Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Kios Yang Berantakan


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Semangat untuk menjemput mimpi. Arsy begitu mantap mengayunkan langkah untuk menuju ke pasar, lebih tepatnya ke tempat dia akan mengais pundi-pundi rupiah di tempat usahanya yang baru beberapa hari dia buka.


Senyumnya terus mengembang setelah dia turun dari angkutan yang mengantarkannya sampai tujuan. Sesekali menoleh melihat keramaian pasar, tapi juga menunduk melihat kearah jalanan yang dia pijak.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," gumam Arsy. Langkahnya terhenti saat sampai di depan kios yang di sewa untuk satu tahun ke depan.


Mendekatkan tas yang menggantung dari pundak untuk mengambil kunci yang tersimpan di dalamnya. Arsy kembali melangkah setelah mendapat kunci tersebut.


"Bismillaa Hirrahmaa Nirrahiim," ucapnya. Sebagai pembuka pertama kalinya dan memohon keberkahan dari Sang Pemberi Rezeki, berharap akan mendapatkan rezeki yang halal untuk hari ini.


Baru juga Arsy hendak memasukkan kunci ke dalam lubangnya, dua di buat terkejut. Pintu terlihat di congkel dan begitu mudah terbuka, hingga dalam sekali dorong Arsy dapat melihat keadaan di dalamnya.


"Astaghfirullah!" pekik Arsy. Matanya membulat melihat ruangan yang kemarin begitu rapi dan sekarang semuanya berantakan. Semua berserakan di mana-mana, bahkan benang yang kemarin tersusun rapi kini amburadul bercampur menjadi satu. Terlihat seperti benang ruwet di lantai.


Arsy menatap nanar semuanya, kursi dan meja, bahkan juga mesin yang akan menjadi ladang untuk mencari rezeki kini juga berantakan. Apakah masih bisa di gunakan? Mata Arsy kian meremang hingga akhirnya dia tak mampu menahan air matanya, dia menangis.


"Ya Allah, siapa yang telah tega melakukan ini padaku? Apa kesalahanku, apa yang aku perbuat pada mereka?" gumam Arsy. Hatinya terasa begitu sakit seakan tercabik-cabik.


Perlahan Arsy berjongkok, mengambil dan mulai membereskan satu persatu yang mungkin masih bisa digunakan. Hilang sudah semuanya, modal yang dia gelontorkan kini hanya mubazir saja karena perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab.


Terus Arsy tersedu, tangannya terus bergerak tak semangat bersamaan dengan tubuhnya yang mendadak terasa kaku. Jelas saja itu yang dia rasakan.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Senyum sinis terukir indah di bibir Rani, dia begitu bahagia mendapati orang suruhannya yang bisa diandalkan dalam pekerjaannya.


"Bagaimana, benar-benar beres kan?" tanya Rani. Tatapannya begitu tajam memperlihatkan dua orang berbalut pakaian jins yang compang-camping juga dengan beberapa rantai yang mereka gunakan sebagai aksesoris.


"Beres, Bos. Tenang saja, dia tidak akan bisa buka usahanya pagi ini. Dia juga pasti tidak akan lagi bisa membuka usahanya, semua butuh modal lagi kan, Bos?" salah satu menyeringai bangga akan keberhasilannya.


Pekerjaan yang begitu mudah bagi mereka berdua, jangankan hanya mengacak-acak kios baru saja, pekerjaan yang lebih sulit saja mereka pasti bisa mengerjakan, mereka selalu bisa diandalkan kan?

__ADS_1


"Bagus, ini bayaran kalian. Ingat! saya tidak mau sampai semua ini bocor, kalian harus bisa tutup mulut. Dan ya! Jangan pernah libatkan saya lagi jika kalian ketahuan, kalian mengerti?" tegas Rani.


"Siap, Bos. Bos tenang saja. Asalkan bayarannya beres maka semuanya juga akan beres." yang satunya lagi ikut bicara.


Keduanya terlihat begitu bahagia, bagaimana tidak! Hanya bekerja dalam hitungan beberapa menit saja mereka bisa mendapatkan uang jutaan. Apa yang mereka lakukan itu setara dengan mereka memalak pedagang satu pasar dalam satu hari.


"Bagus, sekarang pergilah. Aku tidak mau ada orang yang curiga."


