
Di dalam ruangannya, Gerald tengah fokus membaca berkas pekerjaan yang bertumpuk di atas meja. Sesekali dia menghela nafas panjang saat menemukan kesalahan di setiap berkas yang dia baca.
Tok tok tok
"Masuk!"
Pintu ruangan terbuka. Masuklah Jessy yang datang sambil membawakan segelas kopi pahit bersama dengan cemilan.
"Selamat siang, bos."
"Hmm."
Dengan sabar Jessy tetap tersenyum meski sapaannya hanya di balas dengan deheman saja. Sambil meletakkan minuman dan cemilan yang dia bawa, Jessy memberitahukan pada bosnya tentang janji temu yang sudah dia buat bersama seorang dokter spesialis otak.
"Bos, jam dua nanti anda diminta untuk datang ke rumah sakit oleh dokter."
Gerakan tangan Gerald yang ingin membubuhkan tanda tangan langsung terhenti.
"Aku bukan babu yang bisa seenaknya mereka suruh-suruh," sahut Gerald dingin.
Kumat lagi dia.
"Bukankah tadi anda yang meminta saya agar di buatkan janji temu dengan dokter spesialis otak?" tanya Jessy sabar.
"Iya."
"Lalu kenapa anda menolak untuk datang ke rumah sakit?"
"Aku tidak menerima perintah dari siapapun."
"Dokter bukan memerintah anda, bos. Tapi mereka hanya membuatkan janji temu untuk melakukan pemeriksaan. Anda bilang ada yang tidak beres di kepala anda, ingin di periksa kan?"
Gerald menghela nafas. Dengan berat hati dia menganggukkan kepala.
"Tiba-tiba saja aku memikirkan sesuatu yang sangat aneh. Aku terus memikirkan seorang wanita yang wajahnya sangat jelek. Dan tidak hanya itu. Mataku juga sering lupa untuk berkedip setiap kali aku menatap wajah jeleknya itu. Sangat berbahaya sekali bukan?" ucap Gerald menyampaikan jenis penyakit yang dia derita di hadapan orangnya langsung. Gerald sangat berharap Jessy akan peka kalau orang yang sedang dia bicarakan adalah dirinya.
Untuk beberapa saat otak Jessy seperti berhenti beroperasi begitu dia mendengar alasan bosnya yang tiba-tiba ingin melakukan pemeriksaan kesehatan. Jessy pikir bosnya mengidap penyakit serius. Siapa yang akan menduga kalau sakit yang di derita oleh bosnya di sebabkan oleh suatu perasaan yang biasa di sebut dengan kata jatuh cinta. Ini konyol sekali bukan? Hanya gara-gara menyukai seorang gadis, bosnya sampai harus melakukan pemeriksaan otak. Jessy jadi kasihan pada nasib gadis yang di sukai oleh bosnya ini. Takdir hidupnya benar-benar sangat buruk.
Kenapa Jessy tidak mengatakan apa-apa? Atau sekarang dia sedang mengatur kata yang tepat sebelum di ucapkan kepadaku? Aku tunggu saja. Mungkin otaknya yang kecil itu sedikit mengalami kesulitan.
Gerald menunggu respon Jessy sambil mengetuk-ngetukkan pena di atas meja. Lagi-lagi matanya tak berkedip saat memperhatikan wajah bulat Jessy yang terlihat seperti telur rebus. Belum lagi dengan matanya yang berbentuk bulan sabit. Membuat penampilan sekertarisnya ini terlihat semakin jelek saja.
"Ekhmm bos, apa tidak sebaiknya kita batalkan saja pertemuan dengan dokter? Aku rasa penyakit anda tidak seserius seperti yang saya bayangkan," ucap Jessy hati-hati.
__ADS_1
"Kenapa harus di batalkan? Apa kau takut kumintai uang untuk membayar biayanya?" tanya Gerald sarkas.
Kesal, Gerald kembali di buat kesal karena ternyata Jessy masih tidak peka kepadanya. Gerald kemudian memilih untuk lanjut menyelesaikan pekerjaan. Dia sudah hilang mood.
"Kalau hanya untuk mengobati penyakit seperti yang anda sebutkan tadi, saya pun bisa melakukannya, bos."
"Aku tidak mau menjadi bangkai sia-sia."
Ya Tuhan, apa-apaan pria beku ini? Apa dia pikir aku ingin memberinya minum racun? Dasar bodoh. Sudah tahu dirinya sedang jatuh cinta, malah meminta untuk bertemu dengan dokter spesialis otak. Sepertinya otakmu memang benar-benar bermasalah, bos. Kasihan sekali nasibmu yang tidak menyadari kalau kau itu sedang jatuh cinta. Miris.
"Jangan menggunjingkan aku!" tegur Gerald tanpa mengalihkan tatapannya dari atas berkas.
"Tidak, bos. Saya hanya berdiri diam tanpa mengatakan apapun."
"Di dalam hati."
Glukkk
Dengan kikuk Jessy mengusap tengkuk belakangnya. Tahu saja kalau dia sedang menggunjingkan kebodohan bosnya di dalam hati. Dia kan jadi malu. Eh, darimana bosnya tahu kalau dia sedang membatin? Apa bosnya ini sebenarnya adalah seorang cen ....
