
Jessy memijit pelan pinggiran kepalanya sembari menunggu bosnya yang sedang pergi ke toilet. Sungguh, dia benar-benar di buat malu hari ini. Bagaimana tidak! Bosnya yang dingin itu dengan begitu percaya diri datang ke rumah sakit guna menemui dokter spesialis untuk memeriksakan gejala penyakit yang dia derita. Sebenarnya tidak ada masalah sih dengan hal tersebut. Akan tetapi yang menjadi masalah dan membuatnya harus rela menahan malu adalah adegan yang terjadi di dalam ruang periksa.
"Aku benar-benar bisa gila menghadapi beruang kutub itu. Bagaimana bisa dia menceritakan hal konyol di hadapan seorang dokter kemudian pergi begitu saja? Dia itu sebenarnya bodoh atau bagaimana sih. Heran," gerutu Jessy tak habis pikir.
Apa kalian pikir saat bosnya melakukan konsultasi Jessy di biarkan menunggu di luar ruangan? Ohoho, tentu saja tidak. Dengan gaya bicaranya yang dingin itu, Jessy di buat agar ikut masuk ke dalam ruang periksa. Tujuannya? Tentu saja adalah untuk mendengarkan segala keluhan tidak masuk akal yang mana membuatnya harus rela menanggung malu.
Flashback
"Sudah beberapa waktu ini aku mengidap suatu hal aneh di kepalaku, dokter. Untuk waktu tepatnya sendiri aku lupa, tapi yang jelas aku tahu ada yang tidak beres. Tolong kau carikan obat mujarab yang bisa membuatku kembali seperti semula," ucap Gerald dengan raut wajah yang sangat serius. Saking seriusnya, dia terus menatap dokter dengan begitu intens, yang mana membuat dokter tersebut sampai salah tingkah karenanya.
"Em maaf Tuan Gerald, bisa tolong jelaskan seperti apa keanehan yang anda rasakan? Ini agar saya lebih mudah mendiagnosis jenis penyakit yang anda derita," tanya dokter.
"Jessy?"
"Ya?"
Jessy membeo saat namanya tiba-tiba di sebut. Dia bingung, tidak paham kenapa namanya di panggil saat dokter bertanya pada bosnya.
"Bos, kenapa anda memanggil saya?" tanya Jessy kebingungan.
"Dokter bertanya padamu."
Gerald malas menjelaskan. Mood-nya masih belum membaik setelah kejadian di kantor tadi.
"O-oh, baiklah. Kalau begitu saya akan menjawab."
Dasar Gerald bajingan. Bisa-bisanya kau menumbalkan aku untuk menjelaskan penyakit aneh yang kau derita. Huft.
"Ekhemm, begini dokter. Bos Gerald akhir-akhir ini sering mengalami hal aneh setelah bertemu dengan seorang gadis jelek. Pikirannya sering menjadi tidak fokus dan matanya juga jadi sulit di kedipkan jika beliau sudah menatap wajah gadis jelek tersebut. Mohon kiranya dokter menganalisa jenis penyakit apa yang sedang di derita oleh bos saya. Apakah penyakit tersebut sangat serius atau tidak, sekalian juga pengobatan apa yang harus beliau lakukan. Begitu kan, bos?" ucap Jessy menjelaskan dengan rinci tanda-tanda jatuh cinta yang di rangkum dalam sebuah pengakuan tentang penyakit.
Merepotkan sekali bukan?
"Ya."
Gerald menjawab singkat. Dia cukup puas mendengar cara Jessy menjelaskan keanehan di dirinya. Berpikir kalau sekertarisnya yang jelek ini begitu memahami apa yang dia rasakan.
Semoga saja kau mengerti maksud sebenarnya dari yang aku ucapkan barusan, dokter. Bosku ini tidak sakit apapun, dia hanya tidak menyadari kalau dirinya sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Astaga, aku bisa gila.
"Nona Jessy, saya paham maksud perkataan anda. Dan Tuan Gerald, apa anda sudah mengungkapkan keanehan tersebut pada gadis jelek itu?" tanya dokter sambil menahan senyum.
"Sudah, dan dia tidak peka. Selain jelek, dia juga bodoh," jawab Gerald sarkas.
"Benarkah? Apa ini yang membuat anda selalu terpikirkan tentangnya?" tanya dokter lagi.
__ADS_1
"Ya."
"Kalau begitu bagaimana kalau anda mencoba untuk kembali mengatakannya lagi. Siapa tahu di yang kedua gadis jelek tersebut sudah paham dan bisa mengerti maksud anda."
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Gerald. Namun sedetik kemudian, Jessy dan dokter dibuat tercengang heran oleh tindakannya. Ya, seperti biasa. Gerald langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa.
"Dokter, tolong maafkan kelakuan bos saya. Beliau seperti itu karena tidak sadar sedang jatuh cinta. Saya harap anda bisa maklum," ucap Jessy sambil mengusap tengkuk belakangnya. Ingin rasanya dia menjitak kepala bosnya itu agar bisa bersikap normal di hadapan orang lain.
