
Saat perjalanan menuju kantor, suasana di dalam mobil terasa sangat berbeda. Bahkan Rooney sampai harus beberapa kali melirik ke kursi belakang untuk memastikan kalau kedua majikannya baik-baik saja.
Haisshhhh, kenapa suasananya jadi awarkd begini sih. Gerald juga. Kenapa sejak masuk ke dalam mobil dia terus saja mengelus-elus perutnya? Apa iya dia sedang lapar?
“Rooney?” panggil Gerald.
“Iya, bos. Ada apa?” sahut Rooney agak kaget saat bosnya tiba-tiba bicara.
“Apa tubuhku jelek?” tanya Gerald. Dia kemudian menoleh, menatap sekilas ke arah Jessy yang terlihat bahagia saat dia menyinggung tentang kekurangannya. “Jessy bilang perutku tidak menarik. Apa menurutmu benar?”
Wajah Jessy langsung pias saat Gerald menjual namanya kepada Rooney. Jujur, saat ini Jessy ingin sekali melompat keluar dari dalam mobil. Ya malu, ya emosi, ya dongkol, semua rasa itu bercampur aduk memenuhi pikirannya. Jessy sungguh tak habis pikir kenapa Gerald bisa berpikir sedemikian rupa hanya karena tadi dia tak sengaja menyentuh perutnya. Jessy jadi penasaran sendiri jika seandainya tadi Jessy tidak sengaja menyentuh sangkar burungnya, apa iya Gerald akan berpikir kalau burungnya itu jelek dan perlu di perbaiki juga? Astaga, benar-benar rumit. Jessy serasa hidup di sarang dinosurus yang setiap waktunya selalu memacu andrenalin. Luar biasa. Hah.
“Bos, menurut saya bentuk tubuh anda sudah melebihi proposional untuk ukuran pria dan seorang suami. Jadi saya rasa anda tidak perlu lagi melakukan perubahan apapun. Saran saya anda perbanyak saja makan vitamin dan berenang agar tubuh anda semakin bertambah sehat dan segar,” jawab Rooney dengan sengaja berkata seperti itu. Dia bermaksud membuka peluang agar bosnya bisa bermesraan lebih dengan Nona Jessy. Maklumlah, pengantin baru.
“Ummm, begitu ya.”
“Maaf menyela, bos Gerald. Saya setuju dengan yang di katakan oleh Tuan Rooney kalau anda sebaiknya memperbanyak mengkonsumsi vitamin dan juga olahraga berenang. Dengan begitu anda akan terlihat semakin fresh nantinya,” timpal Jessy ikut membenarkan jawaban Rooney.
Kedua sudut bibir Rooney berkedut mendengar pembenaran yang di ucapkan oleh Nona Jessy. Dia merasa lucu saja karena sebenarnya ucapan tadi itu sengaja Rooney tujukan untuk bosnya agar bisa bermesraan dengan istrinya. Andai saja Nona Jessy mengetahui maksud ucapannya, Rooney yakin Nona Jessy pasti tidak akan berani berkata seperti itu. Ya bagaimana mau berani. Saat bosnya hendak mengambil haknya saja Nona Jessy sudah pingsan lebih dulu. Apa jadinya nanti jika bosnya sampai mengajak Nona Jessy melakukan olahraga bersama di kolam renang? Bisa-bisa Nona Jessy terkena serangan jantung detik itu juga. Benar tidak? 😂
“Oh.”
__ADS_1
Gerald singkat saja saat merespon ucapan Jessy. Otaknya yang cerdas segera berpikir kalau Jessy tengah memberinya kode agar dia meluangkan waktu untuk mengajaknya berenang. Sambil tersenyum dalam hati, Gerald diam memikirkan kolam renang mana yang akan dia gunakan untuk melatih otot di perutnya nanti.
Apa aku berenang di rumah Ibu saja ya? Mereka pasti senang sekali jika melihat Jessy dan aku membuat adonan di sana. Hummm, aku pikirkan dulu untung ruginya.
Jika Gerald tengah memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kolam renang, lain halnya dengan yang di pikirkan oleh Jessy sekarang. Dia tiba-tiba saja terpikir dengan kondisi ibu dan adik tirinya. Sejak rumahnya terbakar, Pricilla maupun ibu tirinya sama sekali tidak ada yang menelpon. Biasanya salah satu dari mereka pasti sudah akan menerornya dengan meminta uang untuk membeli ini dan itu. Pricilla juga. Seingat Jessy waktu itu Pricila pernah memaksa meminta uang untuk dia gunakan berlibur ke luar negeri bersama teman-temannya. Namun sampai hari ini Pricilla sama sekali belum menghubunginya. Bahkan saat mereka bertemu waktu itu, Pricilla sama sekali tidak meminta uang padanya. Ada apa ini? Kenapa perasaan Jessy jadi terasa tak tenang begini?
