Marriage Contract With My Secretary

Marriage Contract With My Secretary
Operasi Yang Gagal


__ADS_3

Seharian ini wajah Jessy terlihat layaknya orang yang sudah tidak memiliki semangat untuk hidup lagi. Jujur, status baru yang kini di sandang oleh Jessy membuatnya seakan berpindah hidup ke dunia lain. Bayangkan saja. Dari statusnya yang hanya seorang sekertaris tiba-tiba saja berubah menjadi status seorang Nyonya dari pria yang memiliki kekuasaan besar. Gerald Haidar Thampson, mimpi apa Jessy sampai-sampai bisa menjadi istri dari seorang beruang kutub yang sangat irit bicara ini. Benar-benar di luar dugaan.


"Selamat sore, sekertaris Jessy. Bisakah kau membantuku meminta tanda tangan bos Gerald? Entah kenapa aku merasa sangat horor saat ingin masuk ke ruangannya. Jadi bisakan aku meminta bantuanmu? Sekali ini saja. Ya?" ucap seorang karyawan wanita memelas.


Jessy menghela nafas. Dia lalu menatap datar ke arah rekan kerjanya yang baru saja meminta agar dia memintakan tanda tangan pada suami barunya itu. Catat, suami baru. Dan itupun terjadi atas nama kontrak. Kesedihan mana lagi yang jauh lebih menderita di bandingkan dengan hal ini? Luar biasa. Sepertinya hidup Jessy tidak akan lama lagi. Hummm.


"Apa sehoror itu?" tanya Jessy.


"Hehe, mungkin hanya perasaanku saja. Akan tetapi sejak kalian kembali dari luar tadi, bibir bos Gerald terus saja menyunggingkan senyum tipis. Jujur saja, sekertaris Jessy. Seumur-umur aku bekerja di Group Thampson baru sekali ini aku melihat bos Gerald tersenyum seperti itu. Dan menurut rapat bersama para karyawan yang lain, jika bos Gerald menunjukkan gelagat yang tidak biasa itu tandanya dia sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Begitu,"


"Dan kalian bermaksud menumbalkan aku? Apa benar?"


"Hehee, maafkan aku, sekertaris Jessy. Hanya kau satu-satunya harapan kami. Tolong aku ya, please," ....


Jessy kembali menghela nafas. Dia kemudian berdiri sambil mengulurkan tangan meminta berkas dari rekan kerjanya. Jessy hanya bisa tersenyum pasrah ketika rekannya itu langsung berlari pergi begitu berkas berpindah tangan padanya.


"Apa mereka tidak tahu kalau yang sedang berada dalam suasana hati yang buruk adalah aku? Kalian tidak tahu saja kalau aku baru saja di jadikan istri oleh manusia yang kalian takuti. Ya Tuhan," keluh Jessy sesaat sebelum masuk ke ruangan bosnya. Upsss maksudnya ... suaminya.


Sementara itu Gerald yang baru saja menguping percakapan Jessy dengan seorang karyawan wanita langsung memasang ekpresi datar ketika istri kontraknya itu masuk ke dalam ruangan sambil membawa beberapa berkas di tangannya. Oh, yang kalian pikirkan benar. Gerald telah menempelkan alat penyadap di bawah meja kerja Jessy agar dia bisa memantau dengan siapa saja Jessy berbicara. Ya hitung-hitung ini adalah cara Gerald menujukkan perhatiannya pada wanita yang baru beberapa jam lalu menjadi istrinya. Dia seorang suami yang penuh cinta bukan?


"Selamat sore, bos. Ini ada beberapa berkas yang harus segera anda tanda tangani," ucap Jessy sembari meletakkan berkas yang di bawanya ke atas meja. Dia kemudian mundur ke belakang, menjaga jarak meski kini bosnya telah menjadi suaminya yang sah.


"Sepertinya lubang hidungmu membesar," celetuk Gerald.


"Maaf, bos. Lubang hidung saya membesar? Maksudnya apa ya?" tanya Jessy bingung. Cepat-cepat dia memeriksa apakah benar lubang hidungnya telah membesar atau tidak.


Sialan. Dia mengerjaiku ternyata.


"Jangan mengumpat. Aku tahu kau mengataiku sialan!" ucap Gerald sambil menandatangani berkas yang tadi di bawa oleh Jessy.


"Ekhmmm, maaf, bos. Lubang hidung saya baik-baik saja dan saya tidak mengatai anda!" sahut Jessy.

__ADS_1


"Siapa juga yang menanyakan apakah lubang hidungmu baik-baik saja atau tidak!"


"Tadi anda sendiri yang bilang kalau lubang hidung saya membesar,"


"Oh,"


Jessy menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan sangat perlahan. Benar-benar ya manusia satu ini. Seenaknya mengatai orang, sesingkat itu pula dia menjawab. Rasanya Jessy ingin sekali melubangi ubun-ubun pria ini.


"Kita sudah menikah. Kau tidak seharusnya menjaga jarak seperti ini!" ucap Gerald. Dia lalu menoleh ke arah Jessy sambil menaikkan satu alisnya ke atas. "Kenapa? Kau bau?"


