
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
"Mas, ini?" tanya Arsy. Ada yang aneh dengan baju yang baru saja dia lepaskan saat pulang bekerja.
Niatnya Arsy akan langsung dia cuci sembari dia mandi sekalian. Namun yang dia temukan malah bau parfum wanita juga ada bekasi lipstik di kemeja birunya yang tepat di dada.
"Ada apa sih?!" tanya Adi, dia hanya melirik dan dengan sangat malas. Dia sudah mengganti pakaiannya sekarang dengan yang hanya baju rumahan.
Arsy langsung berjalan menghampiri karena Adi hanya diam dan tak bergeming, Arsy memperhatikan apa yang dia dapat pada Adi. Apa yang akan dia jelaskan setelah ini.
"Mas, kenapa baju mas bau parfum wanita, dan juga ini! ini kenapa ada lipstik di sini? mas tidak macam-macam kan?" tanya Arsy curiga.
Baru kali ini Arsy menemukan hal yang seperti ini, meski Adi tidak selalu baik padanya tapi dia tidak pernah mendapatkan hal yang sangat membuat dadanya terasa sangat sesak seperti ini.
Ingin dia menepis apa yang dia pikirkan, tapi bukti semua membenarkan apa yang dia pikirkan.
"Macam-macam yang seperti apa maksudmu?!" mata Adi terbelalak garang. Dia langsung ingin marah karena pertanyaan Arsy.
Tidak mungkin Adi akan mengatakan kalau itu adalah bekas dari Siska sang mantan kekasih yang sekarang kembali membina kisah cinta.
"Mas, Mas tidak bermain dengan wanita lain kan?" tanya Arsy menekankan.
"Bukan aku yang selalu bermain dengan wanita lain, tapi kamu sendiri yang telah bermain dengan perjaka tua itu. Kamu yang melakukan tapi kamu juga yang menuduh, pintar sekali kamu ya."
Semakin garang wajah Adi, dia sangat marah dan tak suka dengan pertanyaan Arsy yang terlalu ikut campur.
"Lalu ini apa, Mas!"
"Apa, ini hanya..., hanya tidak sengaja menolong orang saja yang kebetulan jatuh dan aku ada di depannya, jadi tak masalah kan?" ucap Adi beralasan.
Adi tetap mengelak, dia tidak mengakui apa yang sudah dia lakukan, di belakang Arsy. Dia sendiri yang bermain di belakang tapi nyatanya dia yang menuduh Arsy yang melakukan.
"Sudah ya, aku lapar mau makan bukan mau debat." Adi langsung melenggang pergi.
__ADS_1
Arsy terdiam, hatinya sangat sakit karena semua yang terjadi. Meski Adi tidak mengakuinya tapi Arsy sangat yakin kalau Adi memang melakukannya.
"Kamu tidak berbohong kan, Mas?" tanya Arsy pada dirinya sendiri. Dadanya sangat sesak hingga membuat matanya kian meremang panas.
Sebelum air mata itu keluar Arsy lebih dulu mengusapnya dan tak ada yang tau akan kesedihannya.
"Sabar Arsy, Sabar. Allah tidak pernah tidur, Allah tidak akan pernah pergi meninggalkanmu, bersabarlah." gumam Arsy sedih.
Kejadian itu tak sengaja Laili lihat, dia terus mendengar perdebatan kedua orang tuanya di depan pintu. Sedih, jelas saja Laili akan sedih karena tak mau dia melihat kedua orang tuanya bertengkar seperti ini.
"Nak, kamu?" tanya Arsy, Laili masuk dengan diam dan tentu dengan wajah yang sangat sedih.
"Ibu, kenapa ayah dan Ibu bertengkar. Laili tidak mau mendengar lagi," katanya.
"Maaf Ibu ya, Nak." di peluk anaknya itu, dia juga tidak mau seperti ini, tapi mau bagaimana lagi.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bidadari kecil si Laili belum bisa memejamkan mata, tak ada yang salah padanya, dia tidak dalam keadaan sakit dan juga tidak dalam keadaan lapar, namun matanya sangat sulit untuk terpejam.
