
"Maaf, Tuan Hinara. Penawaran kontrak kerjasama yang anda tawarkan pada perusahaan kami di tolak oleh bos Gerald!" ucap Jessy seraya tersenyum manis.
"Di tolak? Kenapa bisa begitu? Apakah jumlah keuntungan yang kami tawarkan masih kurang besar? Jika memang iya, berapa jumlah pembagian yang di inginkan oleh bos Gerald agar dia bersedia menjalin kerjasama dengan perusahaanku?" tanya Hinara risau. Apapun yang terjadi dia harus bisa mendapatkan kontrak kerjasama dengan perusahaan ini. Karena hanya kontrak kerjasama inilah yang bisa menyelamatkan hidupnya, juga nasib perusahaannya yang sedang berada di ambang kehancuran.
Mendengar pertanyaan yang sarat akan maksud terselubung membuat Jessy tersenyum penuh maksud. Empat tahun berada di sisinya seorang Gerald Andrian Thampson membuat Jessy jadi tertular ilmu membaca raut wajah seseorang. Dia tentu tahu kalau kelangsungan perusahaan milik Tuan Hinara kini tergantung dari kesediaan bosnya apakah mau untuk bermitra bisnis dengannya atau tidak. Karena dilihat dari betapa kerasnya usaha Tuan Hinara dalam menawarkan sebuah keuntungan, bisa Jessy pastikan kalau keadaan perusahaannya sedang sangat berbahaya, alias berada di ujung tanduk. Hal ini Jessy ketahui karena bukan hanya sekali dua kali saja dia menemui klien yang kasusnya hampir mirip dengan kasus dari laki-laki keturunan Jepang yang tengah berdiri gelisah di hadapannya.
"Bos Gerald tidak semiskin seperti yang anda bayangkan sampai harus mengemis nilai keuntungan dari kerjasama dengan perusahaan anda, Tuan Hinara. Alasan kenapa beliau menolak tawaran tersebut adalah karena perusahaan anda sedang tidak baik-baik saja. Apakah tebakan saya benar?"
"M-mana mungkin. P-perusahaanku tentu baik-baik saja. Kau jangan asal bicara!" jawab Hinara tergagap. Bisa gawat kalau wanita ini sampai tahu bahwa perusahaannya memang sedang tidak baik-baik saja.
"Oh. Benarkah?"
Keringat dingin nampak menetes membasahi kening Hinara ketika dia melihat seringai mengerikan di bibir wanita yang di kenal sebagai sekretaris andalan di Group Thampson. Mungkin jika hanya dilihat sekilas, penampilan sekretaris Jessy terlihat biasa-biasa saja. Akan tetapi senyum dan juga sikap ramahnya seringkali membuat orang lain gemetar ketakutan. Khususnya bagi orang-orang yang datang dengan niat tertentu seperti Hinara. Sudah bisa di pastikan kalau sekretaris Jessy telah mengetahui sesuatu tentang keadaan perusahaan mereka jika wanita ini sampai memperlihatkan senyum seperti itu.
"Tuan Hinara, saya tidak menyalahkan usaha dalam mempertahankan kelangsungan dari perusahaan yang anda miliki. Namun yang saya salahkan adalah sikap arogan anda yang begitu memaksakan diri agar bisa mendapat simpatik dari bos Gerald. Sebagai seseorang yang sama-sama berada di dunia bisnis, bukannya anda sudah tahu seperti apa watak dari bos kesayangan kami itu? Sekali bos Gerald berkata tidak, maka itu artinya tidak. Anda paham bukan?"
"Sialan!"
"Maaf, apa anda baru saja mengumpat?"
"Ya, dan umpatan itu aku tujukan padamu!" jawab Hinara seraya berkacak pinggang. Dia kesal sendiri karena sekertaris Jessy seperti sengaja mempersulit jalannya untuk bertemu dengan pemilik perusahaan ini. "Yaakk, di sini kau itu hanyalah seorang sekertaris biasa. Jadi tolong jangan berlagak seolah-olah kau adalah pemilik Group Thampson. Tidak tahu diri sekali kau!"
"Memangnya kenapa kalau dia hanya sekretaris di sini? Apa masalahnya denganmu?"
Jessy dan Hinara langsung berbalik menatap ke arah belakang mereka saat mendengar suara dingin dari arah sana. Gerald, bos dari Group Thampson kini tengah berdiri sembari menatap mereka dengan begitu dingin. Jessy yang melihat kedatangan bosnya pun segera datang mendekat. Dia menundukkan kepala sebelum akhirnya berdiri di sebelahnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" ucap Gerald dingin.
__ADS_1
"Y-ya?"
Hinara tergagap. Dia yang kaget melihat kemunculan Gerald langsung merasa kikuk saat menerima tatapan yang begitu mengintimidasi darinya. Saat Hinara hendak bicara, Gerald sudah lebih dulu bertanya pada Jessy. Dan jawaban dari sekertaris tersebut membuat darah di tubuh Hinara mendidih hebat.
"Apa yang terjadi?" tanya Gerald tanpa melihat ke arah sekertarisnya.
"Tuan Hinara tidak bersedia menerima keputusan
anda, bos. Beliau mencoba bernegosiasi masalah keuntungan dengan perusahaan kita. Namun berakhir dengan menyebut saya sialan karena saya memberitahu beliau kalau anda tidak semiskin yang beliau pikir. Begitu, bos!" jawab Jessy jujur.
"Hmmm, sialan ya?" ucap Gerald. "Tuan Hinara, akan jauh lebih baik kalau kau bersedia menjelaskan maksud dari makianmu pada orangku. Sejujurnya aku tidak terlalu suka pada orang-orang yang sok berkuasa pada semua hal yang berhubungan dengan milikku. Bicaralah, jelaskan sebelum aku meminta security untuk menyeretmu keluar dari perusahaan ini."
"B-bos Gerald, itu semua tidak seperti yang anda pikirkan. Saya-saya tidak sengaja memaki sekertaris Jessy karena putus asa. Sungguh, sama sekali tidak ada niatan untuk saya mengusik orang-orang anda. Tolong percaya, bos Gerald!" jelas Hinara ketakutan.
"Tidak sengaja dan putus asa? Apa kau pikir aku akan peduli dengan alasan tidak masuk akal seperti itu?"
Gerald maju selangkah. Dia sangat tidak suka jika ada klien yang memandang remeh keberadaan Jessy di perusahaan ini. Empat tahun wanita ini berdiri di sisinya, dan belum pernah sekalipun Jessy membuat Gerald kecewa. Jadi dia akan sangat marah jika Jessy di perlakukan seperti ini oleh orang lain. Terlebih lagi oleh pria yang tengah mengemis kerjasama demi untuk mempertahankan usahanya yang sedang berada di ambang kehancuran.
"Ayah dan Ibuku tidak pernah mengajarkan aku untuk meminta maaf dan memberikan maaf dengan mudah pada orang lain. Akan tetapi mereka mengajarkan aku untuk menerima segala konsekuensi dari kesalahan yang sudah kuperbuat. Jadi ....
Jeda sejenak.
"Jessy, kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan pada bedebah ini?" tanya Gerald sambil menatap tajam ke arah Hinara yang sedang gemetaran di hadapannya.
"Tahu, bos," jawab Jessy seraya tersenyum ramah.
"Kalau begitu lakukan!"
__ADS_1
Jessy mengangguk. Dia segera berjalan mendekat ke arah Tuan Hinara kemudian merapatkan tangannya ke perut. Setelah itu Jessy membungkuk penuh hormat sebelum akhirnya mengatakan apa yang di maksudkan oleh bosnya barusan.
"Dengan segala hormat saya meminta maaf pada anda Tuan Hinara kalau keputusan bos Gerald masih sama seperti yang di awal. Kami menolak pengajuan yang anda tawarkan. Dan jika anda merasa tidak terima, pintu keluar ada di sebelah sana. Anda bisa bertanya pada karyawan kami jika tidak tahu!" ucap Jessy penuh nada penekanan.
Brengsek. Apa p*lacur ini baru saja mengusirku pergi? Berani sekali dia. Awas saja kau.
Sambil mengepalkan kedua tangannya, Hinara akhirnya melangkah pergi dari sana. Benaknya di selimuti dendam yang begitu membara pada sekertaris Jessy karena sudah lancang mengusirnya dari hadapan bos Gerald. Hinara kemudian mengirim pesan pada seseorang, meminta mereka untuk memberi pelajaran pada wanita yang sudah berani bertingkah pongah di hadapannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Gerald.
"Berada di wilayah kekuasaan anda memangnya siapa yang berani mencari masalah dengan saya, bos?" jawab Jessy sambil tersenyum tipis.
Sudut bibir Gerald berkedut. Dia kemudian berbalik, menatap sekilas ke arah Jessy sebelum melangkah pergi menuju ruangannya.
"Malam ini kau akan pulang bersamaku. Keberanianmu dalam mengusir bedebah tadi aku jamin akan berbuntut panjang. Tunggu aku di dekat pintu masuk saat jam pulang kantor nanti."
"Baik, bos. Terima kasih atas kebaikan hati anda."
"Jangan berterima kasih. Aku tidak suka."
"Baik."
Jessy tersenyum lebar sambil menatap kepergian bosnya. Bahagia, tentu saja tidak. Berada di sisi pembisnis besar seperti Gerald Thampson membuat keselamatan Jessy sering kali terancam bahaya. Namun Jessy harus sangat sangat bersyukur karena meskipun sangat dingin, bosnya itu masih memiliki hati nurani terhadap sesama manusia. Berkat bantuannya, Jessy selalu selamat dari ancaman yang di tebar oleh orang-orang yang sakit hati kepadanya. Mengerikan bukan?
"Semangat Jessy. Demi Ibu dan Kalista!" gumam Jessy sambil mengepalkan satu tangannya ke atas.
Ig: rifani_nini
__ADS_1
Fb: Rifani
*****