
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Begitu senang Laili bisa di ajak ke pasar oleh Arsy. Hanya berdua saja karena memang akan selalu seperti itu, mereka akan kemana-mana berdua dan tak akan ada yang lain lagi menemani.
"Bu, Laili boleh beli ayam goreng tidak?" tanyanya. Menghentikan langkah Arsy dengan menarik tangannya saat melihat penjual ayam goreng di depan pasar.
Arsy menoleh, melihat penjual tersebut lalu beralih pada Laili. "Boleh, kita beli ya nanti buat makan di rumah."
"Iya, Bu." Laili semakin bahagia, sembari melangkah dia terus tersenyum dan tak pernah melepaskan genggaman tangan dari Arsy.
Semakin senang Laili saat dia sudah menggenggam plastik bening yang berisi ayam goreng yang Arsy beli, sembari menunggu ibunya membayar dia terus melihat dengan tak sabar dan hanya memotong kecil untuk di cicipi.
"Bu, ini sangat enak," katanya dengan wajah yang mendongak kepada Arsy. Arsy tersenyum dan kembali menggandeng Laili untuk kembali berjalan.
Ternyata Arsy pergi ke pasar bukan hanya sekedar membeli bahan makanan saja yang sudah habis di rumah, tapi dia juga membeli beberapa bahan untuk dia jahit di tempat budhe Tantri.
Meski awalnya tak ada niat tapi akhirnya perlahan-lahan Arsy sudah mulai menguasai. Tak butuh kursus berbayar mahal juga tak butuh sekolah tinggi dan sekarang dia sudah mulai bisa dengan di bantu oleh budhe Tantri.
Ternyata Arsy memang punya bakat untuk itu, dia memang hanya lulusan SD saja, tapi dia ada besik dalam urusan busana. Dia bisa mendesain juga bisa memadukan kain-kain yang mana yang cocok.
Arsy masih terus memilih beberapa potong kain yang akan dia beli, bukan hanya memperhatikan bahan yang dia ingin tapi dia juga melihat harganya yang relatif murah.
Arsy belum benar-benar membutuhkan kain yang bagus karena dia juga baru tahap belajar. Hingga akhirnya pelayan toko menunjukkan kain-kain sisa yang pasti lebih murah dari yang lainnya.
"Bu, kok belinya banyak, mau buat apa?" tanya Laili penasaran.
"Ibu mau bikin baju untuk Laili, mau?" jawab Arsy. Meski hanya potongan-potongan kecil akan cukup kalau hanya untuk baju Laili saja. Yang seharusnya dapat beberapa potong saja Arsy bisa mendapatkan banyak potong dengan beraneka warna dan macam.
"Mau mau," Laili mengangguk cepat. Dia sangat senang akhirnya akan punya baju baru apalagi bajunya ibunya sendiri yang buat pasti akan sangat memuaskan.
"Jadi semuanya berapa, Mbak?"
"Semuanya sembilan puluh sembilan, Mbak." Jawab pelayan toko tersebut. Senyumnya begitu ramah membuat para pelanggan akan selalu betah di sana.
Transaksi di lakukan dan Arsy berhasil mendapatkan kain yang benar-benar satu kresek dengan ukuran lumayan. Meski hanya potongan setengah meter atau lebih sedikit akan cukup untuk baju Laili, sekalian bagi Arsy untuk belajar.
"Sekarang kita pulang." Sudah mendapatkan semuanya membuat Arsy sangat bahagia, dia kembali menggandeng Laili dan mereka berjalan bersama.
"Bu, bukannya itu Budhe Rani ya?" Laili menunjuk seseorang sembari berjalan, menunjukkan pada Arsy dan jelas saja membuatnya menoleh juga.
__ADS_1
Arsy terdiam, dia juga berhenti untuk melihat sekaligus memastikan bahwa dia tidak salah melihat orang. Ternyata benar, dia adalah Rani yang tengah duduk di warung makan berhadapan dengan seorang laki-laki.
'Mbak Rani bicara sama siapa?' batin Arsy.
Terlihat Rani begitu akrab dengan laki-laki tersebut begitu juga dengan laki-laki itu yang bahkan menggenggam tangan Rani yang berada di atas meja. Tidak mungkin Rani bermain api di belakang kakak iparnya kan?
"Ibu, ayo kita pulang. Laili sudah sangat lapar." ajak Laili. Kembali dia menarik tangan Arsy dan membuat lamunannya buyar.