"Ibu, apakah di surga kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan? " tanyanya dengan wajah polos.
Arsy terhenyak, darimana Laili mengenal yang namanya surga, padahal dia belum pernah bercerita tentang surga padanya. Apakah dia sudah belajar dulu sekolah?
"Iya, di dalam surga apapun yang kita minta akan kita dapatkan. " jawab Arsy dengan begitu lembut. Mungkin memang saatnya Laili nya mengenal dengan benar apa itu surga.
"Benarkah? " tanyanya antusias.
Arsy tersenyum, lalu dia mengangguk dengan pelan.
"Kalau aku mau minta mainan banyak, apakah aku bisa mendapatkannya di surga? " tanyanya lagi dengan wajah yang terus bersinar
"Tentu." jawab Arsy, berusaha membesarkan hati dari bidadari kecilnya.
__ADS_1
"kalau begitu, kita pergi ke surga sekarang saja, Bu. " ajaknya seraya menarik jari telunjuk Arsy untuk mengajaknya pergi dari rumah yang sangat menyedihkan itu.
"Tidak bisa sekarang, sayang. " jawab Arsy, mulai memberi pengertian, dan tentunya dengan begitu lembut sembari merengkuh tubuh mungil sang Laili.
"Tapi aku maunya sekarang, Bu. Aku mau pergi ke surga sekarang bersama Ibu. " kekeuh nya.
Jelas Arsy bingung, bagaimana dia akan menjelaskan pada Laili tentang surga. Kalau kita tak akan bisa pergi ke surga begitu saja.
"Emangnya kenapa kamu mau ke surga? " tanya Arsy penasaran.
"karena di surga aku bisa mendapatkan apapun, yang tidak bisa aku dapat di sini, Bu. Aku pengen kayak teman-teman yang bisa mendapatkan apapun. mereka punya banyak mainan, sedangkan aku tidak bisa mendapatkannya. " ucapnya pilu.
"Aku ingin memiliki ayah yang sayang dan bisa memeluk Laili dengan lembut dan bisa selalu mengantarkan Laili sekolah sama seperti yang lain juga."
Butir-butir bening keluar dari sudut mata sang Arsy. Arsy mengeratkan rengkuhan pada Laili mengucapkan maaf karena dia tak bisa mewujudkan semua keinginannya.
"Maafkan, Ibu. " Arsy mulai terisak.
"Aku ingin pergi ke surga hanya dengan Ibu. katanya kalau di surga semuanya bahagia tak ada yang menangis. Aku ingin pergi ke surga bersama Ibu, karena aku tak mau setiap hari melihat Ii menangis. Aku ingin bisa selalu melihat senyum Ibu, dan kita tersenyum bahagia bersama di surga." ucapnya lagi.
Arsy semakin terisak mendengar keinginan bidadari kecilnya. Arsy tidak bisa memberikan apapun yang di minta bidadari kecilnya karena keterbatasan, dan bidadari nya mengajaknya ke surga karena selalu melihat sang Ibu selalu menangis di setiap hari nya karena kekecewaan.
Dari mana Laili tau? Arsy selalu menyembunyikan semua air matanya dari Laili. Dia tidak mau Laili akan berpikir macam-macam seperti ini dan ternyata itu terbukti.
"Sekarang saja Ayah malah pergi kan, Bu. Padahal sudah sangat malam. Apakah Laili tidak bisa juga mendengarkan ayah membacakan dongeng untuk Laili?" ucapnya lagi.
Hati Ibu mana yang tahan dengan semua perkataan yang menjadi keinginan yang sebenarnya sangat sederhana dari seorang anak. Bahkan semua ayah bisa melakukannya dengan mudah, tapi kenapa Adi tidak bisa memberikannya, paling tidak sekali saja untuk Laili.
"Yang sabar ya, Sayang. Allah pasti akan memberi kita kebahagiaan. Laili harus yakin dan juga selalu berdoa ya," ucap Arsy masih dengan terisak.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bersambung.....
__ADS_1