Marriage Contract With My Secretary

Marriage Contract With My Secretary
Kata Manis


__ADS_3

Lorus dan Gerald saling menatap dalam diam setelah mereka bertemu. Aura mereka sama-sama terlihat dingin, sama sekali tidak ada kecanggungan meski ini adalah pertemuan pertama mereka.


"Hmm, kau terlalu tidak ramah, Tuan Lorus. Padahal kau yang menginginkan pertemuan ini. Why?" tanya Gerald akhirnya mengalah. Dia tahu, sangat amat tahu kalau laki-laki ini tidak akan mau membuka pembicaraan lebih dulu.


"Aku datang kemari bukan untuk mengobrol, tapi aku menginginkan sesuatu darimu," jawab Lorus dingin. Dia lalu meletakkan sebuah koper kecil di atas meja kemudian membukanya. "Orang-orangku telah melakukan penelitian ulang dan kami menemukan ini!"


Sebelah alis Gerald terangkat ke atas. Dia kemudian memajukan tubuhnya untuk melihat apa yang ada di dalam koper. Dan begitu Gerald melihat isinya, kedua alisnya langsung bertaut. Di dalam sana ada sebuah botol bening berukuran kecil terisi sebuah cairan berwarna cukup pekat. Penasaran, itu sudah pasti. Segera Gerald mengambil botol tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama.


"Apa ini?"


"Saat reaksi racun itu muncul di tubuh bos kami, orang-orangku mencoba untuk mendeteksi dengan menggunakan darahnya. Dan hasil dari penelitian itu membuat kami semua bingung!" jawab Lorus. "Salah satu zat yang terkandung di dalam racun itu ternyata bisa berkembang biak melalui darah, dan besar kemungkinan racunnya akan menurun pada penerus bos kami kelak. Ini masih dugaan sementara. Karena itulah kami ingin kau dan kelompokmu memeriksa zat itu agar kami mendapat kepastiannya!"


"Kau terlihat buru-buru. Kenapa?"


Gerald menatap sekilas ke arah Lorus. Jika bukan karena hal yang mendesak, mustahil Lorus bersedia datang dan meminta untuk bertemu. Sepertinya ketua mereka sedang tidak baik-baik saja sekarang.


"Bukan ranahmu untuk bertanya kenapa. Kau cukup lakukan apa yang kami minta kemudian kami akan membayar berapapun harganya!"


Lorus seolah tak ingin kalah. Dia memang membutuhkan kelompok dari pria ini, tapi bukan berarti dia akan membiarkan orang ini mengulik terlalu jauh tentang rahasia bosnya. Walaupun Lorus tahu kalau pria di hadapannya bukanlah seseorang yang mudah untuk di ajak bekerja sama, dia tetap tidak akan mengalah apalagi merendah karena hal tersebut sangat amat bertentangan dengan sumpah yang dia ambil untuk kelompoknya.


"Oke, deal. Ini aku ambil dan setelah kami selesai menelitinya, kau akan di hubungi oleh salah satu orangku!" ucap Gerald langsung membatasi keinginannya yang lumayan penasaran akan banyak hal yang berhubungan dengan Lorus dan ketuanya.


"Baiklah!" sahut Lorus. Dia kemudian berdiri, sedikit menundukkan kepala ke arah Gerald sebelum keluar dari kamar tersebut. Namun ketika Lorus hendak menutup pintu, dia tiba-tiba berbalik menghadap ke belakang. Tatapannya datar.


"Kau menyadarinya ternyata!" ucap Gerald santai.


"Pengamanan yang cukup unik. Mungkin suatu saat nanti bosku akan tertarik menggunakan jasamu!" sahut Lorus seraya menyeringai tipis.

__ADS_1


Dan


Braaakkk


Pintu di tutup dengan cukup kuat oleh Lorus, dan hal itu membuat Gerald memejamkan mata.


"Keluarlah!"


Dari balik tirai, muncul dua orang berwajah datar dengan pistol di tangan masing-masing. Mutan. Ya, mereka mutan yang di perintah oleh Rooney untuk mengawasi tamu misterius yang baru saja keluar dari ruangan ini.


"Bos Gerald!" sapa mereka sambil membungkukkan tubuh.


Gerald mengangguk samar. "Bawa botol ini ke lab kemudian minta semua orang untuk fokus meneliti tentang isi dari benda ini. Besok aku akan datang setelah pekerjaanku beres!"


"Baik, bos!"


Di saat yang bersamaan pintu di ketuk kemudian masuklah Rooney. Gerald langsung memejamkan mata, merasa sedikit kurang puas akan caranya mengatur keamanan.


