Marriage Contract With My Secretary

Marriage Contract With My Secretary
Titan


__ADS_3

Karena penasaran diminta agar mengirimkan tukang pijat ke kantor, Barbara dan ibu mertuanya memutuskan untuk datang berkunjung. Mereka ingin memastikan apakah Gerald telah melakukan kekerasan pada Jessy atau tidak. Namun, di sini yang di maksud kekerasan oleh mereka bukan semacam smackdown ataupun cekikan ya bestie. Tapi lebih ke kekerasan ranjang mengingat kalau Gerald dan Jessy adalah pasangan pengantin baru. Hehehe.


“Ara, menurutmu semalam Gerald memainkan berapa ronde sampai dia membuat Jessy pegal-pegal?” tanya Cleo sambil menatap serius ke arah Barbara. Saat ini mereka sedang berada di dalam lift menuju lantai paling atas dimana ruangan Gerald dan Jessy berada.


“Tiga mungkin. Atau malah lebih dari lima. Dulu saat aku dan Arion baru menikah, kami melakukannya sampai tidak terhitung berapa kali di malam pertama. Dan besar kemungkinan Gerald bisa lebih beringas dari ayahnya mengingat kalau dia itu jelmaan titan,” jawab Barbara ala kadarnya. Catat ya bestie, ala kadarnya. Ala kadar yang bisa membuat orang berhenti bernafas. Benar tidak?


“Titan-titan begitu Gerald adalah putramu, Ara. Kau mana boleh mengatainya seperti itu!”


“Jangan lupa kalau Gerald adalah cucunya Ibu juga,”


“Astaga iya.”


Cleo menepuk keningnya sendiri saat tersadar kalau dia juga menitipkan darah di tubuhnya Gerald. Yang artinya Cleo barusaja mengatai dirinya sendiri sebagai titan. Lawak sekali bukan?


Ting.


Pintu lift terbuka. Dia dan Barbara sama-sama melangkahkan kaki keluar dari sana. Sambil membalas sapaan dari para karyawan, mereka berjalan menuju ruangannya Gerald. Karena di meja tempat Jessy biasanya duduk tidak ada orang, tanpa pikir panjang Cleo dan Barbara langsung masuk. Mereka lalu mengernyitkan kening saat tak mendapati keberadaan si kulkas dua puluh pintu.


“Manusia batu itu pergi kemana ya, Bu? Tidak mungkinkan Gerald menonton Jessy yang sedang di pijit?” tanya Barbara keheranan.


“Menurut Ibu sih itu mungkin saja terjadi, Ara. Kau lupa ya kalau Gerald itu otaknya agak rada-rada miring?” jawab Cleo dengan santainya.


Mendengar ibu mertuanya menyebut kalau Gerald rada miring Barbara pun langsung memicingkan kedua matanya. Dia jelas tidak terima ada yang berkata buruk tentang putranya. Cleo yang tengah memperhatikan ruangannya Gerald langsung mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang begitu dia menyebut kalau cucunya itu sedikit agak miring. Dan di detik selanjutnya Cleo tersadar kalau dia barusaja mengatakan sesuatu yang salah. Sambil meringis karena merasa bersalah, Cleo berbalik kemudian menatap Barbara yang ternyata tengah menatapnya sengit. Tak mau membuat menantunya marah, Cleo buru-buru meminta maaf.


“Hehe, Ara. Ibu minta maaf ya. Ibu tidak sengaja bicara seperti itu tentang Gerald kita. Jangan marah, ya?”


“Ibu, Ibu tahu tidak kalau Arion itu sebenarnya adalah pria idiot yang agak setengah tidak waras?” tanya Barbara dengan cetus.

__ADS_1


“Yakkk, Barbara. Kenapa kau mengatai putra Ibu seperti itu. Arion itukan suamimu, tega sekali kau menghinanya!” omel Cleo tak terima mendengar putranya di sebut idiot oleh menantunya sendiri.


“Nah, marahkan? Itu yang aku rasakan saat Ibu mengatai Gerald. Sekarang kita impas ya, Bu,” sahut Barbara yang dengan sengitnya membalas perkataan sang ibu dengan cara menghina balik putra kesayangannya, yang tak lain adalah suaminya sendiri, ayah kandungnya Gerald.


Bibir Cleo tampak mengerucut saat dia kalah telak di tangan menantunya yang galak ini. Saat suasana sedang tegang-tegangnya, Jessy keluar dari dalam kamar pribadi yang ada di ruangan kerja Gerald. Melihat hal itupun ketegangan di antara Cleo dan Barbara mereda seketika. Mereka kemudian menghampiri Jessy lalu masing-masing menggaet sebelah tangannya.


“Ibu, Nenek Cleo. Kapan kalian datang?” tanya Jessy sambil menatap bergantian ke arah ibu dan neneknya Gerald.


Haihhh, kumat lagi mereka. Baru juga aku merasa lega karena tidak ada Gerald, kenapa mereka malah muncul? Sepertinya Tuhan memang tidak akan mengizinkanku bisa bernafas dengan tenang. Nasib-nasib.


“Kami barusaja datang, sayang. Iyakan, Bu?” jawab Barbara seraya memberi kode lewat kedipan mata pada sang ibu.


