
Setelah membersihkan tubuhnya dari debu dan keringat yang membandel, tiba-tiba saja Gerald terpikir untuk mendatangi tempat tinggal sekertarisnya. Dia penasaran apa yang tengah dilakukan wanita itu di malam-malam begini.
"Bos, anda mau pergi kemana?" tanya Rooney.
"Keluar," jawab Gerald singkat.
"Apa perlu saya untuk menemani anda?"
"Aku bukan bayi satu bulan yang butuh babby sitter."
Paham kalau bosnya sedang ingin sendirian, Rooney pun tak lagi bertanya. Dia hanya berdiri diam menatap kepergian mobil sport hitam yang dilajukan dengan sangat cepat oleh bosnya. Setelah bayangan mobil tersebut menghilang, Rooney langsung merogoh ponsel di sakunya. Dia menelpon seseorang.
"Bos Gerald pergi sendirian. Dia tidak ingin di ganggu, suasana hatinya sedang buruk. Kalian awasi saja dari jauh!" ucap Rooney dingin.
"Baiklah."
Klik. Panggilan terputus. Rooney kembali masuk ke dalam rumah setelah memastikan pengamanan untuk bosnya yang sangat irit bicara itu.
Di dalam mobil, Gerald yang tengah menyetir sambil mengelus kepala Simon terlihat begitu serius saat memikirkan sesuatu. Dia tidak mengerti kenapa dia bisa tertarik pada sekertarisnya yang jelek itu. Padahal jika di pikir-pikir, ada banyak wanita cantik dalam berbagai jenis penampilan yang jauh lebih menggoda jika di bandingkan dengan Jessy. Tapi anehnya Gerald malah tertarik pada wanita yang jelas-jelas tidak ada daya tariknya sama sekali.
"Simon, apa menurutmu otakku perlu untuk di periksa?" tanya Gerald bingung.
Guukk gukkk
Yang di tanya hanya menggonggong saja. Ya, lagipula Gerald juga sangat aneh. Simon itu kan binatang, dia mana bisa mengerti maksud dari pertanyaannya barusan. Ada-ada saja. Tapi itulah Gerald dengan segala keanehannya.
Tak berapa lama kemudian, sampailah Gerald di jalan yang menuju rumah sewa milik Jessy. Dia segera menepikan mobilnya tak jauh dari rumah yang di tinggali oleh sekertarisnya itu.
Apa yang sedang dia lakukan di depan pintu kamarnya? Sedang berharap langit memberinya uang kah?
Penasaran dengan apa yang dia lihat, Gerald memutuskan untuk keluar saja. Tak lupa juga dia membawa Simon bersamanya. Sambil terus menatap Jessy, satu-persatu Gerald menaiki anak tangga menuju depan kamarnya.
"Ruhmu bisa hilang di bawa setan kalau kau melamun di tengah malam begini!"
Jessy yang sedang melamun tersentak kaget saat mendengar kata-kata yang sudah sangat familiar di telinganya. Dia mendongak, tercengang melihat kemunculan makhluk yang selalu membuatnya sesak nafas setiap hari.
"Apa kau amnesia?" tanya Gerald dengan ekpresi datarnya.
"Y-ya?" sahut Jessy tergagap.
__ADS_1
"Tuli?"
Gleeekkk
"Bos, apa ini kau?" tanya Jessy memastikan. Rasanya sedikit mustahil kalau pria dingin ini bisa tiba-tiba muncul di depan kamar sewanya.
"Apa kau berharap kalau aku adalah malaikat yang datang untuk mencabut nyawa?" jawab Gerald sarkas.
"A-apa?"
Pertanyaan balik tersebut serasa seperti pedang samurai yang langsung menusuk tepat di jantung Jessy. Sekarang dia benar-benar percaya kalau makhluk yang sedang berdiri dengan raut datar di hadapannya adalah Bos Gerald, pria beku yang tak punya hati nurani setiap kali membuka mulut.
Kenapa dia lucu sekali dengan tampang bodohnya itu?
Baik Gerald maupun Jessy, mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Jika Jessy diam karena sedang menormalkan emosinya, lain halnya dengan apa yang tengah di pikirkan oleh Gerald. Dia diam karena sedang mengagumi raut bodoh yang di tercetak di wajah sekertarisnya. Di matanya itu sangat bodoh, tapi mampu membuat matanya tak berdekedip. Aneh bukan? Tentu saja itu sangat aneh.
"Bos, kenapa anda bisa ada di sini? Tersesat atau bagaimana?" tanya Jessy sambil menelan ludah saat dia menyadari kalau bosnya tidak datang seorang diri. Ada Simon, si anjing Pitbull yang sangat dia benci.
Sialan. Kenapa pria ini bisa keluar bersama anjingnya sih? Sudah tahu aku takut padanya, masih juga di ajak datang kemari. Dasar penjahat.
"Terserah aku mau ada di mana. Kenapa kau protes?"