"Baik, Bos. Jangan lupakan kami kalau ada tugas lagi, Bos." ucap satunya.


Keduanya mulai membalik, saling tatap sebelum akhirnya mereka berlalu pergi meninggalkan Rani yang kini tersenyum bahagia.


"Rasakan kami Arsy. Kamu memang tidak ada masalah denganku, tapi aku hanya tidak mau kamu sukses. Kamu harus tetap menjadi seperti sekarang, aku tidak sudi kamu menjadi lebih baik daripada aku." gumam Rani dengan segala kelicikannya.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Tubuh Arsy semakin lemas saat ini, terpaksa dia kembali dengan tangan kosong juga mimpi yang juga seolah sama. Mimpi yang telah dia rajut kini terasa hilang dalam sekejap.


Tinn!!


"Arsy!" bruk! Arsy dan juga pria yang menolongnya sama-sama jatuh di trotoar saat ada motor yang melaju cepat dan hampir menabrak Arsy.


Keduanya sama-sama berguling-guling di trotoar dengan keadaan pria itu memeluk Arsy yang begitu shock dengan kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya.


Netra keduanya saling bertemu setelah keduanya berhenti bergerak. Arsy ada di atas tubuh pria itu yang kedua tangannya bahkan sama sekali tidak terlepas.


Dalam waktu beberapa detik posisi itu berlangsung dan berakhir ketika ada orang yang berlari dan menanyakan keadaan keduanya.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya orang itu yang juga sangat terkejut.


"Hah!" Arsy tersadar, dia seketika menjauh dari tubuh pria itu yang tak lain adalah Frans Samuel.


Arsy bergegas berdiri, begitu juga dengan Frans. "Arsy, kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka kan?" tanya Frans, dia terlihat begitu khawatir dengan keadaan Arsy yang masih terdiam.

__ADS_1


"Arsy, kamu tidak apa-apa kan?" kembali Frans bertanya. Meski biasa terkejut tapi tidak sampai membuat Arsy begitu shock seperti sekarang ini.


'Sebenarnya apa yang terjadi pada Arsy, dia terlihat begitu berbeda. Dia tidak ada masalah kan?' batin Frans yang terus menatap Arsy penuh selidik.


Arsy tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan, dia begitu tak semangat.


Perasaannya begitu kalut dengan semua yang menimpa dirinya. Apa salah dirinya hingga begitu banyak orang yang ingin membuat dia menderita.


"Mas, Mas tidak apa-apa kan?" kembali orang tadi bertanya.


"Tidak apa-apa, Pak. Kami baik-baik saja," jawab Frans. Meski ada beberapa yang terluka dan terasa nyeri tapi itu tidak masalah, Frans bisa mengendalikannya.


"Syukurlah, kalau begitu saya pergi. Jaga istri Mas baik-baik, sepertinya dia sedang ada masalah." ucapnya seraya pamit dari hadapan Frans.


Istri?


Frans mengangguk saja, dia tersenyum sembari mengucapkan kata 'Aamiin' di dalam hatinya. Semoga saja ucapan orang itu bisa menjadi kenyataan.


Frans menatap lekat Arsy, wajahnya benar-benar seperti sedang menanggung beban yang begitu berat. Dia tidak bicara tapi terlihat sangat jelas.


"Arsy, kamu kenapa, apa ada masalah?" tanya Frans. Dia merasa tak tega melihat Arsy yang seperti itu, hatinya terasa ikut di cubit.


Arsy masih diam, mengingat lagi semua yang seharusnya dia lakukan sekarang namun akhirnya tidak terjadi. Mimpinya hanya berhenti di sebatas angannya saja.


"Terima kasih, Mas. Tapi maaf, Arsy harus pulang." ucap Arsy. Akhirnya dia mau bicara meski itu kata yang tidak ingin Frans dengar. Frans ingin mendengar penjelasan Arsy tentang apa yang terjadi padanya.


"Baiklah, aku akan antar kamu pulang. Aku tidak mungkin meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini." ucap Frans.


Arsy tidak menjawab dengan kata, dia hanya mengangguk saja. Mungkin dia memang merasa begitu sedih dan begitu kalut hingga untuk bicara saja terasa tak mampu.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2