
Jika di perusahaan ada Jessy yang hampir gila karena menghadapi sikap Gerald, di kediaman keluarga Thampson kini tengah terjadi kegaduhan yang di sebabkan oleh dua orang wanita cantik. Siapa lagi kalau bukan Barbara dan ibu mertuanya, Cleo. Setelah siang tadi Gerald resmi menikahi seorang wanita, Barbara langsung mengajak ibu mertuanya untuk pergi berbelanja ke supermarket. Dia berencana mengundang seluruh keluarga besar untuk makan malam di rumahnya guna memanjatkan syukur karena Gerald telah menyatakan diri sebagai pria yang benar-benar normal.
"Bu, malam ini semua orang akan datang 'kan?" tanya Barbara sambil memotong sayuran. "Aku sudah tidak sabar ingin segera memberitahu mereka semua kalau Gerald itu tidak belok. Dan aku jamin mereka semua pasti akan sangat kaget begitu tahu siapa yang menjadi istrinya. Benar tidak?"
"Hmmm, jika tidak ada kendala apapun sih harusnya semua orang bisa hadir di sini. Terlebih lagi ini adalah acara yang sangat penting di keluarga kita. Ibu yakin mereka semua pasti akan setor muka," jawab Cleo dengan sangat yakin.
"Semoga saja ya, Bu. Ahhh, rasanya sungguh lega sekali karena sekarang Gerald sudah menikah. Akhirnya ya, Bu. Sebentar lagi aku akan segera memiliki cucu setelah Gerald dan Jessy ....
Cleo dan Barbara tertawa terbahak-bahak saat membicarakan tentang hal-hal panas yang akan dilakukan oleh Gerald dan Jessy. Sungguh, mereka berdua adalah orang yang paling bahagia atas pernikahan kulkas dua puluh pintu itu. Setelah di buat ketar-ketir akan gosip yang menyebutkan kalau pewaris keluarga Thampson adalah penyuka sesama jenis, akhirnya kini tuduhan tersebut bisa terbantahkan. Sayangnya pernikahan Gerald dan Jessy belum di publikasikan di hadapan media, jadi Cleo dan Barbara belum bisa pamer pada orang-orang. Terutama Nyonya Saskia, ibunya Vivian. Humm.
Sementara itu di ruang tamu terlihat Arion dan Vrey yang sedang sibuk dengan bidak catur di tangan masing-masing. Tak berapa lama kemudian mereka sama-sama menoleh ke arah dapur ketika mendengar suara tawa yang begitu heboh dari arah sana.
"Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh kedua wanita itu, Ayah? Heboh sekali," tanya Arion sembari menatap sang ayah dengan raut wajah keheranan.
"Ayah mana tahu, Rion. Kan sejak tadi Ayah duduk di sini bersamamu," jawab Vrey. "Sudah, jangan hiraukan apa yang sedang mereka lakukan di dapur. Bukankah mendengar suara tawa mereka itu jauh lebih baik ketimbang harus mendengar suara istri dan Ibumu ketika sedang mengomel? Jadi biarkan saja. Mari kita fokus pada permainan catur ini!"
"Ayah benar juga ya. Hiii, semoga saja mereka tidak ada yang datang mengacau," sahut Arion seraya bergidik ngeri.
Namun, terkadang kenyataan tidaklah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Belum ada lima menit Arion memanjatkan doa agar ibu dan istrinya tidak datang mengacau, kini kedua wanita mengerikan itu sudah berdiri di sebelahnya sambil membawa senjata para koki, pisau dan talenan. Vrey yang pertama kali menyadari kedatangan kedua wanita ini hanya bisa mend*sah pasrah saat Cleo menggerakkan senjata yang ada di tangannya. Seketika nyali Vrey langsung menciut melihat kilatan pisau tersebut.
"Ayah, kenapa berhenti. Ayo cepat jalankan bidak milik Ayah," tanya Arion sambil terus memperhatikan bidak miliknya.
__ADS_1
"Ekhhmm, Arion. Sepertinya kita harus segera mengakhiri permainan catur ini," jawab Vrey seraya berdehem pelan. Dia kemudian berdiri, tersenyum kecil ke arah Cleo yang tengah mengangguk puas atas perkataannya.
Haih, kalau pawangku sudah seperti ini aku mana mungkin berani untuk terus melanjutkan permainan. Huhh, sayang sekali. Padahal tinggal satu langkah menuju kemenangan. Nasib-nasib.
"AAAA! Apa-apaan ini!" teriak Arion kaget saat ada yang menarik telinganya. Dia kemudian menoleh, merasa keki begitu tahu siapa yang tengah berdiri di sebelahnya.
"Apa, hem?" tanya Barbara. Dia melepaskan jeweran di telinga Arion kemudian bersedekap tangan. "Masih berani meminta Ayah untuk menjalankan bidak catur miliknya? Iya?"
"Sayang, bukankah tadi kau sedang asik tertawa bersama Ibu di dapur ya? Kenapa sekarang kau bisa ada di sini?" sahut Arion balik bertanya. Dia lalu mengelus-elus telinganya yang memerah. Panas juga jeweran istrinya, semacam sengatan binatang kelipan.
