
"Tuan?"
Gerald menghela nafas saat ada seseorang yang memanggilnya dari arah belakang. Dia diam saja, tak mempedulikan suara bisik-bisik yang terdengar semakin jelas.
"Hei, dia manusia atau bukan? Kalau manusia, kenapa dia diam saja saat kau memanggilnya barusan?"
"Dia jelas adalah manusia, bodoh. Lihat, kedua kakinya menapak tanah. Tidak mungkin kan dia adalah setan?"
"Lalu kenapa dia diam saja?"
"Mana aku tahu. Aku kan bukan asistennya!"
Gerald benar-benar pergi ke kandang tikus yang dulu di tinggali oleh Jessy. Dia penasaran, juga sengaja untuk mengulur waktu agar dia tidak perlu kembali ke rumah utama. Malas, Gerald enggan bertemu dua wanita sihir itu.
Mungkin karena penasaran, salah satu orang yang sejak tadi sibuk berbisik di belakang Gerald akhirnya datang mendekat. Orang itu kemudian mencolek lengan Gerald, yang mana hal tersebut membuat Gerald kesal setengah mati.
"Apa maumu?" tanya Gerald sarkas. Pandangannya masih lurus ke depan, terlalu malas untuknya melihat siapa orang yang sudah lancang mencolek lengannya. Menjengkelkan. Kalau Jessy yang melakukannya sih tidak masalah, tapi ini. Heh, kenal saja tidak.
"Em itu, aku ....
"Bosan hidup?"
"Ha?"
"Mau mati?"
"B-bukan. Itu ... em begini. Aku penasaran siapa kau sebenarnya,"
"Aku siluman kelelawar,"
Gerald menoleh. Dia menatap dingin ke arah wanita yang sedang terbengang kaget di sebelahnya. "Kenapa masih belum pergi?"
Wanita tersebut tergagap. Dia kemudian menoleh ke arah teman-temannya, seperti sedang meminta persetujuan dari mereka.
"Tuan, kau datang kemari apakah karena ingin bertemu dengan penghuni yang dulu tinggal di rumah kos yang sudah terbakar itu?" tanya si wanita sambil menunjuk ke arah bangunan yang baru beberapa hari lalu terbakar tanpa sebab.
"Ya,"
"Oh, kalau begitu kau pasti mengenal Nona Jessy. Apa aku benar?"
__ADS_1
Gerald mengangguk.
"Saat rumah kosnya terbakar, Nona Jessy sedang tidak ada di tempat. Dan juga setelah kejadian itu dia sama sekali tidak pernah muncul di daerah sekitar sini. Ada beberapa orang yang mengatakan kalau sekarang Nona Jessy tinggal di apartemen bersama kekasih barunya. Karena sebelum rumahnya terbakar, beberapa warga sempat melihat ada seorang pria tampan dengan pakaian rapi datang mengemas barang-barang miliknya. Dan besar kemungkinan pria tersebut adalah kekasihnya Nona Jessy!"
Jadi Rooney adalah selingkuhannya Jessy? Suaminya itu kan aku, kenapa malah dia yang di kenali oleh warga di sini? Wahhhh ....
Kesal karena wanita itu menganggap Rooney sebagai kekasihnya Jessy, Gerald pun memutuskan untuk langsung pergi dari sana. Dia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun pada wanita yang tadi bicara dengannya.
"Astaga, baru kali ini aku melihat siluman kelelawar pergi dengan menaiki mobil mewah. Bukankah seharusnya dia terbang menggunakan sayapnya ya? Aneh,"
"Aneh-aneh, kau itu yang aneh. Jelas-jelas pria tampan tadi adalah manusia, bagaimana bisa kau menganggapnya sebagai siluman kelelawar?"
"Dia yang bilang,"
"Dasar bodoh. Dia hanya asal bicara saja. Kau ini!"
"Halah, terserah kau mau bilang apa. Yang jelas pria tadi sangatlah tampan. Tapi kenapa aku merasa sedikit familiar ya dengan wajahnya? Seperti aku pernah melihat pria itu di sekitaran sini. Tapi kapan dan di mana?"
Para wanita itu sibuk mengingat-ingat di mana mereka pernah bertemu dengan pria yang mengaku sebagai siluman kelelawar. Andai saja mereka tahu kalau pria tersebut adalah pria yang dulu pernah keluar dari rumah kosnya Nona Jessy, mereka semua pasti akan berteriak histeris. Sayangnya mereka sudah lupa.
"Rooney sungguh gatal. Apa jangan-jangan dia sengaja menebar pesona di hadapan orang-orang itu agar mereka mengakui ketampanannya. Sialan. Sejak kapan Rooney jadi narsis seperti ini?" gerutu Gerald sambil mengemudi.
