Marriage Contract With My Secretary

Marriage Contract With My Secretary
Kiriman Paket


__ADS_3

Jessy diam melamun di meja kerjanya. Dia sedikit tidak fokus karena muak memikirkan kelakuan Pricilla dan juga kejadian di rumah bosnya. Lelah, Jessy benar-benar sangat lelah sekarang. Dia butuh sandaran, tapi tidak tahu pada siapa. Andai kedua orangtuanya masih hidup, Jessy pasti tidak akan sekasihan ini. Ya setidaknya Jessy memiliki tempat untuk dia mencurahkan perasaannya.


"Permisi, sekertaris Jessy."


"Y-ya?"


Jessy tergagap. Dia kemudian tersenyum kikuk pada seorang karyawan yang tengah berdiri di depan mejanya. "Ada apa?"


"Ada kiriman untukmu."


"Kiriman untukku?"


Kening Jessy mengerut. Seingatnya dia tidak memesan barang apapun, di tambah lagi tidak mungkin dia membeli barang yang dia kirimkan melalui alamat perusahaan. Aneh. Mendadak perasaan Jessy menjadi tidak enak ketika paket tersebut di letakkan di atas meja kerjanya. Dia kemudian menganggukkan kepala saat karyawan itu pamit pergi.


"Siapa yang mengirim paket ini? Apa jangan-jangan ini adalah paket susulan yang di beli oleh bos Gerald? Tapi kenapa dia mengirimnya kemari?" gumam Jessy kebingungan.


Penasaran dengan isi di dalam paket tersebut, Jessy akhirnya memberanikan diri untuk membukanya. Dia menggunting bagian pitanya dengan sangat hati-hati. Khawatir kalau gunting tersebut akan melukai barang yang ada di dalam kotak.


Srreeettttt


"AAAAAAAAA!!!!"


Suara teriakan Jessy begitu membahana hingga membuat para karyawan berlarian mendekat. Sedangkan Jessy, dia jatuh terduduk di atas lantai dengan kondisi wajah yang pucat pasi seperti mayat. Bayangkan! Begitu bungkus paket terbuka, Jessy melihat pemandangan yang sangat amat mengerikan. Di dalam kotak tersebut ada bangkai seekor tikus yang kepalanya sudah terputus. Wanita manalah yang tidak akan menjerit ketakutan jika melihat sesuatu seperti ini.


Ceklek


"B-bos Gerald, seseorang mengirim tikus mati pada sekertaris Jessy!" lapor salah seorang karyawan wanita dengan suara gemetar. Dia ikut merasa ketakutan setelah tahu apa yang membuat sekertaris kesayangan mereka berteriak histeris.


"Kembali ke pekerjaan kalian!" ucap Gerald dingin.


"Baik, bos."


Setelah semua karyawan bubar, Gerald berjalan mendekat ke arah Jessy yang masih diam membisu dengan wajah pucat. Dengan satu jarinya Gerald membuka kotak, menatap dalam ke arah bangkai tikus yang mati dengan cara tak biasa.


"Apa kau suka dengan hadiah ini?"

__ADS_1


A-apa? J-jadi benar kalau paket ini adalah kiriman dari Gerald? Brengsek, apa maksud dia mengirimiku bangkai tikus seperti ini? Apa dia pikir aku ini masih sejenis dengan mereka? Kau benar-benar sangat sialan, Gerald.


"Bukan aku pelakunya. Tapi orang yang beberapa waktu lalu sudah kau singgung," ucap Gerald dingin.


"M-maksud anda Tuan Hinara?" tanya Jessy memastikan.


"Kau pasti senang sekali mencari musuh. Buktinya mereka mengirim bangkai yang menyiratkan betapa mereka sangat ingin membunuhmu. Hmm, nyalimu boleh juga."


Tenggorokan Jessy mendadak terasa begitu kering setelah mendengar kata-kata kejam yang keluar dari mulut bosnya. Sadar kalau nyawanya sedang dalam bahaya, Jessy pun segera meminta solusi pada bosnya agar bisa terbebas dari bahaya tersebut.


"Bos, saya sama sekali tidak ada niat untuk menyinggung Tuan Hinara. Semua itu pantas untuk dia dapatkan, dan lagipun saya mengambil keputusan atas seizin anda," ucap Jessy sambil menelan ludah dengan susah payah. "Tolong beri saya saran bagaimana cara untuk menghindari bahaya ini, bos. Saya ... saya takut."


"Takut?"


Gerald menoleh.


"Iya, bos. Saya sangat takut kalau Tuan Hinara akan kembali mengirim teror seperti ini lagi pada saya. Tolong saya, bos!"


"Ayo pergi!"


Jessy membeo sambil mengerutkan kening. Dia tidak paham kenapa bosnya malah mengajaknya untuk pergi di saat dirinya tengah meminta pertolongan. Apakah sikap seperti ini lazim menurut kalian? Tidak kan?


