Marriage Contract With My Secretary

Marriage Contract With My Secretary
Sebutan Nyeleneh


__ADS_3

Pricilla menyipitkan mata saat tak sengaja mendapati ada sebuah mobil misterius yang seperti sedang mengawasi kediamannya. Dia yang kala itu tengah berdiri di samping jendela memutuskan untuk mendatangi mobil tersebut. Pricilla tak mau ambil resiko dengan membiarkan penjahat mengancam keselamatannya dan juga keselamatan ibunya.


Tok tok tok


“Hei, buka kaca mobilnya. Kalian siapa?” tanya Pricilla sambil menggedor kaca jendela mobil misterius tersebut.


Sembari menunggu si pemilik mobil menampakkan wajahnya, Pricilla melihat-lihat keadaan sekitar. Dia khawatir kalau-kalau ada mobil misterius lainnya di sana. Mau bagaimana lagi. Pricilla sangat cantik. Dengan body seseksi tubuhnya bukan tidak mungkin Pricilla akan menjadi target penculikan. Khawatir, itu sudah pasti. Tapi bukan Pricilla namanya kalau dia harus mundur hanya karena rasa takut. Asal kalian tahu saja ya, Pricilla itu masuk dalam kategori gadis pemberani di dalam kelompoknya. Dia bahkan tak segan untuk menghajar pria-pria hidung belang yang berani bersikap kurang ajar kepadanya. Sungguh.


Sementara itu di dalam mobil Gerald duduk dengan tenang meski di sebelahnya ada gadis yang tengah berdiri dengan pakaian yang cukup minim. Tertarik? Tentu saja tidak. Di mata Gerald hanya tubuh bantatnya Jessy yang paling menarik. Benar, dia tidak bohong.


Hmmm, sepertinya Jessy sedang merindukan aku. Dia itukan memiliki ponsel, kenapa tidak langsung menelpon saja daripada harus repot-repot mengirim sihir? Kalau begini ceritanya akukan jadi tidak fokus.


“Bos, ada Nona Pricilla. Apakah saya perlu keluar untuk menyapa?” tanya Rooney sambil memperhatikan gadis berpakaian minim yang terus melihat kesana kemari. Sepertinya gadis ini sedang waspada.


“Biarkan saja dia mati kering di luar. Aku tidak peduli,” jawab Gerald acuh.


“Baiklah.”


Namun, Gerald adalah Gerald yang tak pernah konsisten dengan perkataannya sendiri. Barusaja dia mengatakan pada Rooney agar membiarkan Pricilla mati kering karena menunggu mereka, tapi sedetik kemudian dia sudah berada di luar mobil. Rooney yang melihat hal tersebutpun buru-buru menyusul keluar. Jujur, dia kaget.


“Hah? Kau?” pekik Pricilla sambil menunjuk wajah pria dingin yang tak lain adalah bos kakaknya. Teringat dengan ucapan Gerald yang menyebutnya anjing yang bisa bicara, Pricilla dengan angkuhnya melipat tangan di depan dada kemudian menatap sengit ke arah Gerald yang tengah menatap langit. “Mau apa kau datang kemari?”


“Tolong jaga bicaramu, Nona Pricilla. Anda tidak seharusnya bersikap kurang ajar seperti ini kepada bos Gerald!” tegur Rooney sambil menatap tak suka pada gadis liar di hadapannya.


“Yak, Tuan. Seharusnya orang yang kau ingatkan untuk menjaga omongan itu bukan aku, tapi dia!” sahut Pricilla tak terima di tegur. Dia kemudian maju selangkah agar bisa berhadapan dengan si beruang kutub berlidah tajam. “Maaf ya. Walaupun statusmu adalah bosnya Kak Jessy, jangan harap aku akan bersikap hormat kepadamu. Sampai saat ini aku masih belum lupa dengan julukan kasar yang kau lontarkan padaku waktu itu. Dan sekarang aku minta kau segera minta maaf padaku. Cepat!”


“Rooney, aku seperti mendengar suara gonggongan anak anjing. Apa kau juga mendengarnya?” tanya Gerald mengabaikan perkataan Pricilla. Dia yang sedang sibuk menghitung awan di langit segera menoleh ke arah rumah yang didiami oleh ibu tirinya Jessy. Penasaran apa yang sedang dilakukan oleh gagak tua itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun Gerald langsung pergi ke sana. Dia mengabaikan teriakan Pricilla yangmemintanya agar berhenti.


Rooney segera mengikuti Pricilla dan juga bosnya yang sedang berjalan menuju rumah. Sengaja dia berjalan agak pelan dengan maksud memberi kesempatan pada Pricilla untuk merasakan lidah tajam bosnya.

__ADS_1


“Aku bilang berhenti. Kau tuli atau bagaimana hah!” amuk Pricilla sambil menghadang Gerald yang hendak membuka pintu rumahnya. Dia kemudian memelototkan mata sambil berkacak pinggang. “Wahai bos Gerald yang terhormat, saat ini kau sedang berada di depan rumahku. Bisakah kau bersikap sopan sedikit?”


“Apa yang sedang dilakukan gagak tua itu di dalam?”


