
📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 😅
***
Pagi-pagi sekali terlihat Jessy yang baru saja terbangun dari tidurnya. Jika biasanya Jessy akan langsung turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi, kali ini tidak ada kegiatan seperti itu. Sejak dia terbangun, Jessy hanya diam melamun sambil memegangi baju tidurnya. Pikirannya melayang membayangkan kejadian di mana Gerald menyentuhnya dan berakhir dengan nuansa kegelapan yang sangat pekat. Ya, Jessy pingsan karena ketakutan.
Saat aku pingsan Gerald tidak mungkin melakukan hal cabul padaku'kan? Astaga, Jessy-Jessy. Harusnya kau itu jangan pingsan semalam. Kalau sudah begini apa iya kau masih mampu menampakkan wajahmu di depan Gerald? Memalukan sekali.
Jessy membatin sambil memukuli kepalanya sendiri. Walaupun usianya sudah cukup untuk sekedar berhubungan lebih dengan seorang pria, tapi entah bagaimana caranya Jessy bisa kehilangan kontrol yang mana membuatnya kehilangan kesadaran saat Gerald ingin mengambil haknya sebagai seorang suami. Di antara mereka mungkin tidak ada cinta, tapi Jessy sangat sadar akan tugasnya. Akan tetapi apa yang terjadi semalam? Ini benar-benar diluar ekspektasinya. Pingsan? Oh my Good.
"Sudah melamunnya?"
Terdengar suara yang sangat dingin dari salah satu sudut kamar saat Jessy sedang sibuk merutuki kecerobohannya. Sembari menelan ludah, Jessy memberanikan diri untuk menoleh ke arah sumber suara. Dan nafasnya langsung tercekat ketika mendapati Gerald yang tengah berdiri menatapnya hanya dengan memakai handuk sebatas paha.
“Kyaaaaaaa … apa-apaan kau, Gerald! Dasar cabul. Cepat pergi dari kamarku. CEPAATTTTTT!” teriak Jessy histeris seraya menutup kedua matanya menggunakan tangan. Menyesal dia melihat ke arah sumber suara kalau ternyata yang berdiri di sana adalah seorang pria mesum. Menyebalkan. Huh.
“Ini kamarku. Kenapa aku harus pergi?” ucap Gerald dengan santainya. Dia kemudian berjalan menuju lemari, mengambil setelan jas dari sana lalu memakainya tanpa beban dosa meski baru saja dikatai sebagai pria cabul oleh Jessy.
Astaga, apa-apaan pria sinting ini. Berani sekali dia berganti pakaian di hadapanku. Cari mati.
“Aku tahu tubuhku ini keren. Jadi kalau kau mau mengaguminya kau tidak perlu melakukannya dengan cara mengintip. Buka mata lebar-lebar lalu pelototilah sampai puas. Gratis.”
__ADS_1
“Cih, siapa juga yang sedang mengintip tubuhmu yang jelek itu. Jangan sok kepedean kau!” kesal Jessy saat di tuduh sedang mengintip. Dia sampai lupa kalau sejak tadi dia terus bicara layaknya dia dan Gerald adalah teman dekat.
Gerald mengerutkan keningnya. Tubuhnya jelek? Apa iya? Penasaran akan hal tersebut, Gerald membuka kembali pakaian yang baru saja dikenakannya. Hanya dengan memakai celana d*lam saja, Gerald berjalan menghampiri Jessy yang tengah bersembunyi di dalam selimut. Setelah itu Gerald menyibak selimut tersebut hingga kini wajah Jessy tepat berada di depan pahanya.
Glukkkkkk
“Di bagian mananya yang jelek?” tanya Gerald kesal.
“Ap-ap-ap ….
“Jessy!”
Nafas Jessy terputus-putus saat matanya melihat area terlarang milik Gerald yang menggunduk jelas di depan wajahnya. Tak mau kejadian semalam kembali terulang, dengan cepat Jessy mendorong perut Gerald kemudian dia melompat turun dari atas kasur. Bak bertemu dengan hantu kuyang, secepat kilat Jessy melesat masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu dia menutup pintunya dengan sangat kuat hingga membuat Gerald berjengit kaget.
Andai Gerald peka, dia harusnya tahu kalau Jessy kabur bukan karena perutnya yang jelek. Melainkan karena Jessy malu melihat gundukan miliknya. Namun, sekali lagi kita kembali kalau ini adalah Gerald Thampson. Pria dengan julukan kulkas dua puluh pintu yang tidak mempunyai daya peka sedikitpun. Otaknya yang cerdas tak pernah bisa bekerja dengan baik setiap kali berhubungan dengan Jessy. Sungguh nasib seorang istri yang sangat malang sekali bukan?