"Aku tidak seperti yang kau pikir. Jika tidak ada kepentingan lain, kau keluar saja. Wajahmu membuat mataku menjadi sakit!" usir Gerald cetus.
"Baiklah, bos. Kalau begitu saya permisi!" pamit Jessy menyerah untuk membalas perkataan bosnya. Lebih baik dia pergi saja ketimbang harus terus mendengar kata menyebalkan dari mulut bosnya itu.
Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, barulah Gerald mengalihkan tatapannya dari atas berkas yang sedang dia baca. Gerald terdiam, menatap lurus ke arah depan di mana Jessy tengah duduk sambil mengotak-atik layar komputer yang ada di mejanya.
Drrrtt drrtttt
Rooney menelpon. Segera Gerald menjawabnya kemudian menekan tombol loudspeaker. Dia sedang malas untuk memegang ponsel. Lelah karena memikirkan sikap Jessy yang tak kunjung peka.
"Ada apa?"
"Bos, surat kontrak yang anda minta sudah selesai saya buat. Apa anda ingin menambahkan poin-poin tertentu ke dalam surat kontrak tersebut?"
Lama Gerald memberikan jawabannya pada Rooney. Dia perlu menimang apa saja yang kira-kira di butuhkan oleh Jessy. Selain uang, sepertinya sekertarisnya itu tidak membutuhkan apapun lagi. Tapi masa iya sesimpel itu isi surat perjanjiannya? Menggantung sekali.
"Tulis segala syarat yang bisa menguntungkan aku, Ron. Jika perlu, bubuhkan juga kalau aku akan menikahinya paksa jika dia berani menolak. Apapun yang terjadi, Jessy harus mau menikah kontrak denganku. Aku menyukainya, dan aku hanya mau dia yang kuajak pulang untuk menemui Ibu dan juga Nenek!" ucap Gerald setelah berpikir selama tujuh purnama. Hehehe.
"Anda yakin hanya ingin menikah kontrak dengan Nona Jessy, bos?"
"Apa kau berharap kalau aku akan menikah denganmu juga?"
"Baiklah, bos. Saya akan segera mengurus segalanya sesuai dengan keinginan anda. Kalau begitu saya matikan dulu panggilannya. Selamat siang."
__ADS_1
Panggilan terputus. Gerald menghela nafas berat. Dia kembali melihat ke arah Jessy yang kini terlihat sedang berbicara dengan karyawan yang lain. Meskipun sangat jelek, Jessy sangatlah pandai dalam pekerjaan. Hal inilah yang membuat Gerald amat begitu mengandalkannya di perusahaan. Bahkan Gerald juga tidak ragu untuk memberikan gaji yang sangat fantastis di mana hanya Jessy saja yang menerima. Ya, Gerald meminta Rooney untuk memeriksa secara menyeluruh gaji dari semua sekertaris yang ada di negara mereka. Bukan karena dia menyukainya, tapi karena Jessy memang pantas untuk menerimanya. Cerdas, tegas, tangkas, siaga, dan juga sabar selama menemaninya memajukan saham perusahaan selama empat tahun terakhir. Jadi wajar saja bukan kalau Gerald sedikit memberikan keistimewaan kepada sekertarisnya itu? Tentu saja itu wajar, kan dia bosnya.
"Sepertinya aku benar-benar harus segera pergi memeriksakan otak di kepalaku sekarang juga. Sungguh mengherankan, bagaimana bisa hanya nama dia saja yang terus keluar masuk di dalam kepalaku? Ini sihir atau apa? Mengerikan sekali!" gumam Gerald semakin bingung dengan apa yang dia rasakan.
Tak ingin mati penasaran, Gerald segera mengirim pesan pada Jessy kalau dia ingin agar pertemuannya dengan dokter di percepat. Dia tidak mau tahu, detik ini juga mereka akan langsung berangkat ke rumah sakit.
"Atur jadwal temu dengan dokter detik ini juga. Otakku semakin bermasalah, ini tidak baik untuk kelangsungan perusahaan."
πππππππππππππππππ
Hai gengss, untuk kalian yang mau ikut giveaway silahkan vote dan bom hadiah di setiap episode ya. Penilaian akan di mulai hari ini dan akan di putuskan di akhir bulan. Dan hadiah untuk para pemenang akan di lampirkan di bawah.
π’SYARAT!!
-WAJIB LIKE DAN COMMENT DI SETIAP BAB (BUKTI AKAN DI SS)
-WAJIB VOTE DAN BERI HADIAH UNTUK EMAK(HEHEHE, SEIKHLASNYA YA, NGGAK DI PAKSA)
π’WARNING!!!
-DI LARANG SPAM HADIAH DI AKHIR MINGGU DAN AKHIR BULAN. JIKA KETAHUAN, MAKA HADIAH AKAN DI BERIKAN PADA PESERTA GIVEAWAY YANG LAIN. TERIMA KASIH.
Juara 1
- Pulsa 100rb+300koin
Juara 2
-Pulsa 75rb+200koin
Juara 3
-Pulsa 50rb+100koin
Juara 4
-Pulsa 25rb+50koin
Juara 5
-Pulsa 10rb+50koin
...πJangan lupa vote, like dan comment...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...