Gerald akhirnya merespon keberadaan Pricilla dengan menanyakan aktifitas apa yang sedang dilakukan oleh ibu tirinya Jessy. Pricilla yang tidak tahu siapa gagak tua yang di maksud oleh Gerald terlihat mengerutkan keningnya karena bingung.


Untuk apa manusia batu ini menanyakan tentang gagak tua kepadaku? Dia pikir rumah ini adalah kebun binatang apa? Heran.


“Ibumu,”


“Ha?”


Pricilla melongo. Dari gagak tua kenapa jadi menyasar pada ibunya? Secerdas-cerdasnya ilmuwan, Pricilla yakin mereka pasti tidak akan bisa memahami apa yang sedang di bicarakan oleh Gerald. Dia yang pintar saja dibuat tidak bisa berpikir saking neyelenehnya omongan yang keluar dari mulut pria ini. Kapasitas otak Pricilla tidak memadai untuk menampung cara bicara manusia satu ini.


“Nona Pricilla, gagak tua yang di maksud oleh bos Gerald adalah Nyonya Areta, orangtua anda dan Nona Jessy,” ucap Rooney menjelaskan. Dia maklum kalau gadis ini tidak bisa memahami perkataan bosnya. La wong Rooney sendiri kadang-kadang sampai merasa frustasi menghadapinya, jadi dia maklum-maklum saja kalau Pricilla terlihat kebingungan seperti ini.


Namun sedetik kemudian ….


“A-APA? KAU MENYEBUT IBUKU GAGAK TUA? YAKKKKK!”


Ceklek


“Pricilla, ada apa ini ribut-ribut?”


Areta menatap bergantian ke arah Pricilla dan juga dua orang pria begitu dia membuka pintu rumah. Untuk beberapa detik lamanya Areta hanya berdiri diam sambil memperhatikan satu pria yang wajahnya tidak terlalu asing. Areta merasa seperti mengenal pria ini, tapi siapa dan dimana dia pernah melihatnya?


“Nyonya Areta, kau tidak sedang sekarat bukan?” tanya Gerald to the point.


“Y-ya?” Areta membeo. Dia kurang bisa memahami pertanyaan pria tersebut.

__ADS_1


Gerald menoleh ke samping. Dia menatap Rooney penuh kelegaan. “Dia masih bernafas. Itu artinya dia baik-baik saja. Ayo pulang. Jessy pasti sudah merindukan aku!”


“Baik, bos!” sahut Rooney seraya menghela nafas pelan. Dia kemudian membungkukkan tubuhnya ke arah Nyonya Areta sebelum berlari menyusul bosnya yang sedang berjalan menuju mobil.


Mulut Areta dan Pricilla ternganga lebar menyaksikan bagaimana kedua pria itu melenggang pergi begitu saja. Areta yang tersadar lebih dulu segera mencecar Pricilla agar memberitahu siapa kedua pria tersebut. Sungguh, Areta merasa sangat penasaran sekali kepada mereka.


“Pris, mereka siapa? Ibu merasa seperti tidak asing dengan wajahnya, tapi Ibu lupa dimana Ibu pernah melihat pria itu. Kau tidak mungkin tidak tahu siapa mereka bukan?” tanya Areta penuh rasa ingin tahu.


“Astaga, Ibu. Jadi dari tadi itu Ibu tidak tahu siapa si brengsek itu?”


Pricilla mendengus. Yang benar saja ibunya tidak ingat kalau pria yang barusaja pergi adalah Gerald, bos di tempat kakaknya bekerja. “Bu, yang tadi bicara dengan Ibu adalah Gerald. Dia bosnya Kak Jessy. Masa Ibu lupa sih?”


“Ya ampun, benar pria tadi itu adalah bos kakakmu, Pris? Astaga, kenapa kau tidak memberitahu Ibu sejak tadi. Ibu pasti akan mengajaknya untuk masuk ke rumah dulu sebelum dia pergi. Kau ini bagaimana sih!” omel Areta sambil mencubit lengan Pricilla. Seorang tamu agung menyambangi kediamannya, tidakkah adalah hal yang sangat terhormat jika Areta bisa menjamunya?


“Bu, aku sarankan lebih baik Ibu jangan pernah memiliki niatan untuk memperlakukan bos Gerald dengan baik. Dia tidak pantas mendapat penghormatan dari orang yang telah di hinanya. Enak saja. Lahir batin aku tidak akan terima jika Ibu sampai nekad melakukannya!”


“Lho, kenapa kau bicara seperti itu, Pris? Gerald itu bosnya kakakmu. Apa salahnya kalau kita sedikit menjamunya?”


“Salah. Tentu saja itu sangat salah. Ibu tahu tidak tadi Gerald menyebut Ibu apa saat bertanya padaku?”


“Apa?”


“Gagak tua. Ibu di samakan dengan binatang olehnya. Tahu?”


Krik krik krik


Gagak tua? Gerald menyebutku gagak tua? In-ini aku tidak salah dengarkan? Pricilla tidak mungkin sedang mengigau bukan? Astaga jantungku!!


***

__ADS_1


__ADS_2