Marriage Contract With My Secretary

Marriage Contract With My Secretary
Undangan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Jessy dengan cepat berlari masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu dia mengunci pintu, mendorong meja dengan susah payah dengan harapan kalau Gerald tidak akan bisa masuk ke dalam kamar.


"Huhh, sialan. Kau pikir kau itu siapa ingin mengambil kegadisanku hah! Apa masih kurang juga setelah kau merenggut masa lajangku dengan sesuka hati. Aku tidak semurahan itu ya sampai harus merelakan juga sesuatu yang selama ini ku jaga dengan sangat baik. Dasar gila!" gerutu Jessy sambil bernafas terengah-engah. Ternyata berlari dan mendorong meja ini menguras tenaga juga ya. Rasa lelahnya baru terasa sekarang.


Tok tok tok


"Apa kau sedang mengajakku bermain petak umpet?"


Gerald menatap datar ke pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat. Haruskah sejelas ini untuk Jessy bermain drama sebelum malam pertama mereka? Oh ayolah. Gerald bukan tipe manusia yang suka mengulur waktu seperti ini. Lebih baik sat set sat set, beres. Kan enak. Benar tidak teman-teman?


"Jessy, buka pintunya!"


"Tidak akan!" sahut Jessy dari dalam kamar. Dia lalu tersenyum puas karena Gerald tidak akan bisa masuk kemari. "Bos, saya tahu rumah ini di beli dengan menggunakan uang anda. Akan tetapi kepemilikan rumah ini atas nama saya, jadi saya minta malam ini anda tidurlah di ruangan lain. Saya lelah, ingin segera istirahat!"


"Lalu bagaimana dengan malam pertama kita?" tanya Gerald dengan polosnya.


"Tidak ada malam pertama malam pertama-an. Antara kita hanya kontrak, dan saya tidak bersedia untuk melakukannya dengan anda!" jawab Jessy.


"Oh,"


Eh, hanya oh saja? Wahhhh, benar-benar pria brengsek. Apa dia pikir kata oh-nya itu bisa menyelesaikan masalah? Hah.

__ADS_1


Hening. Jessy langsung mengerutkan kening saat tak terdengar lagi suaranya Gerald. Untuk memastikan apakah Gerald benar-benar sudah pergi atau belum, Jessy segera menempelkan telinganya ke daun pintu.


"Ah, sepertinya pria cabul itu benar-benar sudah pergi. Akhirnya," ujar Jessy lega. Setelah itu Jessy memutuskan untuk membersihkan tubuh di dalam kamar mandi.


Meskipun di rumah mertuanya ada banyak sekali AC yang dinyalakan, tapi tetap saja tubuh Jessy bermandikan keringat dingin. Bagaimana tidak! Dia yang dulunya adalah seorang sekertaris dari penerus semata wayang keluarga Thampson, mendadak mendapat jamuan khusus sebagai cucu menantu di keluarga tersebut. Siapalah yang tidak gemetar di hadapkan dengan sesuatu seperti itu, apalagi Jessy sempat di tinggal sendiri oleh Gerald. Sudah pasti penderitaannya semakin besar dan keringat yang menetes keluar semakin banyak. Belum lagi dengan adegan lari-larian tadi, membuat gentong penampung keringat di tubuh Jessy meluap. Dia gerah, benar-benar sangat gerah.


"Sebaiknya aku berendam saja lah. Semua urat syaraf di tubuhku terasa kaku, jadi aku perlu memanjakan mereka sejenak sebelum tidur. Hmmm," ucap Jessy sembari mengisi bathup dengan air hangat.


Tak berselang lama, di dalam kamar mandi yang di dominasi warna putih terlihat Jessy yang sedang asik bermain busa. Rambutnya yang setengah basah membuat penampilan Jessy terlihat sangat amat seksi. Juga dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya, membuat sepasang mata yang tengah memperhatikannya tak mampu untuk berkedip. Ya, sepasang mata itu milik Gerald. Seperti yang kalian tahu kalau Gerald itu mempunyai jalan rahasia dan juga kunci cadangan untuk kamar ini. Jadi meskipun Jessy mati-matian membuat strategi agar Gerald tidak bisa masuk, hal tersebut hanya akan sia-sia saja karena nyatanya sekarang Gerald sudah berada di dalam kamar mereka dan sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Apa ini adalah undangan?" gumam Gerald seraya menelan ludah. "Dia mengunci pintu, bahkan sampai menjadikan meja untuk memblokirnya agar aku tidak bisa masuk. Tapi kenapa dia malah membiarkan pintu kamar mandi terbuka seperti ini? Kau benar-benar wanita yang sangat agresif, Jessy. Mengerikan!"