“Em bos, siang nanti saya ingin meminta izin untuk pergi sebentar. Bolehkah?” tanya Jessy memutuskan untuk meminta izin pada Gerald. Dia berniat pulang ke rumah ibu tirinya guna memastikan kalau mereka baik-baik saja.
“Jadwal penuh,” jawab Gerald dingin.
“Selepas makan siang anda tidak memiliki jadwal apapun, bos. Kemungkinan anda hanya perlu menandatangani berkas yang di setorkan oleh para karyawan saja.”
“Maksudnya?”
“Kau yang akan mengambil alih semua berkas-berkas itu. Aku tidak sehat!”
Kalau saja Jessy memiliki kekuatan super, dia pasti sudah menempeleng kepala Gerald dengan kuat lalu membuangnya sejauh mungkin. Bisa-bisanya ya manusia satu ini mengaku otaknya sedang tidak sehat di saat Jessy sendiri belum pernah sekalipun melihat pria ini jatuh sakit. Terkecuali sakit pura-pura akibat perasaannya yang gagal di pahami oleh seorang gadis jelek yang entah siapa itu.
Kalau tidak boleh pergi ya tinggal bilang tidak boleh saja sih. Kenapa harus memakai alasan yang berbelit-belit? Membuat orang kesal saja. Heran.
“Aku tahu kau sedang mengataiku, Jessy. Suaranya terdengar begitu jelas di gendang telingaku,” ucap Gerald sambil memejamkan mata. Gerald sedang menikmati kebahagiaan yang Jessy rasakan karena dia yang bersikap manja seperti ini. Dia yakin sekali kalau jantungnya Jessy pasti sedang melompat-lompat kesenangan di dalam sana. Benar tidak teman-teman sekalian?
__ADS_1
“Bos Gerald, sudah beberapa hari ini saya tidak mendengar kabar ibu saya. Beliau sedang tidak sehat, saya khawatir beliau kenapa-napa,” ucap Jessy mengalah untuk memberitahu Gerald tentang tujuannya meminta izin untuk keluar setelah jam istirahat makan siang. Dia mencoba abai dengan omongan Gerald yang melantur. Ya meskipun tidak sepenuhnya salah. Hehe.
“Rooney, kirim ambulance untuk membawa Nyonya Areta ke rumah sakit.”
“Baik, bos,” sahut Rooney patuh.
“Yakkk Gerald. Apa-apaan kau hah. Siapa yang memintamu mengirimkan ambulance ke rumah Ibuku?” kaget Jessy syok mendengar omongan Gerald yang meminta Rooney mengirim ambulance untuk membawa sang ibu ke rumah sakit. Ini sungguh sangat gila. Seharusnya tadi Jessy tidak bicara seperti ini pada Gerald. Dia benar-benar sangat menyesal sekarang.
“Tadi bos, sekarang Gerald. Sebenarnya yang mana yang nama panggilan kesayangan untukku, Jessy? Gerald atau bos?”
Kriik krik kriikk
Rooney hanya tersenyum saja melihat reaksi syok yang muncul di wajah Nona Jessy mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh bosnya. Harusnya Nona Jessy ini sudah hafal kalau bosnya terlalu pandai dalam merespon perkataan apapun. Bahkan saking pandainya, terkadang cara berpikir bosnya terkesan tidak masuk akal. Seperti sekarang. Jika orang normal yang mendengar ucapan Nona Jessy, mereka pasti akan berpikir kalau Nona Jessy sedang marah dan meneriaki mereka. Akan tetapi hal berbeda akan muncul dalam pemikiran seorang Gerald Haidar Thampson dimana bosnya ini malah beranggapan kalau kata bos dan Gerald yang di ucapkan Nona Jessy merupakan nama panggilan kesayangan. Jauh sekali bukan perbedaaannya? Itulah bosnya.
“Bos, maaf. Bisakah anda menyender ke kursi mobil saja? Pundak saya terasa pegal,” ucap Jessy frustasi.
Gerald segera duduk dengan tegak begitu mendengar keluhan Jessy. Dan apa kalian tahu apa yang Gerald lakukan selanjutnya? Begini, emak akan memberitahukannya pada kalian.
“Bu, nanti siang tolong kirim tukang pijat ke kantorku. Jessy bilang pundaknya pegal. Ini harus segera di tangani langsung oleh ahlinya atau nanti tulang di pundak Jessy akan bergeser. Carikan yang paling berpengalaman!” ucap Gerald begitu panggilan tersambung dengan ibunya. Dan selesai membagi informasi tersebut Gerald langsung mematikan panggilan tanpa memberi kesempatan pada sang ibu untuk bicara terlebih dahulu. Dia anak yang sangat sopan sekali bukan? Tentu saja.
***
__ADS_1