
Gerald memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana saat berjalan keluar dari ruangannya. Dia kemudian melirik ke arah meja tempat Jessy biasanya duduk untuk bekerja.
"Cepat sekali perginya. Apa dia sudah tidak sabar ingin segera menumpang di mobilku?" gumam Gerald lirih.
Beberapa karyawan yang masih lembur tampak menunduk hormat saat Gerald melewati ruangan mereka. Sambil memikirkan sesuatu hal, Gerald melangkah masuk ke dalam lift. Dia acuh saja saat ada beberapa karyawan wanita yang juga sedang berada di dalam lift tersebut.
Mungkin ada di antara kalian yang merasa penasaran kenapa Gerald bisa berada dalam satu lift yang sama dengan para karyawannya. Jawabannya adalah karena dia memang sengaja tidak menentukan lift khusus untuk dirinya sendiri. Bahkan Gerald tidak mempunyai asisten pribadi yang akan selalu mengekorinya kemana-mana. Merepotkan, begitu pikirnya. Dan satu-satunya orang yang selalu berada di dekat Gerald di perusahaan ini hanyalah Jesslyn, atau yang biasanya di panggil dengan sebutan sekertaris Jessy. Hanya wanita ini saja yang mampu bertahan menghadapi kebekuan mendarah daging yang melekat di diri Gerald hingga pada akhirnya mengantarkan Jessy pada titik dimana Gerald menaruh sedikit rasa ketergantungan padanya. Kendati demikian, Gerald tetap mempunyai seseorang yang selalu siap siaga melindunginya dari kejauhan. Namanya Rooney, pria yang tak kalah beku dari Gerald. Dia adalah kaki tangan rahasia yang jarang di ketahui oleh orang lain. Tapi meskipun begitu, Rooney sangatlah berbahaya karena dia akan bergerak dengan sangat cepat tanpa di duga-duga ketika ada orang yang ingin mencelakai Gerald. Rooney akan melesat seperti angin begitu Gerald memberikan perintah. Juga ada Simon, anjing Pitbull kesayangan Gerald yang siap mencabik-cabik tubuh lawan jika sampai tertangkap oleh Rooney.
Di dekat pintu masuk Group Thampson, terlihat Jessy yang tengah mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai. Kakinya sudah hampir kram karena terus berdiri menunggu kedatangan bosnya yang tak kunjung muncul. Sesekali Jessy juga terlihat tersenyum saat ada karyawan yang menyapa. Dia mencoba menahan kekesalannya dengan terus berpura-pura memasang wajah ramah dan manis. Padahal hatinya, dia tidak berhenti merutuki keterlambatan sang bos yang berjanji akan mengantarkannya pulang ke rumah.
"Ck, kalau harus selama ini aku menunggunya, lebih baik aku pulang sendiri saja tadi. Nasib-nasib," ucap Jessy pelan.
"Nasib siapa yang sedang kau bicarakan?"
Matilah. Orangnya sudah ada di sini ternyata.
"Hehe, tidak bos. Saya tidak sedang membicarakan nasib siapapun," jawab Jessy sambil tersenyum kikuk. Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga untuk menutupi rasa gugupnya.
Sebelah alis Gerald terangkat ke atas. Dia kemudian menoleh ke arah jalan dimana Rooney datang menjemput menggunakan mobil kesayangannya.
"Bos, apakah Tuan Hinara benar-benar akan melakukan sesuatu yang jahat kepada saya?" tanya Jessy penasaran.
"Kalau kau punya nyawa cadangan silahkan di coba saja," jawab Gerald acuh.
"Ekhmmm, saya tidak punya, bos."
"Kalau begitu tidak usah banyak ingin tahu. Nanti kau bisa mati cepat seperti para ilmuwan yang sok tahu itu."
Jessy mengerjapkan mata. Dia kemudian berdehem sambil mengusap kulit lehernya. Seperti biasa, kebekuan bosnya ini membuat Jessy seperti berada di padang pasir yang sangat gersang. Juga membuatnya mengalami dehidrasi parah dimana kerongkongannya terasa sangat kering.
Tak lama kemudian sebuah mobil mewah datang mendekat. Jessy langsung tersenyum ke arah pria yang baru saja keluar dari dalam mobil tersebut.
__ADS_1
"Selamat malam, Tuan Rooney. Apa kabar?" sapa Jessy sopan.
"Selamat malam kembali, sekertaris Jessy. Kabarku baik, bagaimana denganmu?" sahut Rooney tanpa tersenyum sama sekali. Dia kemudian menganggukkan kepala ke arah bosnya. "Langsung pulang atau ....
"Aku tidak mau mencari sekertaris baru. Antarkan dia pulang sebelum kita kembali ke rumah!" sela Gerald kemudian masuk ke dalam mobil.
Rooney mengangguk. Dia lalu melirik ke arah sekertaris Jessy yang terlihat biasa-biasa saja setelah mendengar perkataan bosnya yang cukup cetus.
"Hehehe, tidak apa-apa, Tuan Rooney. Lubang telingaku sudah kebal mendengar kata-kata pedas yang di lontarkan oleh bos Gerald!" ucap Jessy sambil terkekeh pelan. Padahal dalam hatinya dia sedang mengumpat lumayan kasar.
