ada sedikit pun kabar yang beredar di luaran sana. Jika sampai aku mendengar ada orang yang membicarakan pernikahan cucuku, kalian tahu sendiri bukan akan berakhir seperti apa nasib semua orang yang bekerja di kantor ini?" ucap Vrey memberikan pesan ancaman pada ketua gedung sipil ini.


Sambil mengelap keringat dingin di keningnya, si ketua gedung menganggukkan kepala. Akan sangat-sangat bodoh jika dia sampai berani menyinggung keluarga ini. "B-baik, Tuan Vrey. S-saya akan pastikan sendiri kalau pernikahan bos Gerald dengan Nona Jessy aman dari mata media. D-dan jika nanti ada seseorang yang coba mencaritahu tentang hal ini, k-kami akan langsung menginformasikannya kepada anda!"


"Good!"


Setelah itu Vrey berdiri, mengulurkan tangan pada Cleo sambil tersenyum. Cleo-nya, wanita ini masih begitu cantik meski kini usia mereka tak lagi muda.


"Ekhmm-ekhmmm!"


Barbara dengan sengaja berpura-pura terbatuk dengan maksud menyindir Gerald agar mengikuti apa yang sedang dilakukan kakeknya kepada ibu mertuanya. Barbara berniat memberi les privat tak kasat mata pada putranya yang kaku itu.


"Rumah sakit begitu banyak. Apa Ibu sedang menunggu kematian dengan membiarkan virus menetap di tubuh Ibu?" tanya Gerald sarkas.


"Sayang, bisa tolong ambilkan tongkat bisball? Sepertinya beruang kutub ini sudah bosan hidup!" geram Barbara sambil menatap sengit ke arah Gerald yang tidak bisa peka akan apa yang dia maksud.


"Sayang, tenanglah!" sahut Arion berusaha sabar melihat kelakuan anak dan istrinya. Yang satu mudah marah, sedang yang satunya adalah rajanya tidak peka.


Jessy menoleh melihat ke arah Gerald. Dia lalu menghela nafas dalam, tak menyangka kalau pria ini benar-benar sudah menjadi suaminya. Kontrak pula. Astaga.


Tuhan, bisa kau tolong cabut nyawaku saja tidak? Aku ... takut.

__ADS_1


*****


__ADS_2