Mungkin malam ini akan menjadi malam yang sangat amat bersejarah bagi Jesslyn Ocana karena telah menganggap remeh seorang Gerald Haidar Thampson dengan berpikir kalau pria itu tidak akan bisa masuk ke kamarnya. Dia salah besar. Gerald adalah Gerald yang mempunyai seribu cara agar keinginannya bisa terwujud. Dan salah satunya adalah menghabiskan malam pertamanya dengan Jessy, sekertaris yang telah dinikahinya secara kontrak.


Jessy panik sampai seperti akan mati melihat Gerald yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Dia yang kala itu hanya mengenakan pakaian dalam hanya bisa menenggelamkan tubuhnya ke dalam air yang ada di bathup. Dengan wajah pucat pasi seperti orang yang baru saja melihat hantu, Jessy menatap takut ke arah Gerald yang hanya diam saja sambil memandanginya tanpa kedip.


"B-bos, ini benar kau 'kan?" tanya Jessy tergagap. Dia bingung apakah Gerald yang ada di sampingnya ini benar-benar Gerald asli atau hanya Gerald bayangan saja.


"Apa kau berharap kalau aku ini Rooney?" sahut Gerald balik bertanya.


"A-apa?"

__ADS_1


Gerald menghela nafas. Dia lalu membuka pakaiannya satu-persatu, membiarkan Jessy menatapnya dengan raut wajah penuh pesona. Wajarlah, Gerald mempunyai bentuk tubuh yang sangat atletis dengan deretan roti sobek yang begitu kekar. Jadi Gerald tak merasa heran kalau Jessy sampai seterpesona ini menatapnya. Iya 'kan?


Tidak ... tidaaakkkkkk!!!! Ya Tuhan, bagaimana ini. Kenapa Gerald malah melucuti semua pakaiannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dan, dan kenapa juga tubuhku terasa kaku dan sulit untuk di gerakkan. Kenapa ini? Apa yang terjadi padaku?


"Aku tahu tubuhku keren," ucap Gerald sambil melangkah masuk ke dalam bathup. Dia lalu tersenyum melihat Jessy yang kaku dengan mata membulat lebar. "Kenapa? Apa kau merasa tidak percaya bisa mandi berdua denganku?"


"B-bos, in-ini tidak benar. T-tolong keluarlah, jangan seperti ini!" usir Jessy antara ingin marah dan menangis. Marah karena tubuhnya tidak bisa di ajak bekerja sama, dan menangis karena sekarang Gerald tengah memeluknya dari belakang. Mungkin jika hal ini terjadi pada wanita lain, wanita itu pasti akan senang-senang saja mendapat perlakuan seperti ini. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk Jessy. Dia malah berkeinginan untuk membenturkan kepala Gerald kemudian mencincang tubuhnya sampai halus. Jiwa psikopat di diri Jessy selalu saja mencuat setiap kali Gerald berprilaku aneh padanya. Dan sekarang ... astaga. Siapapun tolong Jessy. Ini darurat.


"Kau yang mengundangku, kenapa malah mengusirku setelah aku datang, hm?" bisik Gerald tepat di belakang daun telinga Jessy. Dia lalu meniupnya, tersenyum samar begitu melihat pori-pori di kulit Jessy membesar.


"S-saya tidak pernah mengundang anda, bos. Malah sa-saya bingung kenapa anda bisa tiba-tiba ada di kamar mandi. A-anda tidak mungkin menebus dinding 'kan?"


"Hmmm,"


Tak ada lagi percakapan yang terjadi di dalam kamar mandi saat Gerald mengalungkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Jessy dari belakang. Sementara Jessy sendiri, entahlah. Emosi, marah, takut, gemetar, gugup, semua itu bercampur menjadi satu saat Gerald tiba-tiba menciumi bahunya yang terbuka. Rasanya ingin sekali Jessy melarikan diri dari sana. Namun sayang, tubuhnya menolak.


"Bos, t-tolong biarkan saya keluar dari sini. S-saya tidak bisa," ucap Jessy lirih. Detak jantungnya sudah tidak normal, nafasnya juga mulai sesak.


"Kalau tidak bisa maka belajarlah. Jangan khawatir," sahug Gerald semakin tidak bisa mengontrol gerak tubuhnya. Bahkan di saat berdua seperti ini Jessy masih menggunakan sihir untuk menjerat pikirannya. Benar-benar kelewatan.


"Tapi bos, saya ....

__ADS_1


Entah mati lampu atau bagaimana, tiba-tiba saja pandangan mata Jessy berubah gelap. Rasa gemetar yang Jessy rasakan semakin bertambah besar saja saat tangan Gerald memutar tubuhnya agar menghadap ke belakang. Dan ... semua itu akhirnya terjadi.


****


__ADS_2