
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Entah harus senang atau sedih setelah mengetahui ternyata wanita pujaannya sudah di talak oleh suaminya. Frans Samuel terdiam setelah mendengar berita itu dari para tetangganya, dia sedih mengingat nasib Arsy yang begitu menyedihkan. Tapi, dia juga sangat megah Arsy akhirnya terbebas dari ikatan yang seperti neraka dalam hidupnya.
"Nak, kamu kenapa?" Tanya ibu Utami, Ibu dari Frans.
Tak seperti biasa anaknya itu melamun, dan terlihat begitu berpikir keras. Seorang ibu pasti akan sangat penasaran dan ingin mengetahui apa yang telah dia rasakan.
Frans yang tengah duduk di emperan rumah seketika menoleh, melihat ibunya yang baru saja keluar bahkan kini masih berdiri di tengah-tengah pintu seraya menatap ke arahnya.
"Tidak apa-apa, Bu." Jawab Frans yang tidak mau mengakui apa yang membuat gundah dalam hatinya saat ini.
Bu Utami berjalan mendekat, sepertinya dia tidak percaya begitu saja dengan penjelasan dari anaknya tersebut. Tidak akan mudah dia percaya karena itu bukanlah kebiasaan dari anaknya.
"Ibu sangat mengenalmu, nak. Ibu tahu kalau kamu sedang ada hal yang kamu pikirkan. Apakah kamu tidak mau menceritakan kepada ibu?" Bu Utami duduk di kursi yang berada di sebelah Frans.
"Sungguh, Frans tidak apa-apa, Bu." Masih saja Frans tetap kekeuh tidak mau mengatakan apa yang sedang dia rasakan, ada kecil ketakutan kalau ibu Utami akan melarangnya untuk mencintai wanita yang sekarang sudah berstatus janda anak satu.
Meskipun Arsy sangat baik menurut dirinya, tapi belum tentu baik di mata ibunya. Bukan itu saja, tapi Arsy tidak sesuai kriteria menantu yang di idamkan oleh Bu Utami, Dia pernah mengatakan bagaimana kriteria menantu yang dia idamkan beberapa tahun yang lalu.
"Hem, baiklah. Mungkin kamu memang belum siap untuk bicara. Tapi Ibu akan selalu menunggu semoga kamu mau cerita sama ibu."
Bu Utami hanya tersenyum dengan pasrah karena tak bisa memaksa anaknya untuk mengatakan semua yang dia rasakan, meskipun dia anaknya sendiri tapi tapi dia punya hak untuk semua kehidupannya.
Keduanya terdiam saat tak ada obrolan lain lagi yang terdengar, hingga Frans kembali menikmati teh yang dia buat beberapa saat yang lalu sebelum dia akhirnya duduk di teras.
"Nak, kapan kamu akan menikah? Teman-teman mu sudah pada punya anak dia bahkan ada yang tiga, tapi kamu malah belum ada tanda-tanda untuk menikah."
Wajah Bu Utami terlihat masam, sepertinya dia benar sudah tidak sabar untuk melihat anaknya itu menikah, bahkan adiknya saja sudah menikah lebih dulu dan sudah memiliki anak, tetapi Frans? Dia bahkan belum ada tanda-tanda akan segera naik ke pelaminan.
Uhuk!
Frans batuk karena tersedak teh yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, setiap dia pulang selalu saja perihal pernikahan yang ditanyakan oleh ibunya. Wajar sih? Tapi tidak harus setiap minggu juga kan.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" Seketika Bu Utami panik dia langsung menggosok punggung Frans.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu." Frans tersenyum kikuk di hadapan ibunya. Dia juga merasa begitu menyesal karena sampai sekarang belum bisa mewujudkan satu keinginan ibunya itu, yaitu menikah.
"Bagaimana, kamu belum menemukan perempuan yang cocok?" Masih saja Bu Utami menanyakan hal itu, padahal dia tahu sendiri karena pertanyaannya membuat anaknya itu sampai tersedak.
"Belum ada hilal, Bu." jawab Frans.
"Bagaimana kalau ibu kenalin dengan anak teman ibu, ada beberapa teman ibu yang memiliki anak gadis, siapa tahu ada yang cocok denganmu."
"Tidak usah, Bu. Biar Frans yang mencari sendiri. Tapi, Bu. Jika Frans menemukannya Ibu tidak akan mempermasalahkan status dan identitasnya kan?" ucapnya sekedar memastikan.