"I_iya," Arsy kembali berjalan. Keduanya masuk ke salah satu angkutan umum yang kebetulan melintas di depan mereka.
Sejenak Arsy masih melihat Rani dan juga laki-laki itu, semakin di lihat semakin membuat Arsy percaya kalau Rani memang punya hubungan yang lebih dengan laki-laki itu.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Begitu lahab Laili makan dengan ayam goreng yang di beli dari pasar. Untung saja kakek neneknya juga ayahnya tidak ada di rumah karena belum pulang, kalau sudah mungkin akan ada drama sebelum makan.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang. Suaranya sangat Laili kenal dan jelas langsung membuatnya menoleh.
"Wa'alaikumsalam, Kak Rey!" seru Laili. Dia langsung berdiri dan menyambut kedatangan kakak sepupunya.
"Laili lagi apa?" tanyanya.
"Tidak, kakak sudah makan." Rey duduk di sebelah Laili melihat si kecil itu kembali makan dengan begitu lahab.
Baru beberapa saat Rey duduk Arsy keluar dengan membawa gelas berisi air putih yang ingin dia berikan kepada Laili.
"Rey," sapa Arsy. Dia melangkah semakin cepat dan meletakkan gelas di atas meja di depan Laili yang masih makan. Arsy menoleh.
"Kamu sendiri?" tanya Arsy lagi.
"Iya, Bulik. Mama dan papa belum pulang dan Rey kesepian di rumah makanya langsung kesini saja supaya bisa main dengan Laili."
"Gimana kabarmu, sudah sehat?" Arsy sudah duduk.
"Sehat? Rey tidak sakit." Jawabnya, terdengar sangat jelas dan juga terdapat kejujuran di matanya.
Tidak sakit? Tapi kemarin bukannya Rani bilang Rey sedang sakit?
"Oh, syukurlah kalau kamu sehat. Makan ya, bareng sama Laili?"
__ADS_1
"Tidak, Bulik. Rey sudah makan tadi," jawabnya.
Arsy kembali diam, kenapa Rani berbohong dan kenapa harus kesehatan anaknya sendiri yang di permainkan. Dia jelas-jelas sangat sehat kenapa di bilang sakit?
"Bulik kenapa?" tanya Rey penasaran karena melihat Arsy yang terdiam.
"Tidak apa-apa," Arsy tersenyum kecil, berusaha bertingkah biasa-biasa saja supaya Rey tak curiga dan bertanya lagi.
Arsy juga merasa sangat aneh, bukankah seharusnya Rani bekerja untuk sekarang, tapi kenapa tadi dia melihat dia di pasar?
"Bulik masuk dulu ya, kamu main saja sama Laili kalau dia sudah selesai makan, Bulik mau nyuci dulu," pamit Arsy.
Rey mengangguk, merasa aneh dengan Buliknya tapi dia tak berani bertanya dan memilih diam saja.
Sementara di pasar, baru saja Rani keluar dari salah satu toko baju bersama seorang laki-laki. Keduanya terus bergandengan dengan begitu dekat selayaknya seorang remaja yang tengah di mabuk asmara.
"Mas, terima kasih ya sudah di belanjain. Mana semuanya bagus-bagus lagi." ucap Rani.
Jelas dia sangat bahagia karena traktiran dari laki-laki yang memiliki perut sedikit buncit itu.
Laki-laki itu tersenyum, dia menoleh lalu mengelus dagu Rani dengan begitu lembut.
"Apa sih yang tidak. Hanya ini saja kecil buatku, yang terpenting kamu selalu memberi imbalan yang pantas untukku," jawabnya.
"Siap, tak masalah yang terpenting harus setiap bulan."
"Sesuai imbalan yang kamu berikan, Rani. Semakin sering maka semakin sering juga kamu mendapatkan barang-barang yang kamu mau," ucapnya.
Semakin bahagia Rani mendengar penuturan dari laki-laki perut buncit itu. Jelas saja dia juga akan bersedia karena dia memang sangat menyukai belanja, dia sangat suka shopping.
"Terima kasih ya, Mas."
"Sama-sama, Rani. Sekarang hanya tinggal imbalannya untukku." semakin semangat laki-laki itu merangkul Rani. Terlihat semakin tak sabar hingga akhirnya mereka berdua masuk ke mobil berwarna hitam yang terparkir tak jauh.
"Mas, besok-besok kita belanjanya di mall ya," ucap Rani.
"Siap," jawabnya dan mulai menjalankan mobil.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
__ADS_1
Bersambung...