Mawar, Bukan Benalu

Mawar, Bukan Benalu
Saran Bu Tantri


__ADS_3

...◆◇◆◇◆◇◆◇...


Mendengar semua penjelasan yang dikatakan Arsy, setelah dari rumah Bu Tantri, Frans cepat menuju ke pasar. Dia ingin melihat langsung apa yang terjadi, dia juga ingin mencari tau, siapa tau ada salah satu orang yang melihat kejadian pengrusakan itu.


Dengan penuh kepercayaan diri Frans turun dari mobil setelah menepikannya. Kios Arsy lah yang menjadi tujuannya saat ini.


"Sebenarnya di tempat ini sangat ramai, mustahil kalau tidak ada yang melihat kejadian itu," ujar Frans. Netranya memutar penuh di ikuti dengan tubuhnya yang juga melakukan hal yang sama.


Kios yang ada di tengah-tengah kios sembako dan juga pakaian, di depannya terdapat deretan kios penjual sendal dan sepatu. Kios yang semuanya ramai oleh para pengunjung, sangat mustahil kan?


"Apa benar tidak ada yang melihatnya? Atau mungkin mereka hanya diam karena tak berani bicara?" ucap Frans lagi. Berbagai atensi keluar di dalam kepalanya. Segala kemungkinan bisa terjadi.


"Kalau tidak salah satu diantara mereka, berarti memang ada yang sengaja melakukan. Mereka memang sudah tidak suka dengan Arsy. Atau kah mungkin?" Frans tak berani melanjutkan perkataannya, dia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan dan akan menuduh sembarang orang tanpa bukti.


Frans beralih berjalan, dia melihat keadaan dalam yang sudah sedikit rapi karena Arsy memang sudah merapikan. Tapi, masih ada beberapa barang yang teronggok di lantai.


"Mereka sungguh keterlaluan, sebenarnya apa tujuan mereka semua melakukan ini. Apakah mereka iri pada Arsy karena dia bisa melakukan semua ini? Atau mungkin, mereka memang tidak mau Arsy membuka usaha di sini dan bisa sukses?"


Frans benar-benar tak tau, tapi dia akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Siapa orang yang telah tega menghancurkan bagian dari mimpi dari wanita yang sangat dia cinta sejak lama.


"Hey! Ngapain kamu di sini?!" suara lantang mengejutkan Frans.


Frans cepat menoleh, memutar tubuhnya dan melihat siapa yang datang dan langsung berteriak dengan nada begitu tak suka.


"Kamu?" Frans mengernyit tak percaya. Untuk apa laki-laki tak tau diri seperti Adi datang ke tempat Arsy lagi, apakah dia ingin kembali mempermalukannya, atau mungkin malah sebaliknya?


Apakah Adi menyesal karena telah menceraikan Arsy dan dia datang untuk mengajaknya kembali? Itu tidak mungkin kan?


"Ya! Kenapa, kamu terkejut aku datang? Kamu tidak suka aku datang ke sini untuk bertemu dengan Arsy?" ucapan Adi begitu menegaskan.


"Kenapa aku harus tidak suka, kamu mau kemanapun itu bukan urusanku. Mau kamu datang menemuinya aku juga tidak bisa menghentikan selama Arsy mau. Tapi satu yang akan menjadi urusanku!" Frans juga tak kalah menegaskan di akhir kalimat.


"Aku tidak akan biarkan kamu menyakiti Arsy lagi. Sekali aku lihat kamu membuat dia menangis, maka itu akan menjadi urusanku." Imbuh Frans. Bahkan dia juga berjalan semakin dekat dengan Adi.

__ADS_1


Keduanya berdiri dengan berhadapan, netra mereka tajam bagaikan kilat yang beradu untuk saling menyambar. Aura permusuhan sepertinya telah terjadi pada keduanya.


"Apapun yang akan aku lakukan, itu bukan urusanmu," ucap Adi. Dia sama sekali tidak ada rasa takut jika apa yang dia katakan akan membuat Frans semakin waspada padanya.


Frans menyeringai, terlihat lebih tenang, padahal di dalam ketenangan ada sesuatu yang tak bisa di imbangi oleh Adi. Secara apapun Adi kalah dengan Frans.


Tampan, kaya, sukses, dan kedudukan dalam pekerjaan. Adi kalah telak dengan Frans. Tapi Adi terlalu sombong dan tak mau menyadari itu semua. Dia berpikir kalau dirinyalah yang lebih hebat dibandingkan dengan Frans atau siapapun.


"Kenapa kamu seperti itu?" Kini Adi yang mengernyit.