"Tidak apa-apa Nona Jessy, saya paham. Orang sibuk seperti Tuan Gerald wajar kalau tidak menyadari hal-hal seperti itu. Saya kira beliau itu sedang sakit parah, ternyata keanehan yang beliau rasa datangnya dari seorang gadis. Tolong nanti anda sampaikan pada Tuan Gerald kalau beliau baru akan sembuh setelah mengungkapkan semuanya pada gadis jelek itu. Dan jika beliau bertanya apa obatnya, jawab saja tidak ada. Beliau sehat, hanya hati dan perasaannya saja yang sedikit kurang baik," ucap dokter sambil tersenyum kecil.
"Baik, dokter. Kalau begitu saya permisi."
"Iya, Nona. Silahkan."
Flashback now
Karena Jessy terlalu lama melamunkan kejadian saat di ruang periksa tadi, dia sampai tidak menyadari kalau bosnya sudah kembali. Jessy memekik kaget saat dia tidak sengaja menoleh dan mendapati wajah bosnya berada dalam jarak yang cukup dekat dengan wajahnya.
"Aaaaaaa!"
"Kukira kau mati."
Setelah mengucapkan kata yang langsung membuat sekertarisnya diam menganga, Gerald segera menyalakan mesin mobil kemudian keluar dari parkiran rumah sakit. Dia sama sekali tidak mempedulikan Jessy yang masih terjebak dalam reaksi terkejutnya.
"A-apa? Bangkai?"
Jessy mengerjapkan mata. Bolehlah dia merobek mulut sadis milik bosnya ini? Dia yang membuatnya kaget, dia juga yang mengatainya seperti ini. Jessy jadi heran sebenarnya saat Tuhan menciptakan bosnya, campuran apa yang sudah di masukkan ke dalam adonan sampai-sampai bisa terlahir seorang manusia dengan lidah pahit seperti bosnya ini. Mungkinkah Tuhan mencampurkan sianida ke dalamnya dengan tujuan agar sekalinya bosnya bicara, maka orang yang mendengar akan langsung mati di tempat. Benar-benar sangat menjengkelkan.
"Apa kata dokter?"
Sebelum menjawab, Jessy menarik nafas panjang terlebih dahulu. Setelah itu dia tersenyum. Senyum yang di paksakan tapi ya.
"Dokter bilang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit anda, bos. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi keanehan yang anda rasakan adalah dengan berkata jujur pada gadis jelek yang anda maksud. Begitu katanya," jelas Jessy dengan sangat sabar.
Ciiittttt
Kalau saja Jessy tidak memakai seatbelt dan sigap akan kegilaan bosnya, mungkin kepalanya akan mengalami benjol besar karena terantuk dasbor mobil saat sang bos mengerem tiba-tiba. Hari ini kesabarannya benar-benar di uji. Tapi mau tidak mau Jessy harus legowo menerimanya. Demi uang.
"Simpel sekali. Aku rasa dia bukan dokter sungguhan. Buang-buang waktu saja," keluh Gerald yang merasa tidak puas akan analisa dokter. Yang dia mau sebenarnya adalah kepekaan Jessy, bukan pesan tak berguna seperti ini. Gerald berharap kalau dokter bisa mengerti dengan membujuk Jessy agar lebih peka terhadapnya. Tapi ya sudahlah, tidak ada gunanya berharap lebih pada dokter abal-abal itu. Percuma.
"Lalu anda ingin dokter yang bagaimana bos? Dokter yang tadi itu sudah yang terbaik di bidangnya. Apa perlu saya menghubungi dokter dari luar negeri lalu meminta mereka datang ke negara kita untuk memeriksa anda?" tanya Jessy dengan sangat sabar bicara sambil tersenyum.
"Tidak!"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."
Dan mobil pun kembali melaju dengan Jessy yang terus menarik dan membuang nafas perlahan. Ini ujian, jadi apapun yang terjadi Jessy harus kuat menghadapinya. Benar begitu kan teman-teman? πππ
πππππππππππππππππ
Hai gengss, untuk kalian yang mau ikut giveaway silahkan vote dan bom hadiah di setiap episode ya. Penilaian akan di mulai hari ini dan akan di putuskan di akhir bulan. Dan hadiah untuk para pemenang akan di lampirkan di bawah.
π’SYARAT!!
-WAJIB LIKE DAN COMMENT DI SETIAP BAB (BUKTI AKAN DI SS)
-WAJIB VOTE DAN BERI HADIAH UNTUK EMAK(HEHEHE, SEIKHLASNYA YA, NGGAK DI PAKSA)
π’WARNING!!!
-DI LARANG SPAM HADIAH DI AKHIR MINGGU DAN AKHIR BULAN. JIKA KETAHUAN, MAKA HADIAH AKAN DI BERIKAN PADA PESERTA GIVEAWAY YANG LAIN. TERIMA KASIH.
Juara 1
- Pulsa 100rb+300koin
Juara 2
-Pulsa 75rb+200koin
Juara 3
-Pulsa 50rb+100koin
Juara 4
-Pulsa 25rb+50koin
Juara 5
-Pulsa 10rb+50koin
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1