"Jadi kau sudah tahu harus melakukan apa?" tanya Gerald.


"Sudah, bos!"


Tangan Gerald terulur ke arah mutan yang masih berdiri di sebelahnya. Dia lalu tersenyum, tapi senyum tersebut sarat akan kemarahan. Tanpa membuka mata, Gerald pun langsung melayangkan satu tembakan yang bersarang tepat di paha kanan Rooney. Ah ya. Kalian jangan khawatir. Kamar hotel ini kedap suara, jadi suara sekeras apapun tidak akan bisa terdengar sampai keluar.


Dooorrrr


"Kau bereskan semua ini lalu temui aku besok. Kita akan berkunjung ke labolatorium Grisi!" ucap Gerald sambil memandangi darah yang sudah menggenangi lantai yang di pijak oleh Rooney.

__ADS_1


"Baik, bos!"


Gerald membuang nafas. Dia kemudian melenggang pergi dari sana, meninggalkan Rooney yang langsung merobek celananya kemudian mulai mengeluarkan peluru yang bersarang di kakinya. Ngilu sekali bukan? Tapi bagi Rooney itu bukanlah apa-apa. Mendapat satu tembakan seribu kali jauh lebih baik ketimbang harus terbaring di atas meja operasi labolatorium Grisi. Karena meja itu adalah hal yang paling mengerikan bagi Rooney. Ibarat kata, meja itu adalah perantara yang bisa mengantarkan siapapun menuju alam baka. Dan adalah sangat sial jika sampai ada seseorang yang di kirim secara khusus ke tempat berjulukan neraka iblis itu.


"Jessy masih hidup kan, Bu?" tanya Gerald pada ibunya. Dia menelpon sambil mengemudikan mobil.


"Ck, kau pikir keluargamu adalah sekelompok pembunuh berantai yang suka menghabisi anggota keluarganya sendiri apa? Dasar gila kau!"


"Oh,"


Hanya sesingkat itu respon Gerald terhadap makian ibunya. Dan di detik selanjutnya, dia hanya bisa pasrah ketika sang ibu mengeluarkan sumpah serapahnya dengan mengatakan kalau Gerald adalah sosok suami yang sangat tidak bertanggung jawab. Di hari pertama pernikahannya dengan Jessy dia malah pergi di tengah-tengah pertemuan dengan keluarga besarnya. Meski sebenarnya sang ibu tahu kemana Gerald pergi, tapi wanita galak itu tetap saja memarahinya. Dan tentu saja hal ini membuat Gerald terkadang merasa terheran-heran mengapa Tuhan bisa menciptakan makhluk yang sangat merepotkan bernama wanita. Kecuali Jessy. Tentu saja.


"Dia begitu jelek. Apa jangan-jangan ibunya adalah seorang alien?" gumam Gerald penasaran. Dia lalu memutuskan untuk menghubungi Rooney tanpa mengingat kalau kaki pria itu sedang terluka.


"Halo, bos. Apakah terjadi sesuatu?"


"Siapa nama ibu dan adiknya Jessy? Mereka belum mati 'kan?" tanya Gerald begitu Rooney menjawab panggilan teleponnya.


"Mereka masih hidup, bos. Nama mereka adalah Nona Pricilla dan Nyonya Areta."


Klik. Panggilan langsung di putus sepihak oleh Gerald begitu dia mengetahui nama keluarga tirinya Jessy. Gerald kemudian teringat dengan kandang tikus milik Jessy yang waktu itu di bakar oleh Rooney. Dia jadi penasaran seperti apa keadaannya sekarang.


"Hmmm, sekarang masih jam sebelas. Lebih baik aku pergi jalan-jalan dulu supaya Jessy semakin merindukan aku. Di rumah Ibu ada Bibi Elea dan Flowrence, aku tidak suka bertemu dengan mereka," gumam Gerald.


Tanpa membuang waktu lagi Gerald segera berputar arah menuju kandang tikus yang dulu di diami oleh Jessy. Dan sudut bibirnya tiba-tiba berkedut saat teringat igauan Jessy yang tidak berhenti menyebut namanya.


"Apa di otaknya tidak ada hal lain selain memikirkan aku ya? Bahkan ketika tidur pun harus namaku yang dia sebut. Hmmm, Jessy-Jessy. Kenapa kau tidak mengaku saja kalau kau itu sangat mencintaiku. Kau ini,"

__ADS_1


Pria brengsek, laki-laki cabul, manusia arogan, tidakkah menurut kalian kata-kata tersebut sangat manis? Gerald sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Jessy bisa semanis ini di belakangnya. Hehe.


*******


__ADS_2