
Areta menghela nafas melihat Pricilla yang baru saja masuk ke rumah. Saat ini waktu menunjukkan pukul dua dini hari, yang menandakan kalau pagi akan segera datang. Tapi putrinya? Astaga. Areta jadi heran sendiri melihat kelakuan Pricilla yang semakin menjadi-jadi saja. Susah payah Areta memeras Jessy agar bersedia membiayai uang kuliah Pricilla. Tapi begitu lulus, bukannya segera mencari pekerjaan Pricilla malah sibuk sendiri dengan teman-temannya yang tidak jelas itu. Kadang Areta merasa kalau Jessy itu seribu kali lebih baik daripada Pricilla. Ya walaupun hanya anak dan ibu tiri, tapi Areta tak bisa membohongi hatinya sendiri kalau dia sebenarnya menyimpan sedikit rasa simpatik kepada anak tirinya itu.
"Bu, kalau mengantuk itu tidur. Bukan malah melamun seperti orang yang ketempelan setan. Aneh!" tegur Pricilla setelah duduk di sofa. Dia lalu menatap seksama ke arah sang ibu. "Ada apa, hm? Apa uang bulanan milik Ibu sudah habis? Perlu aku telponkan Kak Jessy tidak?"
"Pris, kau mau sampai kapan terus mengandalkan Jessy seperti ini, hah! Sudah setahun kau lulus kuliah, carilah pekerjaan sendiri. Apa kau tidak malu melihat Jessy bekerja di perusahaan besar? Cobalah untuk bersaing dengannya, Pris. Ibu juga mau melihatmu sukses seperti Jessy. Paham?" omel Areta.
"Ck, mulai lagi. Hanya kerja kerja saja yang selalu Ibu bahas setiap waktu. Memangnya kenapa sih kalau aku hanya bermalas-malasan di rumah? Ibu sakit mata atau bagaimana?"
"Bicara yang sopan, Pricilla!"!
Di bentak oleh sang ibu membuat Pricilla memutar bola matanya jengah. Dia kemudian teringat dengan keadaan rumah sewa tempat kakak tirinya tinggal yang sudah ludes di lalap api. Seketika kekesalan di diri Pricilla lenyap, tergantikan oleh benih-benih kekhawatiran yang tiba-tiba muncul di dalam pikirannya.
__ADS_1
Kira-kira Kak Jessy tidur di mana ya setelah rumahnya terbakar? Dia tidak mungkin menginap di kantornya kan? Astaga, kenapa aku jadi panik begini sih. Apa sebaiknya aku telpon Kak Jessy saja ya lalu menanyakan di mana dia tinggal sekarang. Ah, tidak ah. Nanti dia besar kepala jika tahu kalau aku mengkhawatirkannya. Tidak-tidak, lebih baik besok aku datang saja ke Group Thampson kemudian menanyakan pada orang-orang yang bekerja di sana. Tidak mungkin mereka tidak ada yang tidak tahu!
"Aihh, aku mengantuk," ucap Pricilla kemudian menutup mulutnya yang akan menguap. "Hoaammmmm," ....
"Pergilah ke kamarmu. Ibu tahu kalau kau hanya beralasan saja sudah mengantuk. Kau pasti ingin bermain game dengan teman-temanmu lagi 'kan?" tanya Areta sudah tak heran akan tabiat putrinya satu ini. Kesal pun tiada guna karena Pricilla tidak akan pernah mendengarkan apa yang dia katakan. Percuma. Nasehatnya hanya akan masuk ke telinga kanan kemudian keluar lagi lewat telinga kiri.
"Tahu saja kalau aku ingin bermain game, Bu. Hehe, sungguh seorang Ibu yang sangat perhatian. Kalau begitu selamat malam. Ibu juga pergilah tidur. Aku tidak mau repot mengurus Ibu kalau sampai jatuh sakit!"
Ya Tuhan, Pricilla adalah putri kandungku dan Jessy adalah putri tiriku. Tapi kenapa aku merasa kalau yang sepantasnya menjadi putri kandungku adalah Jessy? Apakah mungkin ini adalah balasan atas kejahatan yang pernah aku lakukan terhadapnya selama ini? Astaga,
Sementara itu Pricilla yang sudah sampai di dalam kamar, segera pergi ke kamar mandi kemudian membasuh wajahnya dengan air dingin. Pandangan Pricilla kemudian terpaku pada cermin yang ada di hadapannya. Dia diam, tapi perlahan-lahan matanya mulai memanas dan berakhir dengan munculnya genangan cairan bening di sana. Ya, Pricilla menangis.
__ADS_1
"Kenapa, Bu. Kenapa Ibu selalu saja membandingkan aku dengan Kak Jessy. Apa Ibu tidak tahu kalau itu membuat hatiku menjadi sangat sakit. Apa Ibu tidak tahu kalau aku sebenarnya juga ingin menjadi seperti Kak Jessy? Ibu tahu itu tidak, hah!" ucap Pricilla dengan berurai air mata. Dia lalu menekan dadanya yang terasa sesak dan juga sakit. "Aku khawatir pada Kak Jessy, Bu. Rumahnya terbakar, dan sekarang aku tidak tahu Kak Jessy tinggal di mana dan dengan siapa. Apa Ibu pikir aku akan sekejam itu dengan tidak mempedulikan kakakku sendiri? Tidak, Ibu. Aku bangga memiliki seorang kakak yang seperti Kak Jessy. Tapi aku benci setiap kali Ibu membandingkan aku dengannya. Aku benci Kak Jessy karena dia terlalu sempurna. Aku benci dia yang bisa melakukan segalanya dengan begitu mudah sedangkan aku tidak. Aku benci itu, Ibu. Aku benci itu!"
Perlahan-lahan tubuh Pricilla akhirnya luruh ke lantai kamar mandi. Malam ini Pricilla benar-benar tidak bersemangat saat sedang bersenang-senang dengan temannya di bar. Pikirannya selalu tertuju pada sang kakak, dia cemas tapi tidak bisa menunjukkan kecemasannya. Terlalu gengsi untuk Pricilla mengalah, dia tak mau kakaknya merasa besar kepala jika tahu kalau Pricilla sebenarnya sangatlah mengkhawatirkannya.
"Hiksss, Ayah. Aku lelah selalu di jadikan bahan perbandingan oleh Ibu. Aku lelah selalu di paksa untuk menyaingi Kak Jessy, aku lelah. Tidak bisakah Ayah memberitahu Ibu agar jangan terlalu memaksaku menjadi seperti orang lain? Aku juga ingin sukses, tapi tidak dengan cara yang sama dengan Kak Jessy. Aku punya mimpi sendiri, dan aku bertekad ingin meraihnya. Tapi kenapa Ibu tidak pernah memberikan dukungannya untukku? Ibu membenci Kak Jessy, tapi dia selalu menikmati semua uangnya. Ibu sangat tidak menyukai Kak Jessy, tapi dia selalu memaksaku agar sama sepertinya. Ini tidak adil, Ayah. Sikap Ibu sangat tidak adil padaku dan juga pada Kak Jessy. Tolong ingatkan Ibu, Ayah. Tolong beritahu Ibu supaya jangan terlalu banyak ikut campur dalam masa depan kami. Cukup dia memberi doa dan dukungan, tidak perlu mengatur ini dan itu yang membuat kami merasa tidak nyaman. Tolong aku, Ayah. Hiksssss," ucap Pricilla mengadu pada sang ayah yang sudah lama pergi ke surga.
Sebenarnya, Pricilla itu sangat menyayangi kakak tirinya. Mengenai sikapnya yang seperti ini, semua itu berasal dari ajaran sang Ibu yang selalu mengatakan kalau Pricilla tidak boleh sampai kalah dari kakaknya. Pricilla yang kala itu masih polos, hanya patuh-patuh saja ketika diminta oleh sang ibu untuk melakukan ini dan itu. Namun setelah dia beranjak dewasa, Pricilla akhirnya paham kalau sikap yang sang ibu ajarkan sangatlah arogan. Dan hasil dari didikan tersebut kini membuat Pricilla tumbuh menjadi gadis yang cuek dan hanya mementingkan kebahagiaannya saja. Dia lelah di perlakukan seperti boneka. Dia benar-benar sudah sangat lelah.
"Hiksss, pokoknya nanti jika aku menikah dan mempunyai anak, aku akan menjauhkan Ibu dari anak-anakku. Aku tidak mau Ibu mendidik mereka hingga tumbuh menjadi manusia arogan sepertiku. Dasar nenek sihir, hiksss. Aku sangat ingin membenci Ibu, tapi aku takut di kutuk oleh Tuhan. Menyebalkan sekali bukan?" ujar Pricilla sembari menyeka ingusnya yang hampir masuk ke dalam mulut. Dia kemudian berdiri, kembali membasuh wajahnya lalu melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Pricilla mengantuk, dia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sudah sangat lelah. Dia butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Hmmm.
****
__ADS_1