"Kenapa kau bilang? Heh!" ucap Barbara. "Bu, lihatlah kelakuan suamiku ini. Di saat kita berdua sedang berperang di dapur, suami-suami kita malah asik sendiri dengan para bidak catur ini. Aku jadi penasaran bagaimana reaksi mereka kalau bidak-bidak ini aku masak dengan bumbu balado. Sepertinya enak!"
"Setuju!" sahut Cleo dengan penuh semangat.
"Vrey, kau tahu bukan kalau hari ini Gerald dan Jessy telah resmi menikah?" tanya Cleo seraya mengelus dada Vrey menggunakan pisau yang dia bawa. Cleo membuat gerakan naik-turun, memberi tanda pada suaminya kalau sekarang dia sedang dalam mode serius.
"Tentu saja aku sangat tahu, sayang," jawab Vrey dengan tenang. "Lalu apa yang kau inginkan, hm?"
"Aku tahu kau sangat menyukai permainan catur. Akan tetapi aku seribu kali lebih yakin kalau kau itu lebih menyukai detak jantungmu jika di bandingkan dengan para bidak tak berguna itu. Aku benar 'kan?"
Tanpa banyak bertanya lagi Vrey langsung menggandeng tangan Cleo kemudian mengajaknya pergi ke dapur. Dia sudah sangat hafal dengan perangai istrinya ini, jadi Vrey memutuskan untuk cari aman dulu sebelum pisau itu tertancap di dadanya. Biasalah, Cleo ini kan jelmaan dari Ibu Nuwa Ou, si keturunan Christ Harrison, pendiri Organisasi Grisi. Kalian pasti tahu sendiri lah ya tentang garis keturunan keluarga ini.
__ADS_1
"Jadi, Arion. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Masih ingin melanjutkan permainan ini atau pergi menyusul Ayah dan Ibu ke dapur. Hem?" tanya Barbara sembari menepuk-nepuk talenan di tangannya. Dia lalu menyeringai ketika melihat Arion yang hanya diam sambil mengedipkan mata. "Satu ....
Wiiinngggg
Secepat kilat Arion langsung pergi melesat menuju dapur sebelum Barbara selesai menghitung sampai ke angka tiga. Bokongnya terlalu sayang jika di biarkan menerima pukulan dari talenan yang di bawa oleh istrinya itu. Dan ... ya. Sesuai dengan namanya, Barbara, kelakuan istrinya itu sangatlah bar-bar dan berbahaya. Padahal dulu Arion mengenal Barbara sebagai seorang gadis yang lembut dan juga penyayang. Siapa yang akan menduga kalau Barbara langsung menunjukkan sikap aslinya begitu mereka menikah. Ingin menyesal, tapi percuma karena Arion sangat mencintainya. Jadi ya sudah, dia terjebak dalam labirin cinta bersama Barbara-nya.
"Ibu, apa yang harus aku dan Ayah lakukan di sini?" tanya Arion setelah berdiri di samping sang ayah.
"Kupas semua bawang merah itu," jawab Cleo sambil memasukkan cabai ke dalam blender.
"Bawang merah?"
Matilah. Kenapa Ibu harus memberikan tugas untuk mengupas kulit bawang jahat itu sih? Memangnya di sini sudah tidak ada pekerjaan yang lain apa?
Cleo tampak menyeringai ketika mendapati suami dan anaknya terlihat enggan melakukan tugas yang dia beri. Dia tentu sangat tahu kalau Vrey dan Arion sangat amat alergi dengan yang namanya bawang merah. Kenapa begitu? Karena mereka akan di buat menangis bombai oleh rasa pedas yang berasal dari tubuh si bawang jahat itu sendiri.
"Apalagi yang kalian tunggu. Ayo cepat kupas semua bawang merah itu karena aku dan Ibu akan memakainya sebagai bumbu," ucap Barbara mendesak suami dan juga ayah mertuanya. Dia melakukan hal ini karena sebelumnya sudah bersekongkol dengan sang ibu mertua untuk mengerjai keduanya. Barbara adalah contoh istri dan menantu yang sangat baik bukan? Hehe.
"Sayang, apa tidak ada bawang lain yang lebih ramah lingkungan?" tanya Arion memelas.
"Tidak, itu sudah yang paling rendah kadar bahayanya. Sudah sana cepat lakukan!" jawab Barbara sambil menahan tawa. Dia lalu berpura-pura membuka kulkas untuk mengambil sesuatu. Biasalah, alibi. 😂
__ADS_1
Dan pada akhirnya, Vrey dan Arion dengan sangat terpaksa mulai menguliti si bawang jahat itu. Hingga tak berapa lama kemudian seisi dapur sudah di penuhi oleh suara orang yang sedang berdesat-desut menahan ingus di lubang hidung masing-masing. Ya, kalian benar. Vrey dan Arion menangis gara-gara ulah si bawang jahat. Kasihan sekali. 😂
*******