"Masuklah. Nanti kau bisa di seret oleh bos Gerald jika sampai membuatnya menunggu terlalu lama!" sahut Rooney seraya membukakan pintu mobil untuk sekertaris Jessy.
Tanpa membuang waktu lagi, Jessy pun bergegas masuk menyusul bosnya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Dia sedikit kikuk karena ternyata bosnya tengah menatapnya sambil mengerutkan kening.
"Ada apa, bos?" tanya Jessy.
"Apa bicara dengan laki-laki lain membuatmu merasa sangat bahagia?" tanya Gerald penasaran.
"Maksudnya?"
Glukkk
Untuk beberapa detik otak Jessy seperti berhenti bekerja. Sungguh, dia benar-benar tidak mengerti kenapa bosnya harus bicara seperti ini hanya karena dia sedikit mengobrol dengan Tuan Rooney. Tolong di garis bawahi ya, hanya sedikit. Dan itupun tidak lama. Haruskah bosnya ini menyindirnya dengan menyebut giginya kering karena terlalu banyak tertawa? Oh ayolah, Jessy bisa mati muda jika Tuhan sampai mengurangi stok kesabaran di hatinya.
"Lain kali saya tidak akan tersenyum seperti itu lagi pada Tuan Rooney, bos."
"Apa urusannya denganku?" tanya Gerald bingung mendengar perkataan Jessy. Padahal kan dia tidak mengatakan apa-apa. Aneh.
"Hehe, sebenarnya tidak ada urusannya dengan anda sih, bos. Saya hanya ingin bicara saja," jawab Jessy sambil tersenyum terpaksa.
"Kau terlihat jelek kalau tersenyum seperti itu. Lebih baik kau diam saja."
__ADS_1
"Baiklah, bos."
Sebelum melajukan mobil, Rooney menyempatkan diri melirik ke arah kursi belakang. Dia sedikit tersenyum saat mendengar percakapan aneh antara bosnya dengan sekertaris Jessy.
Tidak terbayangkan jika kedua orang ini sampai terlibat suatu hubungan. Aku yakin orang-orang akan sakit kepala melihat betapa tidak pekanya seorang Bos Gerald pada wanitanya. Hmmm," ....
Selama dalam perjalanan menuju tempat kosnya, Jessy sama sekali tidak bicara apa-apa. Dia sedang menetralisir kekesalan di hatinya akibat diminta agar tetap diam oleh bosnya tadi. Sebenarnya ini bukan hal yang baru, hanya saja Jessy tetap merasa kesal setiap kali bosnya berkata tanpa di pikir apakah dia akan tersinggung atau tidak. Tapi ya sudahlah, mau dunia kiamat pun sikap bosnya akan tetap seperti ini. Lebih baik Jessy diam saja, karena dengan diam maka hidupnya akan tetap terjamin. Hehehehe.
"Besok pagi kau akan berangkat ke kantor bersamaku!" ucap Gerald saat mobil berhenti di depan sebuah bangunan kecil yang di sewa oleh Jessy. Dia menghela nafas. "Aku membayarmu dengan gaji yang sangat tinggi. Tapi kenapa kau memilih untuk tinggal di kandang tikus seperti ini? Apa uang yang aku berikan kau jadikan makanan untuk mengganjal perut?"
Sebelum menjawab, Jessy menarik nafas perlahan terlebih dahulu. Rasanya sungguh sesak kamar kos yang dia sewa di sebut sebagai kandang tikus oleh bosnya.
"Tempat ini sudah yang paling pas untuk saya, bos. Dan masalah uangnya, anda tidak perlu khawatir saya akan memakannya karena uang tersebut sudah di tabung."
"Benarkah? Lalu kau kemanakan mobil yang perusahaan hadiahkan padamu? Aku masih sering mendengar gunjingan para karyawan kalau kau selalu datang dengan menaiki kendaraan umum. Apa mobilnya kau tabung juga?" tanya Gerald ingin tahu.
"Tidak, bos. Mobilnya sudah saya jual untuk membiayai perawatan Ibu saya di rumah sakit beberapa waktu lalu!" jawab Jessy sambil mengeratkan gigi. Bosnya ini benar-benar ya. Segala mobil pun di pertanyakan.
"Oh."
Gerald menoleh ke arah Jessy yang masih belum keluar dari dalam mobil.
"Mau sampai kapan kau duduk di sini? Apa kau ingin ikut pulang denganku agar bisa bertemu dengan Simon?"
"Tidak!" sahut Jessy dengan cepat. Setelah itu dia buru-buru keluar dari dalam mobil kemudian membungkukkan badan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
Rooney kembali melajukan mobil setelah memastikan kalau sekertaris Jessy telah masuk ke rumahnya. Sedangkan bosnya, pria dingin itu hanya diam tanpa ada ekpresi apapun di wajahnya.
Simon sangat manis. Kenapa Jessy sangat takut padanya? Aneh.
Ig: rifani_nini
__ADS_1
Fb: Rifani
*****