"Apa yang aku lakukan, jika bukan urusan kamu." jawab Frans membalikkan ucapan Adi. Mengambil dialog Adi yang baru saja dia katakan.


Bukanya Frans tidak mau berpikir, tapi itu juga memang sangat cocok untuk dia katakan.


Tak ada kata-kata lagi Frans melenggang pergi. Dia terus melangkah tanpa menoleh sama sekali. Sementara Adi, dia terus menatap dengan sangat tajam tak suka. Kedua tangan juga sudah mengepal dengan erat hingga menghasilkan bunyi yang bergemurutuk berkali-kali.


"Kamu pikir kamu bisa mengalahkan ku? Tidak!" gumam Adi.


••••


"Nak," panggil Bu Tantri. Dia berjalan menghampiri lalu duduk di sebelah Arsy yang sudah langsung menoleh.


"Ibu minta, kamu jangan terlalu sedih. Mungkin itu memang belum menjadi rezeki kamu. Tapi percayalah, Allah pasti akan memberikan apa yang kamu inginkan. Allah selalu bersama orang-orang yang sabar, Nak. Allah tidak pernah tidur," ucap Bu Tantri.


"Dan ya, kamu tidak perlu menolak tawaran dari Nak Frans. Dia melakukan itu semua karena benar-benar ingin membantumu, dia sangat baik dan juga tulus. Kamu terima ya?" Imbuhnya lagi.


Arsy masih terdiam.


"Nak, kamu bisa menerimanya dan katakan itu sebagai hutang. Setelah kamu ada hasil kamu akan membayarnya. Dengan itu kamu tidak akan merasa tak enak, dan Nak Frans pasti akan setuju." ucap Bu Tantri memberikan saran.


"Benarkah Arsy harus menerimanya, Budhe? Arsy hanya takut."


"Budhe tau kekhawatiranmu. Tapi tak ada salahnya kamu menerimanya sebagai bentuk menghargai Nak Frans. Hem," Bu Tantri mengangguk kecil sembari mengedipkan mata singkat, di hiasi dengan senyum yang indah dan begitu tulus.

__ADS_1


"InsyaAllah, Budhe. Arsy akan pikirkan." Jawab Arsy yang akhirnya angkat bicara.


Bu Tantri tersenyum, dia begitu lega mendengarnya.


"Yakinlah, semua akan baik-baik saja," Bu Tantri selalu saja bisa membuat Arsy tenang. Sudah seperti seorang ibu yang selalu menginginkan anaknya menjadi lebih baik lagi. Bukan hanya sekedar dalam materi saja, tapi lebih baik hati dan juga sikapnya.


****


"Sial, kenapa aku tak bisa bertemu dengan Arsy. Kenapa rasanya begitu susah," umpat Adi. Dia begitu kesal, dadanya bergemuruh penuh amarah karena tak bisa bertemu dengan Arsy dengan mudah seperti biasanya.


Perpisahan yang sudah menjadi keputusannya ternyata menyisakan sesuatu di hatinya. Ada hal yang hilang, apakah Adi menyesal? Mungkin bisa dikatakan seperti itu.


Dengan kesal Adi meninggalkan kios Arsy dengan motornya. Keadaan hati yang tidak baik membuat dia mengendarai juga tidak bisa konsentrasi, hingga akhirnya dia hampir saja menabrak seorang pria.


Tinn!


Terdengar jelas derit roda yang direm mendadak juga klakson yang dibunyikan hingga begitu nyaring. Motor Adi berhenti, matanya juga melotot dan saling bertemu dengan netra pria itu yang terlihat begitu shock.


"Kalau jalan hati-hati dong!" teriak Adi keras.


"Heh! Dasar orang nggak tau diri. Siti yang salah tapi situ yang marah! Lo sehat!" Seru pria itu tak mau kalah. Matanya juga melotot tak suka kalau dirinya yang di salahkan.


"Lo pikir saya nggak waras!" Adi kembali menjawab.


"Ya! Lo memang nggak waras! Sinting!" dengan kesal pria itu kembali berjalan, dia tak mau berlama-lama melihat wajah yang begitu sombong menyebalkan seperti Adi.


"Dasar sombong. Mentang-mentang naik motor seperti jalan milih emaknya. Dasar!" umpatnya sembari terus melangkah.


"Lo yang sombong!" rupanya suara itu masih terdengar jelas di telinga Adi, dia terlihat semakin marah hingga akhirnya dia memutuskan kembali melajukan motor lebih cepat dari sebelumnya.


"Oo! Dasar orang gila!" Teriak pria tadi yang sudah menepi.


...◆◇◆◇◆◇◆◇...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2