Lagi-lagi pertanyaan Jessy di balas pertanyaan balik oleh Gerald. Dia merasa tersinggung karena kedatangannya di pertanyakan. Padahal jelas-jelas Gerald datang kemari karena ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Kenapa sekertarisnya tidak peka begini sih?
Tanpa mengatakan apa-apa, Gerald langsung melangkah pergi dari sana. Dia bukan malu atau apapun itu, tapi dia merasa kesal karena Jessy lebih tertarik untuk memperhatikan keberadaan orang lain ketimbang memperhatikan dirinya.
Dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat, Gerald masuk ke dalam mobil sambil menarik tali yang melingkar di leher Simon. Ingin rasanya dia mencongkel mata orang-orang yang sudah berani mengalihkan perhatian Jessy darinya. Coba saja tadi dia membawa senjata, Gerald pasti akan langsung membidikkannya pada orang-orang tersebut.
Brruuumm brruuumm .... nguengg
Secepat kilat, mobil Gerald langsung menghilang dari area lokasi tempat Jessy tinggal. Dia mengendarai mobil sambil mencengkram stirnya dengan kuat. Marah, Gerald marah. Dia terus saja menggeretakkan giginya dengan kuat.
"Sudah jelek, tidak peka pula. Harusnya kau itu merasa senang Jessy karena aku datang ke rumahmu. Tapi kenapa kau malah sibuk mengurus orang lain? Dasar bodoh!" omel Gerald yang marah tanpa sebab yang jelas.
Simon yang mendengar tuannya marah-marah hanya bisa diam mendengarkan. Andai bisa bicara, dia pasti akan memberitahu tuannya kalau di sini sekertaris Jessy tidaklah bersalah. Yang tidak peka adalah tuannya karena tidak bicara terus terang. Malah langsung pergi tanpa mengatakan apapun tadi. Tapi ya sudahlah. Ini bukan menjadi bagian Simon untuk ikut campur. Lebih baik dia diam saja daripada harus menjadi korban kekesalan tuannya.
Jessy masih di luar. Bagaimana kalau di sana benar-benar ada pria jahat yang ingin merampok rumahnya? Walaupun dia miskin, tapi di tubuhnya ada banyak organ yang bisa di jadikan uang. Tidak tidak, aku tidak boleh membiarkannya terkena bahaya. Dia adalah satu-satunya calon kandidat yang akan segera kawin kontrak denganku. Ibu dan Nenek pasti akan langsung menikahkan aku dengan Cristina jika Jessy mati. Lebih baik aku kembali saja ke sana untuk memastikan keamanan wanita tidak peka itu.
Tanpa berpikir dua kali, Gerald langsung memutar balik ke tempat tinggal Jessy. Benaknya mendadak di selimuti kekhawatiran yang cukup besar kepada sekertarisnya tersebut. Dan alhasil, sesampainya di lokasi tempat dia memarkirkan mobil tadi, Gerald hanya diam mengawasi dari kejauhan. Dia enggan untuk keluar, dia masih kesal. Jadilah Gerald menjaga Jessy dengan cara memperhatikannya dari dalam mobil. Matanya yang tajam terus menatap tak berkedip ke arah wanita sederhana yang masih betah duduk di depan pintu kamarnya. Hal tersebut terus berlangsung hingga hampir satu jam lamanya di mana akhirnya Jessy masuk dan mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
"Lihatlah, Jessy. Aku menjagamu sampai seperti orang bodoh. Harusnya kau itu peka. Tahu tidak!" ucap Gerald bermonolog dengan dirinya sendiri.
Dan Simon, dia hanya bisa menjadi pendengar setia dari semua ocehan tuannya yang terus menuduh kalau sekertaris Jessy adalah wanita yang tidak peka.
πππππππππππππππππ
Hai gengss, untuk kalian yang mau ikut giveaway silahkan vote dan bom hadiah di setiap episode ya. Penilaian akan di mulai hari ini dan akan di putuskan di akhir bulan. Dan hadiah untuk para pemenang akan di lampirkan di bawah.
π’SYARAT!!
-WAJIB LIKE DAN COMMENT DI SETIAP BAB (BUKTI AKAN DI SS)
-WAJIB VOTE DAN BERI HADIAH UNTUK EMAK(HEHEHE, SEIKHLASNYA YA, NGGAK DI PAKSA)
π’WARNING!!!
-DI LARANG SPAM HADIAH DI AKHIR MINGGU DAN AKHIR BULAN. JIKA KETAHUAN, MAKA HADIAH AKAN DI BERIKAN PADA PESERTA GIVEAWAY YANG LAIN. TERIMA KASIH.
Juara 1
- Pulsa 100rb+300koin
Juara 2
-Pulsa 75rb+200koin
Juara 3
-Pulsa 50rb+100koin
Juara 4
-Pulsa 25rb+50koin
Juara 5
-Pulsa 10rb+50koin
...πJangan lupa vote, like dan comment...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...