
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Keberadaan Arsy di rumah Budhe Tantri juga di ketahui oleh keluarga Adi. Jelas saja mereka tidak akan senang dengan keberadaannya yang tetap berada di satu desa yang sama. Mereka hanya ingin Arsy pergi dari mereka sejauh-jauhnya.
"Sepertinya dia masih mengharapkan mu, Mas. Sepertinya dia masih ingin kamu datang ke sana dan juga menjemputnya untuk kembali, dia belum ikhlas berpisah dengan mu."
Dengan begitu mudahnya Siska mengompori Adi, tapi pada kenyataannya malah dia sendiri yang terbakar akan rasa cemburu. Dia yang tidak suka, dia takut kalau Adi akan kembali pada Arsy lagi.
Di saat mereka duduk di ruang tengah rumah Adi, hanya berdua saja dan tak ada siapapun. Lusi juga suaminya belum pulang dan Siska datang.
Duduknya semakin dekat, semakin merapat pada Adi lalu tangannya merengkuh lengan Adi. Bergelayut manja padanya seolah tak mau melepaskan, juga seolah membuktikan kalau dia akan selalu ada untuk Adi.
"Mas, kapan Mas dan perempuan itu benar-benar resmi bercerai?" tanyanya.
"Secepatnya," Adi menoleh, tersenyum sebentar dan tangannya terangkat untuk mengelus dagu Siska.
"Berarti Mas bisa dong menikahi Siska secepatnya?"
"Tentu, setelah resmi bercerai maka aku akan langsung menikah dengan mu. Aku sudah sangat tidak sabar untuk menjadikanmu istri ku."
Bunga-bunga asmara benar-benar tengah merekah pada kedua insan itu, tak meragukan dan juga tidak mempedulikan apapun yang ada. Keduanya benar tengah berbahagia, seolah tak ada orang yang bahagia seperti mereka.
Umur yang tak lagi remaja tapi kenyataannya cinta mereka begitu berkobar sama bahkan melebihi cinta para remaja.
"Aku sudah sangat tidak sabar Mas." Siska menyandarkan kapalanya pada bahu Adi, dia sangat nyaman dalam posisi seperti itu.
Dunia seakan milik mereka berdua sampai mereka tidak peduli dengan adat-istiadat dan juga hukum yang di buat. Bukan hanya di desa itu, di negara juga agama, mereka mengabaikan semuanya.
"Sama, aku juga." Adi menoleh kecil, memberikan kecupan kening dengan sangat lembut seperti memberikan bukti pada Siska kalau dia sangat sayang juga tidak sabar sama seperti dirinya.
"Eh, ada calon mantu." Kedatangan Lusi membuat keduanya menoleh cepat. Mereka berdua tersenyum sama seperti Lusi juga.
Bergegas Lusi mendekati, menaruh tas kecilnya di sebelah dia duduk.
"Hem, jadi kapan nih kalian akan menikah?" tanya Lusi begitu antusias.
__ADS_1
Begitu mendukungnya Lusi untuk hubungan mereka berdua bahkan tak melihat Adi yang belum resmi berpisah dengan Arsy.
"Secepatnya, Bu. Setelah perceraian ku dengan Arsy selesai aku akan segera menikahinya." jawab Adi.
"Iya, Bu." jawab Siska juga.
"Cepatlah menikah, ibu sudah sangat tidak sabar." entah apa yang membuat Lusi begitu tak sabar untuk Adi menikahi Siska. Tapi pasti ada hal lain.
"Ya, Bu." jawab keduanya serempak.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
"Oh, ternyata sekarang di sini kamu. Masih belum pergi juga dari desa ini, apa masih berharap kembali pada Adi?" sinis Rani.
Sungguh tak ada kerjaan Rani, Arsy sudah keluar dari rumah Adi dan juga sudah di talak masih juga mengganggunya.
Arsy yang tengah menyapu halaman jelas akan langsung menoleh, melihat Rani yang begitu sinis melihatnya.