Mungkin kalimat yang seharusnya di ucapkan oleh Gerald adalah "aku bau", bukan " kau bau". Namun karena yang baru saja bicara adalah seorang Gerald Thampson, kita bisa apa. Benar tidak kawan-kawan? 🤣


"Jika berkasnya sudah selesai di tanda tangani maka saya pamit pergi untuk menyerahkan berkas-berkas tersebut pada yang lain dulu, bos. Mereka sudah menunggu," sahut Jessy enggan meladeni pertanyaan gila bosnya. Darahnya sudah mendidih dari tadi, jadi melarikan diri adalah jurus yang paling ampuh untuk sekarang ini.


Sreeetttt


Jessy memekik kaget saat tubuhnya tiba-tiba ditarik hingga membuatnya jatuh terduduk di atas pangkuan Gerald. Seketika Jessy berubah menjadi batu, dia terlalu syok akan apa yang Gerald lakukan padanya.


Brengsek. Aku tidak menyangka kalau Gerald adalah seorang pria cabul. Dasar kurang ajar! Aaaa, bagaimana ini.


Wajah Jessy terus berubah dari putih ke merah, merah ke hijau, dan hijau ke hitam. Rasa-rasanya dia sangat ingin mati ketika Gerald terus mengendus rambutnya yang panjang terurai.


"Kalau suka, jangan di tahan. Aku tahu kau sangat menikmati ini. Iya 'kan?" bisik Gerald.


"M-maaf, b-bos Gerald. In-ini kantor, k-kita tidak se-seharusnya melakukan hal ini," ucap Jessy berusaha menyadarkan Gerald kalau mereka bisa saja ketahuan oleh karyawan yang lain. Jessy tak mau orang-orang tahu kalau sekarang dia telah menjadi istri kontrak atasannya sendiri. Terlalu memalukan.


"Anggap mereka sebagai makhluk tak kasat mata," sahut Gerald dengan santainya.


"M-mana bisa seperti itu, b-bos."


"Bisa,"

__ADS_1


"T-tidak!"


Gerald mendengus. Dengan gerakan yang sangat cepat Gerald merubah posisi mereka hingga kini Jessy berpindah duduk ke atas meja kerjanya. Mata elang Gerald yang begitu tajam terus memperhatikan perubahan ekpresi di wajah istri kontraknya ini. Jelek, benar-benar sangat jelek. Pantas saja jika Jessy begitu ingin mereka menikah, pasti tujuannya adalah untuk memperbaiki keturunan. Benar tidak?


"Kau yang begitu ingin menikah denganku, kenapa malu?"


"A-apa, bos? S-saya begitu ingin menikah dengan anda?" pekik Jessy syok. Bola matanya hampir terbang keluar saking kagetnya Jessy di tuduh sebagai orang yang paling menginginkan pernikahan gila ini. Dia heran. Apa bosnya ini lupa bagaimana tadi dia begitu berusaha agar mereka tidak jadi menikah? Gila, bosnya sudah tidak waras.


Gerald mengangguk. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Jessy. Masih dengan tatapan tajamnya, Gerald menelisik wajah bulat Jessy, mencari tahu alasan kenapa wajahnya bisa berbentuk jelek seperti telur rebus.


"Apa wajahmu asli?" tanya Gerald penasaran.


"Tentu saja asli," jawab Jessy dengan cepat. Dia sampai salah tingkah sendiri di tatap seperti itu oleh suaminya. Ingin memalingkan muka pun percuma saja karena sekarang kedua pipinya sudah di pegang oleh Gerald, yang mana membuat wajah Jessy jadi terasa sangat panas.


"Aku pikir ini adalah dampak operasi plastik yang gagal. Hmmm,"


"Bos Gerald, semua yang ada di tubuh saya masih original. Semua asli dan tidak ada sejengkal pun yang berasal dari karya tangan dokter. Jadi saya mohon tolong anda jangan asal bicara. Bisakah?" sahut Jessy tak terima ketika wajahnya di anggap sebagai hasil operasi plastik yang gagal.


"Benarkah?"


"Tentu saja,"


"Kalau begitu biarkan aku memeriksanya sendiri!"


Kriik kriikk kriikkk


Dengan mempertaruhkan nyawa dan juga karirnya, Jessy langsung mendorong tubuh Gerald agar menjauh darinya. Setelah itu Jessy menyambar semua berkas yang ada di atas meja kemudian berlari keluar dari ruangan itu dengan sangat cepat.


"Dasar brengsek. Berani sekali dia ingin memeriksa tubuhku. Di pikirnya dia itu dokter atau bagaimana, hah! Benar-benar sialan kau, Gerald. Aaaa, aku mau cerai saja!" geram Jessy frustasi memikirkan sikap Gerald yang begitu frontal ketika bicara dengannya saat di dalam tadi. Sekujur tubuh Jessy sampai di banjiri keringat dingin saking syoknya dia akan apa yang baru saja terjadi.


Dasar sinting.

__ADS_1


*******


__ADS_2