
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Arsy begitu bingung dengan posisinya di rumah suaminya itu. Dia adalah seorang istri, tetapi dia tidak mendapatkan hak-hak sebagaimana semestinya sebagai seorang istri dan juga menantu.
Jika dirinya hanya pembantu saja di rumah itu, tetapi kenapa dia harus menjalankan semua kewajiban sebagai seorang istri. Bukan itu saja, bahkan dia juga mempunyai berkas yang sah di mata hukum dan dimata agama sebagai istri dari Adi.
Arsy masih terus termenung meski malam kian larut. Sesekali dia melihat Laili tetapi juga kadang beralih kepada suaminya yang keduanya sudah tertidur begitu lelap. Sementara dirinya? Dia sama sekali tidak bisa tidur dan terus memikirkan posisi apa sebenarnya dirinya di rumah tersebut.
"Kenapa kamu buat aku jadi seperti ini, Mas?" Tanya Arsy pada Adi yang tertidur.
Sudah begitu lama dia bertahan dalam hubungan yang sangat menyakitkan. Jika ditanya kuat atau tidak, tentu saja dia akan menjawabnya tidak. Tetapi, jika dia harus pergi dari rumah itu, lalu dia harus pergi ke mana?
Dirinya masih mempunyai keluarga, kedua orang tuanya masih lengkap tetapi mereka juga hanya tinggal di rumah kakaknya yang ikut dengan suaminya, bagaimana mungkin dia juga akan datang ke sana dan menjadi beban dari kakaknya.
Awalnya mereka memang tidak memiliki rumah, hanya sebuah kontrakan kecil dan sekarang kedua orang tuanya tidak lagi tinggal di kontrakan karena diajak oleh kakaknya. Sementara dirinya ikut dengan suaminya setelah menikah.
Tidak mungkin kan Arsy harus pergi dari sana tanpa tujuan yang jelas?
Laili masih sangat kecil, tidak akan tega jika dia harus ikut dengannya dengan tak ada arah tujuan. Lagian untuk sekarang dirinya juga tidak ada uang sedikitpun. Pergi dari sana jelas akan membuat dirinya semakin menderita.
"Kenapa kamu berubah, Mas? kamu tidak sama dengan mas Adi yang dulu lagi." gumamnya lagi.
Semakin mengingat kenangan yang sangat menyenangkan dulu akan membuat Arsy semakin sakit hati. Apa yang pernah dia impikan tidak pernah dia dapatkan setelah menikah, tujuannya seolah hangus begitu saja tanpa kepastian.
Siapa yang harus di salahkan kalau sudah seperti ini. Dirinya, Adi, mertuanya atau mungkin takdir?
__ADS_1
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Arsy begitu sibuk, menyiapkan persiapan semua orang sebelum pergi beraktivitas mereka masing-masing. Adi dan kedua mertuanya yang bekerja, juga Laili yang sekolah.
Sejak kejadian dirinya dengan Sam waktu itu kedua mertuanya jarang sekali bicara dengannya, hanya selalu tatapan sinis yang mereka berikan. Sementara Adi? dia juga semakin irit bicara dan juga selalu gampang marah.
Entah sampai kapan kesabaran Arsy akan terus di uji.
Kala semua sudah siap baru semua orang berdatangan. Mereka langsung datang saat sarapan dan teh sudah tersedia, tak ada yang mau membantu dan tau seberapa besar kesibukannya.
"Nah, begini dong! sesekali itu masak ayam," ucap Lusi sinis.
"Arsy, kenapa hanya ayam? bukankah kemarin aku bilang kamu harus beli daging."
"Maaf, Mas. Panenan Arsy belum bisa mencukupi untuk membeli daging, kalau sudah cukup pastilah akan Arsy beli."
Dengan pelan Arsy bicara, fak peduli seberapa mereka sinis padanya karena dia masih mau berasa di sana. Kalau sampai mereka kesal dan mengusirnya maka dia akan jadi gelandangan dan apa yang dia kerjakan akan hilang tanpa hasil.
"Baik, jangan lupa setelah panen banyak." Adi begitu menegaskan.
Kembali Arsy diam, biarkan untuk sekarang dia diam dan selalu mengalah. Tapi dia yakin ini tidak akan selamanya.
Mereka begitu menikmati apa yang Arsy masak. Meski masih komentar tapi tetap saja mereka menghabiskan.
'Untung saja aku sudah nyisain di belakang,' batin Arsy. Jika dia tidak menyisakan jelas saja dia tidak akan pernah mencicipinya, dia juga harus menyimpan untuk Laili makan siang nanti setelah pulang sekolah.
__ADS_1
Mereka bisa membeli di luar dengan mudah, tapi dirinya dan juga Laili? mereka tidak akan mudah memakannya kan?
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Begitu senang Arsy bisa memanen lagi tanaman yang dia tanam. Alhamdulillah, hasilnya sangat lumayan untuk sekarang dan dia bisa menabung sedikit demi sedikit.
Suaminya dan juga para mertuanya bisa mengumpulkan uang karena mendapatkan gaji dari pekerjaan mereka, dan alhamdulillah sekarang dia juga bisa mengumpulkan dengan hasil tanamannya.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa menabung juga." ucapnya.
Hatinya begitu bungah mendapatkan uang yang memang tak seberapa jika di bandingkan dengan mereka yang bekerja di pabrik. Hanya tapi hal itu bisa membuat Arsy bahagia dan terus mengucap syukur.
Setelah sampai rumah Arsy bergegas menyimpan uang yang tak seberapa. Dia harus bisa menabung untuk bisa membuktikan warung kecil- kecilan di rumahnya.
Jika dia bisa membuka warung jia siang dua bisa buka warungnya, sementara pas pagi dia tetap bisa ke ladang untuk mengurus tanamannya, jadi semua akan berjalan.
"Ya Allah, semoga saja apa yang aku impikan akan bisa terwujud. Amin."
Tak masalah hanya sedikit demi sedikit, jika dia bisa membuka warung maka dia bisa bangga karena dia usaha dengan modal sendiri dan tidak akan meminta pada siapapun.
"Meskipun aku sangat kesal pada mereka tapi aku harus tetap membeli daging sesuai janji ku. Dengan itu mereka tidak akan bicara lagi." gumamnya.
»»——⍟——««
Bersambung...
__ADS_1