"Hem, bau-baunya kamu sudah ada perempuan yang kamu suka nih. Bawa dia ke rumah, dan kenalin sama ibu. Kalau dia baik Ibu tidak akan mempermasalahkan semua darinya." jawabnya.
Seulas senyum keluar dari bibir Frans, benarkah yang dikatakan ibunya kalau dia tidak akan mempermasalahkan apapun?
"Benarkah?" Frans menegaskan.
"He'em. Tapi lihat dulu lah. Dia pintar mengambil hati ini atau tidak." Bu Utami tersenyum simpul.
Mengambil hati? Apakah mungkin sejenis merayu begitu untuk meminta restu?
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
Allah begitu sayang pada dirinya, di saat dia meninggalkan ladang yang menjadi pencahariannya dan yang selalu memberikan uang untuknya tapi dengan cara lain Allah memberikan rizki kepada dirinya, semakin banyak orang yang mempercayakan dirinya untuk menjahit pakaiannya.
Hanya satu hal yang membuat Arsy begitu sedih, tanamannya saat ini dalam masa panen dan sekarang dia tidak bisa mengambilnya lagi, sudah tak ada hak dia untuk datang dan menginjakkan kaki di sana.
"Aw!" pekiknya. Salah satu jarinya terkena jarum saat menjahit, langsung dia tarik dan dia lihat lukanya. Memang begitu kecil tapi tetap saja darah keluar juga terasa begitu sakit.
"Nak, ada apa?" Budhe Tantri begitu terkejut, dia yang sedang melihat-lihat kain langsung berlari menghampiri karena begitu khawatir.
"Tidak apa-apa, Budhe. Hanya kena jarum." Arsy tetap tersenyum.
"Hati-hati, jangan sampai kena lagi. Sakit loh," ucapnya.
Arsy mengangguk, tersenyum kepada Budhe Tantri buang berdiri di sebelahnya dan melihat lukanya.
__ADS_1
Nyes!
Hati Arsy begitu tenang, betapa hangatnya perlakuan Budhe Tantri dan membuatnya tertegun bahagia. Kasih sayang seorang ibu yang sangat dia rindukan kini dia dapatkan darinya.
"Assalamu'alaikum, Ibu, Nenek." sapa Laili. Bocah itu berlari masih lengkap dengan seragam juga tas di punggungnya, dia baru saja pulang sekolah.
"Wa'alaikumsalam," Jawab keduanya bersamaan, juga dalam menoleh.
Begitu takzim Laili menyalami keduanya, terlihat begitu bahagia dan begitu antusias mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.
"Ibu, Nene, Laili bisa gambar bunga yang bagus banget loh," ucap Laili. Perlahan me. Perlihatkan gambarnya dan membuat Arsy juga Budhe Tantri tersenyum.
"Wah, bagus sekali." Arsy terpana.
"Itu suka kan? Dan ini ada satu lagi." Kembali Laili menunjukkan.
Kali ini Arsy terpaku melihat gambar kedua. Gambar tiga orang. Yang wanita dewasa juga kecil bergandengan tangan berdua, sementara yang laki-laki terlihat di belakang jauh.
"Ini, ini siapa?" Arsy sedikit tergagap.
"Ini Laili, ibu dan juga ini ayah. Karena ayah gak mau tinggal dengan kita jadinya hanya Laili gambar dia jauh." ucapnya menjelaskan.
Rasanya jantung mau berhenti berdetak mendengar penjelasan dari Laili barusan. Anak kecil seperti dirinya dan sudah berpikir akan hal itu, tentu saja Arsy sebagai ibu sangatlah sedih.
Laili tidak bisa menjadi anak yang beruntung seperti anak-anak lainnya. Yang bisa memiliki kedua orang tua yang lengkap yang sangat sayang kepada mereka, dan Laili tidak mendapatkan hal itu dari semenjak dia lahir meskipun tinggal di bawah satu atap yang sama.
"Ibu kenapa? Lukisan Laili jelek ya?" tanyanya yang begitu polos.
"Tidak, lukisan Laili sangat indah." Arsy menggeleng mengatakan lukisan itu indah, meskipun itu menjelaskan betapa jauhnya mereka dengan Adi.
"Nanti di tempel di kamar ya, Bu. Boleh kan nek?" Laili menoleh ke arah Bude Tantri dan seketika wanita tua itu mengangguk dan tersenyum sembari membelai wajah Laili dengan sangat lembut.
"Asyik!" Serunya girang.
...◆◇◆◇◆◇◆◇...
__ADS_1
Bersambung....