Setelah puas merutuki kejelekan tubuhnya, barulah Gerald kembali mengenakan pakaiannya. Dan bukannya keluar dari kamar, Gerald malah melangkah menuju kamar mandi. Tanpa berperasaan sama sekali dia memutar knop pintu kemudian membukanya lebar-lebar.
“AAAAAAAAAA!!!!”
Jessy yang kala itu tengah membuka pakaiannya langsung menjerit histeris saat pintu kamar mandi terbuka. Segera dia melilitkan handuk ke tubuhnya kemudian berbalik menatap Gerald dengan sangat garang.
__ADS_1
“Bos Gerald , saya tahu rumah ini dibeli menggunakan uang anda. Akan tetapi tidak bisakah anda memberikan sedikit privasi kepada saya? Saya ini seorang wanita. Perlu bagi saya untuk menjaga harga diri!” ucap Jessy mencoba sabar saat menegur bosnya. Jessy berusaha untuk tetap tersenyum meski sebenarnya dia sangat ingin membenturkan kepalanya Gerald ke dinding sampai benjol. Benar-benar ya.
“Privasi apa. Semalam bahkan aku sudah melihat semua yang ada di tubuhmu. Live,” sahut Gerald dengan entengnya. Dia sama sekali tak merasa berdosa saat bicara seperti itu.
Wajah Jessy sontak memerah saat mendengar perkataan Gerald yang begitu frontal. Sungguh, dia sangat ingin menangis sekarang. Jessy sudah kehabisan akal untuk menghadapi bos sekaligus suaminya yang sangat tidak berperasaan ini.
“Karena tadi kau bilang kalau tubuhku yang jelek adalah bagian perut, mulai hari ini aku akan rajin berolahraga untuk membentuk ototnya agar semakin kekar.”
“A-apa, bos? K-kapan saya berkata seperti itu?” kaget Jessy.
Tanpa memberikan jawaban apapun Gerald langsung melenggang pergi dari sana. Dia lalu menyunggingkan senyum samar saat terbayang Jessy yang akan meneteskan air liurnya ketika melihat otot perutnya yang akan segera terbentuk.
“Apa Jessy begitu senangnya saat aku bilang ingin memperbaiki kesalahan di bagian perutku. Wajahnya terlihat sangat jelek tadi,” ujar Gerald sembari berjalan menuju lantai bawah.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Jessy berdiri sambil menatap kosong ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Sungguh, dia benar-benar sudah tidak tahu harus berkata apa. Setelah semalam tiba-tiba muncul di dalam kamar mandi dan membuatnya pingsan, sekarang Gerald kembali berulah dengan menuduhnya yang bukan-bukan. Belum lagi dengan pengakuannya yang menyebut kalau semalam Gerald telah melihat seluruh bagian tubuhnya secara live. Gila. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa malunya Jessy sekarang? Dia seperti sudah kehilangan harga diri yang selama ini dijaganya. Sungguh.
“Ya Tuhan, tidak bisakah kau memutar waktu ke kejadian dimana aku dengan bodohnya menandatangani surat perjanjian kawin kontrak itu? Aku sudah tidak kuat lagi, Tuhan. Sikapnya Gerald telah menjungkir-balikkan hidupku. Sikapnya yang dingin dan tak berperasaan sebentar lagi akan mengirimku pergi ke rumah sakit jiwa. Tolong selamatkan aku, Tuhan. Aku mohon,” ratap Jessy pilu.
Dengan langkah gontai Jessy berjalan menutup pintu kamar mandi. Setelah itu dia menanggalkan semua pakaian yang ada di tubuhnya kemudian menyalakan shower. Jessy membiarkan tubuhnya yang polos tersiram air dingin sembari merenungkan apa yang baru saja terjadi. Andai bisa memohon, dia akan lebih senang menjadi Jessy yang bukan milik siapa-siapa. Miskinpun Jessy rela asalkan bisa menjalani hari dengan peniuh ketenangan, tidak seperti sekarang yang setiap waktunya selalu didera perasaan takut dan gelisah meski pria yang tinggal bersamanya adalah suaminya sendiri.
“Apa aku gantung diri saja ya supaya tidak menderita lagi? Tapi cara apa yang harus aku gunakan untuk mengakhiri hidup? Aaaaa, pusing,” ujar Jessy melantur.
__ADS_1
***