"Iya, Mbak. Mbak mau mampir?" tanya Arsy. Masih dia bersikap baik meski sudah mendapatkan hinaan dari Rani. Entah terbuat dari apa hatinya itu.
"Hem, hanya numpang saja bangga banget kamu. Nggak malu ya jadi beban orang lain?"
"Kalau aku ya amit-amit ya, daripada numpang dan merepotkan orang lain mending jadi gelandangan."
"Astaghfirullah, Mbak. Bicaralah yang baik-baik. Sebenarnya perkataan yang keluar itu adalah sebuah doa, Mbak." Arsy menggeleng, juga mengelus dada karena perkataan Rani barusan.
"Hem, aku sendiri yang bicara, juga mulut ku sendiri jadi nggak usah sok ngatur." Rani tak terima, jelas saja itu akan terjadi.
"Aku saranin ya, lebih baik kamu pergi dari sini. Aku tau, sebenarnya kamu tetap di sini karena masih mau kembali kan sama Adi? kamu tidak bisa melupakannya kan? Hem, tapi sayang sebentar lagi kamu akan benar-benar bercerai dan setelah itu Adi akan menikah lagi."
"Alhamdulillah, Mbak. Semoga di pernikahannya yang kedua dia bisa menghormati istrinya dan tidak akan pernah menyakiti lagi."
"Ih, kesel aku ngomong sama kamu." Rani begitu kesal, Arsy sama sekali tidak bisa tersulut kemarahan padahal dia datang hanya untuk melihat hal itu.
Dengan langkah yang begitu berat Rani pergi meninggalkan Arsy. Tak akan ada hasil apapun kalau dia terus ada, bahkan harapannya saja untuk membuat Arsy kesal tidak tercapai.
__ADS_1
Sungguh dongkol rasa hatinya.
Arsy menggeleng saja, dan setelah kepergian Rani dia kembali meneruskan pekerjaannya. Meski dia hanya menumpang di rumah Budhe Tantri tapi dia akan selalu pastikan rumah itu selalu bersih dan nyaman untuk di tempati. Jika rumahnya bersih maka rezeki pasti akan terus berdatangan, pikirnya.
******
Tanpa datang ke pengadilan agama, entah bagaimana jalannya, entah bagaimana prosesnya Arsy sama sekali tidak tau. Adi yang selalu memastikan Arsy tidak datang supaya perpisahan lebih cepat selesai.
Dan benar saja, suatu hari Adi datang ke rumah Budhe Tantri, dia begitu tak sudi masuk rumah dan terus memanggil Arsy dengan keras.
"Arsy! Arsy!" teriaknya dengan sangat keras.
Arsy yang baru berada di ruangan jahit dan tengah memotong kain langsung beranjak, dia begitu tergopoh- gopoh keluar.
"Dasar lelet!" seru Adi kesal. "Waktuku terbuang sia-sia karena kamu." ucapnya lagi.
"Maaf, tapi ada apa Mas datang. Apa Mas tidak takut kekasih mu itu tau?" jawab Arsy.
"Justru aku datang karena dia. Aku datang untuk memberikan ini padamu, nih!"
"Apa ini, Mas?" tanya Arsy, menerima amplop cokelat dari Adi.
"Itu akta cerai kita. Dan sekarang kita benar-benar sudah resmi bercerai." ucap Adi menekankan.
"Dan ya, nih ada satu lagi. Semoga kamu datang ke acara pernikahan ku dan melihat betapa serasinya aku dan Siska. Tidak seperti saat bersamamu." Imbuh Adi. Menyodorkan surat undangan pernikahan berwarna biru untuk Arsy.
"InsyaAllah," hanya itu yang Arsy katakan. Sedikit perasaan sedih muncul di hatinya karena dia dan Adi sudah bercerai, di tambah lagi Adi yang akan menikah lagi. Tapi dia tak bisa apapun sekarang.
"Terserah," Adi seketika melenggang pergi dari hadapan Arsy. Tak peduli dengannya.
"Ya Allah, jika ini. adalah yang terbaik maka beri hamba keikhlasan." gumam Arsy.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Bersambung....
__ADS_1