"Kau akan selamat setelah kita menikah," ucap Gerald kemudian berjalan masuk ke ruangannya. Dia kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi Rooney. "Atur tempatnya. Jessy sudah memohon padaku tadi. Dia sudah tidak sabar ingin segera menikah denganku."


"Baik, bos. Akan saya kabari setelah semuanya siap."


"Hm."


Jika di dalam ruangan Gerald sedang merasa kesenangan, lain halnya dengan apa yang sedang terjadi di luar ruangannya. Jessy, dia tengah tercengang syok setelah mendengar perkataan bosnya yang menyebut kalau dia akan selamat jika mereka menikah. Bukankah alasan ini sangat amat tidak masuk akal? Bagaimana mungkin seseorang bisa selamat dari bahaya hanya dengan sebuah pernikahan?


"Apa jangan-jangan bos Gerald dan Tuan Hinara bersekongkol untuk menjebakku?" gumam Jessy antara percaya dan tidak percaya.


Belum sempat hilang kebingungan dan juga kekagetan di diri Jessy, Gerald sudah lebih dulu keluar dari ruangannya. Mata mereka saling menatap, yang satu jengkel sedangkan yang satunya lagi acuh. Sungguh sikap yang sangat bertolak belakang untuk pasangan yang sebentar lagi akan segera menikah.


"Apa kau sudah bosan dengan biji matamu yang sekarang? Aku tidak keberatan untuk menggantinya dengan biji mata harimau," cecar Gerald yang merasa aneh di tatap seperti itu oleh Jessy. Ada yang berdesir di tubuhnya, tapi tidak tahu itu apa.

__ADS_1


"Bos, maaf jika pertanyaan saya membuat anda merasa tersinggung," ucap Jessy memberanikan diri untuk memastikan apakah bosnya ini ada hubungannya dengan paket mengerikan itu atau tidak. "Apa anda ada hubungannya dengan Tuan Hinara? Saya merasa aneh saat anda tiba-tiba mengajak saya untuk menikah begitu saya meminta pertolongan. Apakah benar?"


"Sepertinya kau lebih cocok untuk menggantikan posisi tikus itu."


Dan seperti biasa, Gerald langsung melenggang pergi begitu saja dari sana. Dia marah, tidak terima di tuduh bersekongkol dengan bajingan itu. Merasa di rugikan, Gerald mengirim pesan pada Rooney, meminta penjaga bayangannya itu membawa seseorang yang sudah membuatnya di curigai seperti ini.


"Aku mau Hinara malam ini juga."


Dan, sent. Pesan pun terkirim. Gerald kemudian menggebrak pintu lift yang tak kunjung terbuka begitu dia datang. Tak lagi mempedulikan apakah Jessy menyusulnya atau tidak, Gerald hanya ingin segera pergi dari sana. Dia kecewa.


Sementara itu, Jessy tengah merutuki kebodohannya yang sudah dengan begitu berani menyinggung kemarahan Gerald. Dia sangat amat menyesal karena sudah berpikir kalau bosnya telah bekerjasama dengan Tuan Hinara untuk menjebaknya. Andai saja tadi Jessy bisa menyadari lebih cepat kalau malam itu demi untuk melindungi keselamatannya bosnya sampai rela mengantarkan sampai di depan rumah, kesalahpahaman seperti ini pasti tidak akan terjadi.


"Dasar bo doh. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu, Jessy? Argghhh, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"


Bulu kuduk Jessy meremang saat OB membawa pergi kotak berisi bangkai tikus yang ada di mejanya. Kakinya lemas, tapi dia harus tetap pergi menyusul bosnya untuk meminta maaf. Jessy lupa kemana bosnya akan membawanya pergi setelah ini. Dia terlalu panik sampai-sampai tidak menyadari kalau masa depannya sebagai seorang perawan sedang di pertaruhkan.


"Sekertaris Jessy, bos Gerald sedang sangat marah sekarang. Kau sebaiknya segera pergi ke mobilnya," lapor salah seorang security.


"Marah?"


Mampus. Matilah aku setelah ini. Aaaaa Jessy, ini semua gara-gara kebodohanmu. Lihat, sekarang bos gila itu marah.


"Iya. Segeralah pergi ke sana."


"Baiklah. Do'akan agar aku bisa pulang dengan selamat," ucap Jessy dengan tampang yang sangat menyedihkan.


Semua orang di perusahaan hanya bisa menatap iba ke arah Jessy yang kini tengah berlari menuju mobil bosnya. Mereka semua tahu kalau sebentar lagi Jessy akan seger menjadi korban dari ketajaman lidah bos mereka. Hal yang sudah lumrah terjadi setiap kali sang bos berada dalam suasana hati yang sangat buruk. Sungguh kasihan.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


...🍀 Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...🍀Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...🍀Fb: Rifani...


__ADS_2