“Ibumu benar, Jessy. Kami barusaja sampai di sini. Tapi karena suasananya sepi jadi kami sedikit memanaskan keadaan dengan saling menghina anak kami. Begitu ceritanya,” sahut Cleo.


Jessy mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat mendengar perkataan aneh yang keluar dari mulut neneknya Gerald. Saling menghina anak mereka? Maksudnya ibu mertuanya menghina ayah mertuanya dan neneknya Gerald menghina Gerald? Astaga, sebenarnya ada apa dengan keluarga ini. Kenapa sikap dan tingkah laku mereka selalu membuat Jessy gagal memahami? Berat, ini benar-benar berat.


“Oya, Jess. Gerald bilang bahumu pegal-pegal. Kenapa? Apa karena aktifitas malam kalian terlalu beringas, hem?” tanya Barbara sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


“Nah, wajahmu memerah. Berarti yang Ibu katakan barusan adalah benar kalau kau dan Gerald telah melewati malam yang sangat panas dan juga bergejolak. Iyakan?”


“A, ti-tidak seperti itu, Ibu. Sebenarnya aku ….


“Sudah tidak apa-apa. Ibu sangat maklum dengan apa yang kalian lakukan. Jadi kau tidak perlu merasa malu-malu begini karena dulu Ibu dan Ayahnya Gerald juga melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian itukan barusaja menikah, jadi wajar saja kalau kau kelelahan seperti ini. Iyakan, Bu?” ucap Barbara menyela perkataan Jessy.


“Benar, Jessy. Kita bertiga inikan sama-sama wanita yang sudah menikah, jadi kau tidak usah malu untuk menceritakan kegiatan panasmu dengan Gerald. Tenang saja. Nenek dan Ibu mertuamu bukan orang kolot yang buta dengan gejolak birahi. Jadi santai saja. Oke?” sahut Cleo dengan penuh semangat. Di pikirannya sekarang, semakin pegal tubuhnya Jessy maka kesempatannya untuk segera memiliki cicit akan lebih cepat terlaksana. Benar tidak teman-teman?


Jangan di tanya bagaimana Jessy sekarang. Dia sudah mau menangis karena frustasi menghadapi kegilaan ibu mertua dan juga neneknya Gerald yang entah kenapa selalu saja salah paham kepadanya. Dan yang lebih menyedihkannya lagi adalah kedua wanita ini tak pernah mempercayai ataupun mendengarkan penjelasan Jessy. Ibu dan neneknya Gerald hanya peduli dengan presepsi mereka sendiri yang selalu beranggapan kalau Gerald dan Jessy telah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan ranjang. Padahal kan semua itu tidak benar. Jessy saja sudah pingsan duluan saat Gerald ingin menyentuhnya, lalu bagaimana bisa kedua wanita ini begitu gamblang menjerumuskan pikiran mereka menuju hal-hal yang berbau erotis?

__ADS_1


“Ngomong-ngomong kenapa kau keluar dari kamar ini, Jess. Apa mereka sudah selesai memijitmu?” tanya Cleo penasaran.


“Sudah, Nenek,” jawab Jessy lesu. Entah apalagi kali ini, perasaannya mendadak jadi tidak enak.


“Kalau begitu gantian Nenek saja ya yang dipijit. Tidak apa-apakan kalau Nenek masuk ke kamar pribadi kalian?”


Nah, benarkan?


Sambil tersenyum menahan kesal, Jessy mempersilahkan Nenek Cleo untuk masuk ke ruangan tempat tadi dia dipijat. Setelah itu Jessy menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya dengan kuat pula. Jessy lupa kalau di sebelahnya masih ada satu lagi wanita yang siap mengguncang mentalnya.


“Apa selelah itu menjadi istrinya Gerald?” tanya Barbara penuh simpatik.


“Hah?”


Jessy membeo. Dia kemudian menoleh, baru tersadar kalau ibu mertuanya masih ada di sana. Menggunakan kapasitas otaknya yang sudah hampir membeku, Jessy memikirkan cara untuk menutupi rasa malunya. Dia lalu terpikir mengajak ibu mertuanya pergi ke kantin untuk membeli makanan.


“Bu, aku lapar. Ibu mau tidak menemaniku makan di kantin?” tanya Jessy.


“Kantin?”


Jessy mengangguk. Dia menelan ludah melihat ekpresi aneh di wajah ibu mertuanya.


Apalagi ini, Tuhan?


“Tidak-tidak. Ibu tidak rela kau makan di kantin. Ingat ya sayang. Mulai sekarang kau hanya boleh makan di restoran yang menjual makanan sehat saja. Kau itukan sudah menikah, jadi harus pandai-pandai menjaga pola makan agar Gerald junior bisa tumbuh dengan sehat. Oke?”


Setelah berkata seperti itu Barbara langsung mengajak Jessy menuju restoran pilihannya. Dia tidak akan membiarkan menantunya makan makanan yang tidak jelas. Kan tidak lucu kalau bibitnya Gerald sampai gagal tumbuh gara-gara Jessy makan sembarangan. Iyakan?

__ADS_1


Tuhan, cabutlah nyawaku sekarang juga. Cabuuttttt!!


***


__ADS_2