Udara malam tak membuat Gerald merasa kedinginan meski saat ini dia membuka bagian atap mobilnya. Tak lupa juga dia memakai kaca mata hitam, membiarkan angin bebas meniup rambutnya. Mungkin jika saat ini ada wanita yang melihat penampilan Gerald, bisa di jamin wanita itu akan langsung mimisan setelah melihat ketampanannya yang bagaikan seseorang yang berasal dari klan vampir. Sangat tampan, tapi dingin. Namun hal tersebut mustahil di alami oleh seorang wanita yang baru saja masuk ke sebuah mobil. Jesslyn Ocana, sekertaris cantik yang siang tadi dinikahi kontrak oleh bosnya terlihat begitu marah ketika melepas hight heels yang dia pakai. Dia bahkan tidak mempedulikan keberadaan sopir yang tengah menatapnya lewat kaca spion.
"Ya, aku tentu baik-baik saja. Sangat baik malah, sampai aku ingin masuk ke perut bumi saat ini juga!" jawab Jessy dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Kalau begitu perlukah saya menyampaikan hal ini pada bos Gerald?"
Amarah Jessy kian meningkat setelah mendengar perkataan sopir. Kalau saja tak ingat dirinya masih berada di halaman depan rumah orangtuanya Gerald, Jessy pasti sudah berteriak sekencang mungkin untuk memelampiaskan emosinya. Sungguh, Gerald benar-benar tidak punya otak. Pria cabul itu dengan kejam meninggalkannya sendirian menghadapi cecaran dari keluarga besarnya. Dan baru saja, baru saja sopir ini menanyakan apakah perlu memberitahu Gerald tentang keinginannya untuk ke dalam perut bumi. Jika kalian yang ada di posisinya Jessy sekarang, kira-kira apa yang akan kalian lakukan? Tolong komen di sini, Jessy benar-benar sangat marah sekarang.
"Antarkan aku pulang ke rumah. Sekarang!" perintah Jessy sambil memijit pinggiran kepalanya.
"Baik, Nona!"
Saat mobil baru akan pergi, Jessy melihat mobil Gerald bergerak memasuki pekarangan rumah. Dia lalu mendengus, semakin bertambah muak saat sopir menghentikan mobil yang sedang dinaikinya.
"KENAPA BERHENTI. CEPAT ANTARKAN AKU PULANG. SEKARANG!"
"Maaf, Nona Jessy. Bos Gerald sudah datang, jadi saya tidak mungkin mengantarkan anda pulang ke rumah,"
__ADS_1
"Sialan!"
Jessy mengumpat. Dan kekesalannya kian bertambah saat Gerald mengetuk kaca jendela mobil.
Tok tok tok
"Turun, atau aku akan meledakkan mobil ini sekarang juga!" perintah Gerald dengan santai.
"Aku tidak mau!" sahut Jessy dari dalam mobil.
Mungkin Jessy adalah satu-satunya manusia tersial yang di ciptakan oleh Tuhan. Karena begitu dia menolak keluar, sopir langsung membuka tombol pengunci pintu kemudian pergi menghampiri Gerald. Dan tak lama setelah itu Gerald pun masuk ke dalam mobil. Dia lalu menatap datar ke arah Jessy yang sudah membuang muka ke arah lain.
"Kau menjadi sangat marah gara-gara aku terlalu lama pergi meninggalkanmu ya?" tanya Gerald. Hatinya berdesir mengetahui fakta kalau Jessy ternyata begitu merindukannya.
"Bos Gerald yang terhormat!" panggil Jessy sambil menarik nafas sedalam-dalamnya. Dia sedang berusaha menahan diri agar tidak mengumpat pria sialan ini.
"Ya. Ada apa?"
"Bisakah kita pulang sekarang?"
"Apa kau sudah begitu tidak sabar ingin segera melakukan malam pertama denganku?"
Hidung Jessy kembang kempis mendengar pertanyaan Gerald yang sangat luar biasa frontal. Entahlah, keimanannya serasa di uji semenjak dia diminta untuk menjadi istri kontraknya pria ini. Atau katakanlah Jessy sudah hampir gila hanya dalam waktu 1x24 jam sejak dia berganti status dari sekertaris Jessy menjadi Nyonya Thampson.
"Bos, kita menikah atas dasar kontrak. Jadi di dalam hubungan ini tidak perlu ada yang namanya kontak fisik. Cukup dengan saya menjadi istri anda, tidak dengan kegadisan saya. Anda mengerti bukan?" ucap Jessy menjelaskan dengan sesabar-sabarnya.
"Tidak!" jawab Gerald singkat. Pandangan matanya menggelap, dia kurang suka dengan penolakan yang Jessy katakan. "Kau istriku, dan kau begitu menginginkan aku. Wajar kalau di antara kita terjadi kontak fisik. Itu wajar!"
"Bos Gerald, pernahkah anda mendengar saya berkata seperti itu, hem? Tidak ,kan?"
"Pernah,"
"Kapan?"
"Sering,"
"Di mana saya pernah mengatakannya?"
"Di dalam hati."
__ADS_1
Di antara kalian adakah orang yang bersedia menggantikan posisinya Jessy? Dia ... sudah sangat frustasi menghadapi sikap Gerald yang sangat tidak manusiawi ini. Jessy menyerah. ðŸ˜
***