
Jessy seperti sedang berjalan di atas tumpukan ranjau saat Gerald benar-benar membawanya pulang ke hadapan keluarga besarnya. Dia yang sudah mati-matian mencari alasan pada akhirnya tetap datang ke rumah ini setelah Gerald mengancam akan menidurinya yang kala itu mereka sedang berada di dalam mobil. Sebenarnya tidak ada yang salah sih karena status mereka sekarang telah sah sebagai suami istri. Akan tetapi Jessy belum siap, apalagi mereka menikah dengan sangat mendadak. Jadi Jessy tidak hanya belum siap secara lahir batin, tapi juga belum siap secara akal sehatnya. Kalian tahu sendiri lah betapa gilanya laki-laki satu ini.
"Kak Gerald, kenapa wajah istrimu dan wajah sekertarismu sangat mirip ya? Apa mereka kembar?" tanya Flowrence sambil menatap lekat ke arah sepupunya yang pulang bersama seorang wanita cantik di sisinya. Namun aneh, Flowrence merasa tidak asing dengan wanita tersebut. Makanya dia langsung menanyakannya untuk memastikan apakah dia salah lihat atau tidak.
"Ya," jawab Gerald singkat.
"Sayang, wanita itu memang adalah sekertarisnya Gerald. Dan sekarang mereka sudah resmi menikah!" timpal Barbara menjelaskan.
"Oh, begitu ya, Bi. Pantas saja wajah mereka mirip, ternyata karena satu orang. Hmmm,"
Semua orang tertawa melihat kelakuan Flowrence. Namun, hal berbeda terjadi pada Jessy yang kini tengah berdiri kaku saat tangan Gerald tak henti mengelus-elus pinggangnya. Sungguh, Jessy benar-benar sangat ingin menghajar pria cabul ini kemudian menendangnya jauh dari hadapannya. Bisa-bisanya ya Gerald berbuat seperti ini di hadapan keluarga besarnya sendiri. Kelewatan.
"Kalau suka bilang saja suka, tidak perlu di tahan-tahan," bisik Gerald saat Jessy terus menyentuh tangannya agar jangan berhenti mengelus pinggang.
Tuhan, sebenarnya racikan apa yang telah kau campurkan saat membuat Gerald? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikirannya. Bagaimana mungkin dia berkata sepercaya diri itu di saat aku sendiri begitu ingin dia menghentikan kemesumannya? Tolong aku, Tuhan. Aku mohon ....
Gabrielle dan ibunya saling lirik saat mereka mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Jessy. Mereka cukup maklum kalau wanita ini terlihat stress menghadapi kegilaan seorang Gerald yang memang tidak ada obat. Jangankan Jessy, keluarga besarnya saja setengah jarang bicara dengan kulkas dua puluh pintu ini. Karena selain sesak nafas, juga akan menimbulkan efek frustasi dan juga stress. Namun, Gerald paling tidak suka bicara dengan Flowrence dan Elea. Dia terkesan bicara singkat dan suka menghindar setiap dua wanita mematikan ini muncul. Dan ya, yang kalian pikirkan benar kalau Flowrence dan Elea adalah pawang dari manusia beku ini.
"Apa kau buta?"
Semua orang langsung melihat ke arah Gerald. Mereka bingung pada siapa pertanyaan itu di tujukan.
"Aku pikir kau akan menikah dengan salah satu dari mereka," sahut Bern.
"Dia salah satunya," ucap Gerald.
"Oh,"
__ADS_1
Karl menyenggol lengan kakaknya pelan begitu melihat aura tak enak muncul dari tatapan mata Gerald. Selalu saja seperti ini. Gerald dan kakaknya seakan selalu memanas setiap kali mereka bertemu.
"Jessy, kemari sayang. Biar Nenek perkenalkan kau secara resmi pada semua orang. Kalau kita menunggu balok es itu bicara, sampai kiamat pun keluarga kami tidak akan mendapat kejelasan tentang statusmu di sini. Oke?" ucap Cleo melerai nuansa tak enak di rumah ini. Dia lalu mengkomat-kamitkan bibir saat Gerald tak membiarkannya membawa Jessy.
"Dia istriku. Apa Nenek menginginkan Jessy sebagai pengganti Kakek?"
Uhuuk uhuukk uhuukkk
Arion yang sedang menikmati cemilan langsung tersedak mendengar perkataan Gerald. Dia lalu menatap wajah semua orang yang terlihat datar ketika Gerald mendapat satu pukulan keras di wajahnya. Sungguh, Arion tidak mengerti kenapa Gerald suka sekali mencari gara-gara pada ibunya. Dia sampai heran sendiri melihatnya.
"Yang bilang kalau Jessy adalah pelayanmu siapa, Gerald Thompson. Ck, kau ini ya. Bisa tidak sih bicara serius sedikit. Nenek kan bilang kalau Nenek ingin memperkenalkan Jessy pada semua keluarga besar kita. Kenapa kau malah beranggapan kalau Nenek ingin merebut Jessy darimu?" amuk Cleo sambil memelototkan mata ke arah Gerald yang masih saja tak mau melepaskan Jessy.
"Bos, sudahlah. Biarkan Nenek ....
"Bos?"
Brengsek!
"Aku tahu kau sedang memakiku di dalam hati," bisik Gerald. Sungguh, dia tidak paham mengapa Jessy berani menggodanya secara terang-terangan dengan cara menatapnya tanpa kedip. Apa iya setidaktahan itu Jessy ingin segera di peluk? Wahhh, agresif sekali dia.
"Bos Gerald!"
Saat semua orang sedang asik memperhatikan Gerald dan Jessy, Rooney datang melapor. Hal ini langsung membuat fokus semua orang teralihkan. Gerald yang melihat Rooney hanya diam tak bersuara langsung paham bahwa ada hal penting yang hanya boleh di bicarakan oleh mereka berdua saja. Dia kemudian menoleh ke arah sang Nenek, menatapnya datar kemudian mengangguk samar.
"Pergi dan uruslah dulu. Jessy biar Nenek yang jaga!" ucap Cleo dengan raut wajah yang sangat serius.
"Bos, em maksudku Gerald, kau mau pergi kemana?" tanya Jessy panik melihat Gerald yang ingin pergi.
__ADS_1
"Memeriksa apakah ranjang kita sudah siap di gunakan untuk bertempur atau belum," jawab Gerald asal sembari melenggang keluar bersama Rooney.
Jessy? Jangan di tanya lagi. Warna wajahnya berubah dari yang berwarna merah menjadi biru pucat. Malu, dia benar-benar sangat malu. Apalagi sekarang seluruh keluarga Gerald tengah menatapnya sambil menahan senyum. Sudah pasti mereka sedang membayangkan sesuatu yang tidak-tidak setelah Gerald menjawab dengan kata-kata yang sangat luar biasa frontal.
"Kak Jessy, jangan malu. Kalau kau malu, kau pasti tidak akan berumur panjang setelah menjadi istrinya Kak Gerald!" ucap Flowrence.
"Flowrence benar, Nona Jessy. Sekarang kita semua adalah keluarga, jadi kau jangan merasa sungkan ataupun malu. Kita semua sudah tahu kok seperti apa kelakuan Gerald. Santai saja. Oke?" imbuh Rolland cukup bisa memahami beban mental yang tengah di tanggung oleh Jessy. Kasihan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Gerald sudah memilihnya, dan siap tidak siap Jessy memang harus siap menghadapi kegilaan sepupunya itu.
"Sudah-sudah. Mumpung beruang kutub itu sedang tidak ada di sini, maka aku akan memperkenalkan secara resmi kalau Jesslyn Ocana, atau adalah sekertaris Jessy, kini dia telah resmi bergabung dengan keluarga kita. Karena Jessy tak ingin pernikahannya dengan Gerald di ketahui oleh orang luar dulu, aku harap kalian semua bisa menghargai keputusannya. Cukup keluarga kita saja yang tahu kalau mereka telah menikah. Bisa 'kan?" ucap Cleo sembari menatap satu-persatu orang yang ada di sana.
"Selamat datang di keluarga barumu, Jessy. Jangan sungkan, kita bukan orang asing lagi," ucap Liona sembari mengangkat gelasnya ke atas. "Untuk bergabungnya Jesslyn Ocana di keluarga kita, mari beri dia sambutan yang sangat hangat. Cheers?"
"Cheers!"
Bern terus memperhatikan Jessy sambil dia menyesap minuman miliknya. Karl yang menyadari hal itupun kembali menyenggol lengan kakaknya. Dia lalu berbisik.
"Nona Jessy adalah miliknya Gerald, Kak. Sebaiknya kau jangan macam-macam atau Gerald akan menjadikanmu sebagai kelinci percobaan di laboratorium Grisi!"
"Hmmm,"
"Ciihhh, kau dan Gerald itu sama saja. Hanya ham hem ham hem setiap kali di ajak bicara. Menyebalkan!"
"Diamlah. Lebih baik kau urusi tujuanmu sendiri, jangan merecoki aku!" kesal Bern saat Karl tak henti mengganggunya.
Karl berdecak. Kakaknya memang sebelas duabelas dinginnya seperti Gerald. Tidak asik.
Hmmm, aku sedikit tidak yakin Gerald berani menjatuhkan pilihannya pada wanita seperti Jesslyn. Dia lemah. Apakah mungkin wanita ini mampu menghadapi banyaknya musuh yang terus mengincar nyawanya Gerald? Menggelikan.
__ADS_1
*******