
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
Jessy sudah tidak tahu harus melakukan apa ketika ada empat orang wanita datang dengan tujuan ingin memijatnya. Sungguh, Jessy sangat ingin menangis sekali sekarang. Dia tidak menyangka kalau ibu mertuanya akan benar-benar mengabulkan perkataan Gerald yang meminta agar mengirimkan tukang pijat ke kantor. Sebagai wanita yang terlahir normal, untuk pertama kalinya Jessy berdoa pada Tuhan agar membuatnya menjadi orang gila saja. Menghadapi Gerald saja sudah membuat kadar kewarasan di diri Jessy berkurang banyak, kenapa sekarang ibu mertuanya jadi ikut-ikutan menggila? Tidakkah mereka tahu kalau Jessy sudah hampir tidak bisa bernafas melihat tingkah dan kelakuan mereka berdua? Ya Tuhaaannnn ….
“Nona Jessy, Nyonya Barbara berpesan agar kami melayani anda dengan pelayanan pijit terbaik yang kami miliki. Beliau juga berpesan agar anda bisa bersantai sejenak dari pekerjaan,” ucap salah satu wanita pemijat dengan begitu sopan.
“Bisakah kalian pulang saja? Pundakku baik-baik saja, sama sekali tidak perlu di pijit,” sahut Jessy setengah frustasi. Dia sampai memijit pinggiran kepalanya saking pusingnya Jessy menghadapi kelakuan Gerald dan ibu mertuanya.
“Tapi Nona Jessy, kalau kami pulang tanpa menyelesaikan tugas kami, kami berempat akan langsung di pecat. Nyonya Barbara dan Nyonya Cleo adalah pelanggan utama di panti kami, dan adalah suatu keburukan jika kami harus pulang dengan kondisi tangan yang masih bersih. Tolong terima pelayanan dari kami, Nona. Kami mohon,”
Gerald yang tengah mengawasi cctv di depan layar laptopnya nampak tersenyum tipis mendengar perkataan para tukang pijat itu. Gerald yakin, seratus persen sangat amat yakin kalau Jessy tidak akan sanggup menolak tawaran tersebut. Wanita jelek itu hanya sedang mencari perhatian saja dengan cara berpura-pura menolak pelayanan dari para tukang pijat itu. Benar tidak kawan-kawan?
“Apakah harus?” tanya Jessy dengan tampang memelas. Usahanya langsung gagal di awal.
“Wajib hukumnya, Nona,” jawab si wanita meyakinkan.
“Haahhhh, lama-lama aku bisa gila sungguhan. Astaga,” keluh Jessy lirih.
Dengan sangat terpaksa Jessy akhirnya bersedia untuk dipijit. Setelah itu Jessy menjadi kebingungan sendiri saat teringat kalau di kantor tidak ada ruangan yang bisa di gunakan untuk menerima pelayanan pijat. Dan tepat ketika Jessy sedang bingung, pintu ruangan Gerald terbuka. Tanpa melupakan statusnya sebagai seorang sekertaris, Jessy segera berdiri kemudian menundukkan kepala dengan hormat.
“Gunakan kamar di ruanganku saja. Jangan khawatir, gajimu tidak akan di potong,” ucap Gerald tanpa menunjukkan reaksi apapun di wajahnya.
“Tapi bos, saya ….
__ADS_1
“Aku tahu kau begitu senang karena menerima pijat gratis. Tidak perlu seantusias ini hanya untuk berterima kasih padaku!”
Krik krik krik
Baik Jessy maupun ke empat tukang pijat, mereka semua cengo mendengar perkataan Gerald yang dengan begitu percaya dirinya berucap agar Jessy tidak mengucapkan terima kasih padanya. Padahal maksud Jessy tadi adalah dia yang merasa sungkan untuk melakukan pijat di ruangan yang selama ini sangat jarang Jessy masuki. Meski statusnya adalah istrinya Gerald, Jessy tetap tak mau melewati batasan. Dia tak mau di cap sebagai wanita yang suka menggunakan aji mumpung, mumpung menjadi istrinya bos Gerald maksudnya. Jessy tak mau itu.
“Apa yang sedang kalian tunggu? Apa kalian sedang berharap kalau aku akan memijat Jessy di sini?” tanya Gerald penasaran.
“Kalau begitu kami permisi, bos. Mari,” sahut Jessy mengajak ke empat tukang pijat itu untuk masuk ke dalam ruangan bosnya. Dia sudah sesak nafas mendengar perkataan Gerald yang begitu frontal. Jessy tak kuat lagi. Sungguh.
Sepeninggal Jessy, Gerald masih belum beranjak dari sana. Dia diam membayangkan respon Jessy yang langsung mengajak tukang pijat itu masuk ke dalam ruangannya. Sesenang inikah dirinya? Harusnya kan Jessy mengajak Gerald juga ke dalam. Haihhh. Tak mau sendirian, Gerald memutuskan untuk menelpon Rooney. Dia berniat mengajaknya mengintai kediaman Nyonya Areta, yang tak lain adalah ibu tirinya Jessy. Gerald penasaran apakah benar wanita itu tidak baik-baik saja atau tidak.
“Halo bos. Apa ada masalah yang terjadi di kantor?” tanya Rooney dari dalam telepon.
“Datanglah kemari. Aku ingin pergi ke kediaman gagak tua itu,” jawab Gerald dengan entengnya menyebut ibu tirinya Jessy dengan sebutan gagak tua. Gagak tua yang bisanya hanya memeras istrinya saja.
“Memangnya di negara ini ada gagak tua lain selain wanita itu?”
Klik. Gerald langsung memutuskan panggilan setelah memarahi Rooney. Setelah itu dia berbalik hendak masuk ke dalam ruangannya. Gerald merasa perlu untuk memastikan kalau Jessy tidak mati sia-sia karena ulah para tukang urut yang salah memelintir tangannya. Padahal yang sebenarnya adalah karena Gerald yang begitu ingin melihat ekpresi di wajah jelek istrinya itu. Dia merasa sihir itu kembali datang setelah tadi melihat respon Jessy yang terlihat sangat bahagia saat Gerald menawarkan ruangan pribadinya untuk di pakai.
Ceklek
“Kyaaaaaaa!!”
Jessy berteriak dengan sangat kuat ketika Gerald tiba-tiba membuka pintu kamar. Dia yang posisinya tengah membuka baju secepat kilat kembali memakai bajunya kemudian menutupi bagian dadanya.
__ADS_1
Brengsek. Mau apa pria cabul ini masuk kemari? Gerald tidak mungkin ingin melihatku yang sedang dipijat 'kan?
“Kenapa kau berteriak?” tanya Gerald bingung. Jakunnya tampak bergerak naik turun dengan cepat melihat perut putih Jessy saat bajunya tidak sengaja tersingkap. Ini godaan.
“Hehehe, bos Gerald. Bukankah tadi anda sendiri yang menawarkan agar saya di pijat di ruangan ini?” sahut Jessy balik bertanya. Dia memaksakan senyumnya karena tak mau membuat para tukang urut itu merasa curiga dengan hubungan mereka.
“Senyummu jelek sekali. Seperti boneka Anabelle.”
Dengan sabar Jessy menghela nafas panjang kemudian membungkukkan tubuhnya saat Gerald kembali menutup pintu ruangan. Benar-benar brengsek. Berani sekali manusia batues itu mengatainya mirip boneka Anabelle. Cari mati.
Ceklek
"Ada apalagi, bos?"
“Jessy, aku tahu kau sedang memakiku di dalam hati. Karena aku sedang berbaik hati, aku ingin mengabarimu kalau aku akan pergi mengunjungi kediaman gagak tua!” ucap Gerald sesaat sebelum dia kembali menutup pintu.
Kalian pasti penasaran bukan dengan reaksi para tukang urut? Yap, ke empat wanita itu terdiam dengan raut wajah yang kebingungan. Bagaimana tidak bingung. Pemilik ruangan ini tiba-tiba muncul lalu menyebut Nona Jessy mirip boneka Anabelle hanya karena tersenyum. Sedetik kemudian pemilik ruangan kembali muncul dan mengatakan ingin mengunjungi kediaman gagak tua. Para tukang urut itu saling bertanya-tanya dalam hati sejak kapan gagak tua memiliki kediaman? Bukankah gagak tua itu sejenis burung yang tinggal di dalam sangkar ataupun sarang? Belum ada setengah jam mereka di sini, mereka sudah mendengar beberapa kosakata asing yang cukup sulit untuk dicerna. Sungguh hubungan antara bos dan sekertaris yang aneh sekali. Hmmmm.
“Ekhmmmm, bagaimana aku harus memposisikan tubuhku? Telentang atau menungging?” tanya Jessy tanpa sadar.
“A-apa, Nona? Me-menungging?” syok si tukang urut.
“Haa?”
Jessy mengerjap-ngerjapkan mata. Sesaat kemudian barulah Jessy tersadar kalau dia barusaja mengeluarkan kata yang kurang sopan. Dengan wajah memerah menahan malu, Jessy buru-buru meralat ucapannya sembari naik ke atas kasur. Dalam hatinya, Jessy merutuki virus frontal Gerald yang secara tak sengaja telah tertular padanya. Niat hati ingin berkata telentang atau tengkurap, malah jadi telentang atau menungging gara-gara Jessy yang kelewat kesal pada Gerald. Sungguh sangat membagongkan sekali